
Vivian yang udah duduk disebelah kakak iparnya, pun menghela napasnya dan menikmati pemandangan didepannya.
"Maaf ya, Kak, udah buat Kak Ney nunggu lama. Oh iya, Kakak emangnya gak pingin kah, pulang ke rumah keluarga Kakak? maaf, aku gak ada niat buat ikut campur urusan Kakak ipar."
"Sudah aku bilang kalau aku tidak lagi diterima untuk kembali ke rumah. Aku sudah menerima resikonya, dan harapan aku sangat tipis untuk pulang ke rumah walau hanya sekedar ingin bertemu. Sudah lah, jangan tanya lagi. Aku lagi tidak ingin membahasnya. Kamu sendiri sudah menikah atau belum?"
"Aku belum menikah, cuman sebentar lagi. Sebenarnya menikah itu rasanya gimana sih Kak? soalnya aku juga dijodohkan. Aku sendiri ingin kabur, tapi gak bisa. Sedih sih, tapi aku gak punya pilihan lain." Jawab Vivian tak bersemangat.
"Kalau kamu tidak mempunyai dambaan hati, kamu bisa saja temukan kebahagiaan dengan lelaki pilihan orang tua kamu. Berbeda cerita seperti diriku ini, yang harus kehilangan dan merelakan. Tapi semua itu ada pada diri kamu, bagaimana langkah selanjutnya kamu menjalaninya." Ucap Neyla sambil menatap adik iparnya.
"Aku sih belum punya pacar, soalnya memang aku sibuk dengan kuliah aku. Makasih ya Kak, udah memberi jawaban." Jawa Vivian tersenyum.
Tidak lama kemudian, pesanan pun telah datang. Mereka berdua menikmati makanannya.
"Em- aku mau ke toilet sebentar ya. Gak lama kok, kamu tunggu aja disini. Soalnya aku dah kebelet banget, gak apa-apa ya?"
"Iya Kak, gak apa-apa. Kakak ke toilet aja, aku tunggu Kakak ipar disini." Jawab Vivian tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Neyla sendiri yang sudah merencanakan sejak berangkat, ia segera melakukan aksinya untuk kabur dan melarikan diri.
Vivian yang sama sekitar tidak menaruh perasaan curiga kepada kakak iparnya, dia tengah bersantai sambil menikmati pemandangan di sekitaran Danau.
Neyla yang sudah berhasil sampai di depan pintu utama untuk masuk, dapat bernapas lega meski penuh kekhawatiran.
Dengan napasnya yang tersengal, susah payah untuk mengatur pernapasannya sambil berlari di pinggir jalan entah kemana arah tujuannya.
Vivian yang menyadari kalau Kalak iparnya tidak juga kembali, merasa aneh dan juga khawatir.
__ADS_1
"Kakak ipar lama banget lah, kemana sih dia? apa iya lupa buat balik lagi? masa' iya ngantri di toilet. Ini 'kan, masih pagi. Aku nyusul ke toilet aja apa ya, mana aku belum bayar juga. Aku bayar aja dulu apa ya, habis itu ke toilet." Gumamnya dengan perasaan penuh khawatir.
Lebih lagi yang ia ajak kakak iparnya, tentu saja takut mendapat marah dari kakaknya sendiri, pikir Vivian yang tengah gelisah dan was-was.
Karena tidak ingin disangka tidak bayar tagihan, akhirnya Vivian memilih untuk membayarnya lebih dulu. Setelah itu, ia segera mencari kakak iparnya.
Saat sudah berada di toilet, Vivian celingukan dan memanggil kakak iparnya. Namun, tidak ada sahutan apapun. Justru dirinya mendapat omelan dari orang lain yang merasa berisik saat mendengar suara memanggil kakak iparnya.
Karena tidak mendapat respon atau menemukan kakak iparnya, Vivian begitu cemas mencarinya.
"Kakak ipar kemana sih? kok gak ada juga di toilet. Astaga! jangan-jangan Kak Neyla kabur lagi. Duh! bakal kena marah ini sama Kak Zavan kalau sampai kabur. Aku harus gimana? apa iya, aku nelpon Kak Zavan? ah terserah lah, mau kena marah juga masa bodoh. Jugaan emang kabur, dan gak mungkin juga aku mencari alasan." Gumamnya penuh khawatir dan segera menelpon kakaknya.
Saat sambungan telepon sudah masuk, sama sekali tidak mendapat respon atau tanggapan dari kakaknya.
"Duh! kemana sih Kak Zavan? kenapa gak juga di angkat teleponnya sih. Kak Zavan, ayo dong di angkat teleponnya. Ini sangat penting, Kak Ney kabur."
Di lain posisi, Neyla yang kalang kabut dan tidak tahu harus pergi untuk dijadikan tempat bersembunyi, merasa frustrasi karena dirinya tidak membawa apapun, termasuk uang maupun ponsel karena sengaja ia tinggal di tempat duduknya demi agar tidak ketahuan saat dirinya hendak melarikan diri.
Zavan yang sudah mendapat informasi dari salah satu anak buahnya, tengah dalam perjalanan untuk menjemput istrinya yang diketahui telah melarikan diri.
Kesal, geram, dan juga gregetan saat mendapat informasi bahwa istrinya telah melarikan diri, langsung memukul setir mobilnya.
"Awas saja kau Neyla. Kalau sampai aku menemukan mu, jangan harap kamu akan mendapat belas kasihan dariku." Gumamnya penuh dengan kekesalannya.
Sudah tidak sabar untuk menemukan keberadaan istrinya, Zavan menambah kecepatan laju kendaraannya. Tidak peduli dengan padatnya jalanan yang banyak dilalui oleh para pengendara sepeda motor maupun mobil sekalipun, Zavan semakin menggila ketika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Neyla sendiri yang tidak mempunyai arah tujuan untuk bersembunyi, mulai merasa lelah karena menempuh jarak yang cukup jauh. Lelah, itu sudah pasti. Bahkan, tenggorokannya saja terasa kering dan dahaga yang ia rasakan.
__ADS_1
Merasa kecapean karena kedua kakinya yang tak mampu lagi untuk berjalan karena cideranya yang belum pulih total, tidak peduli jika harus duduk di sembarangan tempat.
Sambil menghadap ke jalan raya, Neyla menelan salivanya karena manahan dahaga.
"Cantik... sendirian aja nih."
Seketika, Neyla kaget bukan main saat menoleh dan mendongak ke arah tiga orang yang sudah berdiri didekatnya. Tubuhnya gemetaran, perasaan takut tengah menguasai pikirannya. Lebih lagi dengan lokasi yang sepi, membuat Neyla kalang kabut dibuatnya.
Melihat tiga orang yang terlihat menyeramkan penampilannya, membuat Neyla tidak mampu berbuat apa-apa.
"Siapa kalian, mau apa kalian. Pergi! pergi! kalian." Ucap Neyla sambil bangkit dari posisi duduknya dan mencoba untuk mundur beberapa langkah.
Takut sudah pasti.
Salah satu diantara mereka tengah mendekati Neyla yang ketakutan.
"Tenang, sayang. Kita orang baik-baik, sayang. Kemarilah, kami orang tidak akan berbuat jahat padamu." Jawabnya dengan seringanya.
Perasaan takut yang sudah menguasai pikirannya, membuat Neyla merasa bingung bagaimana caranya agar bisa kabur.
Tidak peduli dengan kakinya yang masih sakit, Neyla akhirnya memilih untuk lari, yakni agar bisa kabur.
"Tolong! tolong! tolong! ada penjahat." Teriak Neyla sambil berlari sekuat tenaganya.
Meski menahan rasa sakit pada bagian pergelangan kakinya yang cidera, Neyla masih terus berlari demi menghindari tiga laki-laki yang tengah mengejar dirinya.
"Woi! jangan lari. Tunggu! woi." Teriak ketiga lelaki yang tengah mengejar Neyla.
__ADS_1
Susah payah karena tidak bisa berlari dengan cepat, dan lebih lagi sambil menahan rasa sakit di bagian pergelangan kakinya, akhirnya Neyla terjatuh dan tersungkur.