
____________________
"Makasih, El."
"Santai aja, Kim."
Elio sebenarnya ingin menanyakan penyebab Gadis itu sampai menangis di parkiran, tapi melihat situasinya Ia menahan diri untuk tidak bertanya.
"Katanya pangsit disini paling enak, kok di cuekin pangsitnya?"
Kimy tersenyum tipis, "Gue lagi nggak mood aja."
"Lo mending jangan sedih deh, Kim."
"Kenapa?"
"Muka Lo jelek, kaya bebek." Elio meniru wajah Kimy yang mencibikkan bibirnya layaknya seekor bebek.
"Nyebelin banget." Tak urung, tawanya lepas karena wajah aneh yang dibuat Elio.
"Nah gitu dong, Lo kan cantik kalo begitu."
Kimy tersenyum. "Kayanya Lo harus berhenti jadi KM, cocoknya jadi pelawak."
Kimy kembali tertawa begitu respon muram dari Elio ditunjukkannya, memamerkan deretan giginya.
Sangat cantik, sampai Elio lupa cara untuk berkedip.
Kericuhan di pintu masuk Kantin membuat mereka kompak melirik Empat Laki-laki yang berkuasa di sekolah itu.
"El, bentar ya."
Elio tersadar, "Iya. Kim,"
Dengan langkah jenjangnya, Kimy menyingkirkan semua anak perempuan yang berebut hanya untuk sekedar berbicara dengan salah satu Empat Laki-laki itu.
"Eh, ada Bu Bos." Sapa Axel,
"Hai Xel."
Melihat mata Kimy yang agak memerah juga wajah dingin dari temannya membuat Axel mengkode ketiga temannya untuk memberi mereka ruang.
"Kita cabut dulu ya, Gra." Ujar Andreas.
Mereka menjauhi keduanya beralasan mencari meja, sedangkan siswi-siswi yang semula berkerumun langsung tergiring dengan rayuan maut Axel, serta wink yang diberikan Leo.
Sadar kalau Agra akan menghindarinya lagi, Kimy dengan berani mencengkeram ujung seragamnya.
"Aku mau ngomong,"
Lagi dan lagi rasa sedih Kimy rasakan saat Agra sama sekali tidak menatapnya.
"Cepetan. Gue nggak ada waktu," Ucap Agra dingin.
Kimy gelagapan, "A-aku ikut makan sama kamu ya?"
"Gak!" Ketus nya, Agra berniat meninggalkan Kimy tapi secepat kilat Gadis itu mencegahnya. "Minggir."
Ucapan Agra yang kelewat ketus malah membuatnya secara tidak sadar menuruti perintahnya.
__ADS_1
Kimy menyingkir dari hadapan Agra, Ia diam untuk memprosesnya. Momen romantisnya dan Agra saat di Villa menyeruak di memorinya.
Kimy lekas mengejar Agra, tanpa repot basa-basi dulu Ia duduk di sebelah kanan Laki-laki itu.
"Ngapain Lo disini?"
Senyum manis terpancar di bibirnya, "Emang nggak boleh? Ini kan tempat umum, bebas dong ya."
Gurat pasrah dapat Kimy lihat dari wajah tampan Agra, tak lama Andreas dan Leo datang membawa nampan.
Jangan tanya Axel, karena jelas Laki-laki itu sudah menempeli adik kelas yang duduk sendirian di meja depan.
"Kimy mau makan disini?" Tanya Leo, pasalnya Ia hanya memesan empat porsi Mie Ayam.
"Gue udah makan, kok."
"Oh.. Ya udah. Gue kira mau makan disini juga, biar nanti Andreas yang mesen."
"Jangan repot-repot, Leo."
"Nih, Mie Lo." Andreas menyodorkan mangkuk berisi Mie dengan toping ayam itu ke hadapan Agra.
Baru saja Agra berniat membuka bungkus sumpit sekali pakai itu, niatannya di hentikan oleh tangan lain yang menyodorkan garpu lengkap dengan Mie yang sudah terlilit ke mulutnya.
"Nggak perlu, Gue risih."
"Oh, maaf." Kimy meletakkan garpu itu kembali ke mangkuknya.
Leo dan Andreas saling pandang, mereka tidak mengerti dengan pasangan di hadapannya itu. Posisinya seperti terbalik?
____________________
Mobil putih dengan merek yang hanya dimiliki orang-orang tertentu keluar dari area parkir. Kimy dengan sigap menghalanginya untuk lewat, walaupun si pengemudi terus membunyikan klakson.
Jendela mobil itu terbuka menampilkan wajah Laki-laki bersurai hitam legam.
"Minggir!"
"Aku mau minggir, tapi syaratnya kamu harus antar aku sampe rumah ya?" Kimy menampilkan wajah memelas nya, berharap Agra akan luluh.
"Gak!"
Kimy menghela nafas, "Ya udah berarti, aku sama kamu bakal di sekolah sampe besok." Dengan santainya Ia menduduki kap mobil Agra.
"Masuk,"
"Nah gitu dong, dari tadi kek."
Kimy tidak kunjung menyurutkan senyumnya meskipun Ia sudah berada dalam mobil. Senyumnya sama persis dengan Agra saat kegirangan untuk pertama kalinya disuapi Kimy.
Jadi seperti ini yang dirasakannya saat itu, efek kupu-kupu yang memenuhi perutnya.
"Nggak usah senyum."
Kimy mengerutkan keningnya tidak mengerti, ini maksudnya Ia dilarang tersenyum gitu? Ah, sudahlah daripada Kimy diturunkan di tengah jalan karena tidak menuruti keinginannya.
Ia mengalihkan pandangannya pada jendela, Kimy merindukan sosok hangat Agra. Mungkin kemarin-kemarin hanyalah mimpinya saja.
"Keluar,"
__ADS_1
Ucapan Agra membuat Kimy tersadar dari lamunannya, Gadis itu kembali menatap Agra.
"Hati-hati ya.. Kasih tau aku kalo kamu udah sampe rumah."
Agra hanya diam seolah tidak mendengar ucapannya, begitu Kimy keluar dari mobil. Laki-laki itu langsung menjalankan mesin mobilnya begitu saja.
"Kamu berubah drastis ya? Aku nggak terbiasa." Kimy masih diam di tempatnya memandangi Mobil putih yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
Ah, Ia tidak boleh begini. Jika Agra berjuang keras untuk membuatnya jatuh cinta. Kimy juga sama, Ia tidak akan lemah hanya karena diusir beberapa kali.
Kimy menjatuhkan dirinya di ranjang empuknya, Gadis itu lekas mengecek notifikasi di ponselnya, menunggu pesan yang diharapkannya.
Tapi tidak ada satupun pesan yang ditunggu-tunggu nya itu, Ia tidak mengindahkan ratusan chat yang muncul dari Laki-laki yang mendekatinya.
"Mungkin belum sampai," Katanya meyakinkan diri.
Tak terasa langit sore berganti dengan gelapnya malam. Kimy menghembuskan nafasnya gusar, pasti dia lupa. Ia berinisiatif menekan tombol hijau di kontak Agra.
Agrataa💤 Is Calling...
"Halo,"
"Hm?"
"Kamu udah sampe di rumah?"
"Ya,"
"Kamu lupa buat nelfon aku ya? Padahal aku udah nungguin tau."
Beberapa menit tidak terdengar suara apapun dari sebrang sana, "Kalo nggak ada yang penting, Gue matiin."
"Eh! Jangan dulu. Itu, anu, aduh," Kimy menggaruk pipinya kebingungan, karena terlalu panik Ia sampai lupa ingin bicara apa.
"Besok aku boleh ikut berangkat sama kamu?"
"Repot, harus putar balik."
"I-iya benar juga, nggak perlu deh kalo gitu."
"Udah? Gue matiin--"
"Kamu kenapa berubah?"
"Setiap orang bisa berubah kapan aja dia mau,"
"Kamu bener. Tapi, aku berharap bukan kamu yang berubah."
Tut..
Panggilan terputus, pandangannya pada layar ponsel memburam, dengan cepat Ia menghalau air mata yang akan jatuh.
"Gue nggak boleh jadi cewek cengeng. Mungkin aja besok, semuanya kembali seperti semula."
Kimy meletakkan ponselnya di nakas, lalu menarik selimutnya. Memejamkan mata, mulai menyelami alam mimpinya.
Meskipun ragu jika semuanya bisa kembali, Kimy mencoba untuk yakin. Jika saja tidak kembali Ia akan berusaha keras untuk mengembalikan semuanya pada tempatnya.
____________________
__ADS_1