
Tidak mempunyai pilihan lain selain berkata dengan jujur untuk berterus terang, Neyla menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Berharap perkataannya dapat diterima, meski yang akan ia katakan adalah aib sendiri. Masa bodoh, pikir Neyla. Mau ditutupi serapat mungkin, juga bakal akan ketahuan menurutnya.
"Karena kebutuhan yang sangat mendesak, dengan terpaksa aku menjadikan diriku menjadi wanita penghibur di club. Sebuah keputusan yang mutlak untuk aku ambil, yakni demi kesembuhan putraku agar bisa sembuh dan mendapat perawatan yang cukup. Namun, semua telah berakhir setelah aku menemukan pelanggan yang tidak lain adalah Zavan kakakmu." Ucap Neyla yang akhirnya berterus terang dari pada nantinya mendengar rumor dan lebih menyakitkan lagi untuk didengar.
"Apa katamu Kak? Kak Zavan menjadi pelanggannya Kakak Ipar? yang benar saja."
Vivian pun sangat terkejut dan benar-benar tidak menyangka jika kakaknya sebagai pelanggan mantan kekasihnya sendiri.
Neyla yang melihat keterkejutan dari adik iparnya, pun mengangguk.
"Benar. Selain itu, kami mempunyai perjanjian. Aku yang membutuhkan uang banyak, dan Zavan membutuhkan balas dendam. Pada akhirnya lambat laun rumah tanggaku hancur karena ketahuan kalau kami sedang berduaan di kamar hotel. Sudahlah, jangan bertanya lagi. Kamu mau membenciku juga silakan. Aku sama sekali tidak peduli, karena hidupku sudah hancur, tinggal menunggu kematian." Jawab Neyla yang terasa berat untuk mengungkapkannya.
Vivian yang mendengar penjelasan dan mendapati kakak iparnya seperti menanggung beban yang begitu berat untuk disanggah sendirian, merasa kasian dan ikut bersedih, lantaran mendengar kisah putranya yang menderita penyakit lupus, tentunya butuh penanganan yang ekstra sabar dan juga butuh biaya yang besar untuk sewaktu-waktu jika kambuh alias drop.
"Kenapa Kak Neyla bisa menjadi wanita penghibur? bukankah Kak Neyla mempunyai suami? maaf, jika pertanyaan dariku ini sangat lancang."
Neyla menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan kasar ke sembarang arah. Kemudian, ia menoleh dan menatap serius adik iparnya.
"Suami aku mengalami kebangkrutan, alias jatuh miskin. Sejak usia pernikahan kami memasuki 7 tahun, kami diuji dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Kami hanya menyisakan baju yang kami punya. Jauh dari kata sederhana, benar-benar jatuh miskin. Setelah itu, kami diuji dengan penyakit yang diderita oleh Viro putra kami. Dengan terpaksa karena suami gajinya pas-pasan dan selalu ditolak untuk mendaftar kerja di kantor manapun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menjadi wanita penghibur tanpa sepengetahuan suami, ibu, maupun anak sendiri." Jawab Neyla menjelaskan sedetail mungkin.
"Kenapa suami Kakak gak diterima di kantor manapun? apakah karena statusnya yang jatuh miskin?"
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu, jika suamiku jatuh miskin hingga pada titik paling bawah."
"Justru aku kagum sama Kakak ipar. Bisa mempertahankan pernikahan dengan lelaki yang tidak dicintai, meski berakhir dengan kesalahan yang tidak diketahui alasan kebenarannya. Semoga Kakak ipar segera terlepas dari dendam dari Kak Zavan, dan Kak Zavan akan menyadari kalau sebenarnya masih mencintai Kakak. Selama ini yang aku tahu, Kak Zavan sangat mencintai Kakak ipar. Tapi, kenapa saat aku datang ke rumah Kak Zavan, berbanding terbalik dengan yang diceritakan oleh Kak Zavan soal masa lalunya." Ucap Vivian yang merasa aneh dengan yang diceritakan kakaknya sendiri dan dengan cerita dari kakak iparnya.
Neyla tersenyum getir mendengarnya.
Tidak terasa, akhirnya sampai juga di tempat yang dituju oleh Vivian. Danau kecil yang terdapat pemanangan yang cukup indah. Juga, bisa memesan makanan maupun tempat untuk bersantai.
Karena mengetahui jika kakak iparnya belum sarapan pagi, Vivian mengajaknya untuk segera turun.
"Kak Ney, kita udah sampai. Ayo Kak, ayo kita turun. Pokoknya ini tempat gak bikin bosen, Kak Ney pasti suka." Ajak Vivian.
"Dimana ini, Vian?" tanya Neyla yang merasa asing dengan tempatnya.
"Aku sengaja ngajak Kak Neyla ke Danau. Soalnya mau ngajak ke Mall, masih kepagian. Jadi, ya udah deh ngajak Kakak ipar ke Danau." Jawab Vivian dan nyengir kuda.
"Kamu tahu aja kalau aku menyukai pemandangan daripada harus ke tempat keramaian. Makasih ya, udah repot-repot ngajak ke tempat Danau segala." Ucap Neyla dan tersenyum.
"Aku tahunya juga dari Kak Zavan, kalau Kakak ipar menyukai pemandangan, seperti pantai, ke puncak, dan Danau, juga pemandangan yang ada air terjunnya, benar 'kan? Kak Zavan banyak bercerita soal masa lalu Kakak. Jadi, aku banyak mengetahuinya."
Neyla mendadak sulit untuk tersenyum, justru malah melamun sambil mengingat kenangan kenangan bersamanya diwaktu masih sekolah. Sedih, sudah pasti, lantaran sama sekali tidak mendapatkan restu oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dengan statusnya yang terkenal anak geng motor, juga terkenal berandalan, dan juga keterbatasan ekonomi ibunya yang menjanda, membuat Zavan selalu dipandang rendah oleh orang lain, termasuk kedua orang tuanya Neyla sendiri.
"Kak Ney, Kak, kok ngelamun sih. Ayo Kak, kita turun." Panggil Vivian sambil melambaikan tangannya untuk membuyarkan lamunannya.
Neyla yang menyadarinya, pun dibuatnya kaget oleh adik iparnya, dan tersadar dari lamunannya.
"Maaf, tadi lagi kepikiran. Ya udah yuk, kita turun." Jawab Neyla dan segera melepaskan sabuk pengamannya.
'Aku yakin kalau Kak Neyla sedang memikirkan Kak Zavan. Kasihan sekali nasibnya Kakak ipar. Apa iya, Kak Zavan hanya ingin membalaskan dendamnya atas rasa sakit hatinya dimasa lalu? tapi, kenapa kalau bercerita denganku itu begitu membuatku iri karena cintanya yang begitu besar. Aih! kenapa aku jadi kepo dengan hubungan mereka? tapi ya memang bikin penasaran sih. Masa iya, aku menyelidiki hubungan kakak aku sendiri, yang bener aja.' Batin Vivian yang justru dirinya malah melamun.
"Vivian, Vi, Vian." Panggil Neyla berulang-ulang sambil melambaikan tangannya.
"Eh iya, kok malah ikutan ngelamun. Ya udah yuk Kak, kita turun." Jawab Vivian yang baru menyadarinya.
Setelah itu, mereka berdua segera turun dari mobil. Vivian sendiri pamit untuk memesan makanan maupun minuman. Selain tempat untuk liburan, juga dijadikan tempat untuk membeli sarapan pagi. Dua puluh empat jam tidak ada kata tutup, selalu dibuka dan tidak ada libur.
Neyla yang sudah mencari tempat yang bisa dijadikan tempat untuk bersantai, ia duduk bersila di atas rerumputan dengan posisi disilangkan, dan untuk menghindari kejenuhan, ia melempar batu kerikil sambil melamun. Vivian sendiri sudah tidak sabar saat memesan makanan karena harus mengantri.
Setelah itu, Vivian celingukan dan mencari keberadaan kakak iparnya. Kemudian, Vivian ikutan duduk di dekatnya. Neyla sendiri baru menyadari, jika dirinya ada misi untuk melarikan diri sesuai yang sudah ia rencakan sedari masih berada di rumah.
'Aku tidak peduli dengan resikonya, bisa tidak bisa aku harus bisa mengelabui Vivian, agar aku bisa kabur dan melarikan diri.' Batin Neyla yang teringat akan tujuannya menerima ajakan adik iparnya.
__ADS_1