
_______________
Sepasang manik hijau emerald dan sepasang manik coklat pekat itu saling melemparkan tatapan tajam, bak berada di ring tinju.
Bugh!
Pukulan menyamping yang diberikan Agra, menghantam tepat bagian sisi kiri wajah Eropa-Asia itu. Wily meregangkan otot wajahnya yang terasa kaku setelah menerima pukulan yang lumayan keras.
"Now it's my turn." Suara bariton Wily menggelegar mengisi kesunyian Apartemen.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tanpa ampun Wily melemparkan pukulan, Ia dengan sengaja terus menghantam bagian wajah Agra yang sebelumnya terluka saat menghadapi Bodyguard nya.
Agra terkapar di lantai Apartemen, bibirnya mengeluarkan ringisan atas rasa sakit yang diterimanya di pangkal hidung.
Kaki Wily mengincar perut Agra berniat menginjaknya, beruntung Agra sempat berguling ke kanan hingga membuat kaki Wily hanya dapat menjejak lantai.
Dengan memegangi hidungnya Agra kembali bangkit lalu memasang kuda-kuda nya. Kaki berbalut sepatu itu terangkat 45 derajat mengenai perut Wily.
Sehingga membuat Wily mundur beberapa langkah,
"Arghh!"
Melihat celah yang ada Agra melayangkan satu pukulan di perutnya hingga Laki-laki itu tersungkur di bawah kakinya.
Tanpa mau perduli, Agra berlalu dengan wajah datarnya memasuki kamar yang memiliki konsep minimalis itu.
Manik coklat pekatnya berkeliaran mencari keberadaan Gadisnya, kakinya lemas layaknya jelly begitu menemukan Kimy yang terbaring tak sadarkan diri di kasur King Size.
Seperti baru saja menemukan oasis di tengah gurun pasir, Agra berjalan terburu mendekati Kimy.
"Sayang.." Bibirnya bergumam lirih.
Mata yang selalu menatap tajam lawannya kini nampak sayu memandang tubuh mungil yang terbalut selimut tebal hingga bahu.
Agra menekuk lututnya hingga berjongkok di hadapan ranjang, jemari besarnya menggenggam jemari mungil Kimy,
Membawa jemari mungil itu pada kehangatan dan kenyamanan yang dilimpahkan padanya.
Sesekali Agra akan mengecupnya untuk menghilangkan suhu dingin dari jemari itu.
"Eugh.."
Lenguhan yang berasal dari bibir penuh itu membuat perhatian Agra teralihkan,
Laki-laki itu senang bukan main mengetahui Gadisnya sudah sadar dari pingsannya, tapi begitu ingin memeluknya Kimy justru memundurkan tubuhnya sampai berada di sudut kasur.
"Nggak! Gue nggak mau! Pergi!!" Kimy menggeleng ribut, kedua jemarinya meremat helai-helai surai coklat terangnya.
Agra jatuh terduduk, tidak kuasa melihat trauma yang dialami Kimy. Hatinya hancur melihat Kimy yang seperti itu, dunianya seakan runtuh.
Bodoh! Harusnya dirinya tidak terlambat.
__ADS_1
"Sayang.. Ini aku Agra." Ucap Agra selembut mungkin kakinya perlahan-lahan mendekati posisi Kimy.
"Agra?"
"Iya Sayang, ini aku."
Kimy menerjang memeluk tubuh Agra, tangan yang membelit pinggangnya jelas sekali sedang gemetar.
"A-aku takut banget, d-dia hampir l-lecehin aku." Katanya gelagapan.
Agra membenamkan wajah Kimy ke dadanya berharap Gadisnya merasa aman, juga agar Kimy tidak dapat melihat ekspresi dingin layaknya predator yang ingin menghabisi mangsanya.
Kimy mendongak untuk menatap wajah Agra, sekarang Ia dapat melihat wajah yang penuh luka memar dan jejak darah yang mengering. Tangan mungil itu terulur menyentuh rahangnya.
Laki-laki ini selalu berada di sisinya meski dirinya terus mendorongnya menjauh. Saat seperti ini Kimy merasa seperti seonggok sampah jika bersanding dengan Agra.
"Aku nggak pantas dapat Laki-laki yang sempurna seperti kamu, aku cuma bisa bikin kamu kesusahan. Agra sebaiknya kita sudahi saja,"
Urat-urat mulai menonjol di sekitaran lengannya, menandakan kalau emosi si pemilik tidak stabil.
"Kalau kamu inginnya begitu, bunuh aku saja." Agra memaksa Kimy untuk memegang belati yang entah di dapatnya dari mana,
Dia mengarahkan ujung tajam itu tepat di dadanya, Kimy berusaha menahannya sekuat tenaga karena Agra yang terus berusaha mendorong itu.
"Agra! Kamu gila?!"
"Iya aku gila, Kim! Kamu duniaku, kalau duniaku saja ingin pergi dariku. Lebih baik aku mati."
Pandangan Kimy memburam, derasnya air mata yang keluar dari matanya menandakan kalau Ia sangat membenci situasi ini.
"Kamu Gadis yang sangat spesial, dan diciptakan untukku. Jangan lari dariku. Aku mohon.."
Bagian pundaknya yang basah membuat Kimy yakin kalau Laki-laki itu sedang menangis.
Kimy mengusap punggung yang terasa luas bagi tangannya itu, dia merasa menjadi Gadis paling beruntung karena dicintai sehebat ini. Andai saja Ia bisa membalas perasaannya.
Jendela Apartemen yang menampilkan rintikan hujan menjadi saksi bisu sepasang kekasih yang mencoba untuk menerima keadaan.
___________________
"Malam ini kita nginep di Villa keluargaku saja, kalau kamu tidak ingin pulang ke Rumah."
Kimy mengangguk, Ia menatap bangunan mewah yang menjulang di hadapannya.
Karena tidak ingin membuat Camelia khawatir dengan kondisinya yang berantakan, Kimy memutuskan berbohong dengan mengatakan sedang menginap di Rumah Sonia.
Lengan kekar Agra melingkari pinggang sempit Kimy, menuntunnya memasuki Villanya yang berada di sekitaran wilayah puncak.
Biasanya Villa ini digunakan saat seluruh keluarga Rata ingin menghabiskan waktu bersama.
Begitu pintu terbuka, para pegawai yang ditugaskan menjaga Villa ini menyambutnya. Mereka berjejer rapi dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Kepala pelayan menghampiri Agra dan Kimy, "Selamat datang Tuan muda, Nona muda."
Kimy tersenyum kikuk membalas sapaan ramah Laki-laki berjas coklat gelap itu,
"Kami sudah menyiapkan semuanya seperti yang diperintahkan Tuan."
__ADS_1
"Terima Kasih Pak Abraham."
Villa ini letaknya benar-benar strategis, dari jendelanya saja kita bisa melihat hamparan kebun teh yang asri.
"Kimy,"
"Sayang."
Agra mengerucutkan bibirnya merasa panggilannya diacuhkan. Secepat kilat Ia mengecup sudut bibirnya untuk mendapat seluruh perhatian Gadis itu.
Cup!
Mata bulat Kimy melebar, apa barusan itu yang dinamakan first kiss? Ia mengulum bibir bawahnya menahan diri untuk tidak mengeluarkan jeritan histeris.
Karena terlalu asik memandangi pemandangan di luar jendela Ia sampai tidak sadar kalau Agra memanggilnya berkali-kali.
Agra terkekeh kecil melihat rona merah melingkupi pipi chubby itu. Tanpa memberi jeda Laki-laki itu kembali melingkari pinggang Kimy membawanya menaiki tangga.
Begitu sampai di lantai dua, koridor dengan banyak pintu yang Kimy lihat. Agra menghentikan langkahnya di hadapan pintu bercat putih, dari warnanya yang berbeda dari pintu-pintu lain, sepertinya ini merupakan kamar utamanya.
Ketika pintu itu terbuka, aroma maskulin langsung memasuki indra penciuman Kimy.
Kamar dengan desain mewah juga elegan, lampu kristal yang tergantung memancarkan pencahayaan yang sedikit redup memberi kesan romantis.
Seperti honey moon saja,
Perlahan wajahnya memerah, Astaga Ia memikirkan apa!
Ingin membalikkan tubuhnya Ia dikejutkan dengan dada bidang yang Kimy sudah hafal siapa pemiliknya.
"Kok kamu masih disini?"
Agra melangkah menuju Sofa yang tak jauh dari posisi mereka, "Aku tidur di sini,"
Kimy menghela nafas pasrah, percuma dilarang juga Agra itu Laki-laki paling keras kepala.
Melihat kembali semua luka Agra membuat Kimy berniat kembali turun ke lantai satu.
Tapi baru satu langkah, rasa hangat melingkupi pergelangan tangannya.
"Mau kemana?"
"Ambil obat sama es batu buat kompres memar kamu."
Padahal tadi Agra mengira Kimy ingin kabur darinya karena tidak ingin sekamar dengannya. Kedua sudut bibirnya melengkung sempurna, mengabaikan denyut nyeri yang dirasakannya saat melakukan itu.
Agra menuntut telapak tangan Kimy agar mendarat di puncak kepalanya.
"Dielus Sayang.."
Tengkuknya merinding, jujur saja Kimy belum terbiasa mendengar panggilan itu.
Tapi tak urung Ia menuruti perintah Agra, rambut hitamnya Kimy usap dengan lembut.
Agra tampak sumringah layaknya anak kecil yang mendapat permen kesukaannya.
_______________________
__ADS_1