
______________________
"Kamu cepetan jatuh cinta ya.. Aku capek jatuh cinta sendiri."
Lirihan Agra sebelum menyentuh alam mimpinya terus saja menghantuinya.
Apa Laki-laki itu akan pergi jika Kimy tidak kunjung memberinya kepastian? Jujur saja, Kimy sadar kalau dirinya ini egois.
Tidak membiarkan Agra pergi, tapi juga tidak bisa memberi Agra sebuah kepastian. Kimy tidak tahu sebenarnya apa yang dirasakannya selama ini, apa ini cinta? Atau hanya sekedar rasa nyaman?
Sepuluh menit berlalu yang dilakukan Kimy hanya memandangi langit-langit kamarnya, pikirannya berkecamuk.
Tok
Tok
"Kimy, keluar sayang. Ada Tante Miranda sama Om Jeremy."
Matanya melebar, Kimy beranjak dari ranjangnya membukakan pintu untuk Camelia.
"T-tente Miranda?! Aunty serius."
"Masa Aunty bohongin kamu, ayo cepet turun."
Bulir keringat sebesar butir jagung muncul di pelipisnya menerima respon dari Camelia.
"Aunty, aku di kamar aja ya? Kepalaku mendadak pusing."
"Kamu pusing, Kimy?" Suara bariton dan hentakan sepatu, semakin memperkeruh air muka Kimy.
"Eh, Wily. Aunty boleh minta tolong antar Kimy ke Rumah Sakit nggak? Aunty khawatir dari kemarin dia bilangnya pusing terus."
Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dirasakan Kimy sekarang ini. Tidak tahu kalau kebohongannya sewaktu-waktu menjadi bumerang untuknya.
"Boleh Aunty, Wily juga sangat khawatir." Mata Emerald tidak lepas memandangi wajah Kimy memucat.
"Aunty, a-aku mau ngerjain tugas aja."
"Jangan banyak alesan kamu, bilang aja takut di suntik."
Wily terkekeh kecil, "Jangan takut Kim, suntik itu nggak sakit."
'Bukan jarum suntik yang bikin Gue takut, tapi Lo!'
Ingin sekali Kimy berteriak seperti itu, tapi Ia tidak ingin Camelia dan Miranda apalagi Jeremy mengetahui sikap buruk sepupunya yang selalu dibangga-banggakan jika kumpul keluarga ini.
"Tuh, bener kata Wily." Kata Camelia.
Tangan dingin Kimy di genggam Wily, "Wily pamit ya, Aunty."
"Iya, Wil. Hati-hati ya bawa mobilnya. Jangan lupa pamit sama Tante Miranda, Kim!"
"Iya, Aunty." Balas Wily, di sisinya Kimy terus saja bungkam.
Miranda adalah anak tertua di keluarga Biantara, lalu Emma Ibunya, dan yang bungsu Camelia. Miranda menikah dengan Pria asal New Zealand, Jeremy Scott Gideon.
__ADS_1
Mereka dikaruniai dua orang anak, Isabella Kayla Gideon dan Wiliam Gideon. Isabella sudah hidup bahagia di Amerika bersama suami dan anaknya, sedangkan Wily masih betah dengan statusnya yang jomblo, bukannya mencari wanita untuk dikencani dia justru terus mengusiknya.
"Duh, Ponakan Tante yang satu ini makin cantik aja ya?" Miranda mendekatinya, melakukan cipika-cipiki yang sudah lumrah dilakukannya setiap bertemu Kimy.
"Tante juga, Kimy nggak percaya kalo Tante udah lima puluh tahun, masih keliatan kaya umur dua puluh tahun."
"Wah yang bener kamu," Miranda meraba bagian garis wajahnya, benar-benar tersanjung dengan ucapan manis Kimy.
"Mommy, aku izin bawa Kimy ke Rumah Sakit sebentar." Sela Wily, Ia hafal kalau Miranda dan Kimy sudah bertemu sampai subuh pun obrolan mereka belum berhenti.
"Are you sick?"
"Nggak kok, Om. Aku juga kayaknya nggak perlu ke Rumah Sakit, mending nemenin Tante Miranda." Wajah Kimy berbinar cerah, mengharapkan dukungan dari Miranda.
Wily menunduk untuk menatap mata bulat Kimy dengan serius,"Kamu sakit, Kim." Tekannya. "Kata Aunty dia sering pusing." Ia kembali menatap Jeremy.
"Oh, ya sudah. Kau harus cepat membawanya. Khawatirnya serius." Perkataan Jeremy disetujui Miranda.
Bahu Kimy terkulai lemas, harapannya sirna secepat itu. Wily kembali menarik tangannya.
"Masuk," Wily melindungi kepala Kimy agar tidak terhantuk atas pintu mobil.
Selama perjalanan, Kimy selalu memandangi kaca jendela, yang terpenting tidak ber-sitatap dengan Wily.
"Kamu masih takut?"
"S-sedikit."
"Maaf,"
Laki-laki dengan pakaian formal itu menghela nafas panjang, "Aku benar-benar sangat mencintai kamu, tapi sepertinya kenyataan bahwa kamu adik sepupuku tidak bisa membuat kita bersama."
Kimy berkedip bingung, meski shock terlanjur menguasainya Ia tetap berusaha santai.
"Aku yakin, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku."
Wily menepikan mobilnya, "Apa aku boleh memelukmu? Untuk terakhir kalinya."
"Terakhir?"
"Aku akan kembali ke Aussie untuk mengembangkan cabang perusahaan yang ada di sana."
Kimy sebenarnya masih takut dengan Laki-laki ini, tapi melihat bagaimana ketulusan Wily saat mengatakannya, Kimy meyakinkan dirinya sendiri kalau Wily tidak akan berbuat macam-macam.
Wily memeluknya erat seolah mereka baru saja bertemu, Kimy membalas pelukannya itu.
Tanpa disadarinya diam-diam Wily menyunggingkan senyum, senang karena rencananya berjalan mulus.
_____________________
Sudah jam enam lebih tiga puluh, tapi Kimy masih saja duduk diam di Sofa dengan seragam sekolahnya. Sepatunya terus bergerak kesana-kemari, kebiasaannya ketika dilanda cemas yang berlebihan.
"Agra belum dateng juga, Kim?"
Kimy menggeleng lemas, "Aku berangkat sama Aunty aja deh, siapa tau Agra masih sakit."
__ADS_1
"Kamu nggak coba telfon dia dulu?"
"Udah kok, cuman nggak diangkat. Pesan aku yang semalam aja nggak di dibaca apalagi dibales."
"Ya udah, kamu berangkat sama Aunty aja."
Ada apa dengannya? Kenapa sejak semalam Kimy tidak bisa menghubunginya. Apa Laki-laki itu sudah lelah?
"Udah sampai, Kim."
Kimy tersentak kaget, "A-ah, Iya Aunty."
Akibat terlalu memikirkan Agra, Ia sampai tidak sadar kalau mobil Camelia sudah tiba di gerbang SMA Pertiwi.
Camelia melambaikan tangannya ke arah Kimy yang sudah memasuki gerbang sekolah,
Memastikan mobil Camelia sudah hilang dari pandangannya, Kimy berlari menuju area parkiran.
Punggung yang dikenalnya berjalan tepat di depannya,
"Agra!"
Senyum Kimy hilang saat Agra tidak menghampirinya, berhenti saja tidak. Apa mungkin dia tidak mendengar suaranya?
Kimy berlari untuk menyusul Agra. Sampai di hadapannya, nafasnya sudah terengah.
"Kamu nggak denger? Aku tadi manggil kamu."
Kimy terhenyak melihat raut wajah Agra yang datar. Ekspresinya sama persis dengan dua tahun lalu.
"Lo ngalangin jalan,"
Bagai tersambar petir di siang bolong, suara dingin Agra yang jelas sedang mengusirnya membuatnya tercengang. Kakinya mundur dari posisinya.
Agra melewatinya begitu saja, tidak melirik sama sekali layaknya tidak saling mengenal.
Saat Kimy tersadar, Agra sudah sangat jauh darinya.
"Agra! Kamu sudah lelah ya?"
Setetes air mata jatuh dari mata bulat Kimy, hatinya sakit karena Agra sama sekali tidak menghentikan langkahnya.
Sekarang dirinya yakin kalau Ia sudah mencintai Laki-laki itu.
"Aku sudah telat ya?" Gumamnya kelu.
Bahunya bergetar hebat, Kimy menangis di tengah-tengah keramaian siswa-siswi yang berniat memasuki koridor.
Tangannya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Kimy berjongkok untuk menutupi matanya yang terus mengeluarkan air mata.
Sapu tangan terulur di hadapannya, membuat Kimy menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang memperdulikan.
"Gue nggak suka liat air mata,"
"E-elio?"
__ADS_1
_________________