
Note: Sudut pandang Agra di Part "Aku nggak terbiasa."
_______________
Langit senja sebagai pengiring murid-murid yang berbondong-bondong keluar dari gerbang sekolah, baik yang menggunakan alat transportasi atau yang menaiki bus.
Mobil putih dengan merek yang hanya dimiliki orang-orang tertentu keluar dari area parkir. Agra mengemudikan Mobil dengan pikiran yang bercabang kemana-mana.
Rencana sudah Ia susun untuk menyergap Wily, tapi waktunya belum pas.
Tiba-tiba saja Kimy melompat ke hadapan mobilnya, secara reflek Agra menekan klakson.
Agra meraba letak jantungnya berada, Baru saja Ia akan mencelakakan nya. Tangannya bergerak secara otomatis ingin membuka pintu, sedetik kemudian Ia mencegahnya.
Mengatur nafasnya terlebih dahulu, Agra memunculkan kepalanya supaya dapat melihat Kimy lebih jelas.
"Minggir!"
Seruannya tidak membuat Gadis itu bergerak barang sedikitpun, Agra menahan senyum. Melihat pipi Kimy yang menggembung.
"Aku mau minggir, tapi syaratnya kamu harus antar aku sampe rumah ya?" Kimy menampilkan wajah memelas nya, berharap Agra akan luluh.
"Gak!"
Dengan santainya, Gadisnya itu menduduki kap mobilnya. "Ya udah berarti, aku sama kamu bakal disini sampe pagi."
Agra menggelengkan kepalanya saat pikiran kotor menelusup, mencemari otak sucinya.
"Masuk,"
"Nah gitu dong, dari tadi kek."
Senyuman manis yang selalu ditampilkan Kimy sembari memandangi dirinya yang sedang mengemudi membuat Agra gagal fokus.
Jangan sampai Agra bertindak di luar batas, karena senyuman Kimy itu.
"Nggak usah senyum."
'Senyum kamu terlalu manis,' Lanjutnya di dalam hati.
Kimy langsung membuang muka, Agra yang tahu kalau Gadis itu terluka dengan ucapannya pun menghembuskan nafasnya, sedih.
Agra ingin sekali membujuknya agar tidak marah lagi, seperti saat Gadis itu cemburu dengan Olivia.
Bahunya terkulai lemas, apa ini merupakan azab dari Tuhan karena Ia sering berlaku kurang ajar pada Farel? Atau ini karena Ia kurang amal.
Agra sudah tidak sanggup lagi,
Saat sudah tiba di Gerbang Rumah Kimy, Agra menoleh ke arah Kimy yang masih bergeming.
"Keluar,"
Kimy kembali menatap Agra, tatapan yang sangat diharapkannya.
"Hati-hati ya.. Kasih tau aku kalo kamu udah sampe rumah."
Lidahnya kelu untuk mengatakan sesuatu, hatinya terasa berbunga-bunga dan hancur secara bersamaan.
Agra menarik tuas mobilnya, melesat dengan kecepatan tinggi. Celana Abu-abunya basah karena terus ditetesi air mata dari si empu.
_________________
Sampai di pekarangan Rumah Ia dikejutkan dengan hadirnya Evelyn, Adiknya itu membawa koper serta dua ransel, berdiri di gerbang entah sudah berapa lama.
"Lo ngapain ke sini?" Agra sedikit berbisik, Ia takut Sava akan menyadari kehadiran Evelyn.
"G-gue udah nggak punya tempat tujuan, satu-satunya keluarga yang Gue punya cuma Lo. Hiks.."
Melihat Evelyn yang menangis, Agra membawanya ke pelukannya.
__ADS_1
"Sstt... Lo yang kuat ya."
"Agra? Ini siapa?!"
Suara Sava membuat mereka terkejut, Agra dengan cepat menyebunyikan Evelyn di belakangnya.
"T-temen aku, Nda."
Evelyn yang berada di belakang punggung Agra, berusaha lepas dari cengkraman Kakaknya, Ia dengan takut-takut muncul di balik tubuh Agra.
"Cantik loh, cocok kalo sama Farel."
"Bukan. Aku bukan temen Agra, a-aku anak Papa Faras. "
Agra menatap tajam Evelyn, kenapa dia mengatakan hal yang akan membuatnya langsung terusir?
Sava terlihat akan limbung, beruntungnya dia berpegangan pada penyangga Gerbang.
"Kamu.. Anak Mas Faras,"
___________________
Rasa bingung mencekiknya, Ia ingin sekali menghubungi Gadis itu. Agra terus saja berjalan kesana-kemari sembari memandangi layar ponsel.
Terkejut dengan ponselnya tiba-tiba saja berbunyi membuat Agra hampir tersungkur, buru-buru Ia menjawabnya.
"Halo,"
Seulas senyum terbit di bibirnya, "Hm?"
"Kamu udah sampe di rumah?"
Bibir Agra hampir sobek jika saja Laki-laki itu tak menghentikan senyumnya yang sepanjang masa.
"Ya,"
"Kamu lupa buat nelfon aku ya? Padahal aku udah nungguin tau."
Sesaat kemudian Ia sadar kalau telfon merek masih tersambung. Agra kembali menatap layar ponselnya, tapi sebuah pesan masuk menghentikan ucapannya yang baru sampai di tenggorokan.
+628756388912
Aku menyadap telfon kalian, Man.
Agra mengetatkan rahangnya.
"Kalo nggak ada yang penting, Gue matiin."
"Eh! Jangan dulu. Itu, anu, aduh,"
"Besok aku boleh ikut berangkat sama kamu?"
Agra menghembuskan nafasnya, menetralkan rasa khawatirnya karena obrolan mereka yang sedang di sadap.
"Repot, harus putar balik."
"I-iya benar juga, nggak perlu deh kalo gitu."
"Udah? Gue matiin--"
"Kamu kenapa berubah?"
"Setiap orang bisa berubah kapan aja dia mau,"
"Kamu bener. Tapi, aku berharap bukan kamu yang berubah."
Tut..
Tubuh Agra meluruh ke lantai, Ia sangat tersiksa dengan ini semua.
__ADS_1
Agra beranjak dari lantai, secara kasar Ia membuka ruangan yang ditempatkan paling sudut, ruangan ini adalah tempat Farel dan Agra didik keras untuk mempelajari berbagai macam gerakan gulat.
"Lo kenapa sih? Kaya anak ayam yang kehilangan induk aja."
"Tolong! Pukul Gue,"
"Hah?"
Agra terduduk di hadapan Farel. "Pukul Gue, Rel. Gue mohon,"
Perilaku Impulsif yang kembali ditunjukkannya membuat Farel berdecak, tapi jika tidak dituruti maka adiknya itu akan semakin menggila.
Farel maupun Sava sudah sering bolak-balik membawa Agra ke Psikiater, tapi semua itu tidak ada gunanya.
Dan kemunculan Kimy mampu menjadi obat untuknya, mungkin sekarang ini dia sedang bertengkar hebat dengan Gadis itu.
"Cepetan pukul Gue!"
Bugh!
Bugh!
Agra tersungkur ke lantai, tapi Ia kembali bangkit.
"Lagi!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Lagi, Gue bilang!"
Bugh!
Agra kembali tersungkur, kali ini kepalanya membentur meja.
"L-lagi!"
Agra merasakan ada yang menghambat di tenggorokannya,
Uhuk!
Darah keluar dari sela-sela jari yang digunakan untuk menutupi mulutnya yang ter batuk hebat.
"Inget, Gra. Besok Lo sekolah, nanti bekasnya nggak ilang Lo bisa di hukum sama, Nda."
Agra terkekeh, mengusap kasar sisa darah yang masih keluar dari mulutnya. "Kan Lo nonjok nya perut, bego."
"Lagian Lo kok nggak sembuh-sembuh sih, Gra."
"Ini akibatnya karena udah bikin obatnya sedih."
Farel menghela nafas, "Ck! bucin-bucin."
Matanya yang tidak sengaja mendapati ring tinju, membangkitkan hasrat membunuhnya. Agra melilit sarung tinju ke jemarinya.
"Ayo, Rel."
Habislah Farel. Yang galau siapa, yang babak belur siapa. Mau tak mau Farel menaiki ring tinju, bersiap menghadapi kenyataan kalau wajah tampannya sebentar lagi akan ternodai ruam ungu.
"Lo yang nyerang dulu,"
Farel melayangkan tinjunya ke perut Agra, tapi Laki-laki itu berhasil menghalaunya. Giliran Agra yang melayangkan pukulan telak ke rahang Farel.
Bugh!
Farel meringis merasakan rahangnya seperti akan patah.
__ADS_1
"Lo bisa pura-pura aja nggak? Di kira muka Gue yang tamvan ini samsak apa?" Sebalnya.
_____________________