
Neyla tertunduk dan terdiam sambil menyeka air matanya. Tuan Gunanta yang melihat menantunya yang bersedih, mendekatinya.
"Papa tidak bisa berbuat apa-apa, harapan Zavan ada pada diri kamu." Ucapnya dan balik badan untuk menemui Dokter agar putranya mendapatkan perawatan khusus.
Neyla masih terdiam, bibirnya terasa kelu untuk berucap. Antara benci dan cinta, sulit rasanya untuk dikendalikan. Naren yang melihat ada Dokter yang baru aja keluar dari ruangan, menyadarkan mantan istrinya yang tengah melamun.
"Ney, Dokternya udah keluar, sana buruan temui suami kamu. Benar apa kata ayah mertua kamu, harapan Zavan ada pada diri kamu. Udah sana temui suami kamu, Ney."
Neyla langsung mendongak, arah pandangannya tepat lurus ke depan, yakni pada pintu masuk.
"Enggak, Mas. Aku gak punya harapan untuknya, aku gak mau menemuinya." Jawab Neyla kembali menangis, antara bingung dan juga dilema.
Naren yang tidak tega dengan kondisi Zavan, langsung menatap serius pada mantan istrinya sambil memegangi kedua lengannya.
"Kamu jangan egois, Ney. Zavan mencintaimu, meski cara dia udah salah, tapi tidak sepenuhnya dia itu salah. Aku yang salah, bukan Zavan. Ney, dengarkan aku, cepat kamu temui Zavan, atau kamu akan menyesal seumur hidupmu." Ucap Naren berusaha untuk membujuknya, dan berharap mau menemuinya.
Neyla terisak sambil menyeka air matanya, wajahnya pun terlihat sembab. Ia masih tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya. Neyla tertunduk sambil menangis.
"Aku gak bisa, Mas. Aku sakit hati karenanya, aku benar-benar kecewa. Dia udah menghancurkan hidupku." Jawab Neyla sambil menangis.
Naren yang tidak tega melihat mantan istrinya menangis sesenggukan, mencoba untuk menenangkannya, yakni memeluknya.
"Sebenci ini kah kamu dengannya? sampai-sampai kamu tidak mau menemui suami kamu? dia memang salah, tapi tidak sepenuhnya salah. Suami kamu saja tidak mempermasalahkan tentang dirimu, lantas, kenapa kamu masih egois?"
Dengan pelan-pelan, Naren mencoba melepaskan pelukannya, dan menatap serius pada Neyla.
"Aku yakin kalau kamu sebenarnya masih mencintai suami kamu, hanya saja kamu mengandalkan ego mu. Sekarang juga, cepat temui suami kamu. Jangan sampai kamu menyesal, dan akhirnya kamu tidak bisa menyelesaikan masalah mu atas penyesalan mu." Ucap Naren, meski ada rasa cemburu, namun dirinya menyadari jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Permisi, Nona, Tuan Zavan sedari tadi mengigau memanggil Nona. Apakah Nona ada waktu untuk Tuan Zavan?"
Mendengar ucapan dari Edwan, Neyla menoleh ke mantan suaminya. Naren yang mengerti jika Neyla seperti meminta saran, pun mengangguk tanda mengiyakan.
"Iya, aku akan menemuinya."
Dengan perasaan bercampur aduk, segera menemui suaminya yang sudah sadarkan diri dari pingsannya.
Didalam ruang rawat, Neyla dipersilakan masuk. Sedangkan ayah mertuanya, pun memilih keluar, yakni untuk memberi ruang untuk anak dan menantunya mengobrol.
Rasa yang tidak karuan, sebisa mungkin untuk menjaga bicaranya, dan memilih sedikit menundukkan pandangannya. Sambil menunduk, Neyla tidak berucap sama sekali.
Zavan yang melihat istrinya tidak mau mendongak, diraihnya tangan sang istri.
"Sini, mendekat lah, dan duduklah di dekatku. Lihat aku, jangan takut. Aku tahu kamu masih marah denganku, tapi apakah dengan cara marah untuk menyelesaikan masalah? pasti bukan, 'kan?"
"Apakah kita bisa berdamai? aku sangat merindukan sosok Neyla yang aku kenal, periang dan terlihat senyum manisnya. Perempuan yang sudah memberi banyak perhatian padaku, mengirimkan makanan, kadang kasih uang, lelaki macam apa aku ini, tidak bermodal, juga gak punya moral, selalu menyusahkan perempuan seperti mu. Benar-benar memalukan aku ini, sangat memalukan."
Cepat kilat, Neyla langsung menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya. Zavan tersenyum lebar, dan diraihnya tangan istrinya. Dengan susah payah, Zavan mencoba untuk duduk bersandar. Neyla sendiri segera membantu suaminya.
"Kamu ini, selalu saja berulah." Ucap Neyla sedikit ketus, dan dibuatnya wajah cemberut.
Zavan sendiri justru terkekeh melihat istrinya.
"Jangan ketawa, banyak pasien tidur, dah lewat tengah malam, kasian pasien yang lainnya kalau sampai tidurnya terganggu."
"Enggak lagi, sayang. Mendapat respon seperti ini saja, aku sudah lega, dan juga senang. Aku sangat beruntung mencintaimu, karena ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan."
__ADS_1
Zavan langsung memeluknya dengan erat.
"Jangan lagi tinggalkan aku, sayang. Jujur, aku gak bisa jauh darimu. Semakin aku menjauhi mu, semakin tersiksa hidupku. Aku janji, aku gak akan lagi mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Juga, aku akan memperbaiki semuanya, semua demi kamu dan aku."
"Maafkan aku juga," jawab Neyla yang juga meminta maaf.
Zavan masih memeluknya dengan erat, dan berharap tidak ada lagi konflik antara dirinya dengan istrinya.
Cinta, tidak melulu soal bahagia, terkadang hidup gak harus diawali dengan cinta, melainkan ujian. Jangankan soal asmara, menikmati perjalanan hidup saja penuh lika-liku.
Neyla memang bukan wanita yang sempurna, juga bukan wanita yang penyabar, apa yang menjadi tujuannya, secara langsung ia melakukan tindakannya sendiri tanpa peduli dengan nasib selanjutnya. Bagi Neyla, menjalani hidup itu bagai air mengalir. Ya... walaupun air itu keruh sekalipun, tidak pantang baginya melewati sungai yang penuh bebatuan kasar, dan juga dedaunan yang jatuh dan ikut mengikuti kemana air itu mengalir.
Berbeda dengan Zavan, lelaki yang mempunyai ego tinggi dan ambisi, sampai lupa dengan akibatnya. Namun, pada akhirnya ia dapat menemukan cintanya yang pernah hilang bersama datangnya kebencian serta dendam yang menguasai pikirannya.
Neyla yang masih berada dalam pelukan suaminya, merasa begitu nyaman. Harapan yang pernah hilang bersama cintanya, kini telah dipertemukan kembali, serta disatukan dengan ikatan pernikahan.
Di rumah sakit, Tuan Gunanta, putrinya, juga Edwan orang kepercayaan Zavan, serta mantan suaminya Neyla, kini tengah berada di ruang rawat. Tidak lama kemudian, Ibunya Neyla dan putranya bernama Viro datang.
Satu persatu saling meminta maaf, dan mengubah segala kebencian menjadi keakraban. Naren sebagai mantan suami, berusaha ikhlas dan merelakan. Dirinya menyadari, bahwa jodoh tidak akan lari kemana. Meski tidak mendapatkan cintanya, Naren mendapatkan sosok penerus baginya, siapa lagi kalau bukan Viro putranya.
TAMAT
Terima kasih atas kesetiaan readers tercinta hingga kisah Neyla dan Zavan berakhir bahagia. Anjana ucapkan banyak-banyak terimakasih.
Sekiranya ada yang kurang berkenan dalam berkarya, anjana minta maaf.
Sampai bertemu lagi di karya selanjutnya, tanpa readers setia, anjana tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
Bye bye.. muah muah