
______________
"Jangan temenan sama dia."
"Loh emang kenapa Ciya?"
"Dia itu nakal, Mama sama Papanya aja kabur."
"Iya, ya. Kasian banget nggak punya Mama sama Papa, hahaha.."
Orang yang menjadi objek pembicaraan mereka berdiri tepat di hadapan mereka, gadis itu tertunduk, kedua tangannya mengepal erat.
"Kalian berisik!" Gadis itu tiba-tiba menatap dengan tajam satu persatu anak-anak yang mengejeknya.
"Kimy nggak butuh Mama sama Papa! Kimy cuma butuh Aunty Camelia."
"Soalnya kamu nggak pernah tau rasanya di peluk sama Mama ya?"
"Kamu juga nggak pernah di beliin boneka kan sama Papa?"
"Kasian banget.."
"Hahaha.."
Kimy kembali menunduk, tidak lagi bisa membalas perkataan mereka karena semua yang dikatakan mereka memang benar. Ia tidak pernah merasakan semua itu, wajahnya saja Kimy tidak pernah lihat secara langsung.
"Kim.. Kimy.."
Kimy terduduk dari tidurnya, dadanya naik turun karena lonjakan emosi yang dirasakannya.
"Kamu mimpi buruk?" Camelia menyodorkan gelas berisi air ke hadapan Kimy.
Kimy menerimanya, meminumnya hingga tandas. Rasa pening yang menghantam kepalanya membuat tangannya terulur memijat pelipisnya sendiri.
"Kita ke rumah sakit aja, ya? Aunty khawatir kamu kenapa-napa."
"Nggak usah Aunty, aku cuma kecapean sedikit. Istirahat bentar juga nanti baikan lagi nantinya." Bibir pucat Kimy tersenyum tipis mencoba untuk tidak membuat Camelia khawatir padanya.
"Ya udah, tapi hari ini kamu izin aja dulu. Jangan berangkat ke sekolah, kamu harus bed rest pokoknya."
"Emang aku sakit keras apa, sampe harus bed rest segala."
"Harus nurut!"
Kimy menggembungkan pipi mendengarnya.
"Aunty mau buat Sup dulu deh buat kamu." Kata Camelia sembari melangkah keluar dari kamar Kimy.
"Wortelnya dibanyakin ya Aunty!"
"Iya, iya manusia kelinci!"
Balasan Camelia membuat Kimy terkikik geli. Lama kelamaan tawanya berubah menjadi tangisan, Kimy menutup wajahnya dengan bantal agar tangisnya dapat terendam.
__ADS_1
Dulu saat kecil, Ia selalu berpikiran kalau Papa dan Mama memang tidak menginginkannya sejak lahir.
Kimy kecil iri melihat teman-temannya di suapi oleh tangan yang selalu di panggil Mama itu, Kimy kecil iri melihat teman-temannya di antar ke sekolah dengan Laki-laki yang selalu dipanggil Papa itu.
Pintu tiba-tiba diketuk dari luar. Kimy langsung terduduk, diam sejenak untuk mengusap jejak air matanya dan mengatur nafas. Setelah merasa lebih baik Ia menuruni ranjang, berjalan menuju pintu.
Begitu handle pintu di putar, semerbak harum aroma mawar menusuk hidungnya, puluhan tangkai mawar yang dibuat buket itu memenuhi pandangannya.
"Astaga," Kimy mengelus dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.
"Eh? Maaf, kamu kaget ya?"
Kimy ingin sekali melempar satu set panci yang baru di beli Camelia tepat ke wajah tampan Agra, bisa-bisanya Ia masih menanyakan hal yang jelas-jelas sudah diketahui jawabannya.
Seenak jidatnya Agra melangkah masuk ke kamarnya melewati si pemilik begitu saja, Laki-laki itu meletakkan buket bunganya ke Meja Belajar setelah itu Ia kembali ke hadapan Kimy.
Masih dengan seenaknya Agra, bukannya berdiri saja anteng di hadapannya, Laki-laki itu memeluk Kimy erat sampai Gadis itu sedikit terangkat dari tempatnya.
Kimy memukul bahu Agra sebagai tanda protesnya, "Kenapa nggak kamu aja yang nunduk? Lagian kenapa tiba-tiba peluk-peluk sih?"
"Emang nggak boleh peluk pacar sendiri."
Agra merendahkan tubuhnya hingga kaki Kimy dapat kembali menapak ke karpet berbulu nya, tapi pelukan mereka masih belum terlepas.
"Agra lepas ih! Nanti ada Aunty,"
"Nggak mau!" Tolaknya mentah-mentah.
"Lepas!"
"Nggak mau!"
"Nggak mau! Kimy.." Agra menggeleng tegas.
Kimy seperti sedang menghadapi seorang balita, Ia jadi mempertanyakan kemana Agra si Laki-laki dingin tak tersentuh itu?
"Upss! Maaf, Aunty ganggu ya?" Kata Camelia dengan senyuman jahil tersungging di bibirnya,
"Ini dimakan sampai habis ya, Kim. Supaya cepet sembuh."
Ia meletakkan mangkuk Sup dan Gelas berisi Jus Wortel di nakas kemudian berlalu keluar dari kamar Kimy, sebelumnya Camelia sempat membuat bentuk hati dengan ibu jari dan jari telunjuknya untuk menggoda keponakannya itu.
Agra melepas pelukan mereka, Ia kini dapat melihat wajah Kimy yang sudah tertekuk seperti baju yang belum di setrika.
"Kamu sakit? Kita ke Rumah Sakit, ya? Atau Dokternya aja yang ke sini?"
"Nggak usah lebay. aku cuma kecapean," Kimy melirik jam weker yang berada di nakas nya. "Ya udah sana kamu berangkat, lima menit lagi telat loh." Lanjutnya.
"Nggak! Aku mau bolos aja, di sana nggak ada kamu. Nanti kangen gimana?"
Kimy bergidik geli, astaga! Sepertinya tingkat ke bucinan Agra sudah naik level.
"Terserah kamu aja deh." Kimy berlalu dari Agra, mendekati Sup dan Jusnya. Sekarang yang terpenting itu perutnya.
__ADS_1
Agra melirik isi mangkuk Sup itu, "Isinya wortel semua."
"Iya, enak!"
Agra tersenyum. "Gemes banget, Pacarnya siapa sih?"
______________________
Agra mengelus lembut rambut coklat Kimy, sedangkan Gadis yang katanya sedang sakit itu, asik menonton Doraemon di Ponsel Agra.
"Mau punya suami kaya Suneo. Kaya banget! Pasti kalo jadi Istrinya udah nggak perlu kerja lagi, kerjaannya di rumah doang tapi jalan-jalannya ke Paris."
Tangannya berhenti melakukan aktivitasnya begitu mendengar celetukan asal dari Kimy. Agra menyambar ponselnya dari genggaman Gadis itu.
"Eh?! Belum selesai itu," Kimy berusaha kembali merebut ponsel Agra. Tapi Laki-laki justru semakin menjauhkannya.
"Nggak boleh,"
Kimy memajukan bibirnya, kesal dengan Laki-laki didepannya ini. Tadi saja saat Kimy ingin melihat dengan ponselnya sendiri, dia malah menyodorkan ponselnya.
"Oh, iya." Kimy baru ingat kalau Ia punya ponsel, Gadis itu beranjak dari karpet berbulu beralih ke ranjangnya.
Melihat itu Agra tidak mau kalah, diam-diam mendekati Kimy dari belakang lalu merampas kembali ponselnya.
Kimy berdecak sebal, "Sana pulang aja deh, gangguin terus!"
"Utututu.. Ngambek," Agra mencolek hidung mancung Kimy.
"Apa sih?!"
Agra mengembalikan ponselnya, "Tapi, jangan liat Doraemon."
"Kok gitu sih?
"Liat kembarannya aja."
"Emang siapa kembarannya?"
"Dora."
"Ih Agra..."
Agra mengangkat salah satu alisnya seakan tidak tahu letak salahnya dimana. Kimy menggembungkan pipinya sebal.
Mau tak mau Ia nobar Dora di ponsel Agra. Sepanjang kartun itu berjalan Kimy terus mengerucutkan bibirnya, batinnya yang merasa tertekan tidak berhenti mengumpati Agra.
"Katakan Peta!"
Camelia yang memperhatikan aksi absurd mereka tersenyum, Ia menatap ke atas.
Pasti Kakaknya di sana sangat bahagia melihat putri cantik mereka sudah memiliki pelindung. Camelia percaya sepenuhnya dengan Agra, Ia dapat melihat sebesar apa cinta yang diberikan untuk ponakannya.
Tugasnya juga sedikit berkurang seiring waktu, Camelia jadi tidak sabar melihat Kimy memakai gaun pengantin, lalu dirinya menggendong bayi lucu-lucu yang memanggilnya 'Nenek'
__ADS_1
Ah, Ia menjadi sadar kalau umurnya sudah tidak muda lagi.
______________________