School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Ancaman


__ADS_3

Note: Ini sudut pandang Agra di Part, 'Dia Berubah'


__________________


Hari sudah gelap ketika Agra bangun dari tidurnya, mata tajamnya mengedar ke sekelilingnya mencari keberadaan Gadis yang selalu berada di pikirannya itu.


Merasa kamarnya hanya dihuni olehnya sendiri, Agra beranjak dari kasur. Melangkah keluar dari kamarnya.


"Kimy kemana?" Tanya Agra pada Farel yang duduk di Sofa.


"Udah pulang dari sore, Gue yang nganterin." Pamer Farel.


Majalah milik Sava melayang ke arah Farel, sasarannya sangat tepat. Majalah itu mengenai kening Farel hingga memunculkan ruam merah.


Farel hanya mampu meringis, ini salahnya sendiri sih memancing emosi beruang yang baru saja bangun dari hibernasi.


Merasa tidak mendapatkan untung, Agra kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


Mungkin saja Kimy sudah membuka blokirnya, Agra bisa kembali mengirim pesan beruntun padanya. Itulah yang ada di otaknya.


Drrt...


Baru saja dipikirkan, ponselnya sudah bergetar. Apa mungkin itu dari Kimy? Agra menggapainya dengan tidak sabaran.


+628756388912



Rekaman suara: 'Aku benar-benar sangat mencintai kamu, tapi sepertinya kenyataan bahwa kita saudara sepupu tidak bisa membuat kita bersama.'


+628756388912


Besok, bakal ada berita gempar di SMA Pertiwi. Murid berprestasi Kimberly Louly ternyata mencintai saudara sepupunya sendiri


Isi dari rekaman suara itu memang menyerupai suara Kimy, tapi ketika mendengarnya berkali-kali maka itu jelas bukan suara Kimy, ini editan.


Tapi meskipun begitu, jika foto dan rekaman suara ini sampai tersebar di sekolah, semua murid akan langsung men-judge Kimy sebagai perempuan yang tidak benar.


Emosinya tidak terbendung lagi membayangkan Gadisnya menderita, Agra menguhubungi nomer itu.


"Lo Wily kan?!"


"Wah, ternyata jago menebak ya?"


"Brengsek!! Hapus foto dan rekamannya!"


"Iya, tapi tidak gratis Man."


"Lo mau apa?"


"Jauhi Kimy, maka semuanya clear."


Prangg...


Ponselnya terlempar ke cermin, mengakibatkan cermin itu hancur, menerima hantaman kuat dari body ponsel.


Deru nafasnya tidak teratur, merasa tidak menemukan jalan keluar.


Agra tidak ingin jauh apalagi mengacuhkan Kimy, tapi Ia juga tidak ingin membiarkan keegoisannya membuat reputasi Gadis itu hancur.


Sekarang apa yang harus dilakukannya?

__ADS_1


_________________


Agra setia menatap pintu gerbang bercat putih itu dari balik kaca mobilnya, menunggu Kimy keluar dari sana.


Iya, Agra tahu kalau dirinya ini pengecut, tapi Ia tetap akan mengusahakan yang terbaik untuk Kimy.


Tidak lama gerbang terbuka, karena jarak mobil dan gerbang terbentang jauh. Kimy tidak menyadari kalau sedang di awasi oleh Laki-laki yang ditunggu-tunggu nya itu.


Agra tersenyum melihat wajah cantik Kimy yang terus menunduk murung, bolehkah Ia percaya diri kalau Gadis itu sedang menunggunya?


"Sabar ya, sayang. Aku akan mencari jalan keluarnya." Ucap Agra seakan Kimy dapat mendengarnya.


Ia tancap Gas mengikuti mobil Camelia dari belakang, Agra sengaja memberinya jarak lumayan jauh agar Camelia maupun Kimy tidak menyadarinya.


Saat Mobil Camelia berhenti di gerbang, dan memastikan Gadisnya sudah aman, Mobilnya berlalu melewatinya menuju parkiran.


Ia membuka pintu mobilnya, melenggang menuju koridor.


"Agra!"


Mata Agra melebar tidak percaya mendengar seruan keras Kimy, hampir saja Ia goyah dan ingin berlari menghampirinya.


Tapi Ia lagi-lagi diingatkan dengan reputasi Kimy yang akan hancur, kalau saja Agra memaksa untuk tetap bersama Gadis itu.


Langkah kaki yang mendekat membuatnya memejamkan mata, gelisah.


Agra berhenti, saat Kimy berdiri di hadapannya menghalangi jalannya untuk lewat. Gadis itu terengah-engah, Agra ingin sekali memeluknya.


"Kamu nggak denger? Aku tadi manggil kamu."


Agra menggigit bibirnya bagian dalamnya menahan diri untuk tidak memanggil Kimy dengan nada manja, yang biasa Ia lakukan.


Ia memasang ekspresi dingin untuk menutupi itu semua, "Lo ngalangin jalan,"


Kimy tampak sangat terkejut, Ia bahkan hampir terjatuh. Agra menarik nafas dalam-dalam, Ia melewati Kimy begitu saja.


Tetesan air mata keluar dari persembunyiannya,


"Agra! Kamu sudah lelah ya?"


Suara Kimy yang terendam dengan suara orang lalu lalang, entah kenapa dapat terdengar sangat jelas di telinganya.


"M-maaf.." Lirih Agra.


_______________________


Note: Ini sudut pandang Agra di Part "Aku nggak terbiasa,"


*******


"Eh ada, Bu Bos."


"Iya Xel."


Jika saja ini keadaan normal, pasti Ia akan langsung kegirangan karena Kimy rela menembus kerumunan Fans demi menemuinya.


Tapi Agra tidak berdaya, Ia harus terus memasang ekspresi palsunya.


"Kita cabut dulu ya, Gra." Ujar Andreas.


Setelah mereka pergi, membawa serta kerumunan yang menghalangi jalannya. Tanpa di duga Kimy memegang ujung seragamnya.

__ADS_1


Baru saja Ia sedang memproses rasa salah tingkahnya, suara lembut Kimy menyadarkannya.


"Aku mau ngomong,"


Harusnya yang keluar 'Kamu pasti kangen aku ya?'


Tapi yang keluar justru. "Cepetan. Gue nggak ada waktu,"


Terlihat Gadisnya merasa tersudut, Ia dengan gelagapan mengatakan, "A-aku ikut makan sama kamu ya?"


Kimy tidak sadar kalau ucapannya barusan menghadirkan efek kupu-kupu di perutnya.


Tangannya terangkat ingin mengelus poni manis itu, tapi dengan cepat tangan satunya menahan.


"Gak!" Sebenarnya kata itu untuk tangannya, melihat Kimy yang memejamkan mata karena Ia yang tidak sengaja membentak membuat Agra memilih menjauh darinya.


Baru saja selangkah ingin pergi, Kimy menahannya kembali. Kakinya gemetar karena menerima sentuhan kecil yang Ia harapkan sedari pagi.


"Minggir!"


Rasanya Agra ingin menghantamkan kepalanya ke dinding, kenapa harus bentakan lagi yang keluar?


Saat Ia mendudukkan dirinya, Agra terkejut karena Kimy langsung duduk di sebelahnya. Apa Gadis itu tidak sakit hati?


"Ngapain Lo disini?"


Senyum manis terpancar di bibirnya, "Emang nggak boleh? Ini kan tempat umum, bebas dong ya."


Lagi tangannya bereaksi ingin menyentuh pipi chubby Kimy, tapi tangan lain kembali menahannya.


Tak lama Leo dan Andreas tiba membawa nampan berisi empat mangkuk mie ayam.


"Kimy mau makan disini?" Tanya Leo.


"Gue udah makan, kok."


"Oh.. Ya udah. Gue kira mau makan disini juga, biar nanti Andreas yang mesen."


"Jangan repot-repot, Leo."


Tanpa keduanya sadari kalau percakapan mereka diawasi mata Agra yang setajam silet,


Ingin rasanya menggebrak meja lalu berteriak. JANGAN LAMA-LAMA MENATAPNYA, KIM.


"Nih, Mie Lo." Andreas menyodorkan mangkuk berisi Mie dengan toping ayam itu ke hadapannya.


Agra berniat membuka bungkus sumpit sekali pakai yang berada tak jauh dari mangkuk, tapi niatannya di hentikan oleh tangan lain yang menyodorkan garpu lengkap dengan Mie yang sudah terlilit ke mulutnya.


Bibir Agra sudah berkedut ingin tersenyum lebar, Ia menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa reflek saat dihadapkan dengan Gadisnya.


Ia tahu ini tidak akan berjalan lancar, ekor matanya menemukan mata-mata Wily mengawasi mereka.


"Nggak perlu, Gue risih."


Gurat sedih yang muncul di wajah Kimy membuat Agra ingin membunuh dirinya sendiri.


"Oh, maaf." Kimy meletakkan garpu itu kembali ke mangkuknya.


'Lo bakal mati, Wily!' Agra mengumpat di dalam hati.


Agra bersumpah akan segera mencari cara untuk menghancurkan Laki-laki gila itu,

__ADS_1


Hancur-sehancur nya sama seperti dirinya yang hancur melihat satu tetes air mata yang keluar dari sudut mata Kimy.


________________________


__ADS_2