
___________
Mobil mulai meninggalkan wilayah parkiran sekolah, suasana di dalam mobil senyap. Agra menoleh ke arah Kimy merasa Gadis itu terus saja diam sejak tadi.
"Mikirin apa?"
Kimy menghelat nafas berat, "Kamu bisa nggak jangan bersikap ketus sama Elio, dia juga temenku sama kaya Sonia dan Ivy. Aku ngerasa nggak enak tau," Terangnya.
Decih-an meremehkan terdengar. Agra mencengkeram setir mobilnya erat, menekan emosinya yang bisa meledak kapan saja.
"Sepertinya aku terlalu memberi kamu kelonggaran ya? Berani sekali membela Laki-laki itu didepan aku." Agra memandang lurus jalanan.
"Aku nggak membelanya. Kamu saja yang terlalu berlebihan, Gra."
"Berlebihan?"
Ckitt...
Mobil berhenti mendadak hingga membuat ban nya berdecit. Kimy terkejut, hampir saja keningnya terhantuk dasbor mobil.
Baru saja ingin memprotes, Agra menyudutkannya, kedua lengannya menahan Kimy agar tidak bisa lari kemana-mana. Berada di antara kursi mobil dan wajah Agra yang tidak berjarak membuat Kimy menahan nafas.
"Menurut kamu aku berlebihan?"
"...."
Kimy tidak bisa berkata apapun karena berada di jarak sependek ini yang dipikirkannya hanya bagaimana menghentikan degup jantungnya yang bertalu-talu seakan ingin meledak.
Tangan Agra yang sebelumnya di gunakan untuk mengungkungnya kini digunakan juga untuk mengapit dagunya, memaksa Kimy agar menatap tepat pada matanya.
"Jawab aku! Aku berlebihan?"
Kimy memejamkan matanya akibat bentakan Agra, "Aku.."
Mata Kimy yang berkaca-kaca membuat amarah Agra meluap, Laki-laki itu beralih mendekap tubuh Kimy yang mulai bergetar.
Agra menenggelamkan wajah Kimy ke dada bidangnya membuat Kimy dapat mendengar jelas detak jantung Agra yang sama sepertinya, berdegup sangat kencang.
Ia menghirup rakus aroma yang dikeluarkan dari rambut Kimy, "Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, kalau kamu nggak bisa bales perasaan aku, seenggaknya jangan pernah berpikiran buat pergi."
Deg!
Mata Kimy melebar, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan seakan sedang merasakan keajaiban dunia.
"Maaf, aku terlalu egois."
Kimy tidak menjawab Ia masih merasa shock, bagaimana bisa Laki-laki seperti Pangeran Sekolah bisa jatuh cinta padanya?
Agra melepas pelukannya, Kimy masih mengerjap kan matanya seakan sedang memproses semuanya.
"Lucunya.." Agra bergumam, tapi karena jarak mereka yang hampir tidak ada, Kimy bisa mendengarnya jelas.
Pipi yang awalnya seputih susu itu memunculkan rona merah yang merambat ke telinganya.
Cup!
Tanpa di duga Agra mengecup pipi yang merah itu, Kimy hampir menjatuhkan rahangnya terlalu terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu.
__ADS_1
Agra kembali ke kursi kemudinya, Ia mulai kembali menjalankan mesinnya dengan kecepatan rata-rata.
Kimy mengalihkan pandangannya. Menatap jalanan lewat jendela mobilnya, melarikan diri dari rasa salah tingkahnya yang membubung tinggi.
Gadis itu tidak menyadari kalau puncak telinga Agra juga ikutan memerah, Laki-laki itu blushing karena aksinya sendiri.
Suasana mobil yang awalnya tegang kini berubah canggung, Kimy tidak berani bergerak sedikit pun dari posisinya.
Khawatirnya jika Ia bergerak, Agra akan menatapnya. Padahal sia-sia meski dia melakukan hal itu sekalipun karena Agra selalu mencuri-curi pandang untuk melihatnya.
___________________________
Penggaris, bolpoin, juga setumpuk buku menandakan kalau Ia bertekad untuk belajar, Kimy tidak ingin terlihat bodoh lagi di pelajaran Matematika.
Mengepalkan tangannya, penuh semangat yang berapi-api. Kimy mulai membuka buku catatan yang penuh rumus-rumus rumit.
Iya harusnya begitu isinya, tapi yang Kimy lihat justru wajah Agra yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Reflek Kimy menutup kembali bukunya. Astaga apa tadi?!
Ini hanya ilusinya saja.
Kimy memukul kepalanya, berharap apa yang dilakukannya bisa menyingkirkan bayang-bayang Agra.
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel yang letaknya tidak jauh dari bukunya bergetar, menandakan ada panggilan yang masuk.
Agrataa💤
"Kenapa dia ada dimana-mana sih?" Kimy menggerutu sendiri.
"Kenapa lama ngangkatnya?"
Lama dari mananya sih? Kimy hanya telat mengangkatnya sekitar 5 detik untuk menggerutu terlebih dahulu,
"Maaf. Tadi lagi belajar,"
"Kok jawabnya lama? Nyari alesan dulu ya?"
Ah sudahlah.. Laki-laki selalu benar. Pasrah Kimy.
"Kenapa nelpon Gra?"
"Emang nggak boleh? Oh pasti aku ganggu kamu chatting-an sama Murid baru itu ya? Iya kan."
Kimy menjauhkan ponselnya dari telinga. Menatap tajam layar ponselnya, membayangkan kalau Ia sedang ber-sitatap langsung dengan orangnya.
"Bukan gitu kok, tadi kan aku udah bilang kalo aku lagi belajar." Kata Kimy mencoba mengeluarkan suara selembut mungkin.
Agra sedang berada di mode senggol bacok.
"Awas kalo bohong."
"Nggak."
"Keluar deh, aku didepan."
__ADS_1
"Eh?!"
Sontak saja Kimy bangkit dari duduknya, mendekati balkon kamarnya. Benar saja, sebuah mobil mewah dengan kap terbuka terparkir apik di halaman rumahnya.
Sebenarnya mau apa Laki-laki itu?
Baru saja Kimy ingin menanyakan langsung pada orang nya, Laki-laki itu sudah mematikan panggilannya.
Kimy mendengus. Berjalan keluar dari kamarnya, menuruni tangga menuju lantai bawah di anak tangga ke lima Ia berpapasan dengan Camelia.
"Baru aja, Aunty mau panggil kamu."
Camelia memindai tubuhnya dari atas sampai bawah. "Ngedate pakai piyama? Ada-ada aja anak muda jaman sekarang."
Camelia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir lalu kembali melanjutkan jalannya untuk pergi ke kamarnya.
"Ngedate?" Gumam Kimy kebingungan dengan maksud Camelia.
Langkah nya berhenti begitu menemukan punggung kokoh Agra yang duduk di Sofa membelakangi nya. Mendengar langkah kaki, Agra beranjak dari Sofa berbalik untuk menatapnya.
Laki-laki itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan terlipat hingga siku, rambutnya di sisir rapih tidak seperti biasanya yang dibiarkan acak-acakan.
Kenapa dia bisa setampan itu?
"Kimy,"
Kimy tersadar begitu Agra memanggil namanya, dirinya sedikit malu karena ketahuan terpesona dengannya.
Gadis yang mengenakan piyama motif wortel dan Bandana yang terdapat bebek bulat itu berdeham mengusir rasa malu yang menghinggapi.
Agra sebenarnya merasa gemas dengan penampilan Kimy saat ini, ingin sekali rasanya mengurungnya di kamar nya tidak rela membiarkan Laki-laki lain melihatnya.
Kimy duduk di Sofa putih yang berhadapan langsung dengannya, Agra juga sudah duduk.
Kimy diam membiarkan Agra berbicara niatnya, Ia tidak ingin kena semprot lagi.
"Ayo, aku mau bawa kamu ke sesuatu tempat." Agra mengaitkan jemari besarnya dengan jemari mungil Kimy.
"Tapi piyama--"
"Kita nggak ke tempat umum kok,"
Kimy yang ingin protes di hentikan dengan ancaman Agra yang Ia juga hafal tiap katanya.
"Diem ya, kalo masih protes aku cium."
Selalu itu ancamannya, sepertinya Agra paling tau kalau Kimy paling lemah kalau di ancam seperti itu.
Agra membukakan pintu untuknya, entah kenapa bibir Kimy melengkung di perlakukan seperti itu oleh Agra.
Apa dia akan terus memperlakukannya seperti itu ya? Seakan baru sadar Kimy menggelengkan kepalanya, Ia selalu saja oleng dari niat awalnya yang akan memutuskan hubungan mereka.
Kimy menoleh merasa ada sesuatu yang membuat tubuhnya lebih hangat, Agra menyelimutinya dengan selimut yang entah darimana di dapatnya.
"Kap mobilnya terbuka, jadi agak dingin. " Katanya sembari tersenyum.
Hatinya menghangat merasa kalau Laki-laki itu selalu memperhatikannya.
__ADS_1
Sekarang, apa mampu Kimy mengatakan keinginannya untuk putus? Sedangkan benih-benih cinta untuk perlahan muncul.
__________________