Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Ada yang kepedean


__ADS_3

Selesai sarapan, Vena kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Vivian sendiri mendengkus kesal saat mendapati sikap Vena yang tidak tahu malu.


"Kamu kak ikut ke rumah sakit?" tanya Neyla yang baru aja mau membereskan meja makan.


"Kak Ney, enggak ah. Males kalau ada Vena, yang ada hanya melihat dia yang sok cantik dan main drama inilah, itulah. Enggak ah, males." Jawab Vivian yang kemudian menghabiskan air minumnya hingga tandas.


"Jangan gitu, kamu kan adiknya, seharusnya kamu juga ke rumah sakit. Saudara kandung kamu cuma satu, jangan membuat Kakak kamu khawatir dan memikirkan mu karena kamu gak mau datang. Sudah sana berangkat, aku yang di rumah aja." Ucap Neyla.


Vivian segera bangkit dari posisi duduknya.


"Seharusnya Kak Ney yang ke rumah sakit, kan Kak Zavan suaminya Kak Neyla. Bukan si Vena, dia mah apa, orang yang sok-sokan aja dia itu." Jawab Vivian sambil memasang muka cemberut.


Neyla yang melihat ekspresi adik iparnya, pun tersenyum.


"Sudah sana siap-siap, berangkatnya bareng Vena. Dah sana cepetan berangkat." Ucap Neyla menyuruh adik iparnya untuk pergi. Vivian mengangguk, kemudian bergegas ke kamar untuk bersiap-siap.


Neyla yang tidak bisa mengantarkan bekal untuk suaminya, tidak mempunyai pilihan selain berada di rumah untuk membereskan meja makan. Vivian sendiri dengan terpaksa berangkat bareng Vena ke rumah sakit.


"Loh, Kok Nona gak ikutan pergi ke rumah sakit?" tanya asisten rumah saat hendak membereskan meja makan.


"Sudah ada Vivian sama Nona Vena, Bi. Jadi, saya di rumah aja nemenin Bibi beres beres rumah." Jawab Neyla yang tengah membereskan meja makan.


"Nona ini bagaimana sih, Nona adalah istrinya Tuan Zavan. Tidak ada hak apapun untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai asisten rumah. Kalau sampai Tuan sampai mengetahui, habislah saya, Nona. Jadi, biar Bibi saja yang mengerjakan semuanya, Non. Mendingan Nona bersantai di taman belakang, atau gak di ruang santai." Ucapnya, Neyla justru tersenyum mendengarnya.


"Saya sadar diri, Bi. Soalnya saya bukan istri yang istimewa. Bagi saya di rumah ini, status saya tidak ada yang istimewa." Jawabnya.


"Percayalah sama Bibi, Nona pasti diistimewakan oleh Tuan Zavan. Meski Tuan pernah bersikap kasar kepada Nona, semua hanya emosinya." Ucapnya.


"Sudah lah, Bi. Saya mau bantuin Bibi beres beres, setelah semuanya selesai, saya akan kembali ke kamar. Oh iya, memangnya mantan istrinya, eh gak jadi, Bi. Ya udah ya, Bi, saya mau beres-beres."

__ADS_1


"Ada apa dengan mantan istri, Non? maksudnya mantan istrinya Tuan Zavan, benarkah?"


Neyla mengangguk. "Maaf, Bi." Jawab Neyla ada rasa sedikit takut kalau asisten rumah bakal melapor kepada suaminya.


"Mantan istrinya Tuan Zavan sudah lama tidak ada kabar beritanya sejak perceraian, mungkin sudah bahagia bersama pasangannya. Tapi ngomong ngomong, ada apa ya, Non?"


"Tidak ada apa-apa, Bi. Saya hanya kehabisan kata-kata. Ya udah ya, Bi, saya mau bantuin Bibi beres-beres. Sesudah selesai, saya mau kembali ke kamar." Jawab Neyla yang tidak ingin banyak melontarkan pertanyaan, takutnya salah bicara, pikirnya.


Asisten rumah, pun tersenyum dan mengiyakan.


Di lain tempat, Vivian bersama Vena yang baru aja sampai di rumah sakit, keduanya buru-buru menuju ruang rawat pasien.


"Selamat pagi Kak Zavan, maaf ya Kak, aku baru datang. Gimana keadaannya Kakak? aku sangat mencemaskan keadaan Kakak. Oh iya, ini aku bawakan bekal buat Kakak." Sapa Vena lebih dulu, Vivian hanya diam dengan memasang muka cemberut dengan bibir yang digerakkan ke kiri ke kanan, dan berputar dengan perasaan dongkol.


Tentu saja, Zavan dapat melihatnya. Diam-diam malah tersenyum saat melihat ekspresi adiknya.


'Dih! malah senyum. Bukannya menyapa adiknya kek, biar gak cemberut, malah senyum mengejek gitu.' Batin Vivian dengan kesal.


"Eh enggak enggak, aku gak butuh dia, males akunya." Jawab Vivian yang akhirnya mendekati kakaknya.


Vena yang tengah diabaikan, tidak ambil diam dan membukakan bekal dari Neyla yang ia tahu asisten rumah.


"Kak, ini aku loh yang buat bekal untuk Kak Zavan. Coba ya, Kak." Ucap Vena menawarkan makanan ke Zavan.


"Aku udah kenyang, nanti aja." Jawab Zavan menolak.


"Kok nanti sih, Kak. Ini tuh bubur dari tepung beras, mau ya?"


Seketika, Zavan kaget mendengarnya. Tentu saja dirinya teringat dengan kenangan masa lalunya.

__ADS_1


"Kak Zavan, Kak, kok ngelamun sih. Mau ya, makan buburnya, dikit aja." Ucap Vena yang terus membujuk, berharap mau menerima tawaran darinya.


"Boleh." Jawab Zavan yang akhirnya mengiyakan.


Vena yang mendengar jawaban dari Zavan, hatinya tengah berbunga-bunga saat tawaran darinya diterima.


Vivian maupun Edwan hanya menjadi saksi Vena yang sedang bersandiwara soal bekal yang dibawa dari rumah untuk Zavan.


"Aku suapi ya, Kak."


"Eih! gak boleh. Kalau bukan istrinya gak boleh sembarangan menyuapi Kak Zavan, hanya aku sebagai adiknya yang boleh, titik."


Dengan cepat, Vivian langsung menyambar mangkok yang ada ditangan Vena. Tidak perlu saling berebut, akhirnya pindah ke Vivian.


"Vian! berikan padaku. Aku memang bukan istrinya, tapi aku cinta sama Kak Zavan, dan aku tidak menolak untuk menikah meski statusnya duda sekalipun. Karena aku cinta mati sama Kak Zavan." Bentak Vena.


Vivian bukannya menjawab malah tertawa. Saat itu juga, Zavan langsung menyambar mangkok berisi bubur yang berada ditangan adiknya.


"Kalian gak usah berebut atau berantem. Nih, aku yang akan makan sendiri. Kalian lebih baik diam, dan jangan berisik." Ucap Zavan kepada adiknya maupun ke Vena.


Kemudian, Zavan menyuapi mulutnya sendiri. Namun, tiba-tiba dirinya seperti merasakan sesuatu yang sudah sekian lama tidak pernah ia temui rasa yang begitu unik.


'Aku yakin kalau bubur tepung beras ini bukan Vena yang buat, melainkan Neyla istriku. Mana mungkin gadis bodoh ini bisa masak di dapur.' Batinnya yang langsung menghabiskannya hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun.


Vivian yang melihat kakaknya makan bubur dengan lahapnya, pun merasa aneh.


'Jangan-jangan Kak Zavan sudah tahu kalau bubur yang dimakan itu, buatan Kak Ney. Bagus lah.' Batin Vivian sambil tersenyum.


"Nih, udah habis. Buburnya sangat enak, tidak terlalu manis, dan rasanya sangat unik, dari rasa maupun aromanya. Jangan lupa, besok buatin lagi ya." Ucap Zavan memuji.

__ADS_1


Vena yang mendengar pujian dari Zavan, pun tersenyum merekah.


'Akhirnya Kak Zavan suka, syukurlah, aku bisa mengambil hatinya dari makanan. Semoga saja itu pembantu di rumah bisa aku andalkan. Untung saja itu pembantu masih baru, baru kemarin kata Vivian. Peluang emas untuk aku manfaatkan.' Batinnya serasa menang lotre.


__ADS_2