
"Lo anggap kita apa sih? Kita temen Lo bro, cerita kalo ada masalah. Jangan Lo pendam sendiri. "
Ucapan Andreas membuat semua yang berada di basecamp menatap ke arah Agra, Laki-laki yang dijuluki Pangeran Sekolah itu tidak berhenti menghisap nikotin.
Satu bungkus rokok habis dalam beberapa jam saja, sekarang Laki-laki itu kembali membuka bungkus baru.
"Bener kata, Andreas. Lo kalo ada masalah cerita, siapa tau kita-kita bisa bantu." Sambung Axel.
Agra hanya diam, Ia tidak mampu mengatakan apa-apa. Ini privasi Kekasihnya dan Agra tidak ingin kalau nama baik Kimy sampai hancur.
Drrtt..
Getaran di saku celananya. membuat Agra merogoh sakunya celana abu-abunya itu, untuk mengambil ponselnya.
+628756388912
Kalo Lo mau foto sama rekamannya di hapus, temui Gue di Gedung Dxxxx Jln. Xxxx.
Agra beralih menatap ketiga temannya, "Kalo kalian mau bantu Gue. Jaga Kimy, turuti semua maunya, ikuti kemanapun dia pergi kecuali Rumah sama Toilet."
Andreas, Leo dan Axel kompak mengangguk.
Melihat Agra yang terlihat buru-buru setelah melihat ponselnya membuat Leo heran, "Lo mau kemana?"
Agra tidak mengindahkan pertanyaan Leo, kakinya berjalan cepat keluar dari Basecamp. Karena ini waktu pulang, jelas saja parkiran di penuhi lalu lalang orang.
Agra menerobos keluar dari kerumunan, sesekali Ia tanpa sengaja akan menabrak orang-orang yang berbondong-bondong ingin pergi ke alat transportasi mereka.
Siswa-siswa yang ditabraknya berniat memprotes, tapi saat melihat siapa orang yang telah menabrak mereka, mereka langsung dibuat kicep.
Tidak mungkin mereka bisa memprotes penguasa sekolah, sekalipun Laki-laki itu yang berbuat salah.
Agra memasuki mobilnya, sesudah mesin dijalankan. Mobil putih itu keluar dari area parkir, Ia tidak sadar kalau Mobil sport milik Leo mengikutinya dari belakang.
Sebenarnya ini bukan keinginannya mengikuti Agra, tapi Kimy dan kedua temannya yang memaksanya untuk mengikuti.
Tadi Kimy melihat Agra yang keluar dari Basecamp dengan berlari kencang. Ia menanyakan apa yang terjadi pada ketiga temannya Agra tapi, mereka juga tidak mengetahui penyebab Agra bisa seperti itu.
Kimy meminta tolong pada Leo agar mengikuti kemana perginya Agra, tidak di sangka Andreas, dan Axel juga memaksa ingin ikut.
"Lo lambat banget sih? Mobil Agra udah jauh tuh." Axel memprotes cara jalan mobil Leo yang normal.
"Iya!" Sahut Andreas dan Kimy secara kompak, "Lo lambat."
"Kalo deket-deket banget, kita bakal ketauan. Bego!" Ketus Leo.
"Iya!" Sahut Andreas dan Kimy kembali berbarengan, "Lo bego!"
Kontan saja Axel melirik Andreas dan Kimy sinis, "Kalian sebenernya dukung siapa sih?"
Andreas dan Kimy mengangkat bahunya, acuh tak acuh dengan nasib Axel yang di hujat mulut pedas Leo.
__________________
Sebuah gedung terbengkalai yang tidak memiliki alat penerangan menjadi pemandangan ketika mesin mobil Agra berhenti, ini sesuai dengan alamat yang dikirimkan Wily.
Hari yang sudah gelap menambah kesan angker di lokasi ini, tanpa memiliki rasa takut, Agra melangkahkan kaki memasuki Gedung tua itu.
Sedangkan Mobil Leo yang baru tiba berhenti tepat di belakang mobil Agra, mereka bergidik ngeri melihat Gedung yang menjulang tinggi itu.
"Agra sebenarnya ngapain sih kesini?" Heran Axel.
"Mungkin mau uji nyali," Sahut Andreas.
Berbeda dengan Axel dan Andres yang masih menyiapkan mental. Kimy sudah keluar dari Mobil terlebih dahulu, disusul Leo yang khawatir dengan Gadis itu.
__ADS_1
"Tuh kan, Lo sih! Kita ditinggalkan jadinya," Gerutu Andreas, menyalahkan Axel yang masih berkicau di Mobil.
Mereka memasuki Gedung tua itu. begitu berhasil masuk, mata mereka dibuat membelak dengan kondisi bagian dalam yang berbeda jauh dari luar Gedung.
Furniture dan arsitektur bergaya Eropa menyambut mereka, lantai marmer yang berkilau seakan menandakan kalau tidak ada debu setitik pun, tangga memutar yang dilapisi karpet merah memberi kesan elegan, lampu kristal tergantung indah di plafon putih.
"Wow!"
"Ini baru yang dinamakan prank."
Andreas mengangguk setuju dengan ucapan Leo. "Keren banget,"
"SIALAN!!"
Ditengah keterkaguman, mereka dikejutkan dengan umpatan yang menggelegar dari lantai dua.
Sontak saja mereka berlari menaiki puluhan anak tangga itu untuk mencapai sumber suara.
Perasaan tak enak mulai melingkupi hati Kimy, Ia takut terjadi sesuatu dengan Laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya itu.
Lorong dengan pencahayaan redup menyambut mereka begitu sampai di lantai dua. Terdapat dua pintu, namun yang terdengar bunyi benda-benda jatuh hanya ruangan paling ujung.
Baru saja mereka ingin memasuki ruangan itu, sekumpulan Bodyguard yang datang entah dari mana langsung menghadang mereka.
"Wah! Wah! Ada anak SMA yang tersesat." Kata Laki-laki bertubuh kekar itu dengan nada mengejek.
"Nggak usah banyak gaya, Om Botak!" Sahut Axel dengan beraninya.
Bodyguard itu mulai bersiap-siap akan meringkus mereka, menyadari itu. Leo berbisik pada Kimy.
"Kita bakal ngalahin perhatian mereka, Lo harus bisa masuk ke Ruangan itu."
Kimy mengangguk, Ia menepuk-nepuk pundak Leo yang kokoh. "Lo harus keluar dari sini tanpa luka kalo nggak, nanti Sonia nangis."
Sebelum membukanya, Kimy terlebih dahulu mengintip dari celah pintunya. Apa yang dilihatnya dari balik pintu sama seperti adegan film action yang sering dilihatnya di Televisi.
Tes!
Air mata Kimy mengalir deras. Di ruangan itu, kedua pergelangan tangan Agra diikat sebuah tali tambang yang dikaitkan ke atas.
Seragam putihnya dipenuhi bercak darah, wajah tampan yang dieluh-eluh kan itu sudah tidak berbentuk lagi, memar dan luka sobek berada dimana-mana hampir menghiasi seluruh wajahnya, tatapan matanya sayu.
"Lo mau ini di hapuskan? Syaratnya ini, Lo harus mati!" Laki-laki dengan setelan Jas formal melempar foto itu ke wajah Agra.
"Wily?"
Kimy menutup mulutnya lantaran sangat shock, Ia tidak menyangka kalau Laki-laki itu bisa bertindak se-biadab ini.
Dan yang paling membuatnya terpukul, Agra diam saja tidak melawan karena ingin melindungi nya. Kimy tidak tau kalau pelukan rasa iba nya ternyata hanyalah akal-akalan Sepupunya.
Wily melirik Bodyguard yang berdiri di sebelah tempat Agra tergantung, seakan memberikan kode untuknya. Laki-laki berotot itu mengayunkan cambuk yang dipegangnya hingga menghantam keras punggung Agra.
Pyarr!!
Pyarr!!!
"Arghh!"
Kimy tidak sanggup lagi melihatnya, Ia secara kasar membuka pintu. Deru nafasnya tersengal karena emosinya yang tidak stabil.
"Kimyku! Kamu ada di sini," Wajah Wily terlihat tidak serius saat mengatakannya, "Lihatlah, aku sebentar lagi akan membuatnya mati. Kita bisa bersama setelah ini."
Bak orang yang tidak memiliki akal, Wily tertawa terbahak setelah selesai mengatakan itu pada Kimy.
"Lo gila! Gue benci banget sama Lo!!" Kimy berlari menerjang Wily, melayangkan pukulan brutal padanya.
__ADS_1
Wily tidak menahannya, Laki-laki itu sangat terkejut dengan ungkapan rasa benci dari Kimy.
Kini Kimy dengan gemetar mendekati Agra. Tangannya menutup mulutnya, merasa sangat terguncang melihat kondisi Agra.
Deras air mata yang semula di tahan itu tidak dapat terbendung lagi.
"K-kimy?" Agra melirih, setengah sadar Ia bisa melihat Kimy yang menangis hebat di hadapannya.
"Iya. Ini aku, Sayang.."
Kimy memeluk tubuh Agra, tidak memperdulikan seragamnya yang ikut terkena bercak darah yang berasal dari tubuh Agra.
Sudut bibir yang sobek itu tertarik, menghadirkan senyum di wajah Agra.
"A-aku k-kangen.."
"Aku juga,"
Tangan Wily terkepal erat melihat sepasang kekasih yang saling melepas rindu itu, manik Emerald nya menangkap sebilah pisau yang berada di meja.
"Bawa Kimy,"
Bodyguard itu mengangguk, Ia langsung menjalankan titah Tuannya.
"Lepas!" Kimy berusaha keras memberontak dari cengkraman Bodyguard itu.
Genggamannya pada jemari Agra terlepas ketika Bodyguard itu menyeretnya, Kimy melihat Wily yang akan melemparkan pisau, dengan menjadikan Agra layaknya papan target.
Kimy menendang ************ Bodyguard itu sangat kuat hingga Bodyguard itu melepaskannya.
Ia berlari sangat kencang memeluk tubuh lemah Agra.
Jlebb!
"Kimberly!!"
Pandangan Wily memburam, pisau tertancap tepat di punggung Kimy. Gadis itu melindungi cintanya. Wily yang tak kuasa melihat pengorbanan Kimy pun menenggak habis racun yang semula disiapkan untuk Agra, Laki-laki itu terjatuh ke lantai.
Pelukan erat yang dirasakannya disusul teriakan keras Wily membuat Agra tersadar dari pingsannya.
Agra menatap Gadis yang memeluknya itu, muncul senyum yang membuatnya jatuh cinta dahulu.
Nafas Kimy tersedat, tak sanggup menahan rasa sakit yang menjalar di punggungnya. Tangannya dengan gemetar terulur meraba bagian rahang tegas Agra.
"A-aku cinta ka-kamu, Pangeran ku."
Setelah mengatakan itu, tubuh Kimy meluruh jatuh ke lantai. Tetesan darah yang mengotori lantai, membuat Agra sekuat tenaga memberontak dari tempatnya tak memperdulikan pergelangan tangannya yang lecet.
"KIMY! S-sayang bangun!"
Andreas, Leo dan Axel datang di waktu yang tepat. Mereka terkejut begitu membuka pintu, Agra yang dalam kondisi mengenaskan dengan luka yang hampir memenuhi tiap tubuhnya dalam posisi tergantung, dan Kimy yang bersimbah darah lalu ada Wily yang juga geletak di lantai dengan mulut berbusa.
"Lepaskan ikatannya!" Teriak Leo pada Andreas, sedangkan Leo buru-buru menggendong Kimy ala bridal style membawanya menuju mobil.
Begitu tali itu terlepas. Agra berlari kencang menyusul Leo yang membawa Kimy, Ia seakan lupa dengan semua lukanya.
Agra membawa Kimy ke pangkuannya, dengan posisi ala koala. Tidak membiarkan luka di punggungnya tersenggol barang sedikitpun.
"NGEBUT LE!"
Leo kembali menambah kecepatannya, hingga maksimal.
"Sayang, kamu nggak boleh ninggalin aku. Kalo kamu mau pergi, ajak aku. Kamu nggak boleh pergi sendiri." Agra terisak sambil memeluk tubuh kaku Kimy.
_________________
__ADS_1