
Di dapur, Neyla tengah mengajari adik iparnya untuk memasak maupun membuat puding. Sejak kecil, Neyla memang mempunyai kebiasaan soal memasak atau membuat kue. Tidak jarang masakannya gagal ataupun membuat cemilan atau makanan lainnya. Dengan hobinya yang disukai, ternyata dapat mencuri hati seorang Zavan di masa lalunya.
Sedangkan untuk sekarang ini, meski dipertemukan dengan seseorang yang sangat dicintainya dulu, Neyla tidak penuh berharap untuk mendapatkan cintanya. Dapat diperlakukan baik dan diizinkan untuk keluar bertemu putranya saja sudah jauh dari cukup.
'Bagaimana keadaan mu di sana, Nak? Mama sangat merindukan mu. Semoga kamu baik-baik saja bersama Nenek dan Papa. Maafkan Mama yang belum bisa menemui kamu.' Batin Neyla sambil memikirkan keadaan putranya.
"Kak Ney, Kak, Kak Ney." Panggil Vivian membuyarkan lamunannya dengan melambaikan tangannya, tepat di depan wajahnya.
Neyla sontak kaget, ia langsung menoleh. Kemudian, mengusap bagian dadanya untuk mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Hampir saja jantung Kakak tidak copot." Ucap Neyla sama mengusap dadanya berulang-ulang, tanda detak jantungnya tidak karuan.
"Maaf, habisnya Kak Neyla ngelamun sih. Kakak lagi mikirin apa sih? kangen ya Kak, sama anaknya Kakak. Gimana kalau besok aku temani Kakak, boleh ya? tenang aja, kalau keluarnya bareng kan, pasti diizinin. Tapi, Kak Neyla pernah kabur saat pergi bersamaku." Jawab Neyla saat teringat mengajak kakak iparnya jalan-jalan.
Bukannya bersenang-senang, justru malah mendapatkan masalah, pikirnya.
"Sudahlah, abaikan saja. Kalau dapat izin, Kakak mau keluar, kalau gak, Kakak bisa apa?"
"Kak Ney yang sabar ya, semua pasti akan berubah menjadi kebahagiaan untuk Kakak."
Neyla yang mendengarnya pun mengangguk.
"Ya uda yuk, kita lanjutin lagi masaknya."
"Iya, Kak."
Vivian kembali melanjutkan memasaknya, sedangkan Vena baru saja keluar dari kamar. Saat mencium bau aroma yang begitu menusuk ke rongga hidungnya, langsung menuju ke sumber aroma yang menggoda.
"Kalian lagi ngapain? masak ya. Wah, enak banget aromanya, pasti masakannya sangat enak."
__ADS_1
"Dih!" Vivian langsung memasang wajah kesalnya sambil menggerakkan bibirnya ke sana kemari saat mendapati Vena datang.
Karena ingin mengambil kesempatan emas, dan mengetahui jika Neyla adalah asisten rumah. Langsung mendekati dan sesuai rencananya.
"Ini masakan kamu, ya?" tanya Vena sambil mencium aroma masakan.
"Iya, Non. Ini saya yang masak, dan dibantu oleh Nona Vivian. Em- saya hanya mengajarinya." Jawab Neyla sambil masak sayur.
"Boleh ya, nanti kalau Kak Zavan pulang, bilangnya aku yang masak. Kamu tahu 'kan, aku tuh cinta mati sama Kak Zavan. Aku pingin jadi istrinya."
"Huwek!" Vivian langsung bersuara seolah muntah.
Vena yang mendapat ejekan dari Vivian, langsung menoleh dengan perasaan dongkol.
"Apaan sih kamu, perasaan kamu itu resek banget. Suka suka aku dong, mau bohong kek enggak kek, bukan urusan kamu. Lagian Kak Zavan gak punya istri, pacar juga gak." Ucap Vena dengan perasaan kesal sambil berkacak pinggang.
Vivian menyeringai saat menatap wajah Vena yang tengah kesal.
"Buktinya aja Kak Zavan hanya ditemani Edwan, bukan istrinya, atau kekasihnya. Mana coba, mana, gak ada 'kan?"
Vena tak lupa menjulurkan lidahnya, lantaran tidak percaya dengan omongannya Vivian. Neyla yang mendengar perdebatan antara Vena dengan adik iparnya, hanya memantau dan menjadi pendengar setia.
"Ya deh iya, aku kalah. Puas Lu."
Vivian akhirnya memilih mengalah karena malas berdebat, hanya membuang-buang waktu saja, pikirnya.
Vena yang tidak mau kehilangan kesempatan emasnya untuk mengambil hati dari seorang Zavan, akhirnya menyibukkan diri untuk ikut ikutan bantuin, meski hanya sekedar menata di ruang makan.
Vivian masih terasa dongkol saat mendapati Vena yang hanya menyajikannya saja di meja makan, kesal sudah pasti. Dirinya dan kakak ipar yang sibuk masak, Vena justru hanya tinggal menyajikan.
__ADS_1
Neyla yang mendapati adik iparnya memasang muka cemberut, berusaha untuk menghiburnya, dan memberi nasehat kecil.
"Kamu tidak perlu susah payah untuk menunjukkan seberapa besar perhatian mu kepada orang yang di tuju. Percayalah, Kakak kamu pasti akan tahu kalau kamu yang menyiapkan semuanya." Ucap Neyla meyakinkan adik iparnya.
"Tapi 'kan, Kak-"
"Kamu lupa ya, Kakak gak perlu ke rumah sakit pun, sudah tahu kalau itu Kakak yang membuatkan buburnya. Resep masakan Kakak sudah bisa ditebak, Kakak masak ada yang menjadi pantangan Kakak kamu, juga ada yang menjadi kesukaan Kakak kamu. Jadi, biarkan Vena yang melayani, kita tinggal menikmati makanan tanpa perlu menunjukkan perhatian kita." Ucap Neyla berbisik saat Vena tengah berada di ruang makan.
Vivian yang mendengarnya, pun tersenyum puas saat Kakak iparnya mempunyai ide yang menurutnya sangat cemerlang.
"Aku percaya sama Kakak. Soalnya Kak Neyla yang tahu segalanya dari Kak Zavan. Dari masakannya, dari makanan yang disukainya dan tidak disukainya." Jawab Vivian merasa puas ketika mendengar ucapan dari kakak iparnya.
Tidak ingin ketahuan oleh Vena, keduanya segera membereskan dapur. Kemudian setelah itu, kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena merasa gerah. Begitu juga dengan Vena, ia sama halnya pergi ke kamarnya untuk merias wajahnya agar dapat mencuri perhatian dari Zavan saat pulang ke rumah.
Vivian yang sudah rapi dengan penampilannya, ia bergegas menemui kakak iparnya.
"Kak Ney, maaf, aku masuk ke kamar Kakak. Ups! maaf."
Vivian yang melihat tubuh kakak iparnya yang terlihat begitu mulus, sungguh seperti melihat seorang gadis.
Vivian langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat mendapati kakak iparnya baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan.
"Tidak apa-apa, Kakak gak akan protes kok. Cuma kalau Kakak kamu udah pulang, ketuk dulu pintunya kalau mau masuk ke kamar." Jawab Neyla sambil membuka lemari baju.
"I-i-iya, Kak. Soal itu mah aku dah tahu. Karena gak ada Kak Zavan, jadinya main selonong aja. Maaf ya, Kak." Ucapnya.
"Enggak apa-apa, Kakak gak marah kok. Kakak mau ganti baju dulu ya, soalnya Kakak baru aja mandi." Jawab Neyla yang tengah mengenakan baju.
"Iya Kak, santai aja. Lagi pula mau ngapain juga, gak ada kesibukan. Jadi, ya udah deh nungguin Kakak." Ucap Vivian yang tengah duduk di sofa.
__ADS_1
Sambil menunggu kakak iparnya mengenakan baju, Vivian menyibukkan diri keluar di balkon. Alih-alih mencari suasana agar tidak terasa jenuh ketika berada di kamar kakaknya.
Neyla sendiri yang tidak ingin membuat adik iparnya menunggu lama, buru-buru untuk segera mengenakan baju.