
Sambil menahan rasa sakit, Neyla juga mencengkeram lengan suaminya cukup kuat. Sedangkan Zavan tidak menunjukkan kemarahannya sedikitpun didepan tukang urut.
"Aw! sakit, aw! aduh, sakit banget, Bi. Aw! sakit banget." Pekik Neyla sambil mencengkeram lengan suaminya, juga meringis kesakitan saat kakinya diurut.
Napasnya memburu bak dikejar-kejar hewan buas, Neyla tersengal ketika menahan rasa sakitnya yang luar biasa.
"Sabar, Non, sabar. Sebentar lagi selesai kok, Non." Ucapnya agar Neyla sedikit rileks dan ototnya tidak tegang.
Kali ini Zavan menyatukan tangannya dan menggenggamnya erat agar tidak berteriak begitu histeris. Neyla hanya diam, sama sekali tidak menolak.
"Sudah, Non. Coba untuk digerakkan, apakah udah agak mendingan?"
Neyla yang penasaran, pun mencoba untuk mengikuti perintah tukang urut untuk menggerakkan pergelangan kakinya. Neyla tersenyum meski masih ada rasa sedikit sakit.
"Udah lumayan sih Bi. Tapi, masih ada sedikit sakitnya, Bi." Jawab Neyla sesuai yang dirasakannya.
"Nona boleh minum dulu, nanti Bibi lanjutkan lagi urut kakinya." Ucapnya.
Zavan dengan tanggap, ia langsung meraih air minum yang ada didekatnya. Kemudian, ia memberikannya kepada istrinya.
"Ini, minumlah. Dari tadi kamu berteriak-teriak, takutnya tenggorokan kamu kering." Ucap Zavan sambil menyodorkan satu gelas air minum kepada istrinya.
Neyla menerimanya, dan meminumnya.
"Terimakasih," jawabnya dan menyodorkan gelasnya yang masih ada air minumnya setengahnya.
Setelah itu, kaki Neyla kembali diurut agar segera sembuh dari sakitnya, dan kaki yang sudah membengkak.
Zavan sendiri masih memegangi lengan istrinya, takut berteriak histeris. Dengan sangat hati-hati kaki Neyla diurut, yakni agar tidak salah.
"Sepertinya sudah, Nona. Coba digerakkan lagi, kalau masih sakit jangan dipaksakan." Ucapnya.
Neyla mengangguk dan mencoba untuk digerakkan lagi sesuai saran dari tukang urutnya dengan pelan-pelan.
__ADS_1
Senyum merekah terlihat jelas di kedua sudut bibirnya. Rasa sakit yang tadinya tidak bisa untuk berdiri, kini untuk digerakkan saja sudah lumayan mendingan.
"Saya boleh mencoba untuk berdiri 'kan, Bi?" tanya Neyla meminta izin terlebih dulu.
"Boleh, silakan, Nona." Jawabnya.
Kemudian, awalnya Neyla dibantu oleh suaminya untuk berdiri. Setelah itu kedua tangannya dilepaskan. Perlahan-lahan si Neyla mencoba untuk melangkahkan kakinya.
"Iya bener sembuh. Bi, saya bisa jalan." Ucap Neyla yang begitu girang saat kakinya dapat berjalan meski harus pelan-pelan. Kemudian, Neyla kembali duduk di tepi ranjang tempat tidur.
Zavan sendiri memperhatikannya, namun tidak bersuara sedikitpun.
"Akhirnya Nona bisa jalan, Bibi seneng lihatnya. Tapi, Non, tetap harus hati-hati. Soalnya baru aja diurut, takutnya nanti Nona lupa." Ucapnya, Neyla mengangguk.
"Iya Bi, makasih banyak ya Bi, udah diurut kaki saya." Jawab Neyla.
"Karena sudah tidak sesakit seperti tadi, saya mau langsung pamit pulang ya, Tuan, Nona. Soalnya di rumah sudah ada janji akan ada orang yang mau urut juga." Ucapnya berpamitan.
"Terima kasih banyak ya, Bi. Soal pembayaran, sudah ada asisten rumah nunggu Bibi di bawah." Jawab Zavan.
"Makasih banyak ya, Bi. Udah menyembuhkan kaki saya. Bibi hati-hati pulangnya." Timpal Neyla ikut bicara.
"Iya, Nona, sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Ucapnya pamit pulang.
Neyla maupun Zavan sama-sama mengiyakan. Setelah itu, kini tinggal Neyla bersama suaminya didalam kamar. Neyla kembali diam tidak bersuara.
Karena teringat jika dirinya dilarang tidur maupun duduk di tempat tidur milik suaminya, memilih untuk pindah tempat, yakni di sofa.
"Kamu mau kemana?" tanya Zavan saat melihat istrinya bangkit dari posisi duduknya di atas tempat tidur.
"Aku mau duduk di sofa, aku mau minum obat." Jawabnya.
"Nanti minum obatnya kalau kamu sudah sarapan. Aku mau mandi dulu, kamu jangan kemana-mana, paham. Jangan mentang-mentang kamu sakit, mau dibuat senjata sama kamu, jangan harap." Ucap Zavan memberi peringatan.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bunuh saja aku ini, biar kamu lebih puas segalanya." Jawab Neyla yang sudah begitu geram dengan perlakuan dari suaminya.
Zavan menyeringai, dan mendekati istrinya yang sudah berdiri.
"Kamu pikir itu, membunuhmu masalah akan selesai? ha! tidak. Tujuanku adalah membuatmu menderita. Tidak hanya fisikmu saja yang merasakan sakit hati, kecewa, tetapi jiwamu pun akan aku buat lebih dari yang kurasakan dulu, ingat itu." Ucap Zavan sambil mengangkat dagu milik istrinya.
Neyla hanya diam saat mendengar ucapan dari suaminya. Zavan sendiri langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lantaran harus berangkat kerja ke kantor.
Karena masih merasakan ada rasa nyeri di bagian pergelangan kakinya, Neyla memilih untuk duduk di sofa.
'Aku harus kabur dari rumah ini, apapun caranya. Aku tidak akan membiarkan Zavan menyiksaku. Pokoknya aku harus pergi dari rumah terkutuk ini.' Batinnya yang mempunyai rencana untuk melarikan diri dari rumah suaminya.
Tidak memakan waktu lama, Zavan sudah selesai mandinya, dan mengenakan baju ganti. Sedangkan Neyla sendiri masih duduk di sofa.
"Buruan, cepetan kamu mandi, karena aku paling tidak suka melihat mu berpenampilan acak-acakan seperti itu." Ucap Zavan sambil mengancingkan baju kemejanya.
Neyla awalnya ingin menolak, namun tidak memungkinkan untuk terus berdebat. Jadi akhirnya bangkit dari posisi duduknya dengan penuh hati-hati agar tidak terjatuh, meski kakinya sudah dapat untuk berjalan.
Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Zavan menyibukkan diri di ruang kerjanya. Zavan menemukan foto di ruang kerjanya, langsung disambar olehnya.
"Perempuan seperti dia tidak pantas aku cintai, apalagi aku pertahankan. Sekarang dia sudah hilang dari ingatan ku, tidak butuh untukku mengingatnya lagi." Ucapnya lirih dan membuangnya ke tong sampah.
Waktu yang sudah menunjukkan jam untuk sarapan pagi, cepat cepat untuk membereskan berkas-berkas yang akan ia bawa ke kantor.
Tidak ingin datang terlambat karena akan ada pertemuan penting dengan seseorang mengenai kerja sama, Zavan segera bersiap-siap.
Saat masuk kedalam kamar, aroma yang begitu menusuk ke rongga hidungnya, membuat Zavan tertuju kepada arah pandangannya ke istrinya yang tengah menyisir rambutnya.
"Hari ini kamu tidak perlu pergi ke kantor, di rumah saja. Juga, awas saja kalau sampai kabur dari rumah ini, kamu akan menanggung akibatnya, ingat itu." Ucap Zavan yang tidak lepas memberi ancaman kepada istrinya.
Neyla membalikkan posisinya, dan kini menatap sang suami.
"Kaki aku udah mendingan kok, dan aku bisa berjalan, serius." Jawab Neyla yang tetap ingin ikut berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Jangan membantah. Ikutin saja apa kataku. Semakin kamu berani membantah, aku tidak akan segan-segan untuk menyiksamu, paham." Ucap Zavan tak lupa untuk memberi ancaman kepada istrinya.
Neyla sendiri hanya bisa nurut dan mengiyakan apa kata suaminya. Yakni mencari titik aman, pikirnya.