
Neyla segera bangkit dari posisinya, dan berniat untuk masuk ke kamar.
"Kak, tunggu. Jangan mengabaikan aku, Kak. Aku serius, aku gak ada niat jahat atau apapun sama Kakak ipar." Panggil Vivian yang langsung mengejar, dan menyambar tangannya untuk meyakinkannya.
Dengan terpaksa, Neyla langsung menoleh ke samping.
"Aku lihat Kakak ipar belum sarapan, aku temani ya?"
"Gak perlu. Aku dah kenyang. Kalau kamu mau sarapan, silakan." Jawab Neyla sambil menahan sakit di bagian pergelangan kakinya karena belum sembuh total.
"Kak, aku tulus untuk menjadi adik iparnya Kakak. Nama Kakak, Kak Neyla, 'kan? justru aku sangat senang, karena aku punya Kakak ipar yang cantik. Tidak peduli mau masa lalunya Kak Zavan sekalipun, aku tetap menyukai Kakak sebagai kakak iparku. Oh iya, gimana kalau aku ajak Kak Neyla keluar buat jalan-jalan, mau ya Kak?"
'Kesempatan emas untukku kabur. Sepertinya mendekati ini anak, aku bisa mengendalikannya.'
"Tapi, Kakak kamu melarang ku untuk keluar dari rumah ini. Jadi, kamu jangan berharap lebih untuk bisa mengajakku jalan-jalan. Sudah lah, sana pergi." Jawab Neyla dengan malas.
"Kak Neyla tenang aja, aku akan meminta izin sama Kak Zavan untuk mengizinkan kita jalan-jalan. Tunggu ya, Kak. Aku mau menghubungi Kak Zavan dulu." Ucap Vivian.
Neyla mengangguk. "Terserah kamu." Jawabnya datar.
Vivian yang sudah mengambil ponselnya, ia segera menghubungi kakaknya. Cukup jelas percakapan di antara kakak-adik terdengar sedang berbicara.
"Kak Zavan, izinin kita kenapa sih. Cuma jalan-jalan bentar kok. Boleh ya, boleh." Rengek Vivian dengan jurus andalannya merayu agar mendapatkan izin dari kakaknya.
__ADS_1
Vivian yang bukan satu ibu, Zavan begitu menyayanginya. Apa yang menjadi permintaannya, pun selalu dituruti. Tentu saja, Vivian jingkrak jingkrak saat disetujui oleh kakaknya.
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Vivian memutus sambungan teleponnya.
Neyla yang dapat mendengarnya, pun seperti mendapat peluang besar untuk melarikan diri. Sedangkan Zavan sendiri disibukkan dengan pekerjaannya. Lebih lagi ada pertemuan penting, tidak bisa ditinggalkan hal penting yang menjadi tanggung jawabnya.
Vivian sendiri langsung membuang ngpain dengan kasar karena merasa lega, lantaran sudah mendapatkan izin dari sang kakak.
"Aku bilang juga apa coba, kita diizinkan untuk jalan-jalan. Gimana dengan Kak Neyla? mau kan, kita jalan-jalan?"
Kapan lagi bisa kabur dan melarikan diri, pikirnya sambil tersenyum tipis kepada adik iparnya. Sesuai rencana dan juga sesuai target yang bisa dijadikan alat bantu, alias sebagai batu loncatan, Neyla tidak akan membuang kesempatan emasnya.
"Ternyata kamu itu adik ipar yang sangat pengertian. Makasih banyak sebelumnya ya, kamu udah mau bela-belain ngajak jalan-jalan. Pokoknya makasih banyak, kamu memang adik ipar yang penuh perhatian." Jawab Neyla dengan berpura-pura.
"Kalau gitu kita langsung siap-siap berangkat saja ya, Kak. Aku mau ganti baju dulu, soalnya ini baju gak begitu nyaman." Ucap Vivian, Neyla mengiyakan.
Selama perjalanan, Neyla menikmati perjalanannya sambil melihat kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang saling berlawanan. Ingatannya kembali tertuju kepada Viro putranya. Sudah sekian lama tidak pernah bertemu, membuatnya tidak sabar untuk melarikan diri dari rumah suaminya.
Sejak mengetahui jika Zavan yang hanya ingin membalaskan dendamnya, hilang sudah kepercayaannya kepada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
'Aku harus mengambil kesempatan, mumpung aku diizinkan untuk keluar. Kapan lagi aku bisa melarikan diri, kalau bukan saat seperti ini. Maafkan aku, Zavan. Aku tidak lagi bisa percaya denganmu, kamu begitu kejam terhadap diriku. Dan kamu hanya mementingkan ego-mu, melampiaskan amarah mu padaku. Aku sangat kecewa, aku tidak lagi percaya dengan omongan mu.' Batin Neyla yang sudah menyiapkan diri untuk kabur.
"Kak Ney, serius banget lihat jalanan terus dari tadi. Memangnya gak jenuh kah, sampai-sampai gak mau mengajak aku ngobrol." Ucap Vivian mengagetkannya.
__ADS_1
Neyla segera menoleh, dan tersenyum palsu kepada adik iparnya.
"Bukannya gak mau ngajak kamu mengobrol, hanya saja ingin menikmati pemandangan diluar. Kamu sendiri kenapa gak lihat pemandangan di sebelah mu? padahal pemandangannya juga gak kalah bagusnya loh. Banyak arti dalam setiap jarak yang kita lewati." Jawab Neyla berusaha untuk akrab dengan adik iparnya.
"Kakak mah bisa aja jawabnya. Jadi penasaran dan ingin tahu masa lalu Kak Neyla dengan Kak Zavan di masa mudanya. Boleh gak Kak, kalau Kak Neyla bercerita."
"Kenapa memangnya, kamu penasaran?" tanya Neyla.
Vivian tersenyum dan mengangguk. Tentu saja semakin penasaran, lebih lagi belum mengetahui secara pasti, yang jelas ingin mendengarkan langsung dari pemilik kenangan.
Neyla yang mendapat permintaan dari adik iparnya, ingin rasanya menolak, tapi itu tidak mungkin, hitung-hitung buat mengambil hatinya agar mudah untuk dimintai tolong. Apalagi kalau bukan untuk dijadikan batu loncatan agar dirinya bisa kabur, pikirnya.
"Dulu kita pernah berjanji untuk saling setia apapun rintangannya, tapi... kenyataannya lain. Aku dipaksa menikah dengan seseorang yang sudah menjadi pilihan orang tuaku. Aku sudah menolak pernikahan, dan berniat untuk kabur. Tapi... aku mendapatkan ancaman, yaitu ayahku yang sedang kritis tidak akan mendapat penanganan karena kendala biaya. Dengan terpaksa, akhirnya aku menerima perjodohan. Meski aku tahu resikonya sangat besar, tapi aku bisa apa? aku tak mampu memberontak di kala itu. Mau tidak mau, sulit tidak sulit, rela tidak rela, aku terpaksa memenuhi permintaan orang tuaku, meski harus mengorbankan orang yang aku cintai. Kenyataannya, aku hanya dijadikan balas dendam semata. Kecewa, sakit hati, itu jelas aku rasakan. Andai aku tidak mempunyai beban lain, aku lebih memilih mati." Ucap Neyla menjelaskan perjalanan cinta yang harus kandas.
"Memangnya beban apa itu, Kak?" tanya Vivian semakin dibuatnya penasaran.
"Aku sudah mempunyai anak usia 15 tahun, dia seorang laki-laki, Viro namanya. Viro mengidap penyakit lupus, kondisinya kapan pun bisa kambuh. Bahkan, tidak jarang dia tinggal di rumah. Sekali banyak pikiran, atau kondisi fisiknya melemah, dia mudah drop. Yang paling mengkhawatirkan yaitu, ketika dirinya kurang perhatian dan banyak pikiran, itu yang menjadi kekhawatiran ku. Sedangkan aku sendiri sulit untuk bertemu."
"Kenapa bisa begitu, Kak? memangnya Kak Zavan tidak mau mengizinkan Kak Neyla untuk bertemu dengan anaknya Kak Neyla sendiri? kejam sekali Kak Zavan. Mau menikahi ibunya, tapi gak mau anaknya."
Tiba-tiba Vivian berubah mendadak merasa kesal sendiri dengan kakaknya. Neyla justru tersenyum melihat tanggapan maupun respon dari adik iparnya.
"Bukan tidak mau. Tapi mantan suami aku sendiri yang tidak mengizinkan ku untuk bertemu dengan putraku." Ucap Neyla dengan jujur.
__ADS_1
"Alasannya apa, Kak? kejam sekali mantan suami Kakak. Andai saja aku bertemu dengan mantan suaminya Kak Neyla, bakal aku hajar habis-habisan pokoknya."
Lagi-lagi Neyla kembali tersenyum tipis saat mendapati tanggapan dari adik iparnya. Entah apa jadinya jika mengetahui kebenarannya jika dirinya yang sudah melakukan kesalahan, yakni menjadi kupu-kupu malam.