
Semua mengarahkan pandangannya dengan rasa terkejut.
"Neyla!"
Semua menyebutkan nama Neyla seperti tidak percaya yang tengah berdiri di ambang pintu tidak lain ibu dari Viro.
Neyla segera maju beberapa langkah untuk mendekati mereka bertiga, sebisa mungkin untuk tetap tenang, meski perasaannya begitu hancur saat tatapannya tertuju pada suami keduanya.
"Aku ingin mengakhiri hubungan dengan mu." Ucap Neyla dihadapan Zavan dengan tatapan penuh kebencian.
Zavan tidak juga bersuara, ia diam dan tidak tahu harus menjawabnya apa. Naren selaku mantan suaminya, ia mendekatinya.
"Tenangkan pikiran mu, Ney. Jangan kamu ambil keputusan dengan keadaan yang seperti ini. Kamu tidak hanya menjadi seorang istri, tetapi juga ibu dari Viro, putra kita. Masa muda mu sudah habis, yang tersisa adalah masa menata hidupmu menjadi lebih berarti. Aku tahu posisi kamu, aku juga pernah menjadi egois, tapi aku belajar untuk mengambil pelajaran itu." Ucapnya, dan mengatur napasnya agar tidak terpancing emosi.
Neyla yang mendengar tutur kata dari mantan suaminya, ia menyeringai begitu sinis.
"Mengambil pelajaran setelah semuanya hancur berantakan, begitu kah maksud mu, Mas? cuih!"
Sahut Neyla dan meludah ke sembarang arah. Zavan sendiri masih diam, yakni untuk menata kalimat agar tidak salah bicara ketika menjawab pertanyaan dari istrinya. Sedangkan ibunya yang memang akar permasalahan datang karena keputusan untuk menjodohkan putrinya dengan Naren sosok pengusaha sukses, merasa bersalah karena hidup putrinya telah hancur.
__ADS_1
"Neyla, kendalikan emosi mu. Aku tahu kalau aku memang bersalah, dan aku mengakuinya." Timpal Zavan yang terhenti ucapannya, lantaran bingung harus menjelaskannya.
Bukannya langsung menjawab, Neyla tertawa kecil untuk menutupi rasa ingin meluapkan emosinya, juga ingin menangis kencang atas nasib yang tidak sesuai yang diharapkannya.
Ibunya yang melihat kondisi Neyla, pun langsung mendekatinya. Kemudian, memeluknya dengan erat.
"Maafkan Mama, Ney, maafkan Mama yang sudah menghancurkan masa depan kamu, juga hidup mu. Maafkan Mama yang sudah bersikap tidak adil atas pilihan mu. Ini semua kesalahan Mama dan Papa, karena memaksa mu untuk menikah dengan Naren. Mama mengaku salah, bukan Naren, juga bukan Zavan." Ucap ibunya sambil memeluk erat putrinya.
Neyla yang terasa sesak untuk bernapas, susah payah untuk berlepas diri. Dengan sekuat tenaga, Neyla melepaskan pelukan dari ibunya.
"Kenapa baru sekarang Mama menyadari kesalahan Mama? kenapa? Ma! hidupku sudah hancur, aku malu pada diriku sendiri, Ma."
Neyla langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan kedua lututnya yang dijadikan penyangga. Juga, dengan tangisnya Neyla terasa sesak untuk bernapas, terasa penat memikirkannya.
"Aku akan penuhi apa yang kamu inginkan, sekalipun nyawaku yang harus menjadi jaminannya. Selagi kamu puas dan tidak menjadi beban dalam hidup mu, katakan saja apa yang ingin kamu mau. Aku akan menebus semua kesalahan ku dimasa lalu, juga yang sudah menghancurkan hidupmu." Ucap Zavan sambil menahan rasa sesak di dadanya, juga terasa sakit.
Neyla masih terisak, rasa cinta dan benci sulit untuk dikendalikan. Rasanya pun sulit untuk dibedakan.
Naren yang juga merasa bersalah karena telah menerima perjodohan dengan Neyla, ikutan berjongkok.
__ADS_1
"Aku juga mau minta maaf atas perbuatan ku yang secara paksa menikahi mu yang jelas-jelas tidak mencintai ku, melainkan mencintai suami kamu yang sekarang. Aku mohon, jangan turuti ego kalian. Jangan ada kata perpisahan atau perceraian diantara kalian berdua. Aku yakin kalau kalian berdua masih menjaga cinta satu sama lain, dan juga masih saling mencintai. Karena keegoisan kalian, sampai lupa dengan tujuan awal kalian untuk bertemu dan hidup bahagia." Ucap Naren yang tidak ingin hubungan mantan istri dengan Zavan berakhir hanya karena keegoisan.
Neyla maupun Zavan sama-sama terdiam ketika mendengar ucapan dari seorang Naren.
Viro yang sedari tadi menjadi saksi perdebatan antara ibunya, ayahnya, dan ayah tiri, maupun neneknya, akhirnya mengerti pokok permasalahan yang pernah menjadi teka-teki dalam benak pikirannya.
Meski masih usia 15 tahun, Viro cukup memahami arti sebuah perpisahan dari orang tuanya. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api.
"Mama," panggil Viro yang sudah berdiri di depannya.
Neyla yang begitu rindu dengan suara putranya, pun langsung mendongak keatas. Kemudian, ia bangkit dan berdiri. Tidak menunggu lama, Neyla langsung memeluk putranya begitu erat.
"Viro, maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik, Maafkan Mama, Nak. Gara-gara kesalahan Mama, kamu harus menanggung akibatnya." Ucap Neyla sambil menangis sesenggukan saat memeluk putranya.
Viro yang juga sangat merindukan ibunya, rasanya terobati ketika mendapatkan pelukan dari orang tuanya.
"Viro sangat merindukan Mama, maafkan Viro yang sudah banyak menyusahkan Mama. Viro janji, Viro gak akan menyusahkan Mama lagi, juga tidak akan menjadi beban untuk Papa." Jawab Viro yang juga ikutan menangis.
Ibunya Neyla yang melihat pemandangan yang begitu haru, ikutan menangis, lantaran merasa bersalah. Juga, Zavan yang melihat istrinya menangis karena dapat melepaskan rindu, pun ikut merasa bersalah karena atas perbuatannya, kini ada sosok Viro yang kehilangan keluarga yang utuh.
__ADS_1
Menyesal, semua sudah tiada guna lagi. Hubungan yang dijaga dengan baik, harus hancur karena perbuatannya atas dendamnya yang ingin menghancurkan hidup orang yang dicintainya. Kini hanyalah kepasrahan yang tersisa, antara hancur hidupnya, juga hancur hubungan pernikahannya.
Berani mengambil resiko, juga siap menerima kenyataan. Zavan semakin terasa sesak untuk bernapas, juga semakin sakit untuk menahannya.