School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Kimy butuh tempat bersandar


__ADS_3

____________________


"Kim, kamu buat apa? Harumnya sampe ke kamar Aunty loh."


"Nasi goreng."


Camelia mengintip di balik celah tubuh mungil Kimy. "Kok nggak ada wortelnya?"


Kimy tersenyum malu-malu, "Bukan buat aku, tapi buat Agra. Aunty."


"Ciee.. Kayaknya bentar lagi bakal ada yang baikan nih, di sogok nasi goreng sih."


Kimy tersenyum geli. "Aunty mau?"


Ekspresi nyinyir Camelia langsung berubah, "Emang masih ada?"


"Ada, Kimy buatnya banyak."


Camelia bersorak gembira. "Aunty mau siap-siap dulu deh, oh iya, kamu hari ini mau bareng Aunty lagi?"


Kimy sejenak terdiam, tapi kemudian Ia menatap Camelia dengan senyum cerah. "Agra jemput kok, Aunty."


"Syukur deh kalo gitu, kamu jadi nggak murung lagi kan."


"Hehehe... Iya, Aunty."


Andai saja ini tidak serumit seperti yang diketahui Aunty nya. Ia dan Agra berpacaran murni karena saling cinta, mereka sering berantem karena hal sepele lalu keesokan harinya mereka akan berbaikan lagi. Andai saja seperti itu.


Nasi gorengnya sudah jadi, kotak makan berisi nasi goreng itu Ia letakan di Tote Bag.


"Aunty, aku berangkat ya?"


"Loh, Agra nya belum dateng?"


"Agra jemput aku di gerbang komplek."


Walaupun agak bingung, Camelia mengangguk saja. "Hati-hati ya, sayang."


"Iya, Aunty."


Kimy terpaksa harus berbohong pada Camelia, Ia tidak ingin Camelia menjadi tidak suka dengan Agra.


Halte bus yang sepi menjadi tujuannya, Kimy menyelipkan airphone ke masing-masing telinganya. Lagu, Don't whatch me cry oleh Jorja Smith menemaninya menunggu Bus.


Bus berhenti di halte Bus. Beberapa orang turun, dan hanya Kimy saja yang naik.


Memilih kursi paling sudut, jauh dari penumpang lainnya. Kimy memandangi kaca jendela yang menampilkan matahari pagi yang cantik.


Bus berhenti begitu tiba di halte yang tidak jauh sekolah, Kimy turun dari bus. Ia berjalan sedikit cepat untuk mencapai gerbang sekolahnya.


Mobil putih yang melewatinya membuat Kimy tersenyum, Ia melepas airphone nya. Menghampiri Mobil putih yang sudah terparkir apik di parkiran mobil.


Pintu terbuka, Evelyn beranjak dari kursi yang biasanya Ia tempati.


"Kimy, Gue kangen sama Lo."

__ADS_1


Kimy terhenyak saat Evelyn memeluknya, Ia menepuk-nepuk punggungnya.


"Lo kemana aja?"


Pelukan mereka terlepas, "Gue izin, soalnya Rumah Gue yang di desa kebakaran."


"Ya ampun, Gue turut sedih ya. Eve."


"Makasih, Kim."


Melihat Agra yang mendekatinya dan Evelyn. Kimy menyodorkan Tote bag nya ke hadapan Laki-laki itu.


Agra mengangkat salah satu alisnya seakan menanyakan maksud Kimy. "Aku buat nasi goreng buat kamu,"


Kimy tersenyum karena Tote bag nya diterima, tapi tak lama, senyumannya surut saat Agra menyerahkannya ke Evelyn.


"Buat Lo."


"Lo gila ya?! Ini bikinan Kimy khusus buat Lo." Kesal Evelyn, apa kakaknya tidak tau kalau Kimy sudah membuatnya susah payah?


"N-nggak papa, Eve. Aku duluan ya."


"Tapi--"


Kimy tidak mendengarkan ucapan Evelyn hingga selesai, Ia berlalu meninggalkan sepasang adik kakak itu.


Padahal suasana koridor ramai dengan siswa-siswa yang berlalu-lalang, entah kenapa Kimy merasa sendiri.


Agra terlalu berarti untuknya, dan Ia sadar kalau Laki-laki itu juga punya kehidupannya sendiri.


Setelah tahu orang tuanya menjadi salah satu dari korban kecelakaan pesawat, Kimy tidak pernah lagi merasakan kehilangan.


____________________


Sonia menyinggung bahu Ivy membuat Gadis yang sedang asik menscroll novel online di ponselnya itu menatap teman sebangkunya dengan bingung.


Tanpa kata Sonia menyuruhnya untuk menatap Kimy. Pandangannya kosong, tubuhnya diam seperti patung.


"Elio hari ini nggak masuk, jadi nggak ada yang ngajak Kimy ngobrol. Kita ke sana yuk?"


Ivy mengangguk, mereka berdua menghampiri Kimy.


"Kim, Lo mau liat tanding basket nggak?"


Celetukan Ivy membuat Kimy langsung menatapnya. "Hari ini ada tanding basket? Kelas mana?"


Ivy heran, biasanya Kimy paling malas jika diajak nonton basket, tapi sekarang lihatlah rasa semangatnya yang berapi-api.


"Kelasnya Andreas." Sahut Sonia.


Kimy beranjak dari kursinya, Ia mengaitkan tangannya ke lengan sisi kiri dan sisi kanan kedua temannya. Menggiring mereka dengan tidak sabar nya.


"Oh iya, bentar Gue mau beli minum dulu."


Sonia dan Ivy hanya dapat menurut saja kala lengannya di tarik ke Kantin.

__ADS_1


Setelah mendapat minuman yang di inginkan nya, mereka bertiga mencari spot tempat duduk yang pas untuk menonton pertandingan.


Kimy tersenyum melihat Laki-laki dengan Jersey hitam bernomor punggung 4, di lengan yang berkeringat itu terlilit penanda Kapten tim.


Ia baru sadar kalau tubuh Agra yang berbalut Jersey basah karena keringat menambah kadar ketampanannya, Kimy jadi mengingat kejadian di UKS.


Pipinya mendadak merah.


Suara Pluit menghentikan permainan mereka, para pemain langsung menyingkir ke tempat yang sudah disediakan.


"Sebentar ya, Vy, Son." Ucap Kimy.


"Mau ngasih minum buat Ayang ya, Kim." Kimy nyengir kuda pertanda kalau tebakan Ivy seratus persen benar.


Tribun penonton berebut ingin turun, Kimy berupaya agar tidak terpeleset saat menuruni tangga tribun yang cukup curam.


Kimy melihat Agra yang duduk sendirian di bangku, mungkin Andreas dan Axel sudah berada di ruang ganti.


Rasa dingin yang menyengat di pipinya membuat Agra menoleh ke arahnya. "Minum?"


"Gak perlu,"


Kimy mengerucutkan bibirnya sebal. "Tadi nasi gorengnya nggak kamu terima, sekarang minumnya harus di terima pokoknya."


Minuman itu Ia bawa ke tangan Agra secara paksa, Kimy mendudukkan dirinya di sebelahnya.


"Kenapa masih disini?"


Kimy tersenyum, "Mau nemenin Mr. Cool,"


"Lo mau putus kan dari Gue? Ayo sekarang kita putus,"


Genggaman Kimy pada roknya mengerat, bulir-bulir air mata yang sebelumnya Ia tahan keluar begitu saja.


"A-aku nggak mau."


Kimy menarik tangan Agra yang lebih besar darinya itu, "Kamu capek kan? Kamu bisa istirahat. T-tapi jangan bilang begitu,"


Agra mengalikan pandangannya, agar tidak melihat wajah Kimy. Ia melepas genggaman tangan mereka lalu beranjak dari kursinya.


Laki-laki itu berdiri membelakangi Kimy yang masih menangis.


"Jangan begini." Ujarnya.


Kimy menatap punggung lebar itu dengan tatapan terluka, apa Agra begitu membencinya hingga melihatnya saja pun tidak ingin.


Sepertinya semuanya sudah benar-benar terlambat, jika saja Kimy mempunyai mesin waktu, Ia ingin kembali ke masa itu.


"Aku kangen Agra yang manja, capeknya jangan lama-lama ya.."


Kimy menghapus jejak air mata di pipinya, Ia berjalan menjauhi Agra menuju tribun.


"Vy, Son. Kita ke kelas ya?"


Walaupun Kimy sudah berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman, Sonia dan Ivy tahu kalau sahabatnya yang satu itu sedang benar-benar butuh sandaran.

__ADS_1


Ivy dan Sonia mengangguk, mereka dengan kompak merangkul Kimy keluar dari lapangan indoor.


___________________


__ADS_2