
'Cantik sekali perempuan ini, kok ada di tong sampah? apa dia ini mantan istrinya?' batinnya bertanya-tanya mengenai foto yang ia pegang.
Takut ketahuan jika berada di ruang kerja suaminya, Neyla mengembalikan lagi ke kotak sampah. Yakni, tidak ada gunanya untuk mengambil foto tersebut, pikirnya.
"Nona, Non. Permisi, ini Bibi." Panggil asisten rumah memanggil istri majikannya dengan suara yang cukup kedengaran keras didalam ruang kerja.
Neyla yang mendengarnya, pun ada perasaan was-was karena takut ketahuan jika dirinya telah lancang masuk ke ruang kerja suaminya. Juga, dirinya takut jika diadukan.
"Gimana ini, Bibi manggil aku lagi. Kalau nanti aku diadukan sama suami aku, gimana? bisa berabe akunya. Mana kalau menyiksa aku gak nanggung nanggung banget lagi." Gumamnya dengan was-was.
"Nona, Nona baik-baik saja 'kan didalam?"
Neyla yang ingin melihat situasi, perlahan ia membuka pintunya agar tidak mengeluarkan suara.
Saat asisten rumahnya tidak menoleh ke arah ruang kerja, Neyla segera keluar dengan cara mengendap-endap.
"Bibi," panggil Neyla mengagetkan asisten rumah.
"Maaf, Nona. Saya kira Nona ada didalam kamar. Ada pesan dari Nona Vivian, malam ini Nona Vivian pulangnya agak kemalaman. Jadi, Nona Vivian tidak bisa menemani Nona makan malam. Dan saya sudah menyiapkan makan malam untuk Nona, mari Nona." Ucap asisten rumah.
"Iya, Bi. Makasih ya Bi, udah menyiapkan makan malam." Jawabnya.
"Kalau begitu Bibi permisi, Non." Ucapnya, Neyla mengangguk.
"Iya, Bi, silakan." Jawab Neyla.
Dilain sisi, tepatnya di rumah sakit, Zavan tengah ditemani oleh orang kepercayaannya, yakni Edwan.
"Siapa tadi yang menelpon kamu, Wan?" tanya Zavan sambil duduk bersandar.
"Tadi Tuan Gunanta menelpon, dan menanyai kabar. Malam ini kata Tuan Gunanta akan datang ke rumah sakit bareng Nyonya Wilena." Jawab Edwan.
"Sama Tante Wilena?"
"Iya, Bos. Tapi entah lah, saya hanya mendengarnya saja dari Tuan Gunanta. Memangnya kenapa, Bos?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin Tante Wilena datang bareng Papa ada tujuan lain. Semoga saja sih tidak, kalaupun iya juga aku gak peduli, toh aku udah nikah. Ya udah sana kalau kamu mau beli makanan, aku nitip belikan apalah yang bisa dimakan." Jawab Zavan yang terasa malas untuk menerima kedatangan adik dari ibunya Vivian.
"Siap, Bos. Kalau gitu aku tinggal dulu ke warung makan, kalau ada apa-apa, langsung telepon aja."
__ADS_1
Zavan mengangguk, Edwan sendiri bergegas keluar untuk membeli makanan, juga makanan ringan untuk Bosnya.
Baru saja si Edwan keluar, beberapa menit kemudian Zavan dikagetkan dengan kehadirannya sang ayah bersama dua orang wanita.
"Kak Zavan!" teriak gadis cantik yang langsung memeluk Zavan yang tengah duduk dengan posisi kaki menggantung.
"Vena kangen banget sama Kakak. Kenapa gak kasih kabar sih sama Vena, kalau Kak Zavan dirawat di rumah sakit?"
Zavan yang terasa pengap saat dipeluk oleh Vena, merenggangkan pelukannya agar leluasa untuk bernapas.
"Bukannya gak mau kasih kabar, cuma besok aja sudah boleh pulang. Jadi, gak masalah kalau gak kasih kabar." Jawabnya.
"Tapi 'kan, tetap aja harus kasih kabar. Kalau Kak Zavan kenapa-napa, gimana? Vena mau kok, ngerawat Kakak, serius. Soalnya Vena udah lulus kuliah. Sekalian, Vena mau tinggal di rumah Kakak, mau menikmati liburan bareng Vivian." Ucapnya.
Zavan langsung mendongak dan mengarahkan pandangannya ke ayahnya.
"Gak apa-apa kalau Vena mau tinggal di rumah kamu, lagian juga ada Vivian. Gimana keadaan kamu? kenapa bisa-bisanya kamu sakit jantung mu sampai kambuh? gak lagi banyak pikiran, 'kan?"
Zavan menggelengkan kepalanya saat mendapat pertanyaan dari ayahnya.
"Namanya juga udah mempunyai riwayat, kambuh juga gak nunggu izin dulu, Pa. Tapi ini udah mendingan kok, besok juga udah diperbolehkan pulang."
"Terima kasih, Tante." Jawab Zavan.
"Karena Papa harus balik lagi ke rumah, Papa mau langsung pulang bareng Tante Wilena. Soalnya malam ini Papa ada pertemuan penting dengan teman lama. Kamu disini bareng Vena." Ucap sang ayah yang memilih untuk pamit pulang setelah mengetahui kondisi putranya.
Zavan yang terasa dongkol saat ayahnya datang hanya mengantarkan Vena ke rumah sakit, dan hanya menjenguknya sebentar, merasa geram dibuatnya. Namun, apa daya, dirinya tidak bisa menolak karena tidak ingin bertambah masalah. Mau tidak mau, akhirnya Zavan mengiyakan.
Setelah orang tuanya pergi bersama ibunya Vena, kini tinggal Vena dan Zavan didalam ruangan tersebut. Merasa risih sudah pasti. Demi bisa menghindari Vena, Zavan segera mengirimkan pesan kepada Edwan untuk segera kembali. Tentu saja untuk mengatasi sosok Vena yang dari dulu ia hindari.
"Kak Zavan," panggil Vena yang tengah duduk di dekatnya.
Zavan cuma berdehem.
"Kak Zavan beneran udah cerai sama Kak Liona?"
"Iya, kenapa?"
"Berarti bener ya, Kalau Kak Zavan itu duda."
__ADS_1
"Terus kenapa?" tanya Zavan.
"Kak Zavan gak pingin nikah, kah?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu, Ven?" tanya Zavan.
Belum juga menjawab, Edwan lebih dulu masuk ke dalam ruang rawat Bosnya. Dengan napasnya yang tersengal, arah pandangannya tertuju pada Vena sekilas.
"Maaf, Bos, ini makanannya. Tau ini, enak apa enggak. Soalnya tadi asal beli, ini Bos." Ucap Zavan sambil main kode.
"Awas loh ya, kalau makanan yang kamu beli gak enak." Jawab Zavan.
"Tenang aja, enak lah. Soalnya tadi dah nyoba. Eh iya, ada Nona Vena. Maaf, tadi udah ganggu Nona sama Bos Zavan. Oh iya, kebetulan saya beli tiga, Nona Vena mau? enak loh."
"Serius beli tiga, mau dong, kebetulan aku tadi belum makan." Jawab Vena yang terlihat senang. Sedangkan Edwan dengan senang hati menyodorkannya kepada Vena.
Zavan yang melihatnya sendiri, pun menahan tawa.
"Ini buat Nona." Ucap Edwan, Vena pun menerimanya.
Setelah memberikannya kepada Vena, juga tidak lupa sama Bosnya.
"Ini buat Bos Zavan," ucap Edwan sambil menyodorkan makanannya.
Niatnya mau pamit keluar, namun Zavan langsung melotot sebelum Edwan beranjak dari posisinya.
"Kak Zavan, memangnya Vivian gak nungguin Kakak di rumah sakit?" tanya Vena sambil mengunyah makanan.
"Tadi sebelum kamu datang, Vivian pulang. Memangnya kalian gak berpapasan?"
"Enggak, soalnya tadi buru-buru. Jadi, gak sempet lihat-lihat deh. Mungkin udah duluan Vivian yang keluar, atau memang gak saling fokus."
"Bisa jadi. Kalau kamu mau pulang, nanti biar Edwan yang anterin kamu pulang." Ucap Zavan.
"Aw!" pekik Vena sambil memegangi perutnya yang mendadak sembelit.
"Kenapa, Ven? kamu sakit?"
Vena yang tidak bisa menahan rasa sembelit pada perutnya, jangankan untuk menjawab, menahan rasa sembelit saja sudah tidak tahan. Saat itu, Vena langsung masuk ke kamar mandi. Zavan maupun Edwan, keduanya menahan tawa saat rencananya untuk menyingkirkan Vena telah berhasil.
__ADS_1