
Karena tidak mendapatkan izin untuk ikut pergi ke kantor, Neyla diminta untuk tetap berada di rumah.
"Awas saja kalau sampai kabur, gak segan-segan aku memberi hukuman yang berat buat kamu." Ucap Zavan memberi ancaman.
Neyla hanya bisa mengiyakan, namun tidak mampu untuk mendongak. Zavan yang geram saat dirinya berbicara, istrinya sama sekali tidak menatap padanya.
Dengan cepat, Zavan menyambar dagunya, dan menekan kuat tepat pada kedua rahangnya sambil menatap dengan seringainya. Sakit sudah pasti.
Kemudian, Zavan mendorong kuat hingga punggungnya menghantam pada tembok. Sakit tidak hanya pada fisiknya, tapi mentalnya pun ikut dihajar habis-habisan oleh suaminya.
Tidak ingin terlambat, Zavan langsung keluar dari kamar sambil menarik paksa istrinya untuk sarapan pagi.
Di ruang makan, Neyla duduk bersebelahan dengan suaminya. Dengan penuh hati-hati karena takut melakukan kesalahan, Neyla melayani suaminya sebaik mungkin agar tidak mendapat marah dari suaminya.
"Suapin." Ucap Zavan sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.
Neyla mengiyakan dibarengi dengan anggukan. Dengan gugup karena takut salah, Neyla menyuapi suaminya hingga habis bubur nasi satu mangkok.
"Dah, jangan suapi lagi. Aku udah kenyang. Kamu makan sendiri aja. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong sama Bibi atau pelayan lainnya." ' Ucap Zavan sebelum berangkat kerja.
"Iya. Hati-hati dijalan." Jawab Neyla sedikit gugup.
Zavan tidak menanggapinya, ia langsung pergi begitu saja. Neyla yang tengah sendirian di ruang makan, suasana hatinya terasa hampa. Lebih lagi jauh dari sang buah hati, untuk menelan makanan saja terasa susah.
'Viro, kamu sedang apa, Nak? Mama sangat merindukan kamu. Mama menyesal, Mama menyesali karena sudah lupa diri. Mama kangen, Nak. Mama ingin pulang, Mama ingin tinggal bareng sama kalian. Mama ingin menebus kesalahan yang sudah Mama perbuat sama kalian.' Batin Neyla sambil meneteskan air matanya hingga muka terlihat sembab.
Tanpa sadar, rupanya ada sosok perempuan yang sudah berdiri di hadapannya. Neyla sontak kaget saat mendongak dan melihatnya.
__ADS_1
"Kak-kamu siapa?" tanya Neyla penasaran.
"Kamu sendiri siapa, istrinya pemilik rumah ini kah?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Neyla, justru bertanya balik.
"Iya, aku istrinya pemilik rumah ini, Zavan. Terus, kamu sendiri siapanya Zavan?"
Neyla kembali bertanya karena rasa penasarannya.
"Tebak saja, aku ini siapa?"
Neyla menggelengkan kepalanya, lantaran malas menebak dan juga memang karena tidak tahu.
Kemudian, perempuan tersebut langsung duduk di sebelahnya.
"Kok gak tahu, memangnya gak pernah cerita ya?"
"Kenalin, nama aku Vivian, aku adiknya Kak Zavan. Kami beda ibu, tapi satu ayah. Aku tinggal bareng sama ayah, sedangkan Kak Zavan tinggal bersama ibunya. Kami dulu juga tidak tahu kalau kehidupan Kak Zavan sangat memprihatinkan, apalagi dia harus kehilangan sosok perempuan yang sangat dicintainya, hidupnya hancur. Hingga pada akhirnya ayah mengambil Alih memberi luang untuk masa depan Kak Zavan. Demi untuk melupakan masa lalunya, ayah menjodohkan Kak Zavan dengan perempuan pilihan ayah. Namun, Kak Zavan gagal dalam pernikahannya karena istrinya dulu telah berselingkuh dengan kekasihnya. Hidup Kak Zavan benar-benar memprihatinkan. Semoga Kakak adalah pilihan yang terbaik untuk Kak Zavan." Ucap Vivian.
Neyla yang mendengar penjelasan dari Vivian, bengong dan melamun, tanpa disadari air matanya lolos begitu saja, dan kedua matanya terlihat sembab.
"Kakak menangis? apa ada yang salah dengan ucapan ku?"
Neyla menggelengkan kepalanya, tak sanggup rasanya untuk berucap, apalagi untuk mengakui bahwa dirinya adalah perempuan yang dimaksudkan.
"Kakak sakit?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Bagaimana aku akan menjadi pilihan yang terbaik? sedangkan aku sendiri adalah pelakunya." Jawab Neyla yang pada akhirnya mengakuinya.
"Maksudnya Kak?" tanya Vivian ingin tahu.
"Perempuan yang kamu maksudkan, tidak lain adalah diriku. Perempuan yang sudah menghancurkan hidupnya, yang memilih menikah dengan lelaki lain daripada harus mempertahankan hubungan." Jawab Neyla berkata dengan jujur.
Vivian yang memang belum pernah melihatnya, pun kaget saat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.
"Apa? jadi, Kakak ipar itu masa lalunya Kak Zavan?" tanya Vivian ingin memperjelas jawaban dari kakak iparnya.
"Iya, benar. Kamu kalau ingin ikutan membenciku, silakan. Aku sudah siap menerima resikonya, karena hidup ku pun sudah hancur. Apalagi yang aku harapkan, hanya menunggu kematian." Jawab Neyla yang seolah tidak ada kesempatan untuknya hidup dengan semestinya.
"Kakak ipar kenapa bicara seperti itu? aku gak benci Kakak, yang Kakak ipar lakukan dimasa lalu pasti ada alasannya, iya 'kan?"
"Sudahlah, kamu tidak perlu membahasnya lagi. Katakan, tujuan kamu apa datang kemari? untuk ikutan menyiksaku 'kan?"
"Enggak, Kak. Aku emang adiknya Kak Zavan, tapi aku gak ada tujuan apa-apa selain ingin bertemu Kakak ipar dan liburan, itu aja, gak ada yang lain. Apalagi untuk menyiksa Kakak ipar, gak ada. Malah, Kak Zavan memintaku untuk menemani Kakak ipar."
"Bohong. Selain menemani, kamu juga akan menjadi mata-matanya." Ucap Neyla yang masih dipenuhi kekhawatiran.
"Aku bohong kata Kakak. Aku gak bohong, Kak. Bahkan, Kak Zavan juga tidak bercerita kalau yang dinikahi Kak Zavan adalah perempuan masa lalunya. Justru Kak Zavan bilang, kalau Kakak ipar aku orangnya sangat baik, dan mudah dijadikan teman. Makanya itu, aku diminta untuk menemani Kakak."
"Maaf. Aku tidak akan mudah percaya. Aku sudah ditipu oleh Kakak kamu, tapi ternyata hanya membalaskan dendamnya padaku. Dan kamu tiba-tiba datang yang seolah ingi menjadi temanku, menemaniku, bohong besar." Ucap Neyla yang sudah kehilangan kepercayaan kepada siapapun.
Vivian yang bingung harus menjelaskannya apa, benar-benar tidak tahu untuk meyakinkan kakak iparnya.
"Kak, aku serius gak bohong. Aku benar-benar gak sedang mengawasi Kakak, atau yang lainnya. Kak Zavan gak ada pesan apapun selain untuk menemani Kakak ipar, aku jujur." Jawab Vivian yang berusaha untuk meyakinkan kakak iparnya.
__ADS_1
"Terserah kamu. Tapi aku gak akan percaya atas niat baikmu. Mau menemaniku, mau sok baik sekalipun, aku gak akan percaya. Silakan lakukan apa yang kamu suka, mau menyiksa aku juga silakan. Mau bunuh aku juga silakan, aku gak peduli." Ucap Neyla yang sudah hilang kepercayaan, hingga asal bicara karena menahan kekesalannya.
Vivian yang mendengar ucapan dari kakak iparnya, benar-benar membuatnya sangat terkejut. Apa lagi dengan kalimat yang terdengar seperti orang yang tengah kecewa, membuat Vivian semakin penasaran dan ingin tahu apa yang telah terjadi antara kakaknya dengan kakak iparnya.