Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Tidak ada pilihan


__ADS_3

Vivian yang tidak mendapat respon dari kakak iparnya, pun melepaskan tangannya. Harapannya kecil untuk mendapat kepastian.


Tidak lama kemudian, seorang Dokter telah keluar dari ruang penanganan sang kakak, cepat-cepat untuk menghampirinya, termasuk Neyla yang juga ingin mengetahui keadaan suaminya.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Neyla yang lebih dulu.


"Kakak saya baik-baik saja 'kan, Dok?" Vivian ikut bertanya, lantaran mengkhawatirkan kondisi kakaknya yang mempuyai riwayat penyakit jantung.


"Pasien baik-baik saja. Untungnya segera dilarikan ke rumah sakit, kalau sampai sedikit saja terlambat, saya tidak tahu apa jadinya. Tapi keadaannya sudah membaik, kalau mau menemui silakan. Tapi ingat, jangan membicarakan hal-hal sensitif kepada pasien, takutnya nanti drop." Jawab Sang Dokter.


"Iya Dok, terima kasih banyak ya, Dok, karena sudah menangani suami saya dengan baik." Ucap Neyla, Dokter pun tersenyum.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Jawab Dokter dan pamit untuk menangani pasien lainnya.


Sudah tidak sabar untuk melihat kondisi suaminya maupun kakaknya, mereka berdua segera masuk ke ruang rawat pasien.


Saat sampai di depan pintu, keduanya berhenti dan tidak langsung masuk.


"Kak Neyla masuk aja duluan, biar aku nunggu di luar. Nanti biar gantian saja, takutnya mengganggu kesehatan Kak Zavan." Ucap Vivian.


"Tapi kamu adiknya, dan juga bagian keluarganya. Sedangkan denganku saja dia mudah emosi melihatku." Jawab Neyla yang takut melihat suaminya marah dan enggan untuk bertemu dengannya.


"Aku memang adiknya, tapi Kak Neyla yang lebih berhak soal Kak Zavan, karena Kak Neyla itu istrinya. Sudahlah Kak, jangan sampai kita berdebat, mendingan Kak Neyla masuk aja. Siapa tahu Kak Zavan membutuhkan Kakak." Ucap Vivian berusaha untuk membujuk kakak iparnya.


"Kalau itu maunya kamu, baiklah, aku masuk duluan." Jawab Neyla, Vivian pun mengangguk.


Kemudian, Neyla segera masuk untuk melihat kondisi dan keadaan suaminya selepas ditangani oleh Dokter. Dilihatnya sang suami yang tengah berbaring lemas, dan dibantu oleh oksigen untuk bernapas. Sungguh keadaan yang memprihatinkan dengan kondisi kesehatannya. Neyla mendekatinya, dan duduk di dekatnya.


Ingin rasanya meraih tangannya, namun terasa berat karena takut suaminya sadarkan diri dan menepisnya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang sudah memiliki membuatmu seperti ini, aku tidak tahu kalau kamu mempunyai riwayat sakit jantung. Andai aku tahu kalau akan terjadi seperti ini, mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi. Gara-gara aku, kamu harus di rumah sakit." Ucapnya sambil melihat tangannya yang dipasang dengan selang infus.


Tanpa disadari oleh Neyla, rupanya Zavan sudah melepaskan alat bantu untuk bernapas, dan juga telah mendengar ucapan dari istrinya yang cukup jelas kedengarannya.


Saat itu juga, Neyla langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Zavan masih diam, dirinya sama sekali tidak berucap. Sedangkan Neyla memilih keluar untuk menghindari suaminya karena ada rasa takut dan juga malu.


"Kok Kak Neyla udah keluar?" tanya Vivian yang mendapati kakak iparnya celingukan.


"Kakak kamu sudah siuman, barusan aku menekan tombol untuk memanggil Dokter." Jawab Neyla.


"Kak Zavan udah sadar?"


Neyla mengangguk. "Iya." Jawabnya.


Kemudian, Dokter pun datang dan segera masuk untuk memeriksa pasiennya.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Neyla khawatir.


"Iya, Dok. Terima kasih banyak udah menangani suami saya."


"Itu sudah menjadi tanggungjawab saya sebagai Dokter. Kalau begitu saya permisi, masih banyak pasien yang harus ditangani." Ucapnya dan langsung pamit.


Kini, di dalam ruangan hanya ada tiga orang, termasuk Vivian.


"Kak Zavan, maafin aku ya Kak, udah membuat Kakak kecewa. Ini salahku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jangan bilang sama Papa kalau Kak Zavan masuk rumah sakit gara-gara aku, takutnya aku disuruh pulang." Ucap Vivian merasa bersalah, Neyla yang ada disebelahnya hanya diam.


Bukannya langsung menjawab, justru si Zavan mengarahkan pandangannya ke arah istrinya. Kemudian, ia menatap adik perempuannya.


"Tidak apa-apa, ini sudah menjadi resiko ku. Kamu tenang saja, Kakak tidak akan mengadu ke siapapun, termasuk Papa." Jawab Zavan, lagi-lagi Neyla hanya diam.

__ADS_1


Karena takut mengganggu suasana antara suami-istri, Vivian memilih segera keluar.


"Kak Zavan, Kak Ney, aku keluar dulu ya, aku mau beli air minum dulu." Ucap Vivian pamit keluar.


"Tapi, Vi."


"Kak Ney temani Kak Zavan dulu. Aku gak lama kok, cuma bentar aja, serius. Ya udah ya, aku tinggal dulu. Kak Zavan, jangan galak-galak sama Kakak ipar, soalnya hanya Kak Ney temanku." Ucap Vivian gak cuma kepada kakak iparnya, tetapi dengan kakaknya juga.


Zavan mengangguk. Setelah itu, Vivian bergegas untuk keluar. Kini, tinggallah Zavan dan istrinya didalam ruangan tersebut.


"Aku minta maaf, gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Ucap Neyla meminta maaf.


"Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit. Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Untuk apa kamu masih berada di sini, bukankah kamu ingin kabur? pergilah. Mulai sekarang aku tidak akan melarang mu untuk pergi, anggap saja semua sudah impas." Ucap Zavan sambil mengarahkan pandangannya pada istrinya.


Neyla yang mendengarnya merasa dilema dan takut jika suaminya masih ingin menjebak dirinya. Ingatannya masih dari awal hadirnya sang suami, rupanya hanya untuk membalaskan dendamnya.


"Kenapa diam? bukankah kamu ingin kabur dariku? pergilah, kamu aku bebaskan. Jika dengan cara pergi dariku akan membuatmu merasa lega, maka pergilah."


Neyla menggelengkan kepalanya, untuk berucap saja terasa berat.


"Kenapa?" tanya Zavan.


"Aku menyerah. Aku tidak akan mengulanginya lagi, itupun kalau aku masih merasa mampu untuk bertahan." Jawab Neyla sambil menunduk, untuk menatap suaminya tak mampu ia lakukan.


"Terserah kamu. Aku tidak akan memaksa mu untuk bertahan dengan ku." Ucap Zavan yang masih kedengaran kaku.


Neyla terdiam, tidak tahu harus menjawabnya apa.


"Aku tidak ingin ketika kamu bertahan denganku, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Juga, aku ini bukan laki-laki baik yang kamu kenal, seperti yang dibilang kedua orang tua kamu. Jadi, pikirkan lagi jika kamu masih ingin bertahan denganku. Aku sudah berlepas tangan. Apa mau kamu, akan aku turuti. Dan aku menganggap semuanya sudah impas." Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Aku akan mencobanya. Aku siap menanggung resiko menjadi istri kamu. Kemana aku harus pergi, aku sendiri tidak tahu dan tidak mempunyai tujuan, juga tidak mungkin kehadiran ku akan diterima kembali oleh ibuku, dan putraku." Jawab Neyla yang tengah menunduk.


"Terserah kamu, yang terpenting aku sudah memperingatkan kamu. Aku hanya tidak ingin kamu akan menyesal nantinya." Ucap Zavan yang kedengaran menakutkan.


__ADS_2