School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Dia kembali?


__ADS_3

_______________


"SONIA! LO KOK NGGAK BILANG KALO ANDREAS SEPUPU LO?"


"Orang kamu nggak nanya." Jawab Sonia dengan raut wajah polosnya.


Ivy mencubit kedua pipi Sonia hingga si empunya meringis, "Akhirnya air mata Gue yang berharga terbuang sia-sia."


Kimy meletakkan Tote Bag Ivy di mejanya, Ia menghela nafas lelah melihat kedua temannya yang saling mencubit pipi. "Udah-udah, kalian kaya bocil."


"Lagian bener kata Sonia, Lo nggak nanya kan Sonia sama Andreas punya hubungan apa. Dari pada berantem nggak jelas, liat nih Andreas repot-repot nganterin Tote Bag Lo ke kelas."


Ivy berhenti mencubit pipi Sonia, Ia duduk tegap sembari memegangi keningnya, memastikan kalau keningnya tidak panas.


"Gue masih nggak percaya," Gumamnya terasa shock.


Kimy tertawa, "Lo makin nggak percaya kalo denger apa yang Andreas omongin sama Gue di depan pintu."


Ivy cepat bereaksi, memperhatikan Kimy dengan ekspresi serius seakan sedang menghadapi Ujian Nasional. "Apa yang kalian omongin? Pasti Gue kan."


"Percaya diri sekali ya Nona Ivy, tapi emang bener sih. Dia tadi minta nomor Lo." Jelas Kimy dengan sedikit mencibir.


"Aaaa! Gue baper, mimpi apa ya Gue semalem."


Kimy dan Sonia kompak menutup telinga mereka, melindungi dari paparan dashyat jeritan Ivy.


Tanpa merasa bersalah pada kedua temannya, Ivy bangkit dari kursinya lalu mendekati teman sekelompok nya. Si budak cinta itu berterimakasih pada mereka, padahal sebelumnya dia menggerutu tentang kesialannya yang satu kelompok dengan anak-anak pembuat onar.


Kimy menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakukan Ivy yang makin absurd.


Ting!


Notif dari ponselnya membuat Kimy mengalihkan pandangannya dari Ivy beralih pada layar ponsel yang menampilkan pop up dari aplikasi chat.


+612997832012


Kimyku, I really miss you. Kamu juga pasti merindukanku kan? Hari ini aku pulang, kamu bisa sambut aku di bandara jam 16:15


Mata Kimy membulat, ponselnya jatuh begitu saja. Dari nomor dan panggilannya saja Ia sudah bisa menebak kalau yang mengirimi sepupu gila nya.


"Kim, kamu kenapa?" Tanya Sonia yang melihat wajah Kimy sudah pucat pasi.


"A-aku nggak papa, Son." Sahut Kimy gugup, Ia masih tidak ingin menceritakan tentang sepupunya pada teman-temannya.


Satu-satunya orang yang tahu hanya Agra. Itu juga karena terpaksa, dirinya berada di posisi terpojok dan tidak memiliki pilihan lain selain menceritakannya.

__ADS_1


Kimy bingung harus bagaimana lagi, sekarang sepupunya sudah pulang dari Aussie dan mulai menerornya kembali.


"Beneran nggak papa, Kim? Kamu kaya orang banyak pikiran." Sonia menatap Kimy khawatir.


"Iya, cuma lagi pusing mikirin bahan buat ekskul Mading."


Beruntungnya kali ini Sonia tidak bertanya lagi, sepertinya dia percaya dengan alasan yang diberikannya.


Bel berdering, siswa-siswi yang berada di kelas 11 IPA 3 duduk dengan rapih di kursinya masing-masing, tak lama Pak Herry memasuki kelas.


"Sebelum belajar, tasnya taruh di atas meja ya. Yang ketahuan bawa makeup, rokok, senjata tajam dan narkotika bapak blacklist dari sekolah."


Semua murid melakukan hal yang diperintahkan oleh pak Herry begitupun dengan Kimy dan Elio, keduanya bersikap tenang-tenang saja berbeda dengan seisi kelas yang sudah merasa dag-dig-dug.


"Lo sakit?" Tanya Elio merasa ada yang aneh dengan Kimy.


Kimy memberikan senyum, "Gue sehat kok."


Jawaban Kimy sebenarnya tidak membuatnya percaya, tapi karena Elio sangat menghargai Kimy Ia tidak lagi bertanya.


Elio mengangkat kepalan tangannya. "Semangat Kimy! You are very strong girl. Kalo cape jangan lupa istirahat, ingat ya! kamu punya teman sebangku yang bisa di andalkan." Senyum manis terpancar dari wajah Elio yang nyatanya dapat menular ke Kimy.


_______________


"Kok basecamp kaya habis di terjang badai begini ya?" Leo heran melihat semua yang berada di basecamp mereka berserakan, banyak barang pecah di sana-sini juga darah yang tercecer.


"Dari pada komen terus mending kalian berdua bantuin Gue." Sela Andreas, di lengannya penuh memegang kardus-kardus berisi komik-komik yang sebelumnya berserakan.


Sedangkan si pembuat masalah tengah berdiri diantara pembatas rooftop sekolah, matanya menatap kosong lapangan estafet yang menjadi pemandangan dari atas.


Lengannya sobek tidak sengaja terkena pecahan dari kaca yang berada di basecamp, tapi Ia tampak cuek saja dengan itu.


"Agra!"


Laki-laki itu bergeming meski mengenali suara yang memanggil namanya itu.


Kimy menutup pintu rooftop nya, nafasnya terengah-engah karena dirinya bisa sampai disini hanya dengan menggunakan tangga.


Ia meletakkan kotak P3K yang dibawanya dari UKS di Sofa usang yang di sediakan anak-anak berandal yang membolos, Kimy mendekati Agra yang berpangku tangan di pembatas rooftop.


"Kamu kenapa sih? Nggak cepetan diobati lagi, nanti bisa kehabisan darah loh."


Kimy menarik lengan Agra yang terluka, menuntutnya untuk duduk di Sofa.


Kimy membersihkan luka Agra dengan alkohol terlebih dahulu, setelah itu memberikannya obat merah, sebagai tahap akhir Ia membalutnya dengan kain kasa.

__ADS_1


Agra memperhatikan bagaimana Kimy telaten mengobati lukanya yang menurutnya tidak seberapa, raut wajah sedih terus saja ditunjukkannya saat melakukan semua itu.


Sering kali Agra merasa bingung dengan perlakukan Kimy, di satu sisi Ia merasa Kimy memiliki rasa yang sama padanya tapi, di sisi lain Ia merasa Kimy memiliki rasa pada murid baru itu.


"Udah selesai," Ujar Kimy, Ia meletakkan alat-alat yang sebelumnya di gunakannya ke kotak putih itu.


Agra memindahkan bantal Sofa ke paha Kimy agar Gadis itu tidak merasa risih saat Ia berbaring di sana.


Kimy membiarkan saja Agra tidur di sana, telapak tangannya terangkat menghalangi mata tajam Agra dari silau nya sinar matahari.


"Aku cemburu." Kata Agra tiba-tiba.


Kimy merasa gemas dengan Agra, Laki-laki itu seperti anak yang sedang mengadu pada Ibunya.


"Cemburu-in apa?"


"Kamu tadi keliatannya bahagia banget ngobrol sama Murid Baru." Lanjutnya, bibirnya mencibik persis seperti anak kecil yang merengek pada Ibunya.


Kimy tertawa, "Imut."


Perkataan singkat yang keluar dari mulut Kimy lantas membuat Agra menyingkirkan telapak tangan Kimy dari atas matanya.


"Ayo, bilang lagi."


Kimy menghentikan tawanya, Ia menatap Agra bingung. "Apanya?"


"Ayo, bilang imut lagi."


Ah! Jadi itu, Ia secara tidak sadar mengatakan itu.


"N-nggak ada pengulangan ya.." Ujarnya gugup.


Agra mencibikkan bibirnya, merasa di beri harapan palsu. "Padahal aku mau liat ekspresi manis kamu waktu bilang begitu."


Saat ini Kimy berharap hidungnya tidak lagi bereaksi seperti tadi,


"Oh iya, kamu ngobrolin apa aja sama Murid Baru itu?" Suaranya berubah menjadi mengintimidasi.


"Dia nanyain aku ada masalah apa nggak, terus ngasih aku semangat. udah kok gitu aja."


"Sekarang giliran aku yang nanya, apa kamu di teror sepupu kamu lagi?"


"Kok kamu bisa tau?" Tanya Kimy dengan ekspresi terkejut.


"Kamu nggak tau aku ini cenayang?" Sebenarnya itu hanya alasan konyol saja sebab Agra tidak mungkin mengatakan pada Kimy kalau dirinya menyadap ponselnya.

__ADS_1


"C-cenayang?" Kimy menanggapi nya dengan serius, Ia bahkan mulai mengingat-ingat lagi apa yang sempat berada di pikirannya memastikan kalau itu bukan pikiran buruk yang menyebabkan harga dirinya bisa jatuh.


__________________


__ADS_2