
_______________________
"Bunda pergi dulu ya,"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, Farel mengangguk. "Pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh."
Anaknya yang satu ini kerajaannya Game saja, Sava berdecak sebal. "Bangunin tuh adikmu."
"Kenapa dibangunin segala sih, Nda?"
"Biar kamu ada kerjaan."
Ucapan terakhir ibunya sebelum pergi membuat Farel ingin freestyle rasanya. Yang benar saja, membangunkan singa jantan seperti Agra bukanlah pekerjaan tapi uji nyali.
Mau tak mau Farel berada di kamar minimalis ini, si empu kamar terlelap di kasur dengan selimut yang menutupi semua anggota tubuhnya.
Farel menarik selimut yang menutupi wajah Agra, dapat terlihat jelas kedua matanya yang membengkak, juga hidung yang merah.
"M-mata Lo kenapa? Kaya habis ke sengat lebah."
Mata Agra yang memang Monoloid menjadi semakin tidak terlihat. Farel terbahak keras, memegangi perutnya sembari guling-guling di karpet.
"Kaya anak perawan yang baru diputusin aja. Hahahaha.."
Agra yang kesal melemparkan kotak tisu kearahnya. Tawa mengejek Farel langsung berhenti begitu hidung mancungnya dilempar kotak tisu, Ia langsung bangkit dari karpet lalu duduk di tepi ranjang.
"Oke, oke. Santai adik manis, ayo cerita sama abangmu yang tamvan ini."
"Udah dua hari ini, Kimy ngehindarin Gue. Dari mulai blokir semua akses Gue buat hubungi dia, nggak masuk ke sekolah, nggak diizinin masuk sama Tante Camelia."
"Emang Lo ngapain sebelumnya? Sampe Kimy ngambek segitunya. Cewek kalo nggak ada sebabnya nggak mungkin bisa begitu."
Agra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "Gue cuma mau mastiin dia cemburu apa nggak. Ternyata beneran cemburu, cemburunya keterusan lagi."
"Jadi ceritanya, senjata makan tuan nih?"
Tanpa membalasnya, Agra melompat turun dari Qing size-nya. Dengan hanya menggunakan celana training nya Ia berjalan menuju balkon kamar.
"Diajak ngobrol malah cabut, dasar kudanil!"
Kekesalan Farel meluap begitu melihat Agra yang nekad menaiki pembatas balkon. "Woy! Lo mau ngapain?!"
"Gue mau mati aja, hidup Gue percuma."
"Tolol!"
Farel mencari kontak Kimy di ponselnya karena Gadis itu satu-satunya obat dari kewarasan Agra.
Adik ipar Is Calling..
Tidak membutuhkan waktu lama panggilannya terhubung,
"Kenapa kak?"
"Kim, Lo buruan kesini deh." Farel sesekali akan melirik ke arah balkon.
"Tapi kak--"
"Kalo Lo nggak kesini, besok Lo bakal kesini buat ngehadiri pemakaman Pacar Lo."
"Maksudnya?! Agra kenapa kak?"
__ADS_1
Mata Farel melebar melihat Agra yang sudah bersiap terjun bebas dari lantai tiga rumahnya, Ia melempar begitu saja ponselnya.
Di sebrang sana Kimy semakin panik karena tidak kunjung mendapat balasan dari Farel, Ia menyambar ranselnya lalu keluar dari ruang kelas.
"Loh Kimy kamu mau kemana? Bolos ya?!" Ivy berseru keras karena Kimy yang melewatinya begitu saja, berlari sangat kencang.
Setelah berhasil mendapat Izin dari Ibu Julia, staf yang mengurusi murid-murid yang sakit atau dalam keadaan genting, mengharuskan untuk mereka pulang.
Kimy menghentikan taksi yang lewat, "Komplek Jalan Rossea, ya pak."
"Siap neng."
Taksi melesat cepat seperti yang inginkan Kimy. Entah apa yang terjadi dengan Orang Gila itu, mengingat sikap Agra yang bar-bar Ia semakin dibuat tidak tenang,
Kimy tidak kalau sikap Agra yang seperti itu hanya padanya saja.
Taksi berhenti begitu tiba di kawasan komplek perumahan elit. Karena taksi tidak bisa sembarangan masuk ke komplek, Kimy terpaksa harus berlari.
"Loh, Neng Kimy kenapa ndak sama Nak Agra?" Satpam yang menjaga keamanan di Komplek keheranan melihat Kimy yang berlari dengan masih mengenakan seragam.
Kimy berhenti sejenak, Ia mengatur nafasnya yang tersengal. "Iya pak, Agra lagi sakit jadi saya mau jenguk." Alasannya dapat di cerna Pak Setya.
"Oh, ya udah Neng. Semangat larinya!"
"Bapak juga, semangat kerjanya!"
Kimy kembali berlari menuju rumah dengan gerbang hitam yang mengelilinginya, beruntung gerbangnya terbuka.
Tanaman hias dengan bunga warna-warni langsung menyambutnya begitu Ia memasuki pekarangan Rumah.
"KALO LO MATI TERUS GENTAYANGAN, GUE JUGA YANG REPOT."
Kimy menengadahkan kepalanya saat mendengar teriakkan Farel dari atas, Ia bisa melihat jelas Agra yang tengah berusaha melompat dari balkon, dan Farel yang memeluknya dari belakang.
__________________
"Maafin ya.."
Kimy menunduk untuk menatap wajah memelas Agra yang berada di antara kakinya. Sedari tadi Agra tidak mau melepaskan tangannya barang sedetik pun.
"Iya, ayo bangun. Jangan duduk di lantai kamu kan lagi sakit."
Mendengar perhatian dan tatapan lembut Kimy membuat Agra mendapat angin segar. Masih di posisinya Ia menidurkan kepalanya di paha Kimy, lengan kekarnya melingkari pinggang sempitnya.
"Kangen..." Gumamnya.
Kimy mengelus rambut hitam Agra, aksi Agra yang menggelitik membuat Ia tidak bisa berhenti tersenyum geli.
"Makan dulu ya? Kata Kak Farel kamu belum makan dari kemarin."
"Nggak mau, Kim."
"Kenapa nggak mau?"
"Nanti kamunya pulang."
Kimy mencubit pipi tirus Agra sedikit kencang sampai Laki-laki itu meringis.
"Kok dicubit?" Agra mengelus pipinya yang memerah.
"Kamu gemesin banget, aku suka."
__ADS_1
"Suka?!"
Agra bangkit dari duduknya, sontak saja perut atletisnya memenuhi pandangan Kimy. Gadis itu dengan panik menutup matanya.
"Agra! Pake baju sana," Histerisnya.
Agra menggaruk keningnya kikuk, terlalu excited mendengar kata 'Suka' dari Kimy Ia sampai lupa kalau tidak mengenakan pakaian, dan hanya mengenakan training hitam.
"Udah belum?"
"Udah,"
Kimy membuka matanya kembali, Agra sudah memakai bajunya, tapi Iblis di dalam hatinya justru kecewa.
Ia menggelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pikiran absurd yang singgah di otaknya.
"Kamu disini aja, ya? Aku mau ambilin makan buat kamu."
"Nggak mau," Agra kembali menggenggam jemari Kimy, tidak rela jika pemiliknya pergi.
"Ya udah, kamu ikut aja."
Dengan saling menggenggam Kimy dan Agra berjalan menuju dapur, Farel yang tengah asik menonton televisi tertawa melihat pasangan itu.
"Truk gandeng lewat--"
Ejekan Farel terhenti begitu lirikan tajam Agra membungkamnya. "Bercanda kok adik manis. Jangan judes-jedes ah, Abang nggak suka."
Agra mengacuhkan Farel, Ia kembali menatap Kimy tatapannya berubah 180 derajat, memandangi Gadis yang tengah mengambil nasi itu penuh cinta.
Kimy duduk di pantry, meletakkan piringnya ke hadapan Agra.
"Kok nggak di suapin?"
Tarik nafas Kimy, ingatkan dirinya kalau Agra sedang sakit.
Kimy menyuapkan sesendok nasi bersama lauknya ke mulut Agra yang sudah terbuka menunggunya.
"Enak kan?"
Agra mengangguk setuju."Tambah enak kalo disuapi kamu."
"Makan dulu abisin, jangan gombal terus." Cibir Kimy.
"Iya, iya.."
Setelah piringnya bersih, Kimy melangkah menuju wastafel berniat mencucinya, tapi dihentikan Agra.
"Biar Farel aja yang nyuci, aku kan lagi kangen Kim."
Kimy menghela nafas, meletakkan piringnya ke Wastafel tanpa mencucinya, biarlah nanti sebelum pulang Ia akan menyempatkan mencucinya.
Agra mengikuti Kimy yang menaiki undakan tangga untuk menuju kamarnya.
"Nanti di buka ya blokirnya?" Bujuk Agra.
"Iya,"
Kimy menepuk-nepuk punggung Agra agar Laki-laki itu cepat tidur. Ia Sudah lelah menuruti semua maunya yang aneh-aneh, pahanya juga mulai terasa kebas karena Agra yang tidak ingin tidur jika bukan di pahanya.
Merasakan ada pergerakan, Kimy beralih memandang wajah Agra yang mendusel di perutnya. Matanya memang terpejam, tapi pelukan dan gerakan absurd nya tidak berhenti.
__ADS_1
"Kamu cepetan jatuh cinta ya.. Aku capek jatuh cinta sendiri."
_________________________