School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Antara hidup dan mati


__ADS_3

_________________


"Operasi pengangkatan pisau pada punggung Nona Kimberly berjalan dengan lancar, tapi karena luka tusukannya cukup dalam, Nona Kimberly dinyatakan koma."


Penjelasan Dokter yang menangani Kimy membuat Agra mengusap kasar wajahnya. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak becus menjaga Gadisnya.


"Gra, luka Lo harus diobati dulu." Kata Leo, pasalnya Agra selalu menolak perawatan pada lukanya.


"Gue nggak mau ninggalin Kimy lagi," Agra menatap wajah pucat Kimy yang dimiringkan posisinya, itu karena jahitan di punggungnya masih belum kering.


Camelia yang sebelumnya ke Rumah Sakit setelah mendapat kabar dari Leo, pingsan seketika melihat kondisi Kimy. Sekarang Camelia sudah di antar pulang oleh Andreas, karena kondisinya yang sangat drop.


Leo merasa iba dengan kejadian yang menimpa temannya. Dirinya adalah orang yang menjadi saksi bisu dari perjuangan cinta Agra, Pangeran sekolah itu memang ahli dalam berbagai bidang, kecuali cinta.


Agra baru pertama kali merasakan jatuh cinta, wajar saja kalau Ia sangat bodoh dalam hal ini. Agra tidak berani mendekati Kimy secara terang-terangan, dia hanya memperhatikannya diam-diam.


Menjaganya diam-diam, hingga mengancam semua Laki-laki yang mencoba mendekatinya.


Leo sebenarnya terkejut mendengar kabar kalau Kimy menyatakan cinta pada Agra, awalnya Ia berspekulasi kalau Kimy hanya ingin mempermainkan Agra.


Tapi mengetahui Kimy rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan Agra membuat spekulasi Leo tak ubahnya hanya omong kosong. Mereka berdua saling mencintai, dan sama-sama tidak ingin dipisahkan.


"Lo nggak bakal ninggalin Kimy, biar Dokternya ngobatin Lo disini aja."


Akhirnya Agra mau, perawat menyediakan satu brankar lagi di ruangan VIP itu. Meskipun lukanya tengah di obati, manik pekatnya tidak teralihkan dari Kimy sebentar saja.


____________________


Belaian lembut yang dirasakannya membuat Kimy mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


Begitu pandangan jelas, Kimy bisa melihat siapa yang membelai keningnya penuh kasih sayang itu.


"M-mama?"


"Iya, Kimberly, ini Mama. Mama sangat merindukan putri cantik Mama."


Kimy memeluk orang yang dipanggil Mama itu dengan berurai air mata. "Kimy juga sangat rindu, Mama."


"Kamu tidak merindukan Ayah?" Suara yang berasal dari belakang, membuat Kimy makin terisak kencang.


"Aku rindu kalian.." Mereka berdua memeluk Kimy, melepaskan semua rasa rindu yang merajalela sebab tidak pernah bertemu secara langsung dengan putrinya.

__ADS_1


Aku ingin bercerita tentang semua yang aku alami, aku ingin bersama kalian."


"Kamu mau ikut kami?"


Kimy mengangguk, "Aku mau ikut."


"Tapi, apa kamu tega meninggalkan Aunty mu? Teman-teman mu? Laki-laki yang terus menunggumu."


Kimy terdiam ketika mengingat Aunty, Sonia, Ivy, dan Agra. Kimy tidak bisa meninggalkan mereka semua, mereka semua terlalu berharga.


Tapi Kimy juga sangat ingin bersama kedua orang tuanya. Di tengah kebingungannya itu, samar-samar Ia mendengar sebuah suara.


"Sayang, apa mimpinya sangat indah? Sampai-sampai kamu betah sekali tertidur. Bangun dong, aku rindu loh."


"Jangan siksa aku seperti ini, sayang. Kamu masih marah kan sama aku? Bunuh aku aja ya, jangan siksa aku begini."


Mata bulat itu kembali mengeluarkan air mata dari persembunyiannya, suara yang terdengar frustasi itu membuatnya semakin di belenggu rasa bingung.


"Pilih sesuai dengan keinginan hatimu, Putriku."


Kimy menatap wajah cantik wanita yang sudah melahirkannya itu, lalu beralih menatap Ayahnya.


Ia mengangguk mantap. Mempersiapkan diri untuk memasuki sebuah pintu yang menjadi sumber cahaya, cahaya itu yang sejak tadi menyilaukan matanya.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim berganti musim, dan Agra tidak pernah absen pergi ke rumah sakit. Seperti sekarang ini, Laki-laki dengan seragam putih abu-abu itu memandangi Kimy dari balik kaca tebal, di sana Gadisnya terbaring di brankar ruang ICU.


Karena kondisinya yang makin memburuk, Kimy ditempatkan di ruangan ICU. Selang-selang yang dipasangkan ke tubuh mungilnya membuat hati Agra serasa di remas.


Jika saja bisa ditukar posisinya, biar Ia saja yang berbaring di sana. Agra tak kuasa melihat Kimy tersiksa seperti ini.


"Sayang.. Ayo buka matanya ya, nggak bosen apa tidur terus. Hm?" Tangan Agra menyentuh tubuh Kimy yang terpantul dari kaca.


"Kalo kamu begini terus, aku yang bosen hidup." Air mata Agra terus saja mengalir tak henti-hentinya.


Tubuhnya sendiri tak terawat, sikapnya semakin dingin tak tersentuh, sedikit saja berbuat salah maka Agra tak segan untuk menghabisinya.


Yang dilakukannya, makan dua suap lalu kembali tidur setelah itu pergi ke sekolah, sepulang sekolah Ia akan berada di sini hingga larut malam, kemudian pulang ke rumah untuk tidur lalu esok harinya Ia akan kembali sekolah, sepulang sekolah Ia langsung pergi ke rumah sakit lagi.


Rutinitasnya yang hanya berputar-putar pada itu saja mengakibatkan tubuhnya semakin tidak terawat, tak jarang Agra juga akan tidur di bangku ruang tunggu rumah sakit.


Agra menyesal tidak memilih opsi di jebloskan ke penjara saja, setidaknya Ia bisa mencegah jalan takdir yang tidak diinginkannya ini.

__ADS_1


Bunyi keras dari monitor yang mendeteksi detak jantung itu berdenging keras, disusul tubuh Kimy yang kejang-kejang membuat Agra dengan rasa panik berlebihan berlari ke ruang dokter.


"Cepat! Cepat, tolong Gadisku!" Teriak Agra, Ia membuka kasar pintu ruang Dokter itu.


"Apa yang terjadi?"


"M-monitor nya terus saja berbunyi!"


Mendengar itu, Dokter Elina bergegas berlari menuju ruangan ICU.


Tangisan Agra tersedu-sedu, melihat ranjang Kimy yang di kelilingi perawat dan Dokter. Laki-laki itu memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku mohon.." Lirihnya tidak berdaya.


Dokter Elina melepas stetoskop yang semula di gunakannya untuk mengecek apa yang terjadi dengan pasiennya. Ia lalu menatap satu persatu perawat yang membantunya.


"Lepas semua alatnya."


"Baik, Dok."


Melihat mereka yang mulai melucuti semua alat penunjang hidup Kimy, Agra menerobos masuk ke ruang ICU itu.


"JANGAN DILEPAS! KALIAN BISA MEMBUNUH GADISKU!!"


Agra dengan posesif memeluk tubuh Kimy, tidak membiarkan perawat-perawat itu mendekat.


"Tapi tubuh Nona Kimberly sudah menolak. Denyut jantungnya juga sudah melemah, jangan memaksakan kehendak. Biarkan Nona Kimberly pergi dengan tenang,"


"Nggak! Kalian semua bohong! PERGI!! Gadisku tidak mungkin meninggalkanku. Hiks.."


Agra menatap wajah Kimy yang berada di pelukannya, "Iya kan, sayang? Kamu nggak mungkin ninggalin aku kan. Mereka bohong, iya kan? Jawab aku, Sayang.."


"Kamu harus bawa aku juga, jangan pergi sendiri."


"Arghh!! Jangan bawa Gadisku.."


Agra menciumi seluruh wajah Kimy mengharapkan respon dari si empu. "Jawab aku, kamu nggak mungkin ninggalin aku kan, sayang.."


"I-iya.. Agra." Suara lirih itu membuat Agra sontak menatap wajah Kimy.


Manik coklat cerah yang sudah lama tidak terlihat itu kembali menampilkan keindahannya, bibir pucat itu tersenyum tipis.

__ADS_1


"S-sayang!"


____________________


__ADS_2