
"Aw! punya mata gak sih! kamu itu. Panas! tau." Pekik Vena yang sekaligus memaki Neyla yang tanpa sengaja menyenggol dan menumpahkan kuah yang ada di mangkok hingga mengenai baju miliknya Vena.
"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap Neyla dengan perasaan takut.
Vena yang tengah kesal saat penampilannya berantakan, ia langsung bangkit dari posisi duduknya. Kemudian, menatapnya dengan tajam.
Dengan emosinya, tidak peduli salah atau benarnya, Vena langsung meraih mangkok berisi sup yang masih tersisa ke mukanya Neyla.
Dengan sigap, Neyla langsung menutup mukanya. Meski sudah ditutup dengan kedua telapak tangannya, tetap saja kedua matanya terkena air sup yang cukup perih mengenai matanya.
"Vena! keterlaluan kamu." Bentak Zavan penuh kesal ketika istrinya diperlakukan kasar oleh saudara sepupu adiknya.
Saat itu juga, Zavan langsung bangkit dari posisinya. Tidak peduli dengan kondisi fisiknya yang masih lemah, ia langsung menggendong istrinya yang merasakan perih di bagian matanya yang terkena air sup. Tidak lupa juga meminta asisten rumah untuk ikut dengannya ke kamar, yakni membantu istrinya yang terkena air sup.
"Kamu itu ya, kejamnya kebangetan. Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kak Neyla, kamu siap-siap menanggung akibatnya dari Kak Zavan. Kamu gak tahu 'kan, siapa itu Kak Neyla." Ucap Vivian dengan penuh kesal dan benci dengan saudara sepupu sendiri.
"Hanya seorang pembantu saja dibelain, siapa juga yang takut dengannya." Jawab Vena yang masih emosi.
Sedangkan ibunya dan Tuan Gunanta masih menjadi pendengar putrinya masing-masing.
"Dia istriku, kenapa?" sahut Zavan yang baru saja keluar dari kamar.
Alangkah terkejutnya saat mendengar pengakuan dari Zavan yang mengakui jika Neyla adalah istrinya. Tidak cuma Vena maupun ibunya, tetapi ayahnya juga sangat kaget dengan ucapan putranya.
"Apa!" ketiganya begitu shock mendengarnya.
"Ya. Neyla istriku, perempuan yang pernah menjadi masa laluku. Sudah jelas 'kan, jadi gak perlu menjodohkan ku dengan Vena. Aku hanya menganggapnya adik, sama seperti Vivian. Mulai sekarang jangan membahas soal perjodohan, karena aku sudah menikah." Ucap Zavan yang langsung berterus terang, dan tidak ada lagi yang ditutupi.
__ADS_1
Vena yang tidak terima dengan jawaban atas pengakuan dari Zavan, langsung menyambar satu gelas yang berisi air minum dan menyiramkannya tepat ke wajah Zavan.
"Kak Zavan jahat!"
Saat itu juga, Vena langsung pergi dari rumahnya.
"Vena! tunggu Nak. Vena tungguin Mama. Ven, Vena." Teriak ibunya memanggil putrinya yang tengah berlari keluar entah pergi kemana.
Zavan kini tertunduk di hadapan ayahnya, mendongak saja pun tidak. Tuan Gunanta yang juga marah dan sangat kesal atas ucapan dari putranya, mengepal kuat pada tangannya, dan maju beberapa langkah hendak ingin menampar.
"Kamu, anak tidak tahu diri. Sudah menjadi sukses, sekarang mulai berani dengan orang tua sendiri. Apa kamu lupa dengan keterpurukan mu dulu, ha! kamu lupa dengan hinaan dan rasa sakit hatimu dimasa lalu mu. Kamu bagai sampah tidak berguna, dan sekarang kamu diperdaya pun masih menerimanya."
PLAK!
Sebuah tamparan rupanya tengah mendarat di pipi miliknya Neyla yang tiba-tiba menghadang untuk melindungi suaminya agar tidak mendapat tamparan dari Tuan Gunanta, ayah Zavan sendiri.
Zavan sangat shock ketika istrinya yang justru mendapat tamparan dari ayahnya. Neyla meringis kesakitan sambil mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
"Neyla, kamu. Kenapa kamu melakukan semua ini, semua ini sudah menjadi resikoku." Ucap Zavan yang tidak tega melihat sudut bibirnya pecah karena ulah dari ayahnya.
"Perempuan tidak tahu malu. Setelah putraku menjadi orang kaya, kamu baru menyadarinya rupanya. Dari dulu kamu kemana saja? apa karena suami kamu jatuh miskin? jangan harap aku merestui hubungan kalian, tidak akan pernah."
Neyla yang mendapat penghinaan dari ayah mertua, begitu sakit mendapat tuduhan yang sangat menyakitkan. Siapa juga yang mau dijodohkan, pikirnya.
"Asal kamu tahu, yang menghancurkan reputasi suami kamu itu tidak lain, Zavan. Puas! kamu. Jadi, suami kamu jatuh miskin adalah perbuatan suami kamu yang sekarang ini, tentu saja membalaskan dendamnya padamu." Ucap Tuan Gunanta yang akhirnya membeberkan kesalahan putranya sendiri.
Tidak punya cara lain untuk menghancurkan hubungan anak dan menantu selain mengungkapkan kebenarannya.
__ADS_1
Neyla yang mendengar ucapan dan penjelasan dari ayah mertuanya, pun shock bukan main. Kemudian, Neyla menoleh kearah Zavan.
Zavan menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa jelaskan semua, Ney. Percayalah denganku, aku ada alasan untuk menjelaskannya padamu. Aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku."
Neyla menitikkan air matanya, ia langsung teringat saat bagaimana susahnya ketika perekonomian jatuh sedalam-dalamnya. Ditambah lagi dengan penderitaan yang dialami putranya, seketika hancur sudah kepercayaannya.
Pikirnya hanya balas dendam karena sakit hati, Neyla masih memaafkan ketika memperlakukannya dengan kasar. Namun, yang ia terima tidak hanya menyiksa dirinya, tetapi suaminya yang tidak bersalah, dan putranya yang kesulitan untuk melakukan pengobatan.
Tidak hanya itu saja, Neyla juga harus menjadikan dirinya menjadi kupu-kupu malam. Rela menukarkan harga dirinya karena terhimpit oleh ekonomi. Juga, ia terpaksa menyakiti hati suaminya. Meski tiada cinta untuk sang suami, setidaknya tidak memperlakukannya dengan keji.
Neyla benar-benar sakit hati dan sangat kecewa ketika mendengar pernyataan jika Zavan lah pelakunya. Saat itu juga, ia teringat saat suaminya dulu kesulitan untuk mencari pekerjaan, selalu di tolak, bahkan mendapat hinaan karena jatuh miskin.
"Jangan-jangan kamu pelakunya yang menghancurkan nama baik Mas Naren. Kamu sengaja membuat nama buruk untuk Mas Naren agar tidak bisa diterima di perusahaan mana pun. Diterima pun, dengan gaji yang sangat minim. Jadi, kau pelakunya." Ucap Neyla kepada Zavan.
"Iya! benar. Zavan yang melakukan semuanya untuk menghancurkan rumah tanggamu." Sahut Tuan Gunanta.
Neyla kembali shock ketika mendengar jawaban dari ayah mertuanya. Sungguh semuanya tidak disangkakan atas perbuatan keji yang sudah dilakukan oleh seorang Zavan demi membalaskan dendamnya. Tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, inti pokoknya dapat membalaskan dendam atas masa lalunya.
Bahkan, tidak hanya hancurnya rumah tangga, tetapi harga diri seorang Neyla pun hancur. Zavan sama sekali tidak menjawab, terasa kelu untuk mengakui kesalahannya. Lebih lagi kini dirinya seperti masuk kedalam perangkap sendiri, tentu saja membuatnya dilema.
Ingin mengakui atas semua apa yang diucapkan oleh ayahnya, tapi tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Kenapa kamu diam? ha! apa kamu belum puas? atau masih ada ide yang belum kamu pecahkan? katakan, katakan sekarang juga."
"Sudah! cukup. Aku menyesali semuanya. Aku memang salah, aku salah." Jawab Zavan dengan suara yang kedengaran keras.
__ADS_1
Neyla menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya terasa sesak.