
Vena yang menerima mangkok kotor, segera membereskan. Sedangkan Edwan tetep berada di dalam ruangan sesuai perintah Zavan agar tidak keluar.
Vivian sendiri duduk didekat kakaknya, dan memijat kakinya dengan pelan.
"Kak, waktu Papa datang ke rumah sakit, ngomongin aku gak? kalau iya, ngomongin apa aja, gak ngomongin soal perjodohan 'kan?" tanya Vivian sambil memijat kaki kakaknya.
"Papa gak ngomong apa-apa soal kamu. Papa datang hanya jenguk Kakak, dan soal Vena yang akan tinggal di rumah Kakak bareng kamu." Jawab Zavan tidak ada yang ditutupi.
"Oh, kirain ngomongin aku soal perjodohan." Ucap Vivian masih terlihat lesu, ada sedikit rasa takut jika dirinya diminta untuk pulang dan menikah dengan jalur perjodohan, pikirnya.
"Soal perjodohan, Papa sudah membatalkan. Cuma, em-"
"Cuma apa, Kak?" tanya Vivian yang langsung penasaran dan ingin tahu ketika kakaknya menggantungkan kalimatnya.
"Nanti akan dilakukan sayembara soal pencarian calon suami untuk kamu, nanti bakal dibuatkan peserta, dan kamu tinggal pilih."
"Apa!"
"Udah sih terima aja kenapa, Vi. Malah enak loh, kalau kita suruh milih. Jadi, gak hanya satu laki-laki yang jadi patokan." Sahut Vena ikut menimpali.
"Apaan sih kamu ini, ngasih saran gak bener. Ogah akunya, males banget harus pakai acara sayembara segala, kek jaman kerajaan aja, enggak enggak, aku gak akan pernah mau, titik." Jawab Vivian penuh kesal dan dongkol mendengarnya.
Edwan yang tengah berdiri tidak jauh jaraknya, hanya menahan tawa ketika melihat ekspresi Vivian yang begitu lucu dan menggemaskan. Zavan pun sama halnya, cuma ia tertawa kecil mendapati adiknya yang sedang kesal.
"Sudah audah, kalian jangan berdebat ataupun berantem. Mendingan kalian berdua itu pulang aja, lagi pula sudah ada yang menemani, ada Edwan." Ucap Zavan.
"Aku gak mau, aku pinginnya menemani Kak Zavan, gak mau pulang akunya." Jawab Vena yang tetap bersikukuh menunggu.
"Dih, udah di suruh pulang juga, masih gak mau. Kak Zavan tuh butuh istirahat, soalnya nanti siang Kak Zavan harus pemeriksaan lagi, dan mau pulang juga. Jadinya wajar lah kalau Kak Zavan menyuruh kita pulang, dah deh kita jangan ganggu jam istirahat. Benar kata Kak Zavan, ada Edwan yang mau urus Kakak." Timpal Vivian, dan langsung menarik tangannya Vena selesai bicara.
"Aw! pelan-pelan kenapa narik tanganku." Ucap Vena yang susah payah jalan ketika Vivian menarik tangannya Vena.
__ADS_1
Zavan yang tidak ingin mereka berdua berantem, menyuruh Edwan untuk mengawasi hingga sampai diparkiran. Saat melihat tidak ada kecurigaan, dan sudah pergi dari rumah sakit, Edwan merasa lega dan kembali ke ruang rawat.
Dalam perjalanan, penampilan keduanya ternyata sudah berantakan dan tidak karuan. Rambut yang tidak lagi rapi, baju juga sama halnya sudah berantakan.
Sampainya di rumah, Vivian maupun Vena, mereka berdua malah membuat asisten rumah ataupun penjaga rumah dan pelayan lainnya menahan tawa, termasuk Neyla yang baru saja keluar dari kamar.
"Loh, Nona Vena sama Vivian kenapa?" tanya Asisten rumah saat mendekati Vivian maupun Vena.
Neyla yang melihatnya pun, ia segera mendekati adik iparnya maupun Vena yang terlihat acak-acakan penampilannya.
"Dia biang keroknya." Jawab Vena yang langsung menunjuk ke arah Vivian.
"Enak aja main nuduh, Dia yang mulai." Ucap Vivian tidak terima.
"Sudah, jangan berantem. Lebih baik Nona Vena kembali ke kamar, biar Bibi yang menangani Nona Vivian." Timpal asisten rumah untuk melerai perdebatan antara saudara sepupu.
Vena tidak menanggapinya, ia langsung bergegas pergi ke kamar. Sedangkan Neyla membantu adik iparnya berdiri.
"Dia itu biang resek, pokoknya sangat menjengkelkan deh. Suka merebut pasangan orang, termasuk kekasihku dulu. Makanya, bawaannya tuh aku pingin balas dia. Apa lagi ada niat mau mendekati Kak Zavan, gak terima aku." Jawab Vivian dengan kesal dan terasa dongkol, juga geram.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Gak baik sama saudara kerjaannya berantem, tidak baik juga untuk dijadikan musuh. Gini aja, lebih baik kamu masuk kamar dan mandi. Nanti kalau udah, kita sibuk di dapur aja. Kata Bibi hari ini kakak kamu pulang, kita siapkan makan siang, sekalian buatkan puding, gimana?"
"Kak Ney bener-bener istri yang perhatian, pantes aja Kak Zavan tidak bisa ke lain hati. Oh iya, aku baru ingat. Kakak 'kan yang selalu menyiapkan bekal secara diam-diam buat Kak Zavan dimasa lalu, pantes aja tadi kek gak asing sama bubur tepung beras buatannya Kak Ney. Tau gak Kak, buburnya dihabiskan. Malah si Vena diabaikan."
"Kamu ini ngomong apaan sih, dah sana ke kamar terus mandi, biar badan segar dan gak acak-acakan gini." Ucap Neyla.
"Iya, Kak. Aku ke kamar dulu ya Kak, nanti aku nyusul Kakak ke dapur." Jawab Vivian, dan segera masuk ke kamar untuk mandi.
Neyla yang sempat mendengar ucapan dari Vivian soal bubur buatannya, tersenyum senang, dikarenakan suaminya menghabiskan buburnya.
"Sepertinya Nona sedang bahagia, Bibi juga ikutan bahagia kalau gitu." Ucap asisten rumah membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Neyla segera menoleh.
"Bibi bisa aja."
"Soal sikapnya Nona Vena, jangan diambil hati ya, Non. Orangnya memang begitu sifatnya."
"Iya, Bi, saya mengerti. Vivian sudah menceritakan semuanya. Kalau gitu, saya mau menyiapkan makan siang, boleh 'kan, Bi?"
"Tentu saja boleh, Tuan pasti menyukai masakannya Nona. Bibi pernah diceritain, ternyata Nona Neyla itu masa lalunya Tuan Zavan."
"Masa sih, Bi, suami saya pernah bercerita masa lalunya. Kek gak percaya gitu, dia kan orangnya sangat tertutup."
"Sejak tinggal di rumah, awalnya Tuan Zavan itu banyak melamun. Lama-lama Tuan Zavan bercerita banyak soal masa lalunya. Juga, dia menikah karena perjodohan. Sebenarnya sih tidak mau dijodohkan, tetapi tidak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau, akhirnya menyetujui. Tapi ternyata hanya dikhianati, dan memilih untuk menduda. Gak tahunya menikahnya dengan Nona Neyla, benar-benar berjodoh." Jawabnya menjelaskan.
Neyla tersenyum mendengar penjelasan dari asisten rumah.
'Bibi gak tahu aja, Zavan menikahi ku hanya membalaskan dendamnya, bukan menikahi untuk dijadikan istri layaknya hubungan yang sesungguhnya, melainkan hanya ingin melampiaskan kekesalannya dimasa lalunya.' Batin Neyla yang masih sulit untuk mempercayainya.
"Loh, katanya mau masak, kok belum mulai?"
"Astaga, lupa, Vi. Ya udah yuk, kita menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Hampir saja, soalnya lagi asik-asiknya ngobrol sama Bibi, ya 'kan, Bi?"
Neyla langsung mengedipkan matanya, yakni tanda untuk memberi kode.
"Iya, Non, maaf. Tadi kita lagi asik ngobrol, sampai lupa mau menyiapkan makan siang. Kalau begitu, Bibi permisi dulu ya Non, Bibi mau ambil belanjaan, tadi Pak Bowo udah belanja di supermarket."
"Iya, Bi, silakan. Ayo Kak, kita ke dapur. Janji ya, ajarin aku bikin puding. Nanti mau aku pamerin sama Kak Zavan, kalau aku diajarin masak sama membuat kue."
"Jangan ah, Kakak malu."
"Nah, gini kan, enak, gak pakai aku. Kak Neyla cantik banget, awet muda juga, pantes aja Kak Zavan gak bisa ke lain hati." Ucap Vivian tidak lupa untuk memuji.
__ADS_1
Neyla hanya tersenyum, dan mengajak adik iparnya pergi ke dapur.