
Neyla yang baru saja merogoh benda kecil yang ada disaku bajunya, lalu memberikannya kepada Zavan. Neyla sendiri berusaha bersikap tenang, berharap Zavan tidak memarahinya. Lebih lagi didalam rekaman tersebut ada suaminya yang tengah meminta haknya, tentunya ada rasa khawatir jika Zavan marah.
"Kamu boleh keluar, silakan," ucap Zavan sambil mengibaskan tangannya, kode mengusir Neyla dari ruangan kerjanya.
Neyla yang tidak mendapat komplain dari Zavan, akhirnya bisa bernapas lega dan segera kembali ke tempat kerjanya. Namun, tiba-tiba ia ada yang melambaikan tangannya tanda seperti memanggilnya. Karena penasaran, Neyla mendekati salah seorang karyawan yang satu ruangan dengannya.
"Kak Neyla, sini. Ayo kita istirahat di kantor, dah jam makan siang ini loh." Ajak salah seorang yang usianya jauh lebih muda dari Neyla.
"Memangnya udah jam istirahat ya, Vin?" tanya Neyla yang belum terbiasa dengan jadwal kantor.
"Iya, Kak. Sekarang udah jam istirahat, kita ke kantin yuk. Kebetulan kata pihak kantin hari ini ada diskon. Lumayan lah, ngurangin pengeluaran," jawab Vivin sambil bercanda.
"Kamu ini ya, pasti anak kosan nih," ucap Neyla yang juga sambil bergurau.
"Kak Neyla mah tahu aja kalau aku anak kosan. Iya sih, anak kosan memang harus hemat, soalnya diri sendiri yang menjadi tumpuan hidup. Kak Neyla aja yang udah bersuami masih kerja, salut deh sama Kakak. Jadi contoh yang baik, agar wanita tetap mandiri, meski ada yang menghidupi." Kata Vivin sambil berjalan menuju kantin.
Siapa sangka jika Zavan rupanya mengikutinya dari belakang. Bahkan, tidak disadari oleh Neyla maupun Vivin, bahwa Zavan ikut duduk bersama mereka berdua.
"Bos Zavan." Dengan reflek, Vivin menyebut nama bosnya, dan langsung menggeser kursinya.
Begitu juga dengan Neyla, ia sama kagetnya saat mendapati Zavan yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kamu, silakan pindah ke tempat lain. Dan kamu, tetap berada disini temani aku makan," ucap Zavan kepada Vivin, dan juga Neyla.
"Baik, Bos. Permisi," jawab Vivin dan bergegas untuk pindah tempat.
Neyla yang tengah duduk bersama Zavan, kini tengah menjadi pusat perhatian oleh para karyawan yang lainnya.
"Bagaimana rasanya saat baru pertama kali bekerja di kantor? apakah kamu mengalami kendala yang membuatmu kesulitan?" tanya Zavan sambil menikmati makan siangnya bersama Neyla.
__ADS_1
"Iya, soalnya aku gak begitu mahir soal kerja di kantor. Maaf, jika nantinya bakal merepotkan karyawan mu yang lainnya," jawab Neyla sambil mengunyah makanan.
"Aku sudah memberinya gaji besar, tentu saja harus siap menanggung resiko sesuai pekerjaan mereka, termasuk pekerjaan untuk mengajari kamu bagaimana caranya bekerja dengan benar dan dengan hasil yang baik. Sudahlah, jangan banyak bicara, lebih baik kamu habiskan dulu makananmu. Setelah itu, kamu kembali ke tempat kerjamu," ucap Zavan, Neyla mengangguk.
"Terima kasih atas pengertiannya," jawab Neyla sambil menunduk, dan menyuapi diri sendiri hingga tidak lagi ada sisa di piringnya.
Zavan dan Neyla yang baru saja selesai makan, mereka berdua kembali ke tempat kerjanya masing-masing, dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena jam istirahat.
Sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh karyawan lain, Neyla susah payah mempelajarinya. Tidak peduli seberapa sulitnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, Neyla terus berusaha untuk bertanggung jawab atas tugasnya. Tanpa sadari, rupanya sudah waktunya jam pulang.
Semua karyawan tengah bersiap-siap untuk membereskan meja kerjanya masing-masing.
"Kak Neyla, aku pulang duluan ya. Bye bye, Kak Neyla," ucap Vivin pamit pulang dan tidak lupa melambaikan tangannya.
Neyla membalasnya dengan senyumannya, dan juga melambaikan tangannya.
"Bye bye, Vivin. Hati-hati dijalan," jawab Neyla.
Saat itu juga, rupanya Zavan tengah menyambar tangannya Neyla dan menariknya paksa. Kemudian, Zavan menyuruhnya masuk kedalam mobilnya. Neyla sontak kaget dibuatnya. Sebisa mungkin untuk menahan agar tidak masuk kedalam mobil saat Zavan mendorong tubuhnya.
"Kamu mau mengajakku kemana?" tanya Neyla sambil bersandar di pintu mobil.
"Ke hotel, memangnya kemana lagi? Bukankah kamu sudah bilang tidak ingin kerja dimalam hari? Sudah cepetan masuk, waktuku tidak banyak ini loh."
Neyla yang teringat atas permintaannya untuk dicarikan pekerjaan lain agar tidak ketahuan keluarganya, ternyata masih saja harus melayani Zavan, meski bukan dimalam hari. Sialnya, Neyla lupa akan hal itu. Tentu saja, Neyla begitu cemas ketika jam pulang kerja justru dirinya belum juga pulang.
Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau, Neyla mengiyakan sesuai kesepakatan bersama. Sampainya di kamar hotel yang sudah dijadikan tempat menjajakan tubuhnya ke Zavan, Neyla tidak lagi bisa melakukan penolakan apapun padanya.
Seperti biasanya, Neyla melayani Zavan dengan penuh gairah, dan tidak ada yang ia lewatkan demi memuaskan nafsu dari seorang Zavan. Sampai-sampai ada suara dering telepon, pun tidak disadari oleh Neyla maupun Zavan, justru keduanya begitu menggebu saat menikmati permainan panasnya.
__ADS_1
Saat pada titik pelepasan, mereka berdua baru menyadari jika ada seseorang yang menelpon. Neyla yang menyadari bahwa handphonenya masih terus berdering, ia langsung menyambar ponselnya yang ada di atas nakas yang ada di dekatnya.
"Mas Naren."
Dengan reflek, Neyla langsung bangkit dari posisinya dengan perasaan takut. Saat itu juga, Neyla langsung menerima panggilan telepon. Bukan lagi mendengar pertanyaan dari suaminya, justru Neyla mendapat bentakan dari suaminya. Tentu saja, Neyla mendadak seperti orang jantungan.
Lebih lagi mendengar kabar jika putranya drop dan kembali dirawat di rumah sakit, Neyla kalang kabut dibuatnya.
Takut masalah menjadi besar, dan takut terjadi sesuatu pada putranya, cepat-cepat untuk segera pergi ke rumah sakit. Begitu juga dengan Zavan, ia segera mengenakan pakaiannya dan mengantarkan Nayla ke rumah sakit.
"Lebih baik kamu langsung pulang. Jangan mengikuti ku," ucap Neyla yang langsung bergegas turun dari mobil.
Zavan yang penasaran, diam-diam mengikutinya dari belakang. Sedangkan Neyla tengah berlarian untuk mencari keberadaan putranya di rawat.
PLAK! Sebuah tamparan dari suaminya telah mendarat di bagian pipi kirinya. Sakit, perih, itu sudah pasti. Kali ini Naren sudah hilang kendali saat mendapati istrinya yang menurutnya sudah kelewat batas jam pulang kerjanya hingga malam hari. Ibunya Neyla sendiri tidak berani ikut campur, lantaran belum mengetahui jika putrinya salah atau benarnya.
"Lihat! lihat ini. Jam berapa sekarang? Ha! Selain kerja di kantor, jangan-jangan kamu kerja menemani mantan pacar kamu itu." Bentak Naren dengan emosi yang sudah memuncak, dan tuduhan pun ia lontarkan kepada istrinya.
Neyla yang tidak terima ketika mendapat bentakan dari suaminya, pun tak kalah kesalnya.
"Seharusnya kamu itu mikir, aku ini karyawan baru. Aku harus mengerjakan tugasku sampai selesai. Ya wajar saja dengan keterbatasan ku ini, dan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan kerjaan ku. Tapi sayangnya, kamu tidak memahami soal itu." Jawab Neyla dengan segala alasannya, yakni demi menutupi kebohongan yang ia sembunyikan dari suami, ibunya, maupun Viro anaknya sendiri.
Naren yang masih terbawa dengan kekesalannya saat menghubungi istrinya sama sekali tidak ada jawaban hingga entah berapa puluh kali dirinya menelepon istrinya, menatap tajam pada Neyla.
Saat itu juga, Naren menarik paksa tangan istrinya dan mengajaknya masuk kedalam ruang rawat pasien.
"Lihat putramu. Sedari tadi Viro memanggil namamu, tapi kamu mengabaikan panggilan telepon dariku. Dimana telingamu saat aku menelepon mu? apakah kamu begitu sibuk dengan mantan kekasihmu itu yang sudah menjadi orang kaya?"
"Iya. Aku sibuk dengannya, Puas." Sahut Neyla yang justru menambah kekesalan pada suaminya.
__ADS_1
Naren yang tidak ingin terpancing oleh istrinya, berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak kembali menampar istrinya.