
_____
Tiga puluh menit lamanya dan yang di lakukan Agra hanya menatap screen handphonenya dengan wajah mendung.
"Ck! Kasian.. Ceritanya lagi ngambek, tapi nggak di bujuk sama ayang nya."
Agra memberi tatapan tajam pada Farel yang baru saja mencibirnya. Sedangkan Farel yang di berikan tatapan seperti itu hanya terkekeh geli, dia membuka kulkas lalu kembali dengan dua kaleng soda di genggamannya.
Laki-laki yang hanya mengenakan singlet itu melempar satu kaleng soda pada adiknya, beruntung respon Agra bagus, Ia dapat menangkapnya meski matanya tidak beralih dari screen handphonenya.
Farel menduduki Sofa yang tidak jauh dari posisi Agra duduk.
"Gue tebak pasti Kimy online, ya kan?" Agra menoleh karena tebakan Farel memang benar adanya.
"Mungkin sekarang dia lagi chatting-an sama Murid baru itu? Atau jangan-jangan sekarang mereka lagi telponan?"
Farel tertawa terbahak karena ucapannya berhasil membuat Agra kebakaran jenggot, Laki-laki itu bangkit dari Sofa tanpa di tebak Agra melempar bantal Sofa yang tepat mengenai wajah tampannya.
Ucapan Farel terus saja muncul di kepalanya hingga Agra tidak bisa tidur sama sekali, lingkaran hitam di bawah matanya menjadi bukti.
Semalam Agra terus saja membolak-balik posisi tidurnya, begitu berhasil terlelap Ia justru bermimpi buruk.
Di mimpinya Agra melihat Kimy tertawa bahagia bersama Elio di pelaminan, matanya langsung saja terbuka.
Agra memijat pangkal hidungnya, mencoba menghilangkan rasa pening nya.
Laki-laki itu memberhentikan mobilnya begitu sampai di gerbang bercat putih, tidak lama Kimy keluar dari gerbang itu lalu masuk ke mobilnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun Agra lekas menginjak pedal gas, mobil putih itu meleju dengan kecepatan rata-rata.
Kimy melirik ke arah Agra, Gadis itu yakin kalau Laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya sedang dalam Mood yang buruk, Kimy tidak mau mengambil resiko membuatnya bertambah marah.
Tapi apa memang benar kalau Agra sedang ngambek seperti yang dikatakan Ivy? Kimy juga tidak mungkin menanyakannya langsung pada orangnya.
Akhirnya keduanya saling diam, Kimy yang bingung harus memulai pembicaraan dari mana agar tidak menyinggung Agra karena laki-laki itu dalam Mood yang buruk, dan Agra yang masih dipenuhi prasangka buruk tentang Kimy dan Elio, belum lagi rasa pusing yang mendera.
Lampu merah, Agra kembali menghentikan mobilnya. Kimy yang sebelumnya menatap jalanan yang dilewati dari jendela beralih memperhatikan Agra yang sibuk memijat pangkal hidungnya.
"Agra."
"Hm?"
Kimy mendengus kesal karena Agra hanya berdeham untuk menjawab panggilannya bahkan Laki-laki itu tidak meliriknya sama sekali.
Saking kesalnya, Kimy memaksa wajah Agra untuk menghadapnya. Kedua ibu jari Kimy bergerak memutar di pelipis Agra.
__ADS_1
Pusing yang sebelumnya terasa menjengkelkan untuk perlahan-lahan mereda, rasa nyaman yang timbul membuat Agra memejamkan matanya.
Kimy menghentikannya begitu melihat lampu yang sudah berubah hijau, Agra yang sebenarnya tidak ikhlas kegiatan Kimy berhenti terpaksa harus kembali mengemudi, meski kini awan mendung yang sebelumnya menghiasinya mendadak muncul pelangi.
Mesin mobil berhenti saat tiba di parkiran SMA Pertiwi, Agra berniat membukakan pintu untuk Kimy berhenti karena Gadis itu menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa?"
Kimy tidak menjawab, Ia justru membuka ranselnya lalu mengeluarkan bekal makanan.
"Buat kamu." Kimy menyodorkan bekal makanan itu.
Mata Agra melebar, tapi tak urung Ia menerimanya walaupun masih terkejut.
"Aku buat sendiri, di makan ya!"
Kimy membuka pintu mobil Agra, Gadis itu berlari begitu melihat Ivy dan Sonia yang tidak jauh darinya, kuncir kudanya bergerak ke kanan-kiri mengikutinya.
Agra tersenyum menatap Kimy yang sekarang sedang mengobrol dengan kedua temannya lalu menunduk menatap kotak bekal di tangannya.
_____
"Gimana saran dari Gue, berhasil kan?"
"Nggak tau, Gue kasih bekalnya terus buru-buru kesini, ngeliat kalian."
Ivy mengerucutkan bibirnya, "Kok gitu. Jadi Lo nggak liat ekspresinya dulu?"
Kimy menggeleng dengan ekspresi polos. Ivy meremas pergelangan tangannya membayangkan kalau itu Kimy.
"Kayanya rencana kamu berhasil deh." Sambar Sonia tiba-tiba.
Keduanya menoleh kearah yang ditunjuk oleh jari telunjuk Sonia, di sana ada Agra yang baru saja keluar dari mobilnya, matanya tidak lepas menatap Kimy.
"Astaga! Gue nggak mimpi kan? Agra senyum terus sambil ngeliatin Lo, Kim." Ivy menepuk-nepuk pipinya.
Kimy yang sama terkejutnya, hanya diam bagai patung. Ia terkejut karena nasi goreng seafood yang menurutnya tidak ada yang spesial-spesial nya bisa berefek sebesar itu pada Agra.
Kimy tidak sadar kalau kini jarak mereka sudah tidak jauh lagi, Sonia dan Ivy menjatuhkan rahangnya karena tanpa berkata apa-apa Agra merangkul Kimy, membawa temannya itu pergi bersamanya.
"Eh?!" Kata Sonia dan Ivy kompak.
Begitu sadar Kimy sudah berada di depan ruang kelasnya. Merasakan banyak tatapan-tatapan iri tertuju padanya, Kimy melepas paksa rangkulan Agra.
Bukannya marah Agra justru terkekeh. "Istirahat jangan keluar dulu sebelum aku jemput." Peringat nya.
__ADS_1
Kimy hanya mengangguk karena tidak ingin memperpanjangnya.
Sebelum pergi ke kelasnya Laki-laki itu menyempatkan mencubit pipi chubby Kimy, tanpa merasa bersalah Agra berlalu menuju kelasnya.
Kimy berdecak sebal sembari memegangi pipinya yang menjadi korban.
_____
Andreas menyenggol bahu Leo yang menjadi teman sebangkunya itu, Leo meresponnya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Lo ngerasa ada yang aneh nggak sih?"
Leo menatap ke arah meja belakang lebih tepatnya bangku yang berisi Axel dan Agra. Agra terus memperhatikan bekal makanan berwarna hijau itu, seakan bekal itu sewaktu-waktu bisa diajak berbicara.
Axel yang berada di sampingnya asik berbalas pesan dengan adik-adik kelas.
Leo kembali menatap Andreas. "Maksud Lo Agra?" Tebaknya tak mungkin salah, pasalnya kerjaan Axel tiap pagi memang seperti itu.
Andreas mengangguk, "Apa dia kerasukan setan pojok ya?"
"Mungkin. Lo bisa ruqyah nggak?"
"Bisa sih, tapi nggak pernah berhasil."
Sontak Leo melempar pensil yang semula di pegang nya. "Itu namanya nggak bisa! Ganteng doang, tapi bego."
"Emang Lo bisa?" Todong nya.
"Ya, nggak lah. Makanya kita minta Pak Aryanto aja." Ujar Leo sok bijak.
Andreas menatap Leo sengit.
Pak Aryanto yang merupakan guru Pai mereka memang memiliki keahlian semacam itu. Dulu saat darma wisata di Hutan Pinus, hampir semua panitia mengalami kerasukan masal, dengan gagah berani Pak Aryanto mengatasinya.
"Ya udah nanti istirahat kita ke ruang guru." Kata Andreas.
"Sip! Eh, tapi jangan kasih tau Agra. Nanti setannya menyusun rencana."
Andreas mengangguk setuju. "Lo bener juga,"
Ucapan mereka berakhir begitu Pak Herry memasuki ruang kelas mereka, seisi kelas mendadak senyap.
"Sebelum belajar, bapak mau kalian taruh tas di atas meja. Siapa yang ketahuan bawa rokok, kosmetik, narkoba, atau senjata tajam. Bakalan bapak hukum!"
Iya, karena Pak Herry selalu melakukan razia dadakan di setiap jam pelajarannya. Hukumannya juga tidak main-main, pernah ada yang ketahuan membawa rokok, murid tersebut rambutnya di cukur habis kemudian di jemur di lapangan.
__ADS_1
_____