Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Tidak peduli dengan rasa malu


__ADS_3

Tidak peduli apa yang akan ia jalani dan hadapi ketika bertahan dengan pernikahannya yang kedua, Neyla berusaha untuk tetap yakin, meski hanya akan berujung rasa sakit hati seperti kenyataan yang pernah ia dapatkan dari sang suami lantaran ada dendam yang sudah direncanakan.


"Sekalipun aku mati di tanganmu, pun aku tidak peduli. Hidupku sudah hancur, rumah tangga sebelumnya sudah tidak mungkin untuk diperbaiki. Hanya kepada putraku aku menaruh harapan untuk ku bertemu." Ucap Neyla dengan pilihan yang ia ambil.


Seberapa besar akibatnya, Neyla sama sekali tidak mempedulikannya. Memilih bertahan adalah keputusannya. Entah karena memang perasaan cintanya, atau mungkin sudah tidak ada lagi untuk dijadikan tempat tinggalnya. Mungkinkah ada sesuatu yang sedang direncakan Neyla? atau justru si Zavan yang sengaja untuk bersikap baik kepada istrinya karena mungkin ada sesuatu yang sudah direncanakan sejauh-jauh hari.


Zavan yang mendengar ucapan dari istrinya, tersenyum tipis memandanginya.


"Aku tidak peduli apa mau mu. Kalau kamu memang ingin bertahan hidup bersamaku, aku sama sekali tidak ada larangan apapun untuk mu berada di sisiku." Jawab Zavan.


"Terimakasih." Ucapnya, dan kembali menunduk.


Ada rasa malu dan merasa hina ketika bertahan, namun dirinya tidak ada lagi tempat tinggal. Dengan terpaksa, Neyla memilih untuk bertahan. Ada apanya atas keputusan dari Neyla, hanya dia yang mengetahuinya.


"Cie... diam diaman aja Kak Zavan sama Kak Ney, nih. Ini Kak, minum dulu, biar gak kering tenggorokannya Kakak, sekalian juga kita makan dulu, dah siang ini." Ucap Vivian mengagetkan.


"Makasih ya, nanti aja makannya, aku masih kenyang. Kamu kalau mau makan, makan aja dulu." Jawab Neyla sambil menerima satu botol air mineral.


"Nanti keburu dingin, Kak, malah hambar jadinya, gak enak entar." Ucap Vivian.


"Buatku mana? sini, Kakak juga mau." Timpal Zavan ikut bicara.


"Punya Kakak nanti, nunggu jadwal makan siang. Soalnya makanan Kakak bukan dari warung makan, tetapi dari pihak rumah sakit. Mau bagaimanapun harus nurut peraturan di rumah sakit. Nanti kalau kenapa-napa dengan kesehatan Kakak, gimana? kan, kasihan Kakak." Ucap Vivian yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan kesehatan sang kakak.


"Ya, bawel. Ya udah kalau kalian mau makan, makan aja, udah siang jugaan, sudah waktunya untuk makan siang." Kata Zavan.


"Aku nanti aja nunggu kamu makan, palingan juga gak lama, mungkin bentar lagi makanan buat kamu akan di antar." Jawab Neyla yang memilih makan bareng suaminya atau suaminya yang lebih dulu makan siangnya.


"Nanti perut kamu sakit, jangan ditunda kalau udah waktunya untuk makan siang." Ucap Zavan.


Neyla sendiri tetap kekeh memilih untuk makan bareng suaminya, sedangkan Zavan tidak menolak, begitu juga dengan Vivian, sama sekali tidak memaksa kakak iparnya. Namun, baru saja bicara, rupanya telah datang seorang perawat membawakan makan siang untuk pasien.

__ADS_1


"Ini, Tuan, untuk makan siangnya. Saya permisi." Ucapnya sambil menyodorkan nampan berisi makan siang untuk pasien.


Setelah itu, Neyla meraihnya.


"Terima kasih." Jawab Neyla saat menerimanya.


"Sama-sama, permisi." Ucapnya dan bergegas keluar.


Vivian yang tidak ingin mengganggu suasana, memilih makan di luar.


"Vi, kamu mau kemana?"


"Aku mau makan di luar saja Kak, mau sekalian nelepon teman. Kak Ney temani saja Kak Zavan, biar gak kesepian akut." Jawab Vivian yang langsung keluar untuk menghindari mereka berdua.


Neyla yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, memilih diam sambil memegangi nampan.


"Sini, berikan padaku. Kamu makan aja, gak usah melayani aku. Aku masih bisa melakukannya sendiri." Ucap Zavan.


"Gak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri, kamu tidak perlu repot-repot menyuapi aku. Mendingan kamu makan aja, nanti makanannya keburu dingin sama hambar. Atau gak, kamu makan bareng Vivian, udah sana sama Vivian." Ucap Zavan.


"Soal makan tidak penting mau hambar ataupun dingin, sama aja bisa mengenyangkan perut. Sudahlah, biar aku suapi kamu." Jawab Neyla yang tetap bersikukuh menyuapi suaminya.


"Ya udah, terserah kamu kalau tetap memaksa." Ucap Zavan sambil membenarkan posisinya untuk duduk.


Neyla yang melihat suaminya susah payah untuk duduk, langsung membantunya. Setelah itu, Neyla menyuapi suaminya. Zavan yang melihat dari tadi istrinya tidak juga makan, menyambar sendok yang ada di tangan istrinya. Kemudian, ia menyendok makanan di piring.


"Buka mulut kamu, gantian aku yang menyuapi kamu. Perut kamu belum diisi, jangan menyiksa diri untuk menahan lapar." Ucap Zavan yang sudah siap untuk menyuapi istrinya.


Neyla bukannya membuka mulutnya, justru terdiam dan bengong sambil menatap suaminya.


"Cepetan buka mulut kamu, aaaa' buka."

__ADS_1


Dengan reflek, Neyla membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya. Lalu, ia meraih sendok yang ada di tangan sang suami.


"Makasih." Ucap Neyla.


Zavan mengangguk, namun tidak ada senyumnya sedikitpun.


"Aku udah kenyang. Ambilkan air minum."


Neyla segera mengambilkan air minumnya.


"Ini, minumlah." Ucap Neyla saat menyodorkan satu gelas air minum.


"Terima kasih. Sekarang lebih baik kamu makan dulu, isi dulu perutmu, biar ada tenaga." Kata Zavan, Neyla mengangguk.


"Aku makan di luar bareng Vivian, boleh 'kan?" tanya Neyla yang masih terasa canggung.


"Boleh, silakan." Jawab Zavan mengiyakan.


Masih merasa canggung dan ingin menghindari kegugupannya, Neyla memilih makan siang di luar dari pada di dalam ada suaminya.


"Loh, kok Kak Neyla keluar?" tanya Vivian yang baru aja selesai makan siang.


"Aku lagi pingin makan di luar, gak pengap kek di dalam ruang rawat. Oh iya, kamu udah selesai ya makannya? sayang sekali, padahal mau menemani kamu. Tapi ya udah lah, aku makan sendirian. Kalau kamu mau, kamu bisa temani Kakak kamu di dalam, dia sendirian." Jawab Neyla setelah duduk disebelah adik iparnya.


"Gak lah Kak, biarin Kak Zavan istirahat. Kakak makan aja, biar aku temani Kakak. Jugaan baru selesai makan akunya." Ucap Vivian yang memilih untuk menemani kakak iparnya.


Vivian masih terbawa rasa takut jika kakak iparnya akan kabur lagi, dan membuat kakaknya marah atau bersedih.


"Ya udah kalau kamu mau temani aku makan, makasih ya. Kakak kamu pasti sangat beruntung mempunyai adik perempuan sepertimu. Penuh perhatian, dan kelihatannya sangat dekat." Ucap Neyla sambil menyendok makanannya.


"Soalnya aku sudah tidak mempunyai ibu sejak kehadiran Kak Zavan. Hidupku terasa terkekang karena selalu diawasi oleh orang suruhan orang tuaku, Kak. Jadi, sejak hadirnya Kak Zavan, aku mendapatkan kebebasan, apapun yang aku inginkan dan yang aku mau, Kak Zavan selalu ada untukku. Jadi, aku merasa tenang saat aku mempunyai seorang Kakak. Selain bisa menjagaku, juga memberikan perhatian padaku." Jawab Vivian tidak ada yang ditutupi.

__ADS_1


'Zavan memang lelaki yang bertanggung jawab, dan juga mempunyai kasih sayang yang tinggi pada orang terdekatnya. Meski Vivian tidak satu ibu dengannya, tapi dia mampu membuat adik perempuannya nyaman. Sama seperti ku dulu, aku pun merasa nyaman dan selalu mendapat perhatian darinya walau dengan cara sederhana, tapi dia begitu tulus. Namun, aku sudah menghilangkan kepercayaannya hingga kini dia membenciku.' Batin Neyla sambil mengunyah makanan, juga tengah melamun.


__ADS_2