Sarang Cinta Sang Mantan

Sarang Cinta Sang Mantan
Menyerahkan diri


__ADS_3

Sampainya di halaman rumah orang tuanya Neyla, Zavan bersama Edwan segera turun dari mobil.


"Bos, biar aku aja yang menemui Tuan Naren. Takut ada kesalahpahaman, aku yang yang akan meminta izin terlebih dulu untuk mempertemukan Tuan Zavan sama Tuan Naren." Ucapnya saat hendak menemui mantan suami dari istri bosnya.


Zavan mengangguk, yakni tanda mengiyakan.


"Baiklah, aku tunggu kamu di sini saja. Katakan sama padanya kalau aku ingin bertemu." Jawab Zavan memberi pesan kepada Edwan.


"Baik, Bos. Nanti aku akan bicara baik-baik dengan Tuan Naren. Kalau begitu, aku tinggal dulu." Ucapnya dan segera menemui pemilik rumah.


Sekali ketukan, dua kali ketukan, juga tidak mendapatkan respon dari dalam rumah. Kemudian, Edwan mencoba untuk kembali mengetuk pintunya, berharap kedatangannya diterima.


Baru saja mau mengetuk pintu, namun pintu pun telah dibuka oleh pemilik rumah, siapa lagi kalau bukan ibu mertua Bosnya.


"Siapa kamu? mau apa datang kemari?" tanya ibunya Neyla penasaran, tentunya dengan suara mendesak.


"Selamat malam, Nyonya. Maaf, jika kedatangan saya telah menganggu jam istirahat. Saya datang kemari tidak lain ingin bertemu dengan Tuan Naren. Saya ada kepentingan yang sangat penting. Kalau boleh, saya ingin bertemu, Nyonya." Jawab Edwan sebaik mungkin tutur katanya.


"Siapa yang mencari ku?" tanya Naren yang dapat mendengar ucapan dari Edwan.


"Maaf, Tuan. Saya ingin mempertemukan Tuan Zavan dengan Tuan Naren, ada hal penting yang ingin disampaikan. Apakah Tuan Naren bersedia untuk bertemu dengan Tuan Zavan? sekiranya berkenan, saya akan panggilkan." Jawab Edwan setengah menunduk.


Ibunya Neyla menunjukkan wajah sinis saat Edwan menyebutkan nama suami kedua putrinya.

__ADS_1


"Mau apa lagi Bos kamu itu, ha? apa dia masih kurang puas untuk menghancurkan hidup cucuku?"


Naren yang tidak ingin masalah bertambah besar karena ibunya Neyla yang bisa saja ngomel dan memaki tidak ada hentinya, memilih untuk menerima Zavan untuk bertemu.


"Sudah cukup, Ma. Aku menerima pertemuan dari Tuan Zavan, suruh dia ke sini." Ucap Naren yang akhirnya menerima pertemuan dengan suami dari mantan istrinya.


"Naren, apa kamu sudah tidak waras, ha? menerima pertemuan dengan lelaki yang sudah menghancurkan rumah tanggamu, juga cucu Mama." Timpal ibunya Neyla.


"Mungkin ada hal penting, apa salahnya menerima Tuan Zavan di rumah ini." Ucap Naren yang tidak ingin membuang-buang waktunya.


"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu akan saya panggilkan Tuan Zavan kemari, permisi." Jawab Edwan izin untuk memanggil Bosnya.


Sedangkan Naren dan ibunya Neyla tengah menunggunya.


"Apa salahnya menerima kedatangannya, mungkin ada hal penting yang akan disampaikan, kita kan, gak tahu, Ma. Positif thinking saja, semua pasti akan baik-baik saja." Jawab Naren berusaha kuat dan tegar, meski dalam benak pikirannya ada rasa sakit hati, dan juga kesal.


Namun, menunjukkan sikap angkuh tidak akan ada gunanya, dan sama halnya seperti lawan, pikir Naren yang tidak ingin dikuasai oleh emosinya.


Zavan yang sudah dihadapkan dengan Naren, dengan santun, Naren mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Silakan masuk, tidak perlu sungkan. Tidak baik bicara di depan rumah, alangkah baiknya jika bicara di dalam. Mari, silakan masuk." Ucap Naren dengan santun.


Zavan merasa malu ketika Naren tidak menunjukkan emosinya. Bahkan, dengan santainya saat bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih," jawabnya.


Ibunya Neyla sendiri sudah masuk sedari tadi, perasaannya pun masih menyimpan kekesalan atas perbuatan dari Zavan.


"Silakan duduk, Tuan." Ucap Naren.


Zavan maupun Edwan segera duduk berhadapan dengan pemilik rumah.


"Ada perlu apa Anda datang kemari, Tuan?" tanya Naren penasaran, tentunya sudah tidak sabar dan ingin tahu.


"Sebelumnya saya mau minta maaf sama Tuan Naren, juga Nyonya. Kedatangan saya kemari tidak lain yaitu, untuk mempertanggung jawabkan atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat di tahun yang sudah lewat. Saya mengaku salah karena sudah menghancurkan rumah tangga Tuan Naren. Juga, mengenai karir, saya lah pelakunya."


"Apa! jadi kamu pelakunya yang sudah membuat karir menantuku hancur, dan juga jatuh miskin karena mu, iya kah?"


Zavan mengakui kesalahannya dengan anggukan.


"Ma, hentikan. Kita dengarkan sampai selesai, jangan menghakimi. Karena belum tentu kita sudah benar, bisa jadi semua memang kesalahan kita dari awal. Biarkan Tuan Zavan mengatakan apa yang ingin disampaikan." Ucap Naren yang tidak ingin ada keributan, tentunya tidak ingin menganggu putranya yang sedang istirahat.


"Saya lah orangnya yang sudah menghancurkan karirmu, Tuan. Saya sudah dibutakan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, hingga lupa rasa cinta tertutup perasaan benci hingga menjadi dendam. Saya datang kemari tidak lain untuk menyerahkan diri, sekaligus meminta maaf. Saya siap jika Tuan Naren mau melaporkan saya ke polisi. Jika tidak mau, saya yang akan melaporkannya sendiri atas kesalahan dimasa lalu." Ucap Zavan yang sudah menyerahkan nasib baik atau buruknya.


"Aku mau kita berpisah, ceraikan aku." Sahut Neyla yang sudah berdiri di ambang pintu.


Zavan maupun Naren sama-sama terkejut mendengar suara yang tidak asing pemilik suara. Keduanya pun langsung menoleh, dan juga bangkit dari posisi duduknya. Tentu saja, semua yang ada didalam sama-sama kaget.

__ADS_1


__ADS_2