
Seketika, Neyla merasakan sakit yang cukup lumayan rasa sakitnya.
"Aw!" pekik Neyla sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Kamu mau lari kemana, sayang..." Ucap salah seorang yang tengah mengejar Neyla.
Dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang, membuat Neyla semakin takut. Lebih lagi dalam suasana sepi karena masih cukup jauh jaraknya dengan keramaian.
Neyla langsung menoleh kebelakang, takut sudah pasti. Apalagi yang sedang di hadapinya tidak lain tiga orang laki-laki yang sama besar postur tubuhnya, dan juga terlihat menyeramkan layaknya preman.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, akhirnya mereka mendekati Neyla untuk menangkapnya.
"Tolong! tolong aku! lepaskan!" Teriak Neyla yang kini sudah di cengkram kuat oleh dua orang laki-laki agar tidak bisa memberontak. Bahkan, mulutnya disumpal dengan kain. Sedangkan yang satunya mengambil kendaraan untuk membawa Neyla pergi.
BUG!
BUG!
BUG!
Dengan emosi yang sudah memuncak, dua preman yang tengah menahan Neyla, pun jatuh tersungkur.
"Sialan! kau. Mau jadi jagoan kalian." Umpat satu orang preman sambil menahan bagian dadanya karena mendapat serangan dari lawan.
"Ayo! maju, aku siap hadapi kalian."
"Persetan! kau." Jawabnya dengan tatapan tajam.
Namun, belum juga melawan, mereka berdua akhirnya kabur karena terdengar suara mobil polisi yang semakin dekat. Tidak ada pilihan lain, akhirnya memilih untuk pergi daripada harus berurusan dengan polisi.
Neyla yang masih ketakutan, ia duduk sambil meringkuk dan menunduk. Takut, sudah pasti.
"Kamu mau mencoba kabur rupanya. Apa kamu sudah bosan hidup, ha!"
Neyla masih diam, terasa berat dan juga sedikit ada rasa malas untuk menjawabnya. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Zavan langsung menarik paksa istrinya dan mendorong kuat hingga masuk kedalam mobil. Kemudian, Zavan sendiri segera masuk. Kini, mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Neyla yang menahan rasa sakit dibagian pergelangan kaki dan juga kedua sikunya karena terjatuh, sebisa mungkin tidak mengeluh.
Zavan yang merasa kesal saat mendapati istrinya kabur, langsung menoleh padanya. Kemudian, ia meraih dagunya, dan mengarahkan pandangannya tepat di hadapannya.
Lumayan kuat saat menekan kedua rahang milik istrinya, Zavan menatapnya dengan tajam.
"Apa kamu sudah bosan hidup? ha! sampai-sampai memilih kabur dan ditangkap oleh preman untuk dijadikan alat jualnya."
Zavan menatapnya dengan tajam, dan melepaskan tangannya agar istrinya leluasa untuk bicara.
"Ya! aku sudah bosan hidup. Apalagi hidup denganmu, yang ada aku akan mati dengan sia-sia."
Zavan tidak menjawab, namun menekan lagi kedua rahang milik istrinya dengan kuat, dan tangan satunya menahan kedua tangannya agar tidak berulah.
Neyla benar-benar kesakitan, dan menatap wajah suaminya penuh dengan kebencian. Zavan yang tengah terasa dongkol, ada rasa tidak tega ketika memperlakukan kasar kepada istrinya. Kemudian, Zavan melepaskan tangannya.
"Kenapa diam? ha! kenapa kamu gak bunuh saja aku ini, biar kamu lebih puas menyakiti aku. Lagi pula, aku tidak peduli dengan kematian ku, mau sekarang pun aku sudah siap. Apa lagi mati ditangan mu, aku siap."
"Diam!" bentak Zavan dengan suara yang cukup melengking di gendang telinganya.
Napasnya memburu saat mendengar ucapan dari istrinya. Dengan kondisi yang tengah dikuasai oleh emosinya, Zavan langsung menancapkan gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli baginya jika harus terjadi hal buruk pada dirinya.
Zavan tidak memperdulikannya, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Stop!" bentak Neyla kembali.
"Aw!" pekik Neyla saat keningnya terbentur cukup kuat karena suaminya mengerem mendadak di pinggiran sungai yang cukup curam dengan kedalaman yang lumayan ngeri.
Zavan segera keluar dari mobil dan berdiri di pinggiran sungai.
Neyla yang mendapati suaminya keluar dari mobil dan berdiri di pinggiran sungai yang begitu curam, tentunya membuat dirinya khawatir. Susah payah dirinya untuk keluar dan berjalan menghampiri suaminya.
Zavan yang tengah dikuasai emosinya, mendadak kesulitan untuk mengatur napasnya. Dengan susah payah untuk bernapas sambil menahan bagian dadanya yang terasa sangat sakit, Zavan berusaha untuk menahannya.
Neyla yang melihat suaminya yang seperti menahan sesuatu, ia segera mendekatinya.
__ADS_1
"Pergi! jangan pedulikan aku. Kamu ingin bebas dariku, 'kan? pergi sekarang juga dari hadapan ku. Aku tidak butuh belas kasihan mu, cepat pergi!" bentak Zavan dengan susah payah menahan rasa sakit di bagian dadanya.
"Kamu sakit? aku antar kamu ke Dokter."
Dengan hati-hati, Neyla meraih tangan suaminya. Zavan sendiri langsung menampik tangannya.
"Pergi! aku bilang." Bentak Zavan sambil menahan rasa sakitnya.
Saat itu juga, Zavan jatuh pingsan karena tidak mampu lagi untuk menahan rasa sakitnya. Untungnya, ia jatuh dipangkuan istrinya, meski hampir saja terperosok ke sungai, ada beberapa orang yang lewat segera memberi pertolongan.
Kemudian, Zavan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Saat menunggu penanganan suaminya, Neyla bercampur aduk rasa khawatirnya. Tidak lama menunggu, akhirnya Vivian datang.
"Kak, Kak Ney, bagaimana keadaannya Kak Zavan?"
Neyla yang tengah duduk dan menundukkan pandangannya, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Masih ditangani Dokter. Aku belum tahu sakit apanya, dia memegangi dadanya dan jatuh pingsan." Jawabnya sambil menunduk, dirinya sama sekali tidak mampu untuk menampakkan wajahnya di hadapan adik iparnya.
Vivian yang mendengar jawaban dari kakak iparnya, pun sangat shock.
"Kak Zavan. Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi begini Kak. Kalau Papa tahu dan mengetahui kalau sakit jantungnya Kak Zavan kambuh, Papa pasti akan memarahi aku." Gumamnya dan menangis.
Neyla yang mendengar jika suaminya mengidap penyakit jantung, sangat shock. Sungguh tidak menyangka, pikirnya.
"Jadi, Kakak kamu mempunyai riwayat penyakit jantung? kenapa kamu gak memberitahuku, Vi?"
"Karena aku melihat kalau hubungan kalian itu baik-baik saja, lantas untuk apa aku memberitahukannya sama Kakak ipar? kak Zavan memang sakit hati karena wanita yang dicintainya memilih lelaki lain, tapi sedikitpun tidak pernah menjelekkan perempuan yang dicintainya, justru selalu dijadikan motivasi untukku, Kak. Terus, apa hakku menunjukkan kekurangan Kak Zavan?"
Neyla yang mendengar ucapan dari adik iparnya, merasa malu, kebenciannya telah tertutup dengan sesuatu yang sudah menguasai pikirannya.
Ingatannya kini tertuju saat suaminya membentak dan menyuruhnya untuk pergi, rupanya tidak ingin sakitnya diketahui oleh dirinya. Sesakit apa yang selama ini disembunyikan oleh suaminya, membuat Neyla berpikir keras dengan penjelasan yang disampaikan oleh adik iparnya.
Vivian yang tidak ingin hidup kakaknya hancur, ia meraih tangan kakak iparnya untuk memohon.
__ADS_1
"Kak, aku mohon jangan tinggalkan Kak Zavan. Percayalah denganku, Kak Zavan sangat mencintai Kakak." Ucap Vivian sambil memohon kepada kakak iparnya agar tidak pergi dari kehidupan kakaknya.
Neyla yang mendengarnya, pun menjadi dilema. Lebih lagi suka menyiksa, hati kecilnya terasa bingung untuk menilai suaminya. Perasaan takut hanya akan dibohongi, membuatnya butuh kewaspadaan.