SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY

SAPHIRE MY MIRACLE SECRETARY
06. Dua sisi


__ADS_3

Sontak tubuh Saphire menegang, ia merasa seperti tidak nyata pasalnya bosnya yang super dingin itu tidak mungkin bertingkah lembut dalam beberapa jam terakhir hanya karena insiden kaki Saphire yang terkilir.


Al kemudian mendekatkan bibirnya kearah telinganya, "meskipun kamu tidak ingat aku, aku akan membuatmu mengingatnya" bisik Al dengan sangat lirih.


Saphire hanya terdiam, dia bingung akan berbuat apa tanpa di sadari tangan Saphire mendorong dada bidang Al agar menjauh karena Saphire sudah merasa tidak tahan dengan posisi ini.


"maaf Al, sebaiknya kita cepat kembali ke kantor" ujar Saphire memecah keheningan mereka.


"hemm.. mulai besok pagi kamu akan jadi sekertaris pribadiku"


"ta-tapi Al bukankah dara sud...."


tatapan tajam Al menghentikan itikad penolakan yang akan di lakukan Saphire,


"emm baiklah" jawab Saphire dengan pasrah sambil menundukan kepalanya.


"hari ini tidak perlu balik ke kantor, kamu istirahat yang cukup. Mulai besok pagi kamu tinggal di apartemen" tegas Al


"tapi aku perlu izin kedua orangtua dan kakaku lagipula aku juga tidak ada dana" alibi Saphire ingin menolak perintah Al.


"Apartemen sudah aku urus, kamu tinggal menempatinya. Aku tidak mau punya sekertaris yang selalu datang telat dan merepotkan dan perihal izin jika kamu tidak bisa biar aku yang meminta izin ke orang tuamu"


"ahh ya tidak perlu, baiklah, nanti biar aku sendiri yang meminta izin" jawab Saphire karena ia tidak mau orang tuanya nanti salah paham terhadap anak perempuanya ini.


Saphire kemudian di bantu Al berjalan ke memasuki mobil Al setelah drama Al yang memaksa untuk menggendong Saphire yang di tolak mentah-mentah oleh Al.


Di dalam mobil Saphire juga bertanya perihal rumah sakit yang ia gunakan untuk berobat, karena rumah sakit itu terlihat aneh untuk di bilang sebuah rumah sakit, namun Al hanya menjelaskan bahwa itu rumah sakit yang Al miliki dan kelola bersama Vasco sahabatnya.


"Al.. terima kasih" ujar Saphire memecah keheningan mereka di dalam mobil.


"hmmm"


"mulai besok pagi mejamu di dalam ruangan" tambah Al


"tapi kenapa? aku nyaman di luar bersama kak widdy ?" protes Saphire.


"mataku sakit melihat drama mu denga Rey sialan itu, sudah yang penting lakukan saja dan jangan banyak memprotes" tukas Al dengan dingin dan datar.


Saphire hanya bisa diam dan pasrah dengan keputusan Al, karena bagaimanapun juga ia hanya seorang bawahan.


Sampailah mereka pada rumah luas bergaya modern dengan di dominasi serba berwarna putih, hanya ada bi Inah dan pak Dadang yang berada di rumah Saphire karena Ayah dan kakaknya tentu saja sedang berada di kantor dan ibu muda cantik Saphire sedang bersosialita bersama kalangan mereka.

__ADS_1


Meskipun begitu keluarga Saphire di kenal tidak pernah sombong dan selalu ramah terhadap siapapun.


"mau mampir atau langsung pulang?" tanya Saphire yang sudah menahan letih


"sepertinya ini sebuah usiran yang halus" jawab Al dengan menaikan sebelah alisnya.


"bukan begitu Al"


"baiklah, kamu istirahat yang cukup aku harus balik ke kantor. Besok pagi jika memang belum siap bekerja tidak perlu berangkat"


Saphire hanya mengangguk lemah, tiba-tiba tubuh Al mendekat ke arah Saphire, sontak Saphire mundur sampai kaca dan memejamkan matanya merasa takut jika kejadian di rumah sakit terulang kembali.


klik


Bunyi self belt terbuka, Saphire membuka matanya dan melihat tampang Al yang sudah menahan senyum licik dengan sebelah alis terangkat.


"berharap eh?" kata Al dengan senyum meledeknya.


Muka Saphire sudah seperti kepiting rebus yang menahan malu, Saphire kemudian mengucapkan terima kasih dan keluar dari mobil Al.


Al hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala dan mulai memacu mobil kesayanganya menuju kantor.


-Lokasi EL Group-


"hallo"


(ku dengar hari ini kau kerumah sakit) kata orang di ujung telephone Al.


"iya, apa terjadi sesuatu?" tanya Al


(pihak musuh masih mengawasi mu, mereka tahu kau membawa seorang wanita meskipun mereka belum mengetahui identitas wanitamu)


"tetap awasi pergerakan mereka dan kirimkan orang untuk melindungi Saphire, dan jangan sampai Saphire tahu kalau di awasi" tambah Al dengan mengacak rambutnya frustasi.


"baiklah tuanku hahaha ternyata ada yang jatuh cinta di sini" tawa pria itu.


"eerrgghhh diam kau dan cepat cari cara untuk menguasai musuh"


"baiklah aku akan segera merencanakan strategi untuk menghancurkan mereka"


Al kemudian memutuskan sambungan telepon nya dan merebahkan dirinya di atas sofa ruanganya.

__ADS_1


Al adalah seorang pria dengan kerajaan bisnis yang merajai di pasar asia, bisnisnya tidak hanya berkecimpung di negara domisili. Sehingga siapa yang tidak mengenal seorang Al, pria bertubuh tegap berkulit putih dan memiliki ketampanan bak dewa yang turun dari langit. Namun banyak gosip beredar yang mengatakan bahwa Al tidak menyukai seorang wanita, di lihat dari semua gosip tidak ada satupun yang melihat atau mengetahui Al membawa atau terlibat urusan dengan wanita.


Siapa sangka, pria dengan identitas pemilik dari beberapa perusahaan dan brand besar itu di baliknya memiliki kerajaan hitam yang sering orang sebut "black knight", tidak hanya mafia atau sekedar orang-orang dengan kemampuan hebat namun jual beli senjata menjadi bisnis yang menjanjikan di pasar gelap dunia.


Hanya orang-orang besar yang mengetahui Black Knight, dan orang-orang terpercaya yang mampu berbisnis dengan Black Knight dan siapa sangka juga jika pemilik atau penguasa Black Knight adalah seorang Al. Ribuan anggota Black Knight sudah tersebar di seluruh dunia, mereka adalah mafia yang sudah sangat terlatih dan memiliki kecerdasan dan strategi baik.


Dibalik kekayaan yang di miliki seorang Al, pria itu memiliki masa lalu yang sangat kelam bahkan sangat buruk bahkan hingga saat ini Al masih belum bisa menghilangkan trauma masa kecilnya.


Datangnya Saphire kembali di kehidupan Al adalah sebuah kehangatan bagi pria berhati sedingin es. Saphire adalah sosok yang mampu membuat Al terjatuh dan tenggelam dalam manik biru seorang Saphire.


-Rumah Saphire-


Mobil sport berwarna hitam memasuki halaman rumah Saphire, Arvin atau kakak kesayangan Saphire itu keluar dengan masih memakai jas kantornya.


Arvin berjalan kearah kamar Saphire pasalnya ia pulanh cepat tetapi adik semata wayangnya itu sudah pulang duluan terlihat dari jendela kamarnya yang terbuka sangat lebar, itulah kebiasaan Saphire saat di kamarnya.


"Saphire sudah pulang ?" tanya Arvin yang duduk di tempat tidur adiknya.


"Iya kak, tadi Saphire terpleser di kamar mandi kantor dan kaki Saphire terkilir" jawab sang adik yang segera menghambur ke pelukan Arvin.


"Ceroboh lagi eh?" ujar Arvin sambil menyentil dahi adiknya.


"hehehe" ujar sang adik sambil manyun dan mengelus dahinya.


"kak besok aku boleh tinggal di apartemen ya?" tanya Saphire dengan hati-hati, Saphire merasakan kakaknya menegang dan nafasnya mulai bergejolak untuk marah.


"Tidak"


"ayolah kak, Saphire sudah membeli apartemen yang lokasinya nggak jauh dari kantor"


"kakak bisa belikan kamu mobil dek, buat apa tinggal terpisah dengan keluarga" jawab Arvin


"kak Saphire mohon, Saphire ingin belajar hidup mandiri. Saphire selalu ceroboh dan manja karena selalu ada Bunda dan bi Inah" alibi Saphire. Gadis itu menatap kakanya dengan mata memohon seolah itu adalah hal yang sangat menyedihkan jika kakaknya tidak menuruti keinginan Saphire.


Arvin hanya bisa menghela nafas pasrah, pasalnya ia tak pernah bisa menolak semua permintaan adik kesayanganya.


"Saphire janji bakal tetep sering pulang kok" tambah Saphire menambahkan.


"iya adiku yang bawel tapi kakak perlu tahu dimana apartemen mu jadi jika terjadi sesuatu kakak bisa langsung ke sana, mengerti?"


"aye aye capten" jawab Saphire sambil mencium pipi Arvin.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2