Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Menyembunyikan statusnya


__ADS_3

Saat bangun pagi, Neyla yang tidak mempunyai kegiatan apapun di rumah suaminya, memilih untuk bangun pagi dan membantu asisten rumah di dapur.


"Saya bantuin nyiapin sarapan ya, Bi. Kebetulan hari ini saya gak ada kesibukan, saya mau bantu Bibi menyiapkan sarapan pagi." Ucap Neyla yang sudah berada di dapur.


"Aduh, Non. Biar Bibi aja yang nyiapin sarapan paginya, lebih baik Nona nyari udara segar aja di belakang rumah, Non. Ini mah udah menjadi kerjaannya Bibi, bukan pekerjaannya Nona." Jawab asisten rumah yang takut mendapat kesalahan saat bekerja, karena membiarkan istri majikannya sibuk di dapur, pikirnya.


"Bibi tenang aja, gak ada yang marah kok, Bi. Suami saya lagi di rumah sakit, sekalian mau ngirim makanan kesukaannya. Bibi gak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja." Ucap Neyla yang tetap bersikukuh.


"Iya deh, Non. Kalau memang Nona Neyla memaksa, Bibi gak bisa nolak. Tapi, kalau Tuan marah sama Bibi, bagaimana?"


"Tenang aja, Bi. Percaya saja sama saya, Bibi gak bakalan kena marah. Ya udah ya, Bi. Kalau begitu saya mau membuat bekal untuk suami di rumah sakit, sekalian bantu Bibi menyiapkan sarapan pagi." Kata Neyla meyakinkan, yakni agar tidak dihantui dengan perasaan cemas.


"Nona begitu perhatian, tidak dengan mantan istrinya Tuan Zavan yang dulu. Jangankan untuk membuatkan bekal suamimu, menyiapkan sarapan pagi aja gak pernah. Tidak hanya itu saja, Tuan Zavan kalau makan pun selalu sendirian dan tidak ada yang menemani. Hanya Nona Vivian, itupun adiknya. Eh iya, Bibi dengar kalau semalam saudara sepupunya Nona Vivian datang. Nona Neyla harus hati-hati, soalnya dia berwatak keras. Maaf, bukan niat Bibi buat jelek-jelekin." Ucapnya.


Neyla yang mendengarnya, pun tersenyum.


"Vivian sudah cerita semalam, Bi. Makasih ya, Bi, udah mau jadi teman ngobrol." Jawab Neyla sambil menyiapkan sesuatu yang akan diolah untuk bekal suaminya.


"Kalau gitu saya mau menyiapkan sarapan pagi dulu, Nona. Maaf, jika saya bolak balik ke sana kemari." Ucapnya.


Pagi hari yang tidak ada kegiatan atau aktivitas lainnya, Neyla tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, serta menyiapkan bekal yang rencananya akan diantar ke rumah sakit.


Sambil menyiapkan bahan bahan yang akan diolah, Neyla teringat masa lalunya, sering membuatkan bekal untuk orang yang dicintainya, siapa lagi kalau bukan Zavan yang telah menjadi suaminya.


Keterbatasan ekonomi yang menghimpit keuangan keluarga, Zavan tidak mudah untuk menjalani hidupnya dalam sehari-hari yang hanya mengandalkan hasil seadanya. Sejak menjadi kekasihnya Neyla, lumayan ada yang memberikannya bekal untuknya makan. Bahkan, Neyla tidak peduli jika kedua orang tuanya begitu membenci sosok Zavan yang terkenal orang yang tidak baik.

__ADS_1


"Nona, Non, Nona." Panggil asisten rumah mengagetkannya, serta membuyarkan lamunannya.


"Bibi, ngagetin aja deh. Hampir aja saya jantungan, Bi."


"Maaf, Nona, habisnya dari tadi Nona ngelamun terus. Jangan-jangan Nona keinget Tuan, ya? andai saja Nona dan Tuan nikahnya dari dulu, udah bahagia mungkin. Juga, Tuan tidak mengalami perceraian." Ucapnya.


"Semua sudah menjadi pilihan, Bi. Mau sekuat mana juga, pasti tidak akan bisa bersatu jika memang waktunya belum bertemu." Jawab Neyla sambil menyiapkan sesuatu yang akan diolah.


"Iya sih, Non. Tapi kenyataannya sekarang Tuan Zavan dipertemukan dengan Nona Neyla. Bibi sangat senang melihat Nona menjadi istrinya Tuan Zavan. Untuk soal Nona Vena yang datang ke rumah ini, anggap saja angin lalu." Ucapnya.


Lagi-lagi Neyla tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lantaran ucapan asisten rumah yang cukup menghibur dirinya. Takutnya masakannya tidak matang dengan sempurna, Neyla maupun asisten rumah segera mendaftar.


Cukup lama menyiapkan sarapan pagi, Neyla sendiri sampai lupa kalau dirinya belum juga mandi. Buru-buru karena badan sudah terasa gerah dan juga risih akibat bercampur dengan keringat, akhirnya tidak memakan waktu lama ternyata kerjaannya selesai juga, sarapan pagi atau yang dijanjikan untuk bekal suaminya sudah siap di ruang makan.


"Wow, enak banget sarapan paginya. Aromanya aja udah menggoda, apalagi rasanya coba." Ucap Vena sambil memuji aroma makanan untuk sarapan pagi.


"Itu apa?" tanya Vena sambil menunjuk.


"Oh ini, bekal untuk- em- itu, bekal untuk-"


"Untuk Tuan Zavan, Nona." Sahut asisten rumah yang sudah mendapatkan perintah dari Vivian.


"Buat Kak Zavan kah?" tanyanya memastikan.


"Iya, benar." Timpal Neyla yang langsung menyambar sebelum asisten rumah yang menjawab.

__ADS_1


"Keknya aku belum pernah bertemu dengan kamu deh. Kamu asisten baru ya? maksudnya aku kerja di rumah Kak Zavan, calon suami aku."


"Iya benar, kalau saya ini memang asisten rumah. Perkenalkan, nama saya Neyla." Jawabnya yang tidak lupa untuk memperkenalkan diri kepada Vena." Jawab Neyla yang sekaligus


'Dih, ini perempuan ternyata benar yang diucapkan oleh Vivian. Menyedihkan sekali dia, sudah seperti tidak ada laki-laki lain.' Batin Neyla sambil memperhatikan Vena dari ujung kaki hingga kepalanya.


"Banyak juga ya, asisten rumahnya. Aku kira masih sama kek dulu, rupanya ada lagi yang kerja di rumahnya Kak Zavan." Ucap Vena yang mulai terasa gerah.


"Saya tidak tahu berapa banyak yang kerja di rumah ini, Nona. Saya orang baru soalnya." Jawab Neyla sesuai yang diminta oleh adik iparnya untuk tidak menunjukkan identitasnya.


"Ya udah sana, kembali lanjutkan kerjaan kalian. Eh iya, itu bekal biar aku yang bawa ke rumah sakit. Jangan bilang kalau kamu yang membuat bekalnya, katakan saja kalau aku yang membuat, oke." Ucap.


Neyla mengangguk dan bergegas kembali ke dapur, lantaran dianggapnya bukan siapa-siapa di rumah Zavan, melainkan hanya asisten rumah.


"Ekhem. Entar kalau ketahuan bohongnya, gimana? siap nih nerima resikonya. Ingat loh, Kak Zavan itu tidak suka dibohongi." Timpal Vivian yang baru aja datang.


Vena yang sudah seperti tomi dan jerry, sulit untuk diajaknya teman akrab.


"Asal kamu gak ember aja. Awas aja kalau sampai kamu itu ngadu." Ucap Vena sambil mengancam.


"Ya deh ya. Dah sana minggir, aku dah lapar, aku mau sarapan." Kata Vivian yang langsung duduk dan menikmati sarapan pagi.


Ada rasa sedikit tidak enak hati saat kakak iparnya tidak sarapan bareng di ruang makan, tidak mempunyai cara lain selain memintanya berpura-pura untuk sementara hingga sang kakak pulang ke rumah.


Sedangkan Neyla sendiri tidak mempermasalahkannya soal makan tidak bareng adik iparnya, melainkan bersama asisten lainnya.

__ADS_1


Vena yang tengah menikmati sarapan pagi, buru-buru segera menghabiskannya. Mau kemana lagi kalau bukan pergi ke rumah sakit untuk membawakan bekal.


__ADS_2