
Saphire mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat nyeri. Badannya terasa sangat ngilu dan memar berada di beberapa bagian tubuhnya. Saphire mencoba mengingat, bahwa terakhir kali ia di bawa penculik dan menabrak pohon.
Saphire mengedarkan pandangan matanya, ia berada pada sebuah ruangan yang sangat kotor dan lembab, Saphire tahu bahwa tempat ini sudah tidak terpakai.
Ia berbaring pada tumpukan kardus dengan tangan dan kaki terikat. Bau anyir masih tercium akibat darah yang mulai mengering di keningnya.
"Tuan putri sudah bangun?" kata seorang pria memakai jas berwarna putih dengan satu bunga mawar di saku dada sebalah kanan jas. Pria berusia sekitar 30 tahun itu duduk pada sebuah kursi hitam di sudut ruangan.
"Sayang sekali, kau milik Alvern." kata pria itu
"Dimana ini, tolong lepaskan aku." Teriak Saphire.
"Kau tahu, sayang sekali gadis secantik kamu akan di jadikan umpan. Kalian berdua akan meninggal dengan tenang di sini"
"Apa yang mau kau lakukan, hentikan!! bunuh saja aku" teriak Saphire.
"Ahahahaha seperti kisah cinta sejati saja"
"Aku mohon lepaskan Al" lirih Saphire.
"Kau lihatlah di pojok sana" tunjuk pria itu ke arah sudut ruangan yang terdapat bom dengan waktu 10 menit.
"Aku mohon hentikan semua ini" tangis Saphire mulai pecah, ia benar benar ketakutan.
"Hahahaha aku harus pergi dari sini, sekitar 5 menit lagi kekasihmu pasti akan datang" kata pria itu yang kemudian pergi meninggalkan ruangan. Saphire hanya menangis tak memiliki daya, tubuhnya terasa sangat lemah akibat berbagai insiden yang ia hadapi.
Mobil Al sudah sampai di tempat dimana Veronica menemukan keberadaan Saphire.
"Kalian jangan masuk, biar aku sendiri" kata Al
"Jangan, kau tunggu sini. Biar aku dan Veronica yang masuk" kata Bastian dan di angguki oleh Veronica.
"Tidak, mereka mengincarku. Kalian tunggu di sini" titah Al tak terbantahkan oleh Bastian dan beberapa anak buah lainya.
Al berjalan memasuki gedung tua yang kotor dan tidak terpakai, di sana banyak pintu yang tertutup. Al terus berjalan menyusuri lorong sampai menemukan satu pintu yang di dalamnya terdengar isakan tangis Saphire.
Tanpa aba aba, Al langsung mendobrak pintuk itu dengan satu tendangan kaki. Al berlari ke arah Saphire yang menangis.
__ADS_1
"Pergilah Al, aku mohon pergilah" kata Saphire dengan tangis yang hebat.
"Aku tidak akan pergi, ada apa denganmu sayang? maafkan aku"
"Tidak, aku mohon cepatlah pergi dari sini. Cepat pergi!!" teriak Saphire histeris.
Al merasa ada yang aneh dengan Saphire, ia mengedarkan pandangan dan benar saja. Di sudut ruangan terdapat bom dengan waktu 1 menit 47 detik.
"Shiiit !! aku tidak akan meninggalkanmu" kata Al yang kemudian melepaskan tali di tangan dan kaki Saphire.
"Al, aku hanya akan memperlambatmu, keluarlah dari sini" kata Saphire dengan lembut dan lelehan air mata tak terbendung. Ia melihat wajah Al dengan tersenyum lembut dan hangat seolah tak ingin melupakan wajah orang yang ia sayangi.
"Jika harus mati, aku akan tetap bersamamu" kata Al yang kemudian menggendong Saphire dan berlari menuju luar gedung.
Waktu terus berjalan, tinggal 50detik lagi dan bom akan meledak. Al berlari dengan sekuat tenaga, ia tidak ingin melihat gadisnya berakhir dengan keadaan seperti ini.
Dhuaaaaaarrrrrr......!!
Suara ledakan dan semburan api berkobar di gedung tua itu, Al berhasil keluar gedung meski mereka berdua terlempar akibat tekanan dari bom. Veronica dan Bastian segera menolong Al dan Saphire.
****
Sahabat dan beberapa perawat segera memasukan mereka berdua ke Emergency dan melakukan penanganan.
Di luar ruang Emergency Gerald memberikan beberapa pertanyaan terkait kejadian yang baru saja terjadi. Veronica dan Bastian menceritakan seluruh kejadian yang terjadi tanpa di kurangi.
"Bangsaaat !! berarti rencana ini sudah mereka susun secara matang dan lama. Menggunakan Saphire untuk membunuh Al" kata Gelard mengepalkan tangannya.
"Berita ini jangan sampai ada yang bocor, semua harus kita keep. Suruh orang untuk membereskan semuanya, kita harus melakukan serangan balik yang lebih menyakitkan" kata Glen dengan amarah yang memuncak.
"Baik pak" jawab Veronica dan Bastian.
"Obati luka kalian dulu, setelah itu kita punya misi yang lebih penting. Aku tidak mau anak buahku lemah" kata Gerald.
Ya mereka adalah sahabat yang bahkan hanya sering bercanda dan saling melempar cemoohan, namun di balik itu tersimpan serigala dan harimau yang jika di bangunkan maka amarah mereka mampu menghabisi siapapun.
Veronica dan Bastian kemudian undur diri dan melakukan pengobatan di ruang pengobatan. Ruang Emergency ini berbeda dengan UGD, ini ruang yang di desgn hanya anggota khusus Black Wings yang bisa memasuki, pengamanan ketat dengan scan retina mata anggotalah yang bisa memasuki. Semua alat sangat canggih dan modern.
__ADS_1
Waktu operasi sudah menghabiskan waktu 4jam, dan Vasco belum menunjukan tanda tanda selesai operasi.
"Siaaal, kenapa lama sekali. Apa mereka akan baik baik saja" gerutu Gerald.
"Tenanglah, kita memiliki dokter terbaik di dunia ini" kaya Gleen menenangkan Gerald.
"Ayolah dokter bodoh, kau harus menyelamatkannya Vasco" lirih Gerald.
Lampu Emergency berhenti menyala, pintu terbuka dan keluar Vasco dengan wajah sangat kelelahan.
"Bagaimana keadaan mereka berdua?" tanya Gerald
"Heeeeyy, pertanyaan macam apa itu? tentu saja mereka baik baik saja jika di tangani dokter Vasco yang sangat hebat" kata Vasco sembari menaik naikkan alis matanya membuat wajah Gerald dan Gleen yang tadinya tertekan sekarang berubah menjadi tawa.
Mereka berdua segera memberi rangkulan dan usapan kasar di kepala Vasco,
"Sepertinya hari ini aku merasa sedikit beruntung memiliki teman sepertimu" kata Gleen dengan tawanya.
"Cihh, sebenarnya teman macam apa kalian yang baik hanya saat perlu saja hahahaha" kata Vasco dengan meninju lengan Gleen.
"Mereka masih butuh perawatan, Al akan sadar beberapa jam lagi efek bius pasca operasi. Sedangkan Saphire kondisinya masih perlu banyak pemulihan. Terutama pasti saat dia sadar, trauma mentalnya yang perlu kita perhatikan"
"Baiklah, sekarang kau istirahatlah. Aku akan di sini menjaga mereka berdua" kata Gerald
"Aku akan pulang dulu, nanti malam aku akan datang memeriksa keadaan mereka yang seharusnya sudah sadar" kata Vasco.
***
Al mengerjapkan dan membuka matanya, badannya sangat kaku. Kepalanya terasa sangat pusing seperti terbentur sesuatu yang berat. Ia mengingat terakhir kali ia berlari membawa Saphire dari ledakan bom.
Seketika Al langsung terbangun dan duduk, ia panik dimana Saphire berada dan bagaimana keadaanya. Al melepas saluran oksigen yang berada di hidungnya, ia berjalan dengan tertatih membawa infus ke ranjang di sebelahnya. Disana Saphire tertidur, terlihat sangat lemah dan kesakitan di mata Al.
Bersambung
like
coment
__ADS_1
and share guys
thanks