
Edwan yang mengetahui kondisi fisik bosnya yang lemah karena penyakitnya, ia langsung tersadar untuk melakukan pertolongan kepada Zavan.
"Bos Zavan!"
Edwan segera menjadi penyangga tubuh Bosnya yang mendadak tidak mampu menahan rasa sakit, juga sesaknya bernapas.
"Maaf, saya harus membawa Bos Zavan ke rumah sakit." Ucap Edwan penuh khawatir, dan berpamitan karena takut terjadi sesuatu kepada Bosnya.
Neyla yang teringat curhatan dari adik iparnya mengenai suaminya yang mempunyai riwayat penyakit jantung, pun tersadar jika fisiknya tidak baik-baik saja.
"Lepaskan aku, Wan. Asal kata maaf ku dapat menebus kesalahan, dan kepergian ku selama-lamanya adalah keinginannya, sama sekali aku tidak keberatan." Ucap Zavan yang sudah pasrah akan semuanya.
Neyla yang mendengar tutur kata dari suaminya, langsung mendekatinya.
"Kamu bilang apa tadi? dengan cara mati, kamu anggap menebus kesalahan katamu? Apa kamu sudah gila, ha!"
"Iya! aku sudah gila karena mu, Neyla. Puas! kamu." Jawab Zavan dengan bentakan.
Neyla yang melihat kondisi suaminya lemah, dan seperti menahan rasa sakit, tidak tega untuk melihatnya.
"Antar dia ke rumah sakit, cepetan!" bentak Neyla kepada anak buah suaminya.
__ADS_1
Zavan menolak dengan memberi kode sama Edwan. Kemudian, ia menatap serius sambil menahan dadanya yang semakin terasa sakit untuk ditahan. Belum juga menyahut ucapan dari istrinya, akhirnya jatuh dan tidak sadarkan diri karena kondisi fisiknya yang sudah lemah.
"Bos Zavan! Bos, bangun, Bos."
Naren yang mengetahui akan hal itu, langsung membantunya untuk pergi ke rumah sakit. Neyla sendiri terdiam dan dan tidak berucap apapun, seolah mulut dan badannya terkunci.
Air matanya, pun lolos begitu saja, beban berat dan nasib tidak beruntung seolah menjadi bagian takdirnya. Neyla menangis sesenggukan ketika dihadapkan dengan masalah yang begitu rumit dan juga sangat menyakitkan untuk di terima.
"Pergilah, kejar suami kamu. Zavan pasti sangat membutuhkan kamu. Jangan egois, jangan kamu tutup tutupi perasaan mu dengan kebencian, takutnya akan menjadi penyesalan. Sana pergi, cepat." Ucap ibunya.
"Iya, Ma. Cepat Mama kejar, biar Viro di rumah sama Nenek. Ma, jangan diam saja, ayo Ma, cepat pergi." Timpal Viro yang tidak tega melihat ibunya bersedih.
Neyla yang tersadar, ia langsung pergi dan menyusul suaminya di rumah sakit. Sedangkan Naren tengah melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar sampai di rumah sakit.
Tuan Gunanta yang mendapat kabar bahwa putranya dilarikan ke rumah sakit, segera berangkat untuk melihat kondisi putranya. Juga Vivian selaku adik dari Zavan, pun kaget saat mendapatkan kabar soal kakaknya.
Takut terjadi sesuatu pada Zavan, Tuan Gunanta maupun Vivian segera pergi ke rumah sakit.
Sedangkan Neyla yang baru saja sampai, kedua kakinya tak lagi mampu untuk menopang berat badannya, pun menjatuhkan diri ke lantai dengan kedua lututnya dijadikan penyangga, sakit sudah pasti.
Neyla tertunduk sedih dengan air mata yang membasahi kedua pipinya saat suaminya sedang bertaruh nyawa atas penyakitnya yang kambuh.
__ADS_1
Naren yang melihat mantan istrinya nyang tengah menangis sesenggukan, ia mendekati dan mencoba untuk menenangkan pikirannya.
"Aku tahu ini sangat berat buat kamu, dan aku yakin bahwa kamu mampu melewati semua ini. Jangan turuti keegoisan mu, karena suami kamu yang sekarang sangat membutuhkan mu. Percayalah denganku, Suami mu ingin mendapatkan cintanya kembali seperti dulu." Ucap Naren sambil merangkul mantan istrinya.
Neyla yang tengah bersandar di pundaknya, masih terisak.
"Lupakan masa lalu, dan ingat lah janji kalian untuk hidup bersama hingga menua di ujung sisa hidup kalian. Aku tidak akan menuntut apapun yang sudah berlalu. Aku juga tidak mempunyai hak untuk menyalahkannya, karena kesalahan berawal bukan dari dirinya, melainkan kehadiran ku yang memaksakan kamu untuk menikah denganku. Juga, aku tidak akan melaporkan dia ke polisi. Sekalipun dia menyerahkan diri, aku akan cabut semuanya. Karena dia sebenarnya adalah korban. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, karena aku yang menyalakan api itu. Soal jatuh miskin, aku tidak peduli. Karena itu memang sudah menjadi ganjaran untukku yang tidak punya hati." Ucap Naren panjang lebar, posisi masih sama, yakni Neyla yang bersandar di pundaknya.
"Aku malu di hadapan putraku dengan kondisiku yang tidak pantas menyandang gelar seorang ibu. Tidak ada yang bisa menjadi contoh baik untuk anakku. Aku gagal menjadi seorang istri, gagal menjaga harga diri, juga gagal menjadi seorang ibu." Jawab Neyla yang teringat putranya.
Naren sendiri ikutan terasa sesak saat dirinya bernapas ketika melihat mantan istrinya menahan sedihnya.
"Meski Viro datang ke rahimmu bukan dari perasaan cintamu, dia berhak mendapatkan cinta dari mu seorang ibu. Tidak ada kata gagal selagi kamu masih mempunyai cinta untuk putramu, karena Viro adalah darah daging mu." Ucap Naren yang menyesali karena tidak bisa memberi cinta yang sempurna untuk putranya.
Neyla semakin terisak mendengar ucapan dari mantan suaminya. Entah harus menyesal karena mengabaikan ketulusan dari mantan suaminya, atau menangis karena tidak mendapatkan kebahagiaan.
"Dimana Zavan putraku? bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Gunanta penuh khawatir mengenai kondisi putranya.
Neyla maupun Naren yang tengah dikagetkan kedatangan Tuan Gunanta, keduanya langsung bangkit dari posisinya. Kaget sudah pasti. Buru-buru Neyla mengusap air matanya.
"Tuan Zavan sedang dilakukan penanganan oleh Dokter, Tuan. Mungkin sebentar lagi Dokter segera keluar." Jawab Naren, Neyla sendiri masih terisak sambil menyeka air matanya agar membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Namun, tetap saja terlihat sembab, lantaran sedari tadi menangis hingga terisak.