Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Takut terbongkar


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Zavan bersandar di jendela kaca mobil sambil memperhatikan jalanan yang cukup renggang oleh kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang saling berlawanan.


"Bos, yakin nih dengan kehadiran Nona Vena?" tanya Edwan membuka obrolan.


"Mau bagaimana lagi, Wan, Papaku dari dulu memintaku untuk menikahi Vena. Meski aku sudah menolak pun tetap saja masih terus mendesak ku." Jawab Zavan yang kini tengah menatap lurus ke depan.


"Kenapa Bos Zavan gak berterus terang saja sama Tuan Gunanta, kalau Tuan Zavan sudah menikah dengan Nona Neyla." Ucap Edwan menyarankan.


"Tidak semudah itu aku berterus terang pada Papaku sendiri. Bukan soal aku tidak berani, hanya saja kalau aku belum mempunyai waktu yang tepat untuk berterus terang. Kamu tahu sendiri, kalau Papaku mengetahui semuanya soal masa laluku. Apa jadinya kalau ketahuan jika aku menikahi perempuan yang pernah menghancurkan hidupku. Bukan aku saja yang mendapatkan imbasnya, tetapi istriku." Jawab Zavan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada diri istrinya.


Meski terkadang timbul rasa sakit hati dan benci, dan hilang kendali saat emosi dan amarahnya meluap, namun tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika harus menghadapi orang tuanya sendiri.


Edwan yang mengerti dengan kondisi Zavan selaku Bosnya, tidak dapat untuk memaksakan agar mau berterus terang dihadapan orang tuanya.


"Terus, bagaimana dengan mantan suaminya Nona Neyla, Bos? apa jadinya jika istri Bos sendiri mengetahui jika dalang dibalik semuanya ternyata Bos lah pelakunya. Maafkan aku, Bos, jika sudah lancang bicara. Aku hanya mengingatkan saja." Ucap Edwan yang juga dihantui perasaan takut jika sewaktu-waktu perbuatan Bosnya bakal ketahuan.


Zavan menghela napasnya, dan berharap semuanya baik-baik saja.


"Kamu tenang saja, asal kamu dan aku tidak membocorkan masalah, semua tidak akan ada masalah apapun pada diri kita." Jawab Zavan berusaha yakin kalau perbuatannya tidak akan terbongkar.


"Semoga saja, Bos. Aku hanya khawatir jika ketahuan oleh Nona Neyla, maka habislah riwayat kita." Kata Edwan yang masih dihantui dengan perasaan takut.

__ADS_1


"Kamu tenang saja." Jawab Zavan dengan santai. Sedangkan Edwan sandiri berusaha yakin dan mempercayai apa kata Bosnya.


Cukup lama menikmati obrolan bersama didalam mobil selama perjalanan, tidak terasa juga sudah sampai di depan rumah.


"Silakan turun, Bos." Ucap Edwan saat membukakan pintu mobil.


Belum juga turun, rupanya sudah ada Vena yang sudah siap siaga untuk menyambut dan membantunya turun dari mobil. Nahas, Vivian lebih gesit dari Vena. Tentu saja, mereka berdua kembali bersaing memberi perhatian.


Neyla yang tengah berdiri di ambang pintu, hanya memperhatikan suaminya yang dijadikan rebutan oleh Vivian dan Vena.


"Kak, sama aku aja." Ucap Vivian yang tetap bersikukuh membantu kakaknya turun dari mobil.


"Diam! kalian." Bentak Zavan, dan arah pandangannya tertuju pada istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu utama untuk masuk rumah.


Vena maupun Vivian sama-sama kaget, sudah seperti terserang penyakit jantung.


"Aku gak butuh kalian berdua, aku butuh dia." Ucap Zavan sambil menunjuk ke arah istrinya.


Neyla yang merasa ditunjuk, pun mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri, yakni untuk memastikannya.


"Iya! kamu. Cepetan."

__ADS_1


Neyla segera menghampiri suaminya, sedangkan Vivian akhirnya tersenyum puas saat kakaknya tidak memilih Vena, pikirnya.


Lain lagi dengan Vena, terasa dongkol dan juga kesal saat perempuan yang diketahui asisten rumah, justru diminta untuk menghampiri Zavan, lelaki yang disukainya.


'Setidaknya Kak Zavan tidak didekati oleh ulet bulu macam Vena, sangat menjijikkan idenya untuk mendekati Kak Zavan.' Batin Vivian merasa lega.


Vena yang tengah memperhatikan Zavan bersama Neyla, hatinya terbakar oleh api cemburu. Bagaimana tidak cemburu, lelaki yang diharapkan akan mendapatkan perhatian darinya, justru memilih asisten rumah untuk mengantarkannya ke kamar.


Kecewa, kesal, itu sudah pasti. Namun, meski berawal dari sebuah kekecewaan, Vena tidak mau menyerah untuk mengambil hati Zavan agar tidak dipandang sebelah mata. Sedangkan Edwan masuk ke ruangan lainnya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di rumah Bosnya.


Karena tidak ingin terabaikan, Vena mengejar Zavan hingga sampai dianak tangga paling atas.


"Kak, tungguin dong." Panggil Vena sambil menapaki anak tangga untuk mengejarnya.


"Ada apa, Ven?" tanya Zavan ingin tahu.


"Tadi aku udah nyiapin makan siang buat Kakak, buruan turun ya Kak, aku tunggu di ruang makan." Jawab Vena penuh harap jika Zavan mau menerima ajakannya, syukur-syukur mau makan bareng, pikirnya.


Zavan mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun, perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


Vena yang merasa berhasil memberi ajakan, pun tersenyum merekah dan hatinya berbunga bunga karena berharap pada satu pilihan, yakni untuk menikah dengan Zavan.

__ADS_1


__ADS_2