
Masih di rumah sakit, Zavan yang tengah duduk bersandar sambil menonton televisi, dikagetkan dengan ketukan pintu, siapa lagi kalau bukan Edwan yang datang.
Pintu pun dapat dibuka hanya menekan tombol saja, langsung terbuka dengan sendirinya.
"Permisi, Bos. Maaf, sudah membuat Bos Zavan menunggu." Ucap Edwan setengah menunduk.
"Masuk lah, dan tutup lagi pintunya. Jangan ngeres, aku waras dan tidak akan tertarik dengan mu. Gimana, udah dapat informasi?"
Edwan yang sudah menjadi kaki tangan sekaligus orang kepercayaan dan sudah seperti sahabat maupun bagian keluarganya, mereka berdua cukup akrab.
"Informasi soal penyelidikan, gimana, gak bakal ketahuan, 'kan?" tanya Zavan ingin tahu, lantaran tidak ingin bertambah masalah, pikirnya.
"Soal penyelidikan, sepertinya lumayan ngeri sih Bos. Ya semoga saja semuanya aman." Jawab Edwan.
"Kamu yakin aman? tidak sedang menyembunyikan sesuatu di belakang ku, 'kan? jangan karena sakit jantung ku kambuh, lantas kamu tidak mau menjawab dengan jujur."
Edwan menarik kursi dan duduk di dekat Bosnya.
"Percayalah dengan ku, Bos. Semua aman dan gak ada yang dikhawatirkan. Lebih baik Bos Zavan fokus saja dulu dengan kesehatannya Bos sendiri. Soal masalah di luar, biar aku yang akan menanganinya." Jawab Edwan yang tengah berusahalah untuk meyakinkannya.
"Aku percayakan semuanya padamu, awas saja kalau sampai kamu bohong." Ucap Zavan.
"Tenang aja, Bos. Semua aman." Jawabnya meyakinkan Bosnya.
'Aku tidak akan membiarkannya bangkit dari keterpurukannya. Aku akan membuatnya jauh lebih terpuruk lagi, lihat saja nanti.' Batinnya untuk seseorang yang sudah dianggapnya musuh.
Di lain tempat, Neyla yang sudah berada di dalam kamar, tengah di kompres lukanya oleh asisten rumah.
__ADS_1
"Aw!" pekik Neyla sambil memegangi luka yang ada di bagian keningnya yang memar karena benturan.
"Sabar, Non. Nanti kalau sudah di kompres, sakitnya akan berkurang." Ucapnya yang baru aja selesai mengompres dan juga mengolesi dengan obat salep.
Neyla yang penasaran dengan keningnya yang terasa sakit dan juga memar, ia memeriksanya lewat cermin.
"Nona tidak perlu khawatir, tadi sudah Bibi olesi obat. Lebih baik sekarang Nona istirahat saja." Sambungnya lagi.
"Terima kasih banyak ya, Bi, udah mengobati." Ucap Neyla sambil memegangi keningnya yang terasa sakit.
"Sudah menjadi tugas Bibi, Non. Kalau begitu, Bibi mau lanjutin kerja ya, Non. Permisi, Bibi mau ke dapur." Jawabnya.
Neyla mengangguk dan tersenyum. Kemudian, ia berniat untuk istirahat.
"Kak Ney, aku ada buah pir sama anggur, nih buat Kakak." Ucap Vivian saat sudah masuk ke kamar.
Neyla yang baru saja mau naik ke atas tempat tidur, rupanya dikagetkan oleh adik iparnya yang tengah membawakan satu piring buah yang sudah dikupas.
"Kak Ney ini gimana sih, yang sakit 'kan, Kakak ipar, bukan aku. Nih buahnya buat Kakak." Ucap Vivian ikutan duduk di sebelahnya.
"Makasih banyak ya, udah baik sama aku. Maafkan aku yang sudah merepotkan kamu. Nih, kamu juga makan buahnya." Jawab Neyla sambil menerima buahnya.
Vivian tersenyum, ada rasa sedih ketika teringat saat kakak iparnya diperlakukan kasar oleh mantan suaminya. Lebih lagi dengan ibunya, Vivian tidak habis pikir mendapati seorang ibu yang begitu bencinya kepada anak kandung sendiri.
"Kak Ney kuat banget sih menghadapi mantan suami Kakak sendiri, juga ibu kandung Kakak. Kalau aku entahlah, sepertinya aku gak mampu ketika berada diposisi Kak Neyla." Ucap Vivian berasa terharu mendapati istri kakaknya yang begitu sabar meski diperlakukan kasar.
Neyla justru tersenyum saat mendengar ucapan dari adik iparnya.
__ADS_1
"Terus, aku harus bagaimana, Vi? marah, atau memberontak? aku sadar diri kalau aku yang sudah melakukan kesalahan besar, terutama kepada anakku yang tidak seharusnya menerima atas kesalahan yang sudah aku perbuat hingga menjadikan mereka kecewa. Jadi, aku tidak mampu untuk melawan mereka. Aku pasrah, apa kata takdir yang menentukan." Jawab Neyla sambil mengunyah buah pir.
"Iya juga sih Kak, Kak Ney yang sabar ya. Aku yakin kalau Kakak bakal menemukan kebahagiaan yang seperti diharapkan. Aku tetap mendukung Kakak untuk bahagia. Oh iya, aku ada janji sama teman aku. Gak apa-apa 'kan, Kak, aku pergi sebentar. Nanti aku usahain pulang cepat deh."
"Iya, gak apa-apa. Yang terpenting kamu bisa jaga diri. Ya udah sana kalau mau pergi, hati-hati dijalan."
"Maaf ya, Kak. Kalau gitu aku pamit, bye." Ucap Neyla yang langsung pamit pergi.
Kini Neyla tengah sendirian didalam kamar, dan tidak ada teman untuk mengobrol. Alhasil, Neyla memilih untuk istirahat beberapa menit untuk meredakan rasa sakit karena memar di bagian di keningnya.
Rasa capek hati, dan badan terasa gak karuan karena banyaknya pikiran, membuatnya tidur dengan pulas. Bahkan, bangun bangun sudah sore.
"Astaga! sudah mau gelap. Jam berapa ini? sampai dah sore gini."
Neyla langsung membuang napasnya dengan kasar. Kemudian, ia melihat jam yang sudah menandakan sudah mau gelap.
Badan yang terasa risih dan juga gerah, Neyla bergegas untuk membersihkan diri. Dengan cara berendam dengan air hangat, agar badan terasa enakan. Selesai mandi, Neyla mengenakan baju ganti. Dilanjutkan lagi untuk mengeringkan rambutnya.
Dirasa jenuh dan bingung mau ngapain, tiba-tiba Neyla menjadi penasaran. Karena tidak ada kesibukan atau hal lainnya, iseng-iseng masuklah ke ruang kerja suaminya.
Saat masuk ke ruang kerjanya, Neyla celingukan saat melihat isi dalam ruangan tersebut. Merasa penasaran dan ingin tahu, pun duduk di kursi yang bisa digoyangkan.
"Sekarang impian kamu sudah terpenuhi, dan kamu sudah menjadi orang sukses. Aku ikut bangga atas nasib baikmu ini. Tidak denganku, aku menderita sepanjang usia pernikahanku dengan Mas Naren. Aku yang tidak mencintai dengan terpaksa aku memenuhi apa yang menjadi tugasku seorang istri. Tapi, tetap saja aku tidak bahagia. Aku mengira saat aku bertemu denganmu, dan aku bisa mewujudkan apa yang sudah menjadi impianku dulu, justru kehadiran ku telah kamu manfaatkan untuk dijadikan ajang balas dendam. Kini, hidupku tidak hanya hancur dengan Mas Naren, tetapi juga denganmu." Gumamnya dan tersenyum getir saat pandangannya ke arah rak buku.
Namun, tiba-tiba arah pandangannya tertuju ke tempat sampah. Neyla yang melihat selembar foto yang ukurannya hampir setara dengan buku, membuat Neyla penasaran. Takutnya itu foto, gak tahunya fotonya.
"Foto siapa itu di kotak sampah? sepertinya foto perempuan, kelihatannya juga cantik." Gumamnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Rasa ingin tahu soal foto yang ada di tong sampah, akhirnya diambil juga oleh Neyla.
Saat foto tersebut sudah berada di tangannya, Neyla begitu fokus memperhatikannya.