
Di kediaman rumah Zavan, Vena yang sama sekali tidak mencurigai Neyla, pun memilih untuk menunggunya di ruang makan. Siapa sangka jika sudah ada Vivian yang tengah duduk dan terlihat sedang menunggu. Keduanya sama-sama buang muka, tetap seperti dulu, tidak ada kata baikan, mereka selalu bersaing dan tidak peduli seberapa besar resikonya.
Neyla yang sudah berada di dalam kamar bersama suaminya, kini keduanya sama-sama diam. Apalagi Neyla, tidak tahu harus bicara apa kepada suami sendiri. Lebih lagi perlakuan kasar dari suaminya tidak lepas dari ingatannya, takut sudah pasti.
"Aku baik-baik saja, dan kamu tidak perlu khawatirkan aku. Jadi, lebih baik kamu segera keluar dari kamar ini." Ucap Zavan yang sengaja mengusir istrinya.
Neyla yang tidak ingin suaminya marah dan juga takut akan mendapat masalah, jalan satu-satunya mengiyakan dan bergegas keluar.
Tidak ada sosok Neyla didalam kamar, Zavan duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegangi bagian dadanya yang menyisakan rasa sakit yang cukup sulit untuk menahannya.
Kemudian, Zavan berbaring di atas tempat tidur, dan merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ingatannya yang pernah ia jaga soal masalah rasa sakit hati, yakni penghinaan dari keluarga Neyla, kini seolah dibayar lunas. Hancurnya rumah tangganya, dan kebencian dari orang tuanya dan suami, juga anaknya yang menderita lupus, seolah terbayarkan atas rasa sakit hatinya.
Namun, ia sendiri dilema akan perasaannya kepada perempuan yang pernah menjadi kekasihnya di masa lalu yang kini telah dijadikan alat balas dendam dalam sekali dayung, maka selesai semua dendamnya. Tetapi siapa sangka jika dirinya serasa masuk dalam perangkap sendiri.
"Aw!" pekiknya saat menahan rasa sakit di bagian dadanya.
Neyla yang teringat jika jika kondisi suaminya masih lemah, tiba-tiba kepikiran dan takut terjadi sesuatu di dalam kamar. Tidak ingin kenapa-kenapa terhadap suamimu, Neyla akhirnya kembali masuk ke kamar.
Melihat suaminya menahan sakit bagian dadanya, yakni tepatnya letak jantungnya, langsung mendekati dan membantu suaminya duduk dengan benar.
"Lepaskan! aku gak butuh perhatian darimu. Sekarang juga, keluar dari kamarku." Bentak Zavan yang tengah menolak perhatian dari istrinya.
Neyla tidak peduli dan memilih untuk tidak menanggapinya, ia terus membantu suaminya duduk.
"Aku mau panggilkan Dokter, tunggu disini dan jangan kemana-mana." Ucap Neyla yang penuh khawatir.
"Gak perlu! lebih baik kamu keluar dari kamar ini. Cepat." Bentak Zavan dengan tatapannya yang tajam.
Tidak berucap, hanya menggelengkan kepalanya tanda memberi jawaban yang akurat kepada suaminya. Namun tiba-tiba mereka berdua dikagetkan Vena dan Vivian yang baru saja berdiri di ambang pintu kamar karena mendengar suara perdebatan antara mereka bertiga.
"Kak Zavan." Panggil Vena maupun Vivian yang langsung mendekati Zavan yang tengah menahan rasa sakit.
Zavan mengisyaratkan dengan mengibaskan tangannya, yakni menyuruh Vena maupun Vivian untuk segera keluar. Kemudian, arah pandangannya tertuju pada Neyla istrinya yang juga dimintai untuk segera keluar dengan kode tatapannya.
__ADS_1
Neyla tidak mengiyakan, ia tetap berdiri dan tidak menggeser posisinya sama sekali.
"Kamu, cepat panggilkan Edwan, sekarang juga." Perintah Zavan kepada Neyla.
Vena yang mendapati tatapan Zavan yang terlihat begitu serius, menyimpan rasa penasaran.
Neyla yang tidak ingin statusnya diketahui oleh Vena, pun mengiyakan atas perintah suaminya.
"Baik, akan saya panggilkan. Permisi." Jawab Neyla dan segera keluar.
Vivian maupun Vena memperhatikan Neyla yang tengah keluar dari kamar. Karena takut kenapa-napa, keduanya kembali mendekati.
"Kak Zavan, aku panggilkan dokter ya Kak. Atau gak, kita ke rumah sakit lagi." Ucap Vivian yang khawatir dengan kondisi kakaknya.
"Tidak perlu. Kakak baik-baik saja, nanti juga reda sakitnya." Jawab Zavan meyakinkan adiknya.
"Tapi Kak, kalau terjadi sesuatu sama Kakak,gimana?" timpal Vena.
"Percaya dengan ku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kalian mau makan siang, makan saja. Tidak perlu menunggu aku, biar Edwan yang menemani ku makan." Jawab Zavan.
Vivian hanya menyeringai dibelakangnya, merasa kesal dengan sikapnya.
Zavan mengangguk, dan mengibaskan tangannya tanda menyuruh mereka berdua untuk segera keluar. Namun, belum juga keluar, rupanya Edwan baru saja masuk ke kamar.
"Maaf, Bos. Tuan Gunanta dan Nyonya Wilena datang ke rumah ini, sekarang sedang menunggu di ruang keluarga." Ucap Edwan memberitahukannya.
Zavan yang tahu tujuannya sang ayah datang ke rumah, tidak bisa menolak kehadirannya di rumah.
"Bilang saja kalau sebentar lagi aku turun, dan kamu, kamu, cepat keluar." Jawab Zavan dan menyuruh adiknya dan Vena untuk keluar dari kamarnya.
Mengetahui jika orang tua masing-masing sudah datang, tidak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan.
Lain lagi dengan Neyla, rupanya tengah disangka asisten rumah. Dengan entengnya, baru saja datang, ibunya Vena langsung memanggil Neyla yang baru saja keluar dari dapur.
"Cepat sajikan makanan ini, bentar lagi kami mau makan siang." Ucapnya sambil menyodorkan bawaannya yang ia beli dari restoran.
__ADS_1
"Baik, Nyonya." Jawab Neyla sambil menerimanya.
Ibunya Vena yang memang suka bikin geram, tidak lupa juga ia mengamati isi ruangan makan. Bahkan, sesuatu yang terpajang di sudut ruangan saja, pun harus dipindahkan.
"Hei! kamu, sini cepetan."
Mendengar seperti memanggil, Neyla cepat cepat menuju sumber suara.
"Iya, Nyonya, ada apa?"
"Ini Guci jangan di taruh di sini, tapi di dekat situ, cepetan kamu pindah." Jawabnya sambil menunjuk ke arah yang di maksudkan.
Tidak mungkin untuk menolak, akhirnya dipindah sesuai perintah ibunya Vena. Susah payah mengangkat Guci, Neyla sangat hati-hati karena takut jatuh dan pecah.
"Nah, begini kan bagus dilihat. Sudah sana ke dapur, cepat bawa makanannya." Ucapnya.
Neyla sendiri mengiyakan dan bergegas ke dapur. Sedangkan Tuan Gunanta tengah sibuk mengamati isi rumah anaknya hingga sampai ke taman belakang.
Vivian dan Vena yang sudah berada di ruang makan, pun langsung duduk.
"Dimana Zavan? kok gak keluar bareng kalian?"
"Kak Zavan lagi ganti baju, Ma. Tadi baru aja pulang dari rumah sakit, terus tadi sempat nahan sakit sih, tapi udah mendingan." Jawab Vena.
Vivian sendiri lebih memilih diam, berucap pun akan dianggap salah oleh Vena maupun tantenya, pikirnya.
Zavan yang baru saja keluar dari kamar, dibantu Edwan berjalan karena takut tidak mampu menahan berat badannya sendiri dan jatuh.
Saat sudah duduk di ruang makan, Zavan celingukan mencari keberadaan istrinya. Saat mengarahkan arah pandangannya ke dapur, dilihatnya sang istri tengah membawa piring besar berisi makanan yang dibeli oleh ibunya Vena di restoran.
Neyla yang menyadari jika suaminya menikahinya hanya ajang balas dendam, berusaha untuk bisa menerima kenyataan pahitnya. Vivian yang melihat kakak iparnya, pun merasa kasihan. Yang pastinya menyesali karena sudah meminta kakak iparnya untuk bersandiwara.
'Maafkan aku, Kak. Bukan niatku untuk mempermalukan Kakak, tapi aku ingin Kak Zavan mengakui Kak Ney adalah istrinya Kakak. Aku tahu, kalian masih sama sama punya rasa, dan aku berharap jika saat ini adalah momen yang pas buat kalian. Kasihan Kak Neyla, sudah di usir dari keluarganya, dan juga tidak diizinkan bertemu dengan putranya, dan haruskah hari ini mendapatkan perlakuan buruk dari Kak Zavan? gak, tidak aku izinkan Kak Neyla menderita.' Batin Vivian sambil melamun.
Tanpa disadari, Zavan juga tidak lepas memperhatikan adiknya yang tengah melamun, terlihat sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1