
Masih didalam kamar mandi, Neyla susah payah untuk berusaha bangkit dari posisinya, karena tidak memungkinkan untuk merangkak.
Salah satu kakinya yang menahan rasa sakit karena terjatuh akibat ulah mantan suaminya, berusaha bisa bangkit dan bisa untuk berdiri. Dengan bantuan seadanya yang dapat dijadikan pegangan, Neyla menghela napasnya saat dirinya mampu berdiri dengan rasa sakitnya.
Setelah mengelap tubuhnya dengan handuk, Neyla segera mengenakan baju ganti. Kemudian setelah itu, Neyla segera keluar. Saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya sang suami sudah tidur dengan lelap, dan terdengar suara dengkurannya.
Arah pandangannya langsung tertuju dibawah tempat tidur, terlihat ada alas lantai dan bantal serta selimut. Hatinya terasa teriris saat dirinya diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Sangat jauh dibandingkan dengan mantan suaminya si Naren, sama sekali tidak memperlakukan dirinya dengan buruk. Justru perhatian yang selalu ia dapatkan. Hanya saja untuk soal perekonomian sangat sulit saat mengalami kebangkrutan.
'Andai saja aku lebih memahami apa artinya perhatian yang tulus, mungkin aku tidak akan melakukan hal yang menjijikkan. Sekarang aku harus menerima resikonya, dan aku sendiri tidak bisa mengelak maupun untuk menghindar. Bodohnya aku ini yang begitu mudah terkena tipu muslihatnya.' Batin Neyla yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Rasa sakit hati dan kecewa karena hanya dijadikan alat balas dendam, Neyla memilih untuk tidur. Berharap semua akan berlalu, tetapi itu tidak akan mungkin pikirnya.
Dengan langkah kakinya yang penuh hati-hati, sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara, agar suaminya tidak terbangun dari tidurnya.
"Aw!" pekik Neyla terpeleset saat hendak berjongkok.
Seketika, Zavan terbangun dari tidurnya. Ia langsung menoleh ke sumber suara.
"Diam! apa mulutmu itu gak bisa diam? ha!"
"Maaf, aku tidak sengaja terpeleset alas lantai." Jawab Neyla sambil menunduk, dirinya sama sekali tidak berani untuk menampakkan wajahnya ke suami.
"Makanya punya mata itu untuk melihat. Awas saja kalau masih bersuara." Bentak Zavan dengan kesal.
Neyla hanya mengangguk, dan sama sekali tidak berucap. Takut, itu sudah pasti. Dari pada menjawab tidak ada ujungnya, Neyla memilih untuk diam.
Karena tidak ingin menambah masalah, Neyla memilih untuk segera tidur. Namun, tetap saja tidak mampu untuk memejamkan kedua matanya. Selain merasakan sakit pada pergelangan kakinya, Neyla juga merasakan jika badannya terasa remuk, lebih lagi di bagian sensitifnya, membuatnya sulit untuk tidur.
Kini ingatannya tertuju pada Viro putranya, anak satu-satunya yang dirindukan. Pertemuan yang dianggapnya akan menjadi pengobat rindu, kini harus terpisah lagi. Neyla kembali menitikkan air matanya, menyimpan rasa penyesalan dan rindu kepada putranya. Ditambah lagi jika putranya mengidap lupus, tentunya menambah khawatir dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
Kepala yang terasa berat dan wajah yang sudah sembab, Neyla memaksa diri untuk memejamkan kedua matanya agar tertidur. Benar saja, lambat laun akhirnya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
"Bangun! cepat! bangun." Bentak Zavan sambil menendang kakinya Neyla.
Spontan si Neyla memekik.
"Aw! sakit." Pekik Neyla meringis kesakitan di bagian pergelangan kakinya.
Saat itu juga, Neyla langsung bangkit dari tidurnya, dan memegangi pergelangan kakinya.
Zavan yang penasaran dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya, ia langsung membuka selimutnya. Alangkah terkejut saat melihat kakinya Neyla membengkak.
Neyla menyembunyikan wajahnya dengan cara menundukkan pandangannya, lantaran ketakutan jika harus menatap wajah suaminya yang terlihat menakutkan karena tatapannya yang begitu tajam.
Zavan yang mengetahui jika pergelangan kaki milik istrinya membengkak dan tidak memungkinkan untuk berjalan, langsung mengangkat tubuhnya dan di pindah ke tempat tidurnya. Neyla sendiri hanya bisa diam, dan pasrah. Sepatah katapun tidak berucap.
"Diam lah, dan jangan banyak bergerak kalau ingin kakimu sembuh." Ucap Zavan dengan datar, Neyla berusaha mendongak dan mengangguk, namun masih diam.
Karena tidak mungkin membiarkan kaki istrinya membengkak, Zavan segera memanggil tukang urut, juga Dokter untuk memeriksa kondisinya.
Sebelum kakinya ditangani oleh tukang urut, Dokter memeriksa kondisinya terlebih dulu.
Sepertinya istri Tuan demam, mungkin pengaruh dari kakinya yang terkilir. Saya memberinya obat penurun panas, agar demamnya reda.
"Dok, bolehkah saya bicara sesuatu dengan Bu Dokter?" tanya Neyla sedikit ada rasa takut akan dicurigai oleh istrinya.
"Silakan, Nona." Jawab Dokter.
"Tapi ini soal perempuan, bisakah saya berbicara dengan dokter saja?" tanya Neyla kembali.
Ibu Dokter langsung mengarahkan pandangannya ke arah Zavan sebagai suami Neyla.
Zavan mengiyakan, dan mengajak tukang urut untuk keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Merasa aman dan tidak ada orang lain selain Dokter, Neyla mengatur napasnya. Kemudian segera berkonsultasi dengan Ibu Dokter, yakni mengenai keluhannya yang sedang dirasakannya.
Ibu Dokter yang mendengar keluhan yang diucapkan oleh Neyla, pun tersenyum mendengarnya.
"Tidak masalah, dan tidak perlu khawatir. Nanti akan saya beri obatnya, kebetulan ada yang mengalami hal serupa, jadi saya membawa obatnya."
"Terima kasih banyak, Dok. Saya mohon jangan ceritakan soal yang sensitif tadi ya, Dok, saya malu." Ucap Neyla yang tidak ingin suaminya mengetahuinya.
Dokter pun tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah, karena sudah tidak ada keluhan lagi, saya harus pamit. Soalnya ada pasien yang juga sudah menunggu. Takutnya nanti saya terlambat untuk pergi ke rumah sakit. Semoga lekas sembuh, dan bisa berjalan lagi dengan normal." Jawab sang Dokter.
"Iya, Dok."
Setelah menangani Neyla, Bu Dokter segera keluar. Kemudian pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang, Zavan meminta Dokter untuk menjelaskan apa yang dibicarakannya barusan. Karena tidak ingin tukang urut mendengarnya, meminta untuk masuk ke kamar duluan.
Zavan yang mendengar penjelasan dari Dokter, sedikit ada rasa malu. Bagaimana tidak malu, melakukan hubungan intim hingga membuat istrinya kesakitan di bagian intimnya.
"Ya udah ya, Tuan. Kalau begitu saya pamit untuk pulang, permisi." Ucap Dokter berpamitan.
Zavan mengiyakan, dan meminta asisten rumah untuk mengantarnya sampai di depan rumah. Setelah itu, ia kembali ke kamar untuk melihat istrinya yang hendak diurut di bagian pergelangan kakinya.
"Pelan-pelan mengurut kakinya ya, Bi. Soalnya saya takut sakit." Ucap Neyla sambil menahan rasa sakit di bagian pergelangan kakinya.
"Nona tenang saja, Bibi akan pelan-pelan mengurut kakinya. Bentar ya, Non, Bibi mau tuang dulu minyak urutnya. Nona tidak perlu tegang, gak sakit kok." Kata Bibi tukang urut.
Zavan yang tengah duduk di sofa, hanya memperhatikan istrinya yang hendak diurut pergelangan kakinya.
"Maaf, Tuan. Kalau Tuan berkenan, bisa temani Nona. Takutnya nanti Nona kesakitan, biar ada yang dijadikan pegangan. Maaf banget, Tuan." Ucapnya merasa tidak enak hati menyuruh tuan rumah.
Zavan sama sekali tidak menjawab, melainkan langsung bangkit dari posisi duduknya dan duduk disebelah istrinya.
__ADS_1