
________________
Sebuah mobil Bugatti hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah menengah atas negri terbaik di kota, mobil seharga jutaan dolar itu tampak mencolok di tengah-tengah siswa-siswi yang mulai keluar dari sekolah karena sudah waktunya pulang.
"Pasti yang di jemput sama mobil itu murid paling kaya di SMA Pertiwi." Tebak Ivy bagai detektif.
Kimy memutar bola matanya malas, "Mulai deh." Meski berkata begitu Ia juga sedikit merasa penasaran mobil itu akan menjemput siapa sebenarnya.
"Mungkin cuma mau parkir kali," Ujar Sonia.
Ivy menghela nafas panjang, "Masa parkir di depan sekolah? Biar apa coba?"
"Oh iya ya.. Mungkin mau jemput orang kali,"
Ivy memijit pelipisnya, merasa pusing setelah mengobrol dengan Sonia. "Cape ngobrol sama Lo, padahal barusan Gue ngomong gitu."
Kimy terkekeh geli, melihat betapa frustasinya Gadis di sebelah kanannya ini.
Ojek online berjaket hijau berhenti di hadapan mereka. "Dengan mba Ivya Natasya?"
"Iya saya," Ivy dengan cepat memakai helm yang disodorkan bapak Gojek itu. "Syukur Alhamdulillah, bapak udah dateng. Saya udah mau pingsan ngobrol sama dia." Perkataan Ivy disambut tawa Kimy yang pecah.
"Gue duluan ya, Bye babu-babuku!" Ivy melambaikan tangannya.
"Lo pulang sama siapa, Son?"
Sonia berhenti menatap Ivy dari kejauhan beralih menatap Kimy. "Aku nunggu Pak Eko. Kalo kamu?"
Kimy mengangguk mengerti, "Gue nungguin Agra," Ia melirik jam tangan putih yang melingkar di tangannya. "Lima menit lagi."
"Oh, emang Agra ngapain masih di dalem?"
"Masih di Bk dia, tadi kan bolos."
Obrolan mereka terhenti begitu seseorang keluar dari Mobil hitam itu, Laki-laki berjas hitam, sepatunya pantofel yang sepertinya dipesan khusus, rambutnya di sisir dengan rapih membuatnya semakin menawan, tangannya memeluk buket tulip ungu.
"Wily?!" Kimy terlihat sangat shock, Ia bahkan secara tidak sadar melangkah mundur dari posisi sebelumnya.
Sonia yang tidak mengerti dengan kondisinya, tapi melihat temannya yang seperti ketakutan Ia lekas menarik tangan Kimy untuk lari.
Sayangnya mereka salah mengira Wily hanya sendiri, Lima bodyguard menghalangi mereka berdua hingga tidak bisa lari kemana-mana, mereka terkepung.
Dari kejauhan Wily tersenyum sembari melambaikan tangannya.
"Kita bisa teriak kalian jangan macam-macam!" Sonia menatap mereka tajam untuk mengintimidasi mereka.
"Sekolah sudah sepi, tidak ada yang mendengar teriakan kalian." Ucap salah satu dari bodyguard itu tidak gentar dengan ancaman Sonia.
"Oh iya ya.." Ucap Sonia dengan raut wajah polosnya.
__ADS_1
Kimy menggaruk pipinya merasa gemas, padahal sebelumnya Ia sudah memuji-muji Sonia di dalam hati.
"Minggir! Kalian membuat Kimyku ketakutan," Seruan Wily membuat para Bodyguard itu menyingkir dari hadapan Kimy dan Sonia.
Wily tersenyum, "Ayo kita pulang, pasti kamu udah kangen banget kan sama aku."
Kimy menggeleng cepat, "G-gue pulang sama pacar Gue."
"Oh gitu ya," Wily mengangguk-anggukan kepalanya seakan paham dengan ucapan Kimy.
Baru saja Kimy ingin bernafas lega melihat sepertinya Wily mengerti dengan ucapannya, tapi tangannya tiba-tiba sudah ditarik dua bodyguard bertubuh kekar.
Sonia yang melihat itu berniat berteriak sekencang yang Ia bisa naas bodyguard Wily sudah bisa menebak apa yang akan dilakukannya. Bodyguard itu membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur.
Kimy yang terus memberontak juga di bekap dengan sapu tangan yang juga di beri obat tidur.
"Hati-hati saat membawanya, Kimyku sangat berharga." Perintah Wily di patuhi para Bodyguard.
"Tuan, Gadis ini dikemanakan?" Tanya salah satu Bodyguard yang sebelumnya membekap Sonia.
Wily melirik Sonia tanpa minat, "Biarkan saja," Katanya tanpa perasaan.
______________________
Begitu Sonia membuka matanya Ia sudah berada di UKS, gadis itu mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya.
Seakan teringat sesuatu, Sonia bangkit dari ranjang UKS. "Kimy!"
"Tapi, tapi, Kimy di culik!" Serunya panik.
Leo memegang pundak Sonia, menuntunnya untuk kembali duduk di ranjang. "Tarik nafas, hembusin perlahan. Nah sekarang cerita."
Dengan patuh Sonia mengikuti semua yang diperintahkan Leo, "Kimy di culik sama orang yang namanya Wily, banyak laki-laki bertubuh kekar yang membantunya."
Leo mengangguk faham, Laki-laki dengan tatto di sisi kiri tengkuk itu lekas menghubungi Agra.
Leo is calling...
Agra memakai air phone nya dengan telepon yang sudah terhubung dengan Leo.
"Bener kata Lo, kalo Wily yang bawa Kimy."
"Lo udah dapet informasi dimana lokasinya? Atau tanyain Sonia siapa tau dia inget plat nomornya."
Ada jeda sejenak, sepertinya Leo sedang menanyakannya pada Sonia. "Dia nggak inget."
Agra mematikan sambungan telepon mereka sepihak, Ia mengusap wajahnya gusar.
Ini salahnya, harusnya Ia tidak membiarkan Kimy menjauh sedikitpun darinya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Gadisnya, Agra akan terus mengalahkan dirinya sendiri yang tidak becus menjaganya.
__ADS_1
tanpa di duga cairan asin berlomba-lomba keluar dari mata Agra. "Kamu dimana Sayang?"
Di situasi seperti ini Agra mendadak ingat jika sebelumnya Ia pernah menyetel pelacak pada ponsel Kimy, sial kenapa Ia baru ingat?!
Agra mengotak-atik ponselnya lalu membuka aplikasi google maps yang sebelumnya sudah terhubung dengan google maps di ponsel Kimy.
Setelah mengetahui dimana posisinya, Agra mengusap kasar jejak air matanya.
Ia menarik tuas mobil, mobil putih itu melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang kebetulan tengah sepi.
Mobil berhenti di sebuah kawasan Apartemen elit, Agra dengan terburu keluar dari mobilnya tanpa banyak basa-basi lagi Ia berlari memasuki lobby Apartemen itu.
Resepsionis itu terpesona dengan penampilan Agra, meski masih menggunakan seragamnya, tapi dia tampak seperti model.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan suara dibuat selembut mungkin.
"Wiliam Gideon di lantai berapa?"
Resepsionis itu mengerutkan keningnya bingung, "Jika saya boleh tau Anda ada kepentingan apa dengan Tuan Gideon."
"Saya temannya," Kata Agra asal.
"Jika begitu saya akan menghubungi Tuan Gideon dahulu."
Agra menggeram kesal, Ia bahkan mengeluarkan black card nya. "Ini untukmu jika kau memberitahu lantai berapa yang ditempati Wiliam, dan memberikan saya izin untuk masuk. Dengar, saya bukan orang jahat. Saya menerobos masuk tanpa mengindahkan peraturan yang ada karena saya ingin menyelamatkan orang yang sangat berarti bagi saya."
Resepsionis itu menutup mulutnya tidak percaya, Ia dengan gemetar menerima Black card itu. "Saya percaya. Tidak mungkin Tuan ingin berniat jahat, tapi menyerahkan ini cuma-cuma pada saya."
"Tuan Gideon berada di lantai 7, ini access card cadangannya."
Agra berlari menuju lift, menekan tombol angka 7. Tidak lama lift itu berdeting lalu pintunya terbuka. Agra berlari menuju satu-satunya pintu yang berada di sana dan dijaga oleh lima bodyguard.
Para bodyguard itu mulai mendekati Agra bersiap memberikannya pelajaran agar tidak menjadi bocah sok jagoan, tapi belum sempat kepalan tangannya mengenainya bodyguard itu sudah tumbang oleh Agra yang mengeluarkan skill muay thai nya.
Bak di film-film action Agra terus memberikan pukulan telak pada para Bodyguard bertubuh kekar itu.
Bugh!
Agra tersungkur, salah satu pukulan berhasil melukai hidungnya. Ia sedikit kewalahan menghadapi para bodyguard yang menyerangnya secara berbarengan.
Agra kembali bangkit, tanpa basa-basi lagi Ia mengeluarkan teknik high kick Muay Thai nya, dengan begitu Ia berhasil menumbangkan tiga bodyguard sekaligus.
Tidak membutuhkan waktu yang lama dua bodyguard ikut tumbang setelah Agra memberikan pukulan Jap pada mereka.
Setelah berhasil membuat lima bodyguard kepercayaan Wily tidak sadarkan diri, Agra membuka pintu itu dengan access card cadangan yang diberikan resepsionis. Sebuah ruang tamu yang menjadi pemandangan pertama begitu pintu terbuka.
Agra melangkah pasti menuju pintu sebuah ruangan yang dapat Ia pastikan kalau itu kamar. Belum sempat Ia membukanya, tapi pintu itu lebih dahulu terbuka.
"Wow, ini dia pangeran berkuda putihnya." Kata Wily dengan raut wajah mengejek.
__ADS_1
Agra gelap mata saat melihat Wily yang Shirtless. "BAJINGAN!!"
___________________