
_______________
Hari Minggu harusnya menjadi momentum pasangan-pasangan muda memadu kasih, seperti lunch berdua, atau piknik berdua, tapi Minggu Romantis itu dipatahkan oleh sepasang kekasih yang tengah berdebat panjang di dalam sebuah mobil seharga 547,1 Juta.
"Tapi, ini Party Girls. Agra."
"Aku nggak tuli, Kim."
"Ya, terus kenapa masih nggak ngerti-ngerti? Sesekali aku juga butuh quality time bareng temen-temen aku. Nggak melulu tentang kamu."
"Jadi kamu bosen liat aku terus gitu? Apa aku operasi plastik aja supaya kamu nggak bosen lagi?"
Kimy mengusap wajahnya gusar, kepalanya pening karena terus berdebat dengan Laki-laki itu. Padahal lima menit lagi Kimy bisa telat jika saja Agra belum juga menjalankan mobilnya.
"Ayo, cepetan. Kamu mau ikut kan?" Pasrah Kimy.
Layaknya baru mendapat lotre, Agra tersenyum lebar menampilkan deretan giginya. Laki-laki itu dengan sumringah menarik tuas mobilnya.
Mobil melesat di kecepatan tinggi, mengingat Kimy yang sudah bad mood karena sebentar lagi akan telat menghadiri acara bersama teman-temannya. Meskipun begitu Agra tetap berhati-hati, tidak ingin Gadisnya lecet sedikitpun.
Hanya butuh waktu Empat menit untuk mobil sport itu tiba di parkiran basement gedung Mall.
Agra melepas seat belt yang melilit tubuhnya lalu melirik Kimy yang hanya diam di kursinya. Sepertinya Gadis itu masih marah, karena kehadirannya yang seharusnya hanya sebagai pengantar ini malah memaksa ingin ikut.
"Kimy,"
Kimy bergeming, Gadis itu beranjak dari kursi penumpang berniat membuka pintu mobil. Melihat itu Agra mengaktifkan auto door lock yang secara otomatis akan mengunci semua pintu mobil.
Kimy menghela nafas berat, "Kamu maunya apa sih?"
Bahu tegap Agra melemah, mendengar respon Kimy yang terkesan jengah dengan sikapnya. "Maaf, aku kekanak-kanakan banget."
Seperti anak yang baru saja melakukan kesalahan besar pada Ibunya. Tangan kurus Kimy terulur mengacak-acak rambut hitam Laki-laki itu, melampiaskan rasa gemasnya.
"Ayo, nanti kalau telat, kamu yang traktir mereka." Kimy keluar dari mobil setelah sebelumnya Ia sempat menonaktifkan auto door lock.
Bibir Agra melengkung, tangannya menyentuh tempat dimana Kimy mengacak-acak rambutnya.
Acara Party Girls bersama sekumpulan Gadis, tidak hanya Sonia dan Ivy saja, tapi teman-temannya saat SMP juga akan ikut. Itulah yang sebenarnya di khawatirkan Kimy, Ia faham betul bagaimana para Gadis akan bersikap jika melihat sosok tampan seperti Agra.
Apa ini artinya Ia sedang merasa cemburu? Kimy mengerutkan keningnya bingung.
Lamunan Kimy buyar saat bahunya dirangkul Agra. Kimy melihat bagaimana lengan kekar itu singgah di bahunya, terlihat jelas perbedaan tinggi mereka.
Ia selalu terlihat pendek jika bersama Agra, padahal 160 itu cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Laki-laki itu saja yang ketinggian, 187 bukannya itu tidak wajar.
Kimy menengadahkan wajahnya agar dapat melihat lebih jelas wajah Agra. Dia terus tersenyum sedari tadi, memang rahangnya tidak pegal apa?
"Kamu kenapa?"
Agra menunduk, "Kenapa apanya?"
"Dari tadi senyum terus,"
Senyumnya justru makin lebar, Agra mengelus poni Kimy. "Cie.. Merhatiin banget."
Merasa di permainkan, Kimy mencubit perut Agra kencang.
Ya. Menurut Kimy itu sudah dengan kekuatan maksimal, tapi yang dirasakan perut berototnya hanya cubitan mesra.
Acara Party Girls diadakan di restoran Jepang, terlihat dari jauh sekumpulan Gadis yang duduk memutari meja.
__ADS_1
"Kok bawa buntut, Kim?" Ivy tersenyum mengejek nasib Kimy.
"Minta ikut, tapi Gue jamin dia nggak bakal ganggu acara kita."
"Santai aja kali, Kim." Sahut Salsa, salah satu teman SMP nya.
Melihat Kimy akan duduk, Agra dengan sigap menarik kursi untuknya. Sikap Gentleman Agra membuat para Gadis bersorak menggoda Kimy.
Kimy meringis merasa malu, tapi Ia tahu niat Agra sebenarnya berniat baik hanya saja situasinya yang tidak mendukung.
Setelah memastikan Kimy sudah duduk dengan nyaman, Agra juga duduk di kursi yang sengaja lebih didekatkan dengan Kimy.
"Loh! Lo itu anaknya Tante Sava ya?" Tiba-tiba saja Olivia berujar seakan sudah mengenal Agra.
Agra melirik Gadis yang mengenakan kacamata minus itu. "Oh, Lo Olivia. Anaknya Tante Salma."
Kimy menaikkan salah satu alisnya. Ada apa ini? Mereka terlihat akrab, seorang yang dingin seperti Agra bahkan bisa menyapa orang.
"Iya, wah nggak nyangka banget ternyata Lo pacaran sama Kimy."
Diam-diam Kimy melirik Olivia sinis, merasa di ejek secara tidak langsung.
Hanya Agra saja yang dapat menyadarinya, Ia yakin sekali kalau Kimy sedang cemburu dengannya. Bibirnya memunculkan smirk, sepertinya Ia akan memanfaatkan anak teman arisan Mamahnya itu.
"Lo kapan nyusulnya?"
Letta yang duduk di dekat Olivia menyenggol bahunya. "Iya bener tuh, Lo kapan dapet pacarnya. Apa masih gamon sama yang lama?"
Olivia mendengus jengkel. Semua yang berada di meja tertawa melihat kekesalan Gadis itu, kecuali Kimy.
Ia memperhatikan bagaimana Agra tertawa lepas. Tanpa disadari Kimy jemarinya yang berada di pahanya saling meremat.
Kimy sontak saja menatap Olivia tidak percaya, Gadis itu seakan sedang memberi tahu kepada mereka jika dia menyukai Agra.
"Padahal Lo cantik, cari lagi aja. Apa susahnya sih?"
"Bener tuh kata Ivy. Kenapa nggak cari lagi aja, Via." Heran Sasa.
Kimy melihat itu, melihat bagaimana Olivia dan Agra yang saling memandang.
"Gue tertariknya cuma sama dia." Ucap Olivia, masih dengan memandang Agra.
Sekuat mungkin Kimy menahan emosinya, Ia tidak boleh meledak dan merusak acara yang sudah ditunggu-tunggu nya ini.
Seorang pramuniaga mendekati meja mereka, memberikan menu.
"Kamu mau pesan apa, Kim?"
Kimy sebenarnya malas untuk membalas ucapan Agra, tapi karena Ia tidak ingin dicurigai sedang cemburu, Kimy mengatakan kata-kata keramat.
"Terserah."
Agra menahan diri untuk tidak tersenyum, Gadisnya sangat lucu jika sedang cemburu, pipinya akan menggembung, dan bibirnya mengerucut.
"Gue mau Pancake aja, minumnya Sakura Tea."
"Sukiyaki!"
"Aku mau Tamago aja!"
"Sushi dua porsi, minumnya--" Ucapan Agra terpotong.
__ADS_1
"Matcha pasti! Gue tau minuman favorit anaknya Tante Sava." Olivia menyela.
Iya benar, Kimy saja yang menjadi pacarnya selama dua tahun tidak mengetahui minuman favoritnya, Olivia lebih pantas menjadi pacar Agra ketimbang dirinya.
Sebenarnya Agra ingin menyudahinya, lama-lama Ia tidak tega melihat wajah murung Kimy terus-menerus, tapi Olivia makin menjengkelkan saja. Ia terus saja menyela Jika Agra ingin berterus-terang dengan Kimy.
Tidak lama, pesanan mereka tiba. Semua yang ada di meja menyantap makanan mereka diselingi dengan candaan ala gadis.
Agra melihat Kimy yang tidak menyentuh makanannya sama sekali, dia asik menscroll layar ponselnya.
Ia merampas ponselnya. "Makan dulu," Titahnya.
Kimy melirik sinis Agra, "Nga--"
"Tapi, ya. Lo kok bisa makin ganteng sih. Gra?"
Kali ini Kimy tidak lagi bisa menahan emosinya, Gadis itu berdiri secara kasar hingga pergerakannya membuat meja itu sedikit terguncang.
Semua orang yang berada di sana menatap Kimy kebingungan.
"Gue pulang ya,"
"Loh kok buru-buru Kim?"
"Aunty udah miscall berapa kali. Bye Guys!"
Kimy berjalan cepat keluar dari Restoran itu, Agra segera bangkit berniat menyusulnya.
"Lo disini aja, Gra." Kata Olivia.
Agra mengabaikan perkataan Olivia, Laki-laki itu berlari mengejar Kimy yang sudah jauh dari pandangannya.
Kacau. Seharusnya Agra tidak membuat Gadis itu marah dengan berpura-pura dekat dengan Olivia. Ia bahkan tahu Olivia karena Sava yang berniat menjodohkannya dengan Farel.
Agra menarik lembut pergelangan tangan Kimy, "Kamu mau kemana?"
"Pulang," Kimy menghempaskan tangannya.
"Mobilnya di sana,"
"Gue naik taksi." Kimy berjalan melewati Agra,
Agra tak ingin kalah, Ia menghalangi kemanapun Kimy ingin pergi.
Kimy yang frustasi, lantaran Agra terus menghalangi jalannya, jika Ia ke kanan dia akan bergeser ke kanan, jika Ia ke kiri dia akan bergeser ke kiri.
"Minggir! Lo mending balik lagi aja sana, anterin Olivia sekalian ke rumahnya."
Mendengar Kimy yang sudah merubah panggilannya, Agra mulai merasa panik. "Nggak. Kamu salah paham Kim, dengerin dulu aku ngomong."
"Mau salah paham kek atau apa, Gue nggak perduli." Kimy dengan sengaja menubruk bahu Agra agar Ia bisa melewatinya.
Agra menggertakkan giginya merasa geram dengan yang dilakukan Kimy. Tanpa aba-aba Laki-laki itu mengangkat tubuh mungil Kimy, layaknya memanggul sekarung beras.
"Aaaa!! Turunin nggak!" Kimy borontak, Ia memukul-mukul punggung Agra, merasa takut dengan posisinya yang terbalik.
Belum lagi sekumpulan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka, sadarkan Laki-laki gila ini kalau mereka masih berada di Mall?
_____________________
ā
__ADS_1