
Vivian melambaikan tangannya saat mendapati kakak iparnya tengah melamun sambil mengunyah makanan.
"Kak, Kak Ney." Panggil Vivian sengaja untuk membuyarkan lamunannya.
Menyadari saat adik iparnya mengagetkannya, Neyla langsung berhenti mengunyah, yakni untuk menghela napasnya.
"Iya Vi, ada apa?" tanya Neyla yang baru tersadar dari lamunannya.
"Kak Ney lagi mikirin apa? kelihatannya seperti tengah memikirkan sesuatu, apa mungkin lagi kangen keluarga ya, Kak?"
Neyla tersenyum.
"Kangen sama keluarga itu sudah pasti. Tapi, apa dayaku untuk bertemu dengan keluarga. Kehadiran ku saja sudah tidak diharapkan lagi, entah lah." Jawab Neyla menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan kasar ke lain arah.
Tatapan Neyla terlihat jelas jika dirinya memikul beban berat dalam hidupnya, Vivian pun meraih tangan kakak iparnya.
"Kak Ney jangan khawatir, masih ada aku yang siap untuk menjadi saudara Kakak, dan juga teman curhat. Kakak habisin dulu makannya, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya. Kalau perut udah kenyang 'kan, dah tenang." Ucap Vivian, lagi-lagi Neyla tersenyum dan mengangguk.
Berusaha untuk tetap tenang dan tidak untuk menunjukkan kesedihannya yang ia sembunyikan, Neyla segera menghabiskan makanannya hingga tidak tersisa. Selesai makan, Neyla membuang sampah pada tempatnya.
Saat itu juga, arah pandangannya tertuju pada seseorang yang tidak asing dalam ingatannya.
"Viro! Viro!" teriak Neyla begitu nyaring saat melihat putranya berada di rumah sakit, dan langsung berlari untuk mengejarnya.
Vivian yang melihat kakak iparnya berteriak memanggil anaknya sambil berlari, pun bergegas mengejarnya.
"Kak Ney! tunggu!" teriak Vivian sambil berlari mengejar.
Tidak peduli dengan teriakan dari adik iparnya, Neyla memilih mengabaikannya dan memilih untuk mengejar putranya.
Viro maupun ayah dan neneknya yang tengah berjalan beriringan, menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Viro! Viro! ini Mama, Nak!" teriak Neyla yang terus memanggilnya.
"Mama! Ma!"
Viro ikutan berteriak memanggil ibunya dengan suara yang cukup nyaring. Rasa rindu yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu, Viro berlari menghampiri ibunya.
Ketika anak dan ibu telah bertemu dengan menyimpan perasaan sama-sama rindu karena sudah lama tidak bertemu, keduanya berpelukan sebagai pengobat rasa rindu yang sudah sekian lamanya tak bertemu.
Neyla maupun Viro sama-sama menangis, da menumpahkan air matanya hingga menjadi sembab.
"Viro, Mama kangen sama kamu, Nak. Maafkan Mama, maafkan Mama yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu." Ucap Neyla sambil memeluk erat putranya, dan dibarengi dengan menangis.
"Viro juga kangen sama Mama, Viro pingin Mama pulang. Viro kesepian gak ada Mama, Viro pingin Mama kembali pulang." Jawab Viro yang juga tengah menangis dalam pelukan ibunya.
Naren yang statusnya sudah menjadi mantan suami, masih menyimpan kekesalan terhadap mantan istrinya, yakni kepada Neyla. Rasa sakit karena dikhianati oleh mantan istrinya masih membekas dalam ingatannya. Lebih lagi ketahuan tengah bercumbu di dalam kamar hotel, begitu kecewa dan sakit hati sudah pasti.
Saat itu juga, tanpa ada rasa segan sedikitpun, Naren segera menghampiri, termasuk ibunya Neyla sendiri.
"Aw!" Pekik Neyla meringis kesakitan.
"Mama!" teriak Viro dengan suaranya yang terdengar melengking.
Nahas, saat mau menolong ibunya, sang ayah menahannya. Kemudian, menarik paksa putranya untuk menjauhkan Viro dengan ibunya.
Vivian yang menjadi saksi saat melihat kakak iparnya diperlakukan kasar, tidak tega dan segera menolongnya.
Ibunya Neyla yang juga masih menyimpan perasaan kesal dengan putrinya sendiri, langsung menghampiri.
"Penyesalan mu tiada guna sama sekali. Sekarang kamu tinggal menikmati hidupmu yang penuh kelam ini. Jangan harap pintu rumah akan terbuka buat kamu. Selamanya kamu sudah mati." Ucap ibunya yang begitu membenci putrinya sendiri.
Neyla yang mendapati penghinaan dari ibunya sendiri, begitu hancur perasaannya. Seorang ibu yang diharapkan menjadi pelindung anaknya meski mempunyai segudang masalah, namun justru tidak lagi menganggapnya anak. Bahkan, dirinya sudah dianggap telah tiada. Menyakitkan, tetapi dirinya bisa apa? diam dan menerima hinaan maupun cacian.
__ADS_1
Tidak hanya itu saja, Neyla juga menerima perlakuan kasar dari mantan suaminya hingga keningnya memar akibat benturan yang cukup kuat, dan lengannya juga ikutan sakit.
Zavan yang dapat melihat Neyla tersungkur dan juga kepalanya terbentur dari jarak yang lumayan jauh sambil berdiri di ambang pintu, mengingatkan dirinya yang sudah memperlakukan kasar padanya.
Sedangkan Vivian segera membantu kakak iparnya untuk berdiri. Pelan-pelan Neyla berusaha bangkit meski badan terasa sakit karena pergelangan kakinya saja belum sembuh total.
"Pelan-pelan, Kak." Ucap Vivian sambil membantu kakak iparnya berdiri.
Takut jatuh, Neyla penuh hati-hati agar bisa berjalan. Dengan bantuan dari seorang perawat yang kebetulan lewat, membantunya jalan sampai di dalam ruang rawat suaminya, dan sekalian diobati luka memar yang ada di keningnya.
Zavan yang melihat kondisi istrinya yang lumayan memprihatinkan, merasa kasihan, apa lagi kini si Neyla tidak lagi dianggap anak oleh ibunya, merasa bersalah. Namun, tujuan awalnya memang untuk membalaskan dendamnya pada perempuan yang menjadi masa lalunya.
Tidak peduli sesakit apa yang dialami oleh istrinya, yang terpenting baginya sudah merasa puas karena dapat membalaskan dendamnya. Meski ada rasa menyesal dan bersalah, Zavan sudah mampu meluapkan emosi dan kekesalannya.
"Vi," panggil Zavan kepada adiknya.
"Iya Kak, ada apa?"
"Lebih baik kamu ajak Kakak ipar mu pulang. Biarkan dia istirahat, nanti biar Edwan yang menemani Kakak." Jawabnya.
"Gak usah, istirahat di ruangan ini juga gak apa-apa, ini cuma memar aja kok." Sahut Neyla menolak.
"Jangan membantah. Sekarang juga kalian lebih baik pulang, istirahat di rumah jauh lebih baik daripada di rumah sakit. Vian, cepat kamu ajak Kakak ipar mu pulang. Biar Edwan yang menemani Kakak, sudah sana pulang." Ucap Zavan yang tetap menyuruh istrinya untuk pulang.
"Iya, Kak." Jawab Vivian.
Bukan apa-apa, Zavan hanya tidak ingin istrinya tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup. Lebih lagi dengan kondisinya yang terlihat sedang bersedih, merasa bersalah jika tetap membiarkan istrinya tetap berada di rumah sakit.
Karena tidak ingin membuat suaminya marah, tidak ada pilihan lain lagi selain mengiyakan apa yang diperintahkan oleh suaminya.
Vivian yang tidak ingin kenapa-napa dengan kakak iparnya, pun segera mengajaknya pulang. Zavan sendiri tidak lupa untuk menghubungi orang kepercayaannya agar segera datang ke rumah sakit, tentunya untuk menemani dirinya selama berada di rumah sakit.
__ADS_1