School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Kita sama-sama terluka


__ADS_3

Note: Sudut pandang Agra di Part 'Kimy butuh tempat bersandar'


___________________


Semua hidangan yang ada di meja makan tidak membuat Agra berselera, Bahkan Ia tidak terkejut melihat keakraban Sava dan Evelyn. Yang selalu bersemayam di otaknya adalah bagaimana cara menghilangkan Wily dari Bumi.


"Agra, nanti Evelyn berangkatnya sama kamu, ya?"


Agra langsung menatap Sava. "Tapi, Nda--"


"Kasian Evelyn,"


Bukannya Ia tidak ingin mengantar Evelyn, tapi Agra harus memastikan Kimy sampai ke sekolah dengan aman terlebih dahulu jika Ia tidak melakukan itu, Agra merasa menjadi Laki-laki yang tidak bertanggung jawab.


"Turutin aja nanti Gue yang ngawasin cewek Lo." Bisik Farel.


"Kalo Kimy sampe kenapa-napa, Lo orang yang paling pertama Gue cari."


Perintah Sava itu mutlak, Agra hanya mengangguk saja. Raut wajahnya sudah keruh membayangkan Farel yang mengawasi Kimy.


"Ayo, berangkat."


Evelyn mengangguk, Ia beranjak dari kursi. Mengikuti langkah lebar Agra.


_______________


Sampai di area parkiran sekolah. Evelyn melepas seat belt lalu membuka pintu, di susul Agra yang keluar dari kursi kemudi.


Tatapan Agra melembut melihat Gadis yang berada di pikirannya tengah berpelukan dengan adiknya.


"Kimy, Gue kangen sama Lo."


"Lo kemana aja?"


Pelukan mereka terlepas, "Gue izin, soalnya Rumah Gue yang di desa kebakaran."


"Ya ampun, Gue turut sedih ya. Eve."


"Makasih, Kim."


Mata mereka saling bertatapan, Agra dapat melihat lingkaran hitam dibawah mata bulat itu. Apa ini karena semalam?


Masih memikirkan penyebabnya, Agra dikejutkan saat Kimy menyodorkan Tote bag yang semula di pegang nya. Alisnya terangkat untuk menanyakan maksudnya.


"Aku buat nasi goreng buat kamu,"


Agra sudah senang, Tote bag yang berada di hadapannya langsung Ia ambil. Agra kembali diingatkan dengan ancaman semalam.


"Buat Lo."


"Lo gila ya?! Ini bikinan Kimy khusus buat Lo." Kesal Evelyn, apa kakaknya tidak tau kalau Kimy sudah membuatnya susah payah?

__ADS_1


"N-nggak papa, Eve. Aku duluan ya."


"Tapi--"


Kimy tidak mendengarkan ucapan Evelyn hingga selesai, Ia berlalu meninggalkan sepasang adik kakak itu.


Agra menahan diri untuk tidak mengejarnya, menekan egonya sendiri susah payah.


"Lo ada masalah apa sih sama Kimy?"


"Bukan urusan Lo," Agra menyambar Tote Bag Kimy dari Evelyn. Berjalan meninggalkan adiknya yang mulai misuh-misuh.


"Lah diambil!" Kesal Evelyn.


____________________


Bugh


Bugh


Bunyi bola basket menghantam dinding memekakkan telinga, Agra terus melemparnya ke dinding lalu ketika bola itu memantul Ia akan melemparnya lagi.


Axel dan Andreas yang baru datang selesai mengganti seragam dengan Jersey, tidak berani mendekat ke Agra.


Dari wajahnya saja mereka sudah tahu kalau tempramen Laki-laki itu sedang tidak baik. Lebih baik menjaga jarak terlebih dahulu jika tidak ingin menjadi mangsa empuknya.


Suara Pluit menjadi pertanda untuk kedua tim kalau permainan akan dimulai. Seorang wasit utama atau referee melempar bola basket ke atas untuk melihat siapa yang akan memulai permainan, Agra langsung menepisnya hingga bola itu terlempar ke daerah timnya.


Setelah berada lebih dekat dengan daerah lawan, Axel mengopernya ke Andreas.


Di saat teman-temannya sedang sibuk mengusahakan untuk menang, Agra justru terdiam di lapangan sembari memperhatikan seluruh penonton yang ada di tribun.


"Gra, tangkep!"


Meski agak terkejut, bola basket itu berhasil berada di tangannya. Agra melakukan lay up sembari berlari membuat rambut hitamnya tersapu angin.


Penonton yang berada di sana merasa terhipnotis dengan gerakan indah itu, sama halnya dengan seorang Gadis yang baru tiba di tribun. Kimy memandangi nya seraya menopang dagu.


Kimy tersenyum melihat Laki-laki dengan Jersey hitam bernomor punggung 4 itu, di lengan yang berkeringat itu terlilit penanda Kapten tim.


Ia baru sadar kalau tubuh Agra yang berbalut Jersey basah karena keringat menambah kadar ketampanannya, Kimy jadi mengingat kejadian di UKS.


Pipinya mendadak merah.


Mengingat permainan sudah berlangsung selama 4Ɨ10 menit, Pluit kembali di tiup tapi kali ini sebagai pertanda kalau permainan telah selesai, skor poin menunjukkan kemenangan untuk tim Agra.


Mereka menepi dari lapangan, Agra mengusap peluh yang menggangu wajahnya. Ia duduk sendiri di bangku yang tersedia untuk para pemain beristirahat.


Rasa dingin yang menyengat di pipinya membuat Agra tersentak, reflek Ia menoleh ke asalnya.


Wajah Kimy yang sangat dekat dengannya membuat Agra tertegun.

__ADS_1


"Minum?"


Hampir saja Agra tersedak saliva nya sendiri, kenapa Ia merasa kalau dirinya yang semakin menjauh justru membuat Kimy semakin mendekat.


"Gak perlu,"


Kimy mengerucutkan bibirnya sebal. "Tadi nasi gorengnya nggak kamu terima, sekarang minumnya harus di terima pokoknya."


Minuman itu Ia bawa ke tangan Agra secara paksa, tanpa Kimy mengetahuinya Agra tersenyum sangat tipis.


Kimy mendudukkan diri di sebelahnya. Agra dibuat heran karena Gadis itu justru duduk manis di sebelahnya.


"Kenapa masih disini?" Padahal kan Agra ingin menenggak habis minum yang diberikan Gadisnya ini.


Kimy tersenyum, "Mau nemenin Mr. Cool,"


Agra mengalihkan wajahnya tidak ingin Kimy tahu kalau bibirnya sedang melengkungkan senyum.


Ia jadi terpikirkan dengan dugaannya. Apa Kimy mulai mencintainya?


"Lo mau putus kan dari Gue? Ayo sekarang kita putus,"


Pertanyaan itu keluar dari bibirnya untuk memastikan dugaannya, jika saja Kimy menerimanya Agra akan menyudahi semua sandiwaranya, Ia lebih memilih nekat membunuh Wily lalu dijebloskan ke penjara daripada tersiksa seperti ini.


Genggaman Kimy pada roknya mengerat, bulir-bulir air mata yang sebelumnya Ia tahan keluar begitu saja.


"A-aku nggak mau."


Jantung Agra serasa berhenti saat Kimy mengatakannya dengan air mata yang mengalir dari mata bulatnya.


Kimy menarik tangan Agra yang lebih besar darinya itu, "Kamu capek kan? Kamu bisa istirahat. T-tapi jangan bilang begitu,"


Agra mengalikan pandangannya, agar tidak melihat air mata yang keluar dari mata bulat itu. Hatinya sakit melihatnya.


Ia berdiri membelakangi Kimy, lelehan air mata meluncur deras dari matanya. Wajahnya memerah karena berusaha kuat menekan laju air matanya agar tidak terlalu banyak yang keluar.


"Jangan begini." Ujarnya.


Kimy menatap punggung lebar itu dengan tatapan terluka, apa Agra begitu membencinya hingga melihatnya saja pun tidak ingin.


Sepertinya semuanya sudah benar-benar terlambat, jika saja Kimy mempunyai mesin waktu, Ia ingin kembali ke masa itu.


"Aku kangen Agra yang manja, capeknya jangan lama-lama ya.."


Kimy menghapus jejak air mata di pipinya, Ia berjalan menjauhi Agra menuju tribun.


Mata tajamnya terlihat sayu menatap tubuh mungil yang perlahan-lahan menjauhinya.


Mereka sama-sama terluka, sama-sama tidak ingin kehilangan satu sama lain, hanya saja takdir sudah tertulis.


_______________________

__ADS_1


__ADS_2