
Edwan yang menyadari jika dirinya telah mengerjai Vena, pun merasa ada sedikit kasihan.
"Bos, serius nih, Nona gak kenapa-napa? kalau terjadi sesuatu pada Nona Vena, gimana Bos?" tanya Edwan yang ada rasa sedikit khawatir.
"Tenang aja, semua akan baik-baik saja. Karena hanya dengan cara mengerjai dia, aku bisa bebas tanpa adanya tuh perempuan." Jawab Zavan dengan entengnya.
"Hem. Semoga aja sih Bos, gak kenapa-napa itu Nona Vena. Kalau terjadi sesuatu, pokoknya aku gak ikut campur." Ucap Edwan yang tidak ingin menanggung resiko akibat perbuatan Bosnya, pikirnya.
Vena yang tidak tahan dengan sembelit yang sedari tidak juga mereda, benar-benar tidak dapat menahannya. Sambil memegangi perutnya yang terasa mulas dan ingin buang air besar, sampai-sampai begitu lama berada didalam kamar mandi.
Zavan sendiri sama sekali tidak peduli jika Vena masih berada di dalam kamar mandi.
"Bos, ini lumayan lama loh Bos. Kalau Nona Vena pingsan di kamar mandi, gimana?"
"Ya coba aja kamu panggil sama ketuk itu pintu. Kalau menyahut, berarti masih hidup." Jawab Zavan begitu entengnya.
Edwan yang takut terjadi sesuatu pada Vena yang berada didalam kamar mandi, hati-hati untuk mengetuk pintunya.
"Nona, Non, Nona tidak apa-apa, 'kan?" tanya Edwan yang baru aja mengetuk pintu.
Vena sendiri masih memegangi perut dan menahan sembelit.
"Iya nih, perutku sakit banget. Mana melilit lagi." Sahut Vena dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana kalau saya antar Nona untuk berobat? mumpung belum larut malam, gimana, Nona?"
Vena yang mendengarnya dari dalam kamar mandi, dengan menahan sakit, ia membuka pintu untuk keluar meski rasa sakitnya begitu luar biasa.
Dengan wajah yang berkeringat, dan terlihat seperti kekurangan cairan, Edwan langsung menyodorkan air minum kepadanya, Vena langsung menghabiskannya.
"Lebih baik kamu segera berobat, biar Edwan yang akan mengantarkan mu. Lihatlah, kondisimu sangat memprihatinkan. Setelah itu, kamu langsung pulang ke rumah." Ucap Zavan.
"Terus, siapa yang jagain Kakak di rumah sakit?" tanya Vena sambil memegangi perutnya.
"Ada Edwan. Jadi, sudah sana pergi berobat."
"Iya deh. Tapi bener 'kan, besok Kak Zavan udah pulang?"
"Iya. Sudah sana pergi."
__ADS_1
Vena yang memang tidak kuat untuk menahan sembelit, pun langsung pergi untuk berobat.
Tidak ada yang mengganggunya, Zavan merasa lega dan tidak ada yang mengganggunya istirahat.
Berbeda dengan Edwan, bukannya bisa istirahat saat menunggu Bosnya, justru di suruh mengantar Vena alias menemaninya untuk berobat.
Usai menemani berobat, Edwan mengantar pulang Vena ke rumah Bosnya. Saat sampai di depan rumah, Vena buru buru bergegas keluar dan berlari karena sudah tidak tahan menahan sembelit.
BRUG!
"Aw!" pekik Vena saat menabrak Vivian yang baru aja masuk ke rumah.
Untung saja tidak jatuh, Vivian masih bisa menahannya, meski hampir saja terjungkal. Karena penasaran siapa yang sudah menabrak dirinya, langsung menoleh ke belakang.
"Vena."
"Vian, kamu. Minggir, aku mau ke toilet."
Dengan terburu-buru, Vena langsung pergi ke toilet di kamar tamu karena tidak tahan untuk menahan rasa sembelit.
"Itu anak kenapa lah, sudah datang tanpa kabar, datang-datang langsung ke toilet." Gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
"Eh Kak Edwan." Jawabnya saat menoleh dan mendapati orang kepercayaan kakaknya.
"Nona Vivian tadi datang bersama Tuan Gunanta, dan juga Nyonya Wilena. Mulai malam ini, Nona Vena akan tinggal di rumah ini." Ucap Edwan.
"Vena mau tinggal di rumah ini?" tanya Vivian sambil berkacak pinggang, terasa malas untuk menerima kedatangannya.
"Iya, aku mau tinggal di rumah Kak Zavan, kenapa?"
Vena tidak kalah dengan Vivian, yakni dirinya ikutan berkacak pinggang saat menyahut.
"Hem. Awas aja ya, kalau resek." Ucap Vivian sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya sih, iya." Jawabnya dengan ketus.
Kemudian, Vena mendekati Edwan.
"Mana obatnya." Pinta Vena sambil menengadah untuk meminta obatnya.
__ADS_1
"Ini obatnya, Nona." Jawab Edwan sambil menyodorkan obatnya.
Setelah itu, Vena menarik Vivian untuk diajaknya masuk ke kamar tamu.
"Ih! apa-apaan sih, tarik tarik segala. Kamu ini kenapa sih? perasaan dari tadi tuh aneh banget. Datang gak kasih kabar, giliran datang main nyelonong aja kamu ini."
"Perut aku tuh sakit banget, tau. Sembelit nih perutku." Kata Vena sambil menahan sembelit yang kadang-kadang kambuh.
"Memangnya kamu gak lanjut lagi kah, kuliahnya? aku dengar kamu mau lamjut kuliah ke luar negri, gak jadi kah?"
"Males akunya, Vi. Aku maunya tinggal di rumah Kak Zavan saja, sekalian mau masuk ke perusahaannya. Siapa tahu aja bisa jadi sekretarisnya Kak Zavan, kan bisa pendekatan."
"Hem. Mimpi dulu deh sana, aku mau tidur, dah malam."
"Ih! nyebelin banget sih kamu. Bukannya mendukung aku kek, ini malah bikin kesel. Kamu ini benar-benar, ya. Awas saja kamu." Ucap Vena sambil berkacak pinggang karena merasa kesal dengan Vivian.
Karena sudah hampir larut malam, Vena segera bersiap-siap untuk tidur, berharap badannya terasa enakan dan tidak pegal-pegal karena menempuh perjalanan yang cukup lumayan jauh.
Lain lagi dengan kamar satunya, Neyla justru belum bisa tidur, rupanya masih kepikiran dengan keluarganya. Siapa lagi kalau bukan putranya yang sangat dirindukan.
"Aku harus bagaimana sekarang? dengan cara apa agar aku bisa bertemu dengan putraku. Nak, Mama sangat merindukanmu. Bagaimana keadaan mu, sayang? Kapan kita bisa bertemu lagi, Nak? Mama benar-benar sangat ingin menikmati hari hari denganmu seperti dulu." Gumamnya sambil memandangi foto yang ada di ponselnya.
Perjalanan hidup yang penuh dengan kenangan, kini seakan hanya mimpi belaka ketika teringat dan mengharapkan masa-masa lalu itu kembali.
"Kak Ney belum tidur?" tanya Vivian saat baru saja masuk ke kamar kakaknya.
Melihat Kakak iparnya seperti banyak pikiran dan terlihat sedih, Vivian ikut duduk di sebelahnya.
"Belum ngantuk, Vi. Kamu sendiri kenapa belum tidur juga? dah mau larut ini loh."
"Aku juga belum ngantuk, Kak. Oh iya, tadi keponakan dari ibuku datang ke rumah, mulai malam ini dan entah berapa lamanya, mau tinggal bersama kita. Namanya Venata, sekarang dia udah ada kamar tamu, udah tidur keknya."
"Memangnya ada acara apa di rumah, kok datang malam malam gini."
"Aku sendiri juga belum tahu pasti, Kak. Mungkin liburan, soalnya si Vena baru selesai kuliah." Ucap Vivian.
"Oh, mungkin aja. Dah mau larut malam ini loh, kamu gak tidur?"
"Iya Kak, nanti." Sahut Vivian dan berbisik didekat daun telinganya.
__ADS_1
Neyla yang mendapat bisikan dari adik iparnya, pun sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Vivian.