
______
Tanpa aba-aba sebuah kepalan tinju melayang ke wajah Elio.
Kuatnya pukulan Agra membuat Laki-laki itu tersungkur ke tanah, Elio kembali bangkit lalu mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.
Agra menarik kerah seragam Elio, "Gue peringatin sama Lo! Jauhin Kimy." Tekannya di setiap kata.
Nampaknya Elio tidak menanggapi ancaman Agra dengan serius, Ia justru terkekeh, "Sorry bro, dia Lo terlalu menarik."
Elio menepuk-nepuk pundak Agra, "Jadi jaga-jaga aja."
Motor sport Merah itu berlalu meninggalkan Agra yang masih dengan amarah memuncak.
Agra berbalik untuk menatap gerbang bercat putih yang masih di kunci. Tangannya terulur menekan bel yang berada di sebelah gerbang.
Tiga kali Agra menekannya, tapi rasanya percuma. Dia yakin kalau Gadis itu sengaja tidak membukakan pintunya.
Agra merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya.
Kimberly Is Calling...
"Kenapa?"
"Buka pintunya."
Kimy membuka gorden pintu balkonnya hingga menampakkan pemandangan luar, manik coklatnya tertuju pada Laki-laki yang kini juga menatapnya dari bawah sana.
"Pulang. Gue banyak tugas."
"Buka sekarang, Kimy."
Tut..
Kimy mematikan panggilan Agra sepihak, Gadis itu lantas menutup kembali gorden balkon hingga memutuskan pandangan mereka.
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu.
Kimy sebenarnya tidak mengerti dengan jalan pikiran Agra, untuk apa lagi dia kemari? Kenapa dia terus membuatnya bingung.
Lama kelamaan mata Kimy terpejam, deru nafasnya yang terdengar teratur menandakan kalau Ia sudah terlelap menyelami alam mimpinya.
JEDER!!
Kimy terduduk begitu suara petir menyambar menggelegar, Ia mengambil ponselnya untuk mengecek jam.
Tidak terasa Kimy sudah tertidur setengah jam lamanya, dan sekarang hujan deras mengguyur diselingi petir, juga angin.
Kaki Kimy berlari mendekati balkon, tidak mungkin Agra masih menunggu bukan?
Ternyata kenyataannya di luar dugaannya, Kimy menutup mulutnya tidak percaya. Laki-laki itu masih berdiri di bawah guyuran hujan menatap tepat ke arahnya.
Kimy keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dengan terburu-buru.
Ia memakai payungnya, menerobos hujan lebat itu. Kimy memutar kunci gerbangnya hingga berbunyi 'Cklek'
"Dasar gila!" Sarkas Kimy.
Tatapan tajam Agra tidak lepas darinya. Kimy berjinjit agar Agra terlindungi payung yang di bawanya.
__ADS_1
Kimy mengkhawatirkan Agra karena bibirnya yang memucat. Tanpa di sangka Agra mendadak memeluknya, hingga Kimy mundur beberapa langkah.
Suhu tubuh Agra yang dingin membuat Kimy memeluknya balik.
"Masuk ya," Bisik Kimy.
Agra tidak berkata apapun, Laki-laki itu sibuk menghirup aroma Kimy dengan rakus.
_____
Melihat Agra yang masih merasa kedinginan, Kimy kembali menaiki tangga untuk mengambil beberapa selimut tebal.
"Kimy.." Mata Agra memang terpejam, tapi mulutnya terus meracau memanggil nama Kimy.
Kimy menyelimuti Agra dengan beberapa selimut yang Ia ambil barusan. Gadis itu berjongkok menyetarakan dengan posisi Agra yang terbaring di Sofa.
"Kimy..."
Kimy mengusap kening Agra lembut, suhu tubuhnya masih saja sedingin es.
Air mata Kimy keluar dari persembunyiannya, Ia benar-benar menyesal sudah membiarkan Laki-laki itu menunggu di luar.
Disaat-saat seperti ini Kimy mendadak ingat perkataan Ivy. Kimy beralih menatap Agra, apa benar dia mencintainya? Tapi ini bukan waktu yang tepat.
Kimy beranjak, lalu bergegas pergi menuju dapurnya. Ia kembali dengan nampan yang berisi semangkuk sup dan segelas coklat panas.
Dengan hati-hati Kimy meletakkan nampannya di meja.
"Agra, makan sup dulu." Kimy menuntun Agra agar Laki-laki itu bisa duduk bersandar pada sandaran Sofa.
Agra menatap Kimy yang tengah meniup Sup. Senyum manisnya tercetak melihat bagaimana Gadisnya sangat mengkhawatirkannya.
Rasa hangat dapat di rasakan tubuhnya, tapi bukan karena sup nya tapi karena perhatian dan rasa khawatir dari orang yang sangat spesial di hidup Agra.
Setelah sup di mangkuk itu habis, Kimy mendekatkan gelas berisi coklat panas itu ke tangan Agra yang dingin.
"Hati-hati, panas."
Coklat panas itu berhasil masuk ke lambungnya hanya setengah gelas, Agra meletakkan kembali gelasnya di meja.
Kimy mengambil handuknya kecil yang sebelumnya Ia ambil bersamaan dengan selimut. Handuk itu Ia letakkan di kepala Agra, untuk mengeringkan rambut hitamnya.
Agra terdiam memperhatikan ekspresi Kimy yang penuh konsentrasi, pikirannya menjadi berkeliaran kemana-mana.
"Kita pindah ke kamar ya?"
Ucapan Kimy membuat Agra makin tidak karuan saja, wajahnya memerah begitu juga dengan telinganya.
"Kalau pakai handuk nggak kering-kering, di kamar bisa pakai hairdryer."
Agra terus mengumpat di dalam hati. Bagaimana bisa Ia begitu bodoh dengan memikirkan hal sejauh itu.
Apalagi ketika melihat wajah Kimy yang polos, lantas membuatnya makin merasa bersalah.
"Nggak usah, Kimy."
Agra menarik pergelangan tangan Kimy lembut agar Gadis itu berhenti sibuk bolak-balik, dan duduk bersamanya.
"Evelyn itu adik aku."
__ADS_1
Kimy melebarkan matanya tidak percaya, "Lo mau bohongin Gue?!"
"Nih," Agra menyodorkan foto yang sudah menguning mungkin karena termakan waktu, di dalam foto itu ada Gadis ber kuncir dua dengan Laki-laki yang merangkulnya.
"Evelyn anak Papa sama selingkuhannya," Kata Agra terang-terangan.
Kimy berdeham. "Y-ya.. Gue juga nggak perduli mau Evelyn adik Lo, pacar Lo kek."
Agra menatap Kimy penuh selidik. "Masa sih?"
"Udah diem! Ini kamu ganti seragamnya sama ini." Kimy melempar Hoodie miliknya yang kebesaran dan celana milik Ayahnya.
Agra tersenyum geli, Kimy dan gengsinya tidak bisa di pisahkan.
Bener menit setelahnya, Agra selesai mengganti seragamnya yang basah kuyup di ruang ganti Kimy.
Tapi langkahnya mendadak terhenti begitu matanya bersinggungan dengan Jaket Elio yang berada di keranjang pakaian kotor.
Agra memungutnya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Udah selesai?"
Agra menunjukkan Jaket Elio, ekspresinya seakan mengatakan 'Untuk apa jaket ini ada di sini?'
Kimy menggit bibirnya gugup, "Tadi Elio kasih pinjem biar paha Gue nggak terekspos, besok mau di balikin setelah dicuci."
Gigi Agra saling ber gemelatuk menahan emosinya yang siap meledak, rasanya Ia ingin melayangkan tinjunya lagi pada Murid baru itu.
"Jaketnya biar aku yang cuci, aku juga yang ngasihnya nanti." Ucap Agra final.
Kalau begini, Kimy hanya bisa mengangguk setuju.
Tangan Agra terulur menyentuh wajah Kimy, merangkum wajahnya.
"Kalau kamu masih deket-deket Murid baru lagi, aku kasih kamu hukuman."
Kimy meneguk saliva nya susah payah, aura Agra terlalu mendominasi nya. "Iya.." Cicitnya.
_____
Hujan sudah berhenti, dan Agra sudah berada di luar rumah Kimy bersiap untuk pulang.
"Lo--"
"Aku-kamu, Kimy."
"Kamu hati-hati ya, nanti kalo di rumah, jangan lupa mandinya pakai air hangat."
Agra tersenyum, "Iya, my sweet."
Panggilan Agra berefek pada pipi chubby Kimy, Gadis itu merona.
Agra terkekeh geli. Tangannya terulur mengacak poninya, "Aku pulang ya.."
Kimy hanya mengangguk, Agra memasuki mobilnya. Laki-laki itu melambaikan tangannya pada Kimy yang juga melakukan hal yang sama.
Begitu mobil putih itu hilang dari pandangannya, Kimy menghentakkan kakinya ke tanah kesal dengan pipinya yang tanpa tahu malu merona hanya karena panggilan dari Agra.
_____
__ADS_1