SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY

SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY
26. Memulai


__ADS_3

Al yang biasanya keras kepala itu menuruti apa yang Vasco suruh, ia hanya berfocus pada Saphire di sebelahnya yang sedang di periksa oleh Vasco. Hati Al sungguh terasa hancur melihat semua luka yang ada di tubuh Saphire. Hancur adalah kata yang tepat untuk melukiskan perasaan Al, wanita yang selama ini ia sayangi tersakiti sampai sedemikian karena Al.


Al menggenggam erat tangannya, ia bersumpah akan menghancurkan dan membalas rasa sakit ini bahkan berkali kali lipat.


"Ehmmm.." deheman Vasco membuyarkan lamunan Al.


"Bagaimana keadaan Saphire?" tanya Al


"Maaf..."


"Apa maksutmu?" teriak Al yang langsung berdiri dan berlari ke arah Saphire sampai membuat Vasco terdorong ke arah samping meja.


Al melihat Saphire tersenyum hangat padanya, Al langsung memeluk Saphire.


"Untunglah, jangan pernah tinggalkan aku Saphire" lirih Al


"Tidak akan" kata Saphire dengan sangat lemah. Al kemudian bangun dan melihat ke arah Vasco


"apa maksut kata maaf? ku kira" kata Al yang sedikit lega karena ia kira Saphire tidak dapat di selamatkan


"Cih..aku belum kelar berbicara kau sudah mendorongku" kata Vasco sambil membuang muka.


"Ahhh maafkan aku, aku terlalu panik" ucap Al yang menggaruk kepalanya.


"Maksutku, maaf karena Saphire harus istirahat dulu untuk pemulihan dan akan di pindahkan ke kamar pasien" kata Vasco


"Baiklah, terima kasih banyak Vasco. Aku berhutang banyak padamu" ucap Al sambil memeluk Vasco.


"Jangan katakan itu bodoh, aku yang banyak berhutang padamu. Kau yang menjadikanku di titik sekarang" kata Vasco sedikit terharu dan ia merasa sangat sedih terhadap apa yang di timpa sahabatnya. Dulu saat Vasco bahkan hampir mengakhiri hidupnya, Al yang menolongnya, menopangnya dan membantunya bangkit, menjadikan Vasco dokter muda hebat yang terkenal di berbagai benua.


Banyak rumah sakit dan perusahaan farmasi yang ingin mengontrak Vasco dengan jaminan uang yang melimpah, Al juga mendukung penuh jika memang Vasco memilih untuk terjun ke dunia medis yang lebih besar. Namun semua itu Vasco tolak, ia lebih memilih berada di sisi sahabat sahabat terbaiknya saat ini. Mungkin uang bisa untuk membeli banyak hal, tapi tidak untuk persahabatan dan rasa nyaman bersama sahabat sahabatnya ini.


Saphire kemudian di pindahkan ke kamar pasien khusus yang keamanannya sudah di pastikan sangat ketat. Banyak penjaga berlalu lalang menjaga lantai itu.


Setelah beberapa hari kondisi Al mulai membaik, ia hanya perlu mengganti beberapa perban yang melilit lukanya.


Al selalu menemani Saphire, ia menjaga Saphire dengan sangat intens.


"Kamu mau minum?" tanya Al pada Saphire yang baru saja membuka matanya dari tidur, kondisi Saphire juga perlahan membaik hanya saja infus tetap harus karena untuk memulihkan kondisi.


Saphire mengangguk dan Al dengan sigap mengambilkan air untuk wanitanya.

__ADS_1


"Apa aku terlihat jelek?" kata Saphire dengan sedihnya, ia merasa minder. Di sudut bibirnya ada luka bekas tamparan dan di pelipis kanannya juga ada bekas jahitan akibat kecelakaan.


"Hey mana mungkin itu terjadi. Bagaimanapun kamu, kamu adalah wanita paling cantik. Aku mencintaimu, kamu dan hatimu bukan apa yang hanya terlihat oleh mata" kata Al sambil mengelus kening Saphire.


Cekleeekk....


Pintu terbuka dan masuklah para sahabat Al di tambah Veronica, Bastian dan Alex.


"Saphire bagaimana keadaanmu?" tanya Vasco yang memakai jas dokter berwarna putih.


"Kurasa aku mulai membaik" kata Saphire dengan tersenyum


"Saphire maafkan aku, seharusnya aku..." Veronica berbicara sambil menggenggam tangan Sapphire.


"Kau tidak bersalah Veronica, hanya aku yang tidak berhati-hati" potong Saphire.


"Kau tahu Saphire, kau sudah membuat pria satu itu menjadi super hero yang bahkan seperti satpam menjagamu 24jam" kata Gerald disertai tawa renyah, sontak membuat semua orang yang ada di kamar itu tertawa terbahak bahak. Bagaimana takut dan paniknya seorang Al.


"Heeeyy, hentikan itu Ger" kata Al dengan muka yang memerah.


"Kau lihat, Al sekrang mulai memiliki mimik wajah, wajahnya memerah" kata Vasco menambahkan.


Glen kemudian membawa Al untuk keluar ruangan sebentar membicarakan sesuatu yang Al inginkan.


"Siapa?" tanya Al


"Black Pearl" kata Glen


"Hancurkan mereka dan bawa orang itu ke hadapanku. Aku akan ajarkan mereka cara menikmati sekarat yang sesungguhnya" kata Al sambil menggenggam erat tangannya.


"Baiklah, beri aku waktu tiga hari" kata Glen


"Lakukan dengan baik" tambah Al.


"Aku mengerti"


***


Hari hari berlalu dengan baik, kondisi Saphire sudah sangat membaik. Ketakutan dan trauma yang ia alami sudah sedikit membaik, ia mulai bisa tersenyum dan bercanda berkat dukungan dari Al dan sahabat sahabatnya. Saphire merasa sangat beruntung karena di sekelilingnya banyak orang yang peduli terhadapnya.


Saphire meminta kepada Al agar tidak memberitahu orang tuanha perihal kejadian penculikan itu, ia tidak ingin membuat orang tua dan kakaknya khawatir. Karena Saphire yakin, jika mereka tahu pasti Saphire tidak akan di izinkan lagi untuk bepergian.

__ADS_1


Saphire kini berada di rumah Al, karena Al sudah memutuskan untuk menjaga Saphire. Ia tidak ingin membiarkan wanitanya berada sendirian di apartemen yang belum tentu keamanannya.


"Al aku tidak mau makan" kata Saphire yang menolak suapan bubur dari kekasihnya itu.


"Sayang, bagaimana kamu sembuh jika tidak mau makan. Apa aku suruh pelayan untuk membuatkan makanan baru yang lebih enak?" tanya Al yang mulai bingung membujuk Saphire makan.


"Bukan makanannya, tapi aku memang belum ingin makan. Aku bosan di sini" keluh Saphire


"Kamu harus sembuh dulu baru boleh keluar rumah" tambah Al


"Im fine Al, kamu lihat? aku sangat sehat" jawab Saphire, pasalnya ia sangat bosan sudah berminggu minggu ia di kurung di rumah besar itu.


"Baiklah habiskan makanan ini, nanti aku akan membawamu ke suatu tempat" kata Al


"Aye aye Kapten" teriak Saphire yang kemudian mengambil mangkuk bubur di tangan Al dan menghabiskan semuanya. Al hanya geleng geleng kepala melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu.


Hari masih menunjukan pukul sepuluh pagi, mobil sport Al melaju membawa gadis cantik bermata biru Saphire. Gadis itu nampak sangat senang bisa melihat suasana kota, sudah berminggu minggu ia hanya melihat tempat tidur untuk pemulihan.


"Apakah besok aku boleh pergi ke kantor?" tanya Saphire


"Apa kamu sudah lebih baik?"


"Tentu saja, aku selalu merasa baik" tambah Saphire


"Baiklah, tapi kamu tetap di bawah pengawasanku. Jika lelah jangan memaksakan diri" kata Al memberikan banyak wejangan untuk Saphire.


Hari telah berlalu, Saphire dan Al sudah berada di kantor dan menjalani hari hari seperti biasa.


Ddddrrrrrrttt.....dddrrrrrttttt


Handphone Al bergetar, ia menggeser gambar berwarna hijau.


"Aku sudah bertanya, namun tetap tidak mau berbicara" kata orang di Hp


"Bukankah ini sudah beberapa minggu?"


"Maafkan aku tuan, saya akan mencoba..."


"Cukup, biar aku yang akan datang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2