
_______
Lapangan indoor yang biasa digunakan untuk bermain Basket, tampak ramai oleh riuh penonton yang berada di tribun.
Spanduk-spanduk bertuliskan nama pemain berkibar penuh semangat. Mata mereka fokus pada permainan basket yang tengah berlangsung, setiap kali mereka memasukkan bola ke dalam ring para penonton akan bersorak heboh.
"Andreas keren deh!" Seru Ivy histeris, Ia mengepalkan tangannya penuh semangat.
Kimy memutar bola matanya malas, "Katanya mau move on." Cibir nya.
"Lain kali deh, Kim." Katanya tanpa menoleh.
Bisa begitu ya,
Kimy tidak habis pikir, sepertinya dirinya lupa kalau Ivy itu budak cintanya Andreas.
Lamunan Kimy buyar begitu mendengar ringisan lirih Sonia, kening Sonia berkerut juga tangannya yang terus memegangi perutnya.
"Son, Lo sakit perut?"
Sonia mengangguk, "Aku lagi dateng bulan, Kim."
"Mau ke UKS? Nanti Gue temenin," Ajak Kimy.
Di mata Sonia muncul ke dua sayap dari punggung Kimy, sinar terang mengelilinginya. "Boleh?"
Kimy gemas melihat Sonia yang seperti melihat malaikat penolongnya, Ia mencubit pipi Sonia hingga bibirnya memunculkan senyum paksa.
"Boleh dong. Eh Vy kita mau ke UKS, Lo ikut nggak?"
Ivy menggeleng, "Nanti kalo pertandingannya selesai Gue nyusul deh."
Kimy menarik tangan Sonia. Mereka berdua menuruni tribun penonton menuju pintu keluar.
"Bucin banget sih temen Lo," Ujar Kimy pada Sonia.
"Temen yang mana, Kim?" Tanya Sonia polos, dia seakan mengatakan 'Temanku banyak tau'
"Ivy, dia bucin banget sama Andreas, padahal baru kemaren dia nangis-nangis curhat ke Gue. Terus dia bilang, mau mencoba move on." Jelas Kimy, Ia menirukan gaya bicara Ivy di akhir kalimatnya.
"Oh.."
Hanya itu?
Kimy menatap Sonia tidak percaya, Ia sudah bicara panjang kali lebar hanya itu balasan darinya?
"Cuma 'Oh' ?"
"Terus apalagi?"
Sekarang Kimy mengerti alasan Ivy yang terus saja emosi pada Sonia, setiap kata yang keluar dari bibirnya terlalu Savage untuk di dengar.
Tidak terasa mereka sudah tiba di UKS, tidak disangka di sini juga ada Evelyn.
Gadis itu tampak pucat,
"Hai Evelyn." Sapa Sonia ramah.
"Hai Sonia, Kimy."
Kimy tersenyum untuk membalas sapaan Evelyn. "Lo sakit apa?"
__ADS_1
"Mag doang kok, Kim." Jawab Evelyn.
Melihat Sonia sudah di tangani oleh penjaga UKS di bilik sebelah, Kimy memilih duduk di kasur yang sama diduduki oleh Evelyn.
"Jangan di sepelekan, Lyn."
"Hehehe.. Iya," Tawa merdu terdengar dari Evelyn.
Pantas saja dia menjadi Dewi di SMA Pertiwi, Evelyn sangat-sangat cantik jika di lihat dari dekat.
Ah sudahlah tujuannya bukan untuk menganggumi kecantikan Evelyn.
"Maaf ya kalo terlalu sensitif, tapi apa Agra bener kakak Lo?"
Evelyn beralih menatap Kimy serius. "Iya. Gue adik tirinya, anak hasil perselingkuhan Papa Agra sama seorang wanita yang dulunya masa lalu Papa. Wanita itu Mama Gue, setelah umur Gue sepuluh tahun, Mama meninggal dunia. Maafin Gue udah terlalu deket sama Agra, karena cuma dia yang sekarang Gue punya."
Penjelasan Evelyn serta raut penyesalan nya membuat Kimy merasa tak enak, apakah Ia terlihat seperti melabrak adik kekasihnya sendiri?
"Nggak perlu minta maaf, Lyn, Gue nggak ngelarang Lo buat deket sama kakak Lo sendiri kok, Sorry ya.. Gue bikin Lo sedih,"
Evelyn tersenyum geli. "Pasti kakak ipar Gue cemburu ya?"
Kimy menggaruk pipinya kikuk, "Nggak dong, ngapain juga Gue cemburu."
Evelyn tertawa, Kimy tampak lucu jika sedang salah tingkah seperti ini.
Gorden yang menutupi bilik tiba-tiba terbuka, Kimy dan Evelyn reflek melihat ke arah gorden.
Ternyata yang datang Agra, Laki-laki yang masih mengenakan Jersey itu menatap Kimy tajam,
Apakah Ia membuat kesalahan?
"Kenapa nggak tunggu di tribun?" Tanyanya.
Agra berdecak kesal, merasa ada penonton gratis yang akan setia memperhatikan pertengkaran mereka, Agra menarik pelan pergelangan tangan Kimy hingga Gadis itu berdiri dari duduknya.
"Mau apa?" Kimy jelas kebingungan dengan aksi Agra.
Agra tidak mengindahkan pertanyaan Kimy, Ia menarik tangan Kimy membawanya menuju bilik UKS yang kosong.
"Mau ngapain sih, Gra?" Kesal Kimy.
Agra diam, Laki-laki itu merendahkan tingginya sampai wajahnya setara dengan wajah Kimy.
Mata tajam Agra menatap dalam Kimy, menyelami manik coklat cerah miliknya.
"Aku haus,"
Kimy melebarkan matanya, "Kalo mau minum ya ke Kantin, ngapain ke UKS coba?"
"Emang aku pacaran sama Kantin?" Agra menelisik wajah Kimy.
Kimy mendorong dada bidang Agra agar menjauh dari wajahnya, "Y-ya! Mending kamu pacaran sama Kantin."
Agra tersenyum, "Nanti ada yang ngambek lagi." Sindir nya.
Siapa? Itu jelas bukan dirinya. Sial nya Ia justru diingatkan dengan kejadian kemarin, saat Kimy mengabaikan Agra karena tidak sengaja melihatnya berpelukan dengan Evelyn.
"Berisik!" Ujar Kimy kesal, Gadis itu berniat keluar dari bilik UKS untuk menyelamatkan harga dirinya.
Agra menarik kencang tangan Kimy hingga berputar, berbalik menabrak dada bidangnya.
__ADS_1
Seakan sengaja, Agra tidak menahan saat tubuhnya jatuh ke kasur UKS akibat hantaman tubuh Kimy. Alhasil mereka terjatuh di kasur dengan posisi yang ambigu.
Kimy berada di atas, menimpa dada bidang Agra. Sejenak mereka terdiam di posisi itu,
Jika di lihat sedekat ini Kimy bisa melihat titik kecil hitam, tahi lalat Agra yang berada di atas bibir kirinya,
Membuatnya semakin terlihat tampan, Kimy cepat-cepat memukul kepalanya, pikiran dari mana itu?!
Agra mendengus, jemari besarnya terangkat, mengusap lembut tempat yang menjadi sasaran pukulan Kimy.
Kimy yang diperlakukan seperti itu, diam membatu. Usapan lembut Agra membuat jantungnya berdegup kencang.
"Astaga! Kalian ngapain?!" Teriakan Ivy sontak saja membuat Kimy dengan panik bangkit dari atas tubuh Agra.
"I-ini nggak kaya yang Lo liat kok."
"Harusnya cari hotel dong, nggak modal banget sih kalian." Celetuk Ivy.
Agra dan Kimy saling lirik, mereka seakan sedang ber telepati.
'Temen kamu aneh,'
'Dia bukan temenku,'
_________________
Bel sekolah berbunyi kencang yang menandakan waktu belajar habis, para Guru menyudahi pembelajaran mereka begitupun yang dilakukan Pak Gilang.
Guru Matematika itu menutup pelajarannya setelah berhasil menjelaskan semua rumus tanpa terpotong bel Pulang.
Kimy bernafas lega, otaknya sudah berasap sejak tadi.
Elio tersenyum melihat itu. "Pusing ya?"
"Iya, otak Gue terlalu kecil buat materi serumit matematika." Ucap Kimy secara tidak sadar dirinya mengatakan kalau dirinya bodoh.
Elio terkekeh geli. "Padahal nggak serumit itu kalo Lo dengerin penjelasannya."
"Lo nggak tau aja, suara Pak Gilang itu satisfying banget! Bikin orang ngantuk."
Elio yang merasa gemas dengan perilaku Kimy, berniat mengacak-acak rambutnya tapi niatnya di hentikan oleh sebuah tangan.
Agra menghempaskan tangan Elio, lalu dia menggantikan niat tangan yang sudah di singkirkan nya itu.
"Ayo kita pulang," Setelah menepuk-nepuk lembut puncak kepala Kimy, Agra menautkan jemari besarnya dengan jemari mungilnya.
Kimy yang sebelumnya terhipnotis, begitu sadar Ia ingin berbalik untuk pamit dengan Sonia, Ivy dan Elio.
Tapi lengan Agra justru merangkul bahunya, memaksanya agar terus melihat ke depan. "Kalo kamu balik badan, aku cium."
Gerakan protes Kimy berhenti, Ia mendongak menatap Agra tajam.
Apa dia gila?!
Agra membalas tatapan tajam Kimy dengan menaikkan salah satu alisnya, seakan tidak ada yang salah dengan peringatannya.
"Sonia, Ivy, El--"
"Jangan sebut namanya." Agra menekan setiap katanya.
Rasanya Kimy ingin melempar Laki-laki ini ke lautan!
__ADS_1
"Sonia, Ivy, temen sebangku, Gue duluan ya!" Ujarnya pasrah.
_______________