
Napas Neyla masih memburu bercampur dengan kemarahan atas kebohongan yang ia terima dari Zavan. Sambil menahan rasa sakit di bagian kedua rahangnya yang ditekan kuat, Neyla membuang muka, merasa jijik melihat suaminya sendiri. Lelaki yang dijadikan pelindung baginya, justru menjadikan dirinya umpan.
Zavan menunjukkan seringainya, dan dipaksa untuk menatap ke arah dirinya.
"Gimana rasanya setelah keluargamu membencimu, Neyla?" tanya Zavan sengaja mengejek.
"Apakah kamu sudah puas sekarang? melihatku yang sudah hancur karenamu."
Devan yang mendapat pertanyaan dari Neyla, menatapnya dengan sinis, dan dengan seringainya.
"Kamu bilang apa tadi, puas katamu? tentu saja aku belum merasa puas kalau belum menghancurkan hidupmu sehancur hancurnya."
"Apa katamu? kamu masih belum puas setelah menghancurkan hidupku? salahku apa denganmu?"
"Kamu masih berani tanya apa salahmu? apa kamu lupa, bahwa kamu tidak ada kepedulian apapun terhadapku saat aku menjadi bahan olokan dan hinaan oleh keluargamu, terutama ayah dan ibumu. Sekarang kamulah alat untuk ku jadikan balas dendam ku pada keluargamu, termasuk kamu sendiri, paham." Jawab Devan sambil menatapnya dengan tajam.
"Bukankah semua sudah terpenuhi?"
Tanpa peduli, Devan langsung mendorong tubuh Neyla yang tengah duduk di lantai hingga terbentur kepalanya yang lumayan sakit.
"Aku belum merasa puas untuk membalaskan dendam ku padamu. Kau harus membayarnya dengan impas, sesuai yang pernah aku rasakan dulu. Kamu pikir kamu itu siapa? hanya barang kotor yang sudah kamu jajakan kemana-mana. Cuih! tubuhmu sangat menjijikkan. Kalau bukan untuk membalaskan dendam ku padamu, tidak sudi aku menyentuh tubuhmu yang kotor itu." Jawab Devan yang masih dikuasai kebencian kepada Neyla.
Sambil menahan rasa sakit, sedikitpun tidak ada bekas kasih dari Zavan. Bahkan, pergelangan kakinya masih sakit rasanya. Namun, Neyla bisa apa? dirinya hanya bisa pasrah atas apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Mulai sekarang kau hanya aku anggap sebagai budak ku, pelayan di atas ranjang ku, pelayanan untuk di ruang makan, fan sepenuhnya kamu adalah pelayan dan budak ku. Tidurmu, dilantai. Sekali saja kamu berani memberontak, jangan harap kamu bisa kabur dari rumahku." Ucap Zavan yang terdengar kasar.
Neyla yang mendengarnya, pun begitu menyakitkan. Menyesal sudah pasti, semua tiada guna atas pilihannya yang salah menilai. Lelaki yang masih dicintainya, tidak lain hanyalah memberi harapan palsu dan sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Sekarang juga, bersihkan badanmu, dan tidurlah dilantai. Jangan berharap aku mempunyai belas kasih kepadamu, karena aku tidak sudi untuk berlaku baik padamu." Ucap Zavan yang langsung keluar dari kamar.
Neyla yang sudah masuk kedalam perangkap suaminya, hanya bisa menangisi dirinya sendiri atas penyesalannya selama ini yang begitu percaya dengan Zavan.
"Maafkan aku, Ma... maafkan aku, Mas... Viro, maafkan Mama, Nak..." Ucapnya penuh penyesalan dibarengi menangis sesenggukan.
"Aaaaaaaaaaaa!" teriak Neyla meluapkan penyesalannya yang hanya menuruti egonya.
"Mas Naren... aku menyesal...." Ucapnya lagi sambil menangis.
Zavan yang berada di ruang kerjanya, ia tengah memperhatikan Neyla yang sedang menangis sesenggukan dan terlihat seperti penuh dengan penyesalan.
"Kamu pikir aku akan membahagiakan kamu. Tidak. Justru aku akan menghancurkan hidupmu secara perlahan hingga kamu akan merasakan apa yang sudah pernah aku rasakan dulu." Gumamnya sambil menatap layar komputernya.
Sesuai tujuannya, Zavan sedikit ada rasa puas ketika dirinya dapat melihat langsung penderitaan yang dialami oleh Neyla. Karena waktu sudah larut malam yang sedari tadi memperhatikan layar komputer, Zavan segera kembali ke kamarnya untuk istirahat.
"Kamu mau ngapain? jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon, aku belum siap."
"Persetan! dengan ucapan mu. Sekarang juga kamu harus layani aku."
"Aw! jangan, jangan lakukan itu. Badanku sakit." Pekik Neyla yang tengah kesakitan di bagian tubuhnya yang mendapat benturan, dan yang jatuh akibat didorong oleh mantan suaminya, termasuk pergelangan kaki yang terasa sakit untuk digerakkan.
Zavan sama sekali tidak peduli akan hal itu, ia terus memberi siksaan kepada istrinya. Bahkan, baju yang dikenakan oleh Neyla pun robek karena ulah suaminya yang arogan saat menanggalkan pakaiannya hingga tidak tersisa, hingga menyisakan tubuh polosnya.
Manahan rasa sakit di bagian tubuhnya, Neyla sama sekali tidak berkutik. Bukan lagi kelembutan yang didapat dari Zavan, namun sudah seperti penganiayaan hingga tubuhnya terasa remuk redam.
Dengan penuh penyesalan, Neyla menitikkan air matanya saat Zavan memperlakukannya dengan kasar. Rasa sakit yang benar-benar sulit untuk ditahan, fisik, juga jiwanya hanya sudah dihajar habis-habisan oleh suaminya yang sekaligus.
__ADS_1
Perlakuan lembut yang ia dapatkan, hanya tipu muslihatnya saja. Napasnya yang terasa tersengal, kini menyisakan rasa yang begitu sakit di bagian area tertentu karena ulah Zavan yang memperlakukannya dengan kasar.
Tubuh polos yang ditutupi dengan selimut tebal, Neyla meringkuk sambil menangis sesenggukan dan menahan rasa sakit di bagian sensitifnya.
Zavan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh istrinya. Baginya memberi penyiksaan adalah cara terbaik untuk membalaskan dendamnya.
Tubuh yang sudah terasa remuk redam karena perbuatan suaminya, Neyla masih menahan rasa sakit yang teramat dalam. Kakinya, tangannya, badannya, dan juga bagian sensitifnya, benar-benar sakit rasanya.
Tidak ingin ada Neyla yang tidur di atas tempat tidurnya, Zavan yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menarik tubuh istrinya hingga terjatuh ke pantai beserta selimutnya.
"Aw!" pekik Neyla sambil meringis kesakitan.
Tubuhnya benar-benar remuk redam. Untuk berdiri saja tidak mampu.
"Kamu tidak mempunyai hak apapun untuk tidur di ranjang ku, kecuali untuk melayani ku, paham." Ucap Zavan tanpa belas kasih sedikitpun kepada istrinya.
Neyla sama sekali tidak menjawab, memilih diam dan menahan rasa sakit.
Waktu yang sudah lewat tengah malam, Zavan memilih untuk tidur tanpa peduli dengan istrinya. Dengan dengkuran suara khas orang tidur, Neyla masih berada dalam balutan selimut dengan tubuh polosnya.
Tidak ada pilihan lain, susah payah Neyla merangkak dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, ia terus merangkak menuju lemari untuk mengambil baju ganti.
Setelah itu, Neyla ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan kembali merangkak, dan meneteskan air matanya yang penuh dengan penyesalan yang sudah ia perbuat sebelumnya.
Nasi telah menjadi bubur, hidupnya sudah hancur berantakan. Rumah tangganya, kedekatannya dengan orang tua dan anaknya, seolah hilang dalam sekejap karena perbuatannya yang salah.
Dibawah sower, Neyla kembali menangis sesenggukan dengan penuh penyesalan. Hidupnya seolah tiada guna lagi, dan tinggal kepedihan yang ia terima.
__ADS_1