School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
EKSTRA PART


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian...


"Agra!!"


"Iya sayang?"


Wanita berusia 22 tahun yang tampak masih berusia 18 tahun itu berkacak pinggang memindai dari atas sampai bawah penampilan Suaminya. Laki-laki itu mengenakan kemeja putih lengkap dengan jas hitamnya tapi jika melihat ke bawah, dia masih mengenakan boxer di atas lutut.


"Kok belum pakai celana?"


Agra menggaruk tengkuknya, "Tadi kan kamu panggil aku, jadi belum sempat aku pakai celananya."


"Jadi kamu nyalahin aku?" Mata bulat itu berkaca-kaca, jemarinya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Papa kamu udah nggak sayang lagi sama Mama."


"Eh bukan begitu, Baby." Agra gelagapan melihat air mata Kimy yang hampir tumpah.


Ia membawa Kimy ke dalam pelukannya, tangan besarnya membelai lembut rambut coklat itu. Maklum saja, semenjak usia kandungannya berjalan 3 bulan, hormonnya bertambah semakin labil.


Kimy bisa menjadi sangat pemarah, lalu tiba-tiba akan sedih seperti ini. Sebetulnya Agra khawatir dengan perilaku Kimy yang seperti ini, bisa saja Kimy terus memikirkan sesuatu hingga berefek pada kandungannya.


Kadang Kimy akan menjadi sangat manja padanya, selalu ingin diperhatikan dengannya dan tentu saja, Agra dengan senang hati menuruti semua maunya.


"Cup, cup, cup.. Aku budak cinta kamu, Kim. Jadi nggak mungkin aku nggak sayang lagi sama kamu. Udah ya, kasian Baby kita."


Kimy menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah tampan Agra, Laki-laki berumur 24 tahun itu terlihat semakin menggoda dengan jambang yang muncul di sekitar rahang tegasnya. 


"Kenapa nggak dicukur?" Bukannya mendengarkan Suaminya yang sedang berbicara, Ia justru sibuk meraba rahang Agra.


"Nanti aja, aku males. Kamu sibuk nyiapin kamar Baby sih, jadi nggak sempet cukur aku."


"Hehehe.. Habisnya aku excited banget,"


Agra mencolek hidung mungil Kimy, gemas dengan Istrinya kecilnya ini. "Kamu boleh sering-sering ke kamar Baby, tapi ngeliatnya jangan sambil berdiri ya? Aku nggak mau kamu kecapean." 


"Iya sayang.."


Pipi Kimy yang awalnya sudah chubby, semakin berisi semenjak mengandung itu bergerak mengikuti pemiliknya yang mengangguk ribut. Agra mendudukkan wajahnya berniat menggigit pipinya itu, tapi buru-buru di tahan tangan mungil Kimy.


"Ini udah jam tujuh loh, kamu bisa telat meeting nya nanti."


"Aku kan Bosnya, bebas dong."


"Sombongnya, Mr Adirata ini." Bibir Agra sudah mengerucut karena Kimy mengapit pipinya, wajah Agra persis ikan buntal karena ulahnya itu.


Tangan besar itu terangkat untuk melingkupi tangan yang berada di pipinya. "Siapa dulu Istrinya."


Agra mengecup kening Kimy penuh cinta. "Aku berangkat ya?"


"Iya, eh! Tapi kamu belum pakai celana, Agra.." Agra yang akan berjalan keluar urung karena ucapan Kimy.


Agra melirik ke bawah. "Oh iya, aku lupa."


"Udah tua sih." Cibir Kimy pelan.


"Kenapa Baby?" Tanya Agra sebab gumaman Kimy yang terdengar kurang jelas di telinganya.


Kimy tersenyum manis. "Nggak kok."


Setelah selesai dengan perkara celananya, Agra berjalan tergesa mendekati Kimy, menyodorkan dasi hitam ke Istri kecilnya itu. "Pasangin dong, Baby."


Kimy berjinjit kecil untuk mencapai leher Agra, tapi percuma saja Kimy hanya berhasil mencapai bahunya saja. Biasanya Laki-laki itu akan menunduk, tapi entah sengaja atau apa, dia tidak kunjung berinisiatif menundukkan wajahnya.


"Nggak nyampe, Agra."


Kimy memekik kecil karena Agra tiba-tiba saja menggendongnya ala koala. "Nyampe nggak, Hm?"


Rona merah muncul di wajah cantiknya, "Nyampe, tapi aku malu kalo begini."


"Malu kenapa?" Agra mendekatkan bibirnya ke telinganya Kimy. "Kita berdua doang kok."


Kimy reflek menjauhkan wajahnya dari Agra, merasa geli dengan hembusan nafas panas yang menyapu telinganya. "Malu sama Baby,"


"Baby nya aja seneng kok. Apalagi kalo Papanya sering-sering jenguk."


Kimy melilitkan dasinya ke leher Agra, menghiraukan godaan nakal Suaminya yang tidak ada habisnya itu.

__ADS_1


"Selesai." Kimy menatap puas hasil karyanya. "Udah, turunin aku."


Agra tidak mengindahkan ucapan Kimy, Ia memiringkan wajahnya untuk ******* sekilas bibir penuh Kimy. Bibir basah itu mengkilap begitu Agra menyudahi ciumannya.


Kimy menatap protes Agra, "Kamu bisa telat, Sayang.."


Agra tersenyum lebar. "Iya, ini aku mau berangkat. Aku pasti semangat kerjanya. Udah isi baterai dulu soalnya."


"Ada-ada aja, kamu." Kimy takjub dengan tingkah Agra yang jauh dari kata angkuh seperti yang digosipkan di siaran TV.


Agra sukses meneruskan perusahaan Adirata Company, jangkauannya menjadi lebih luas setelah perusahaan itu di kelola Agra. Para investor juga berbondong-bondong menginvestasikan uang mereka ke Adirata Company.


Itulah kenapa Kimy seringkali mendapati Agra di TV, baik itu berita atau di acara gosip. Ekspresi angkuhnya ketika tersorot awak media berbeda jauh dengan ekspresi tengil yang sering Ia tunjukkan di depannya.


"Aku berangkat ya."


"Iya, hati-hati."


"Kamu jangan kelupaan lagi buat makan, Baby. Terus vitaminnya diminum, jangan--"


"Iya, iya, Agra. Aku tau kok." Kimy mendorong pelan punggung Agra agar segera memasuki mobilnya.


Kalau tidak dihentikan, Laki-laki itu akan terus mengomel ini itu, Camelia saja kalah bawelnya dengan Agra.


Bicara tentang Camelia, sekarang ini wanita yang sudah dianggapnya sebagai Ibu sendiri itu, sudah menikah setelah Kimy bertunangan dengan Agra 6 tahun lalu, dengan Pria asal Kanada yang usianya dua tahun lebih muda dari Camelia.


Jangan tanyakan bagaimana ceritanya Camelia bisa bertemu dengan Om Delio, karena sampai detik ini juga Kimy masih belum tau rahasia Camelia itu.


Kaca jendela mobil itu diturunkan hingga menampakkan wajah tampan Agra, Laki-laki itu tersenyum konyol sembari melemparkan ciuman jarak jauh.


Kimy membalasnya dengan menangkap kiss bye itu lalu meletakkannya ke tempat jantungnya berdetak.


Setelah mobil Agra keluar dari dari pekarangan rumah mereka, Kimy kembali masuk ke dalam rumahnya.


Ia kembali menyiapkan rencana yang sebelumnya disusunnya, ini adalah hari ulang tahun Agra dan mirisnya Laki-laki itu tidak mengingatnya sama sekali, tapi yang mengherankan dia bisa selalu ingat dengan tanggal datang bulannya.


Kimy akan membuat sendiri kue ulang tahunnya, lalu membuat beberapa desert yang menjadi favorit Agra. Ia juga berencana sekalian membuatkan makan siang untuknya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10:30 ketika Kimy menyelesaikan semuanya, Ia melangkahkan kaki ke kamarnya untuk mengganti dress rumahannya.


Kimy mengenakan dress overall hitam yang dipadukan kaos putih lengan pendek, kaki jenjang yang berbalut flat shoes itu melangkah keluar dari rumah minimalisnya.


"Kamu tidak memberitahu Agra kan kalau aku akan pergi ke kantor?"


"Tidak, Nona. Sesuai perintah Nona."


"Sudah aku bilang, jangan panggil aku seperti itu. Kita ini seumuran, Dinar."


"Tapi anda atasan saya, Nona."


Kimy tidak lagi bisa menjawab, matanya melirik tangan Dinar yang hampir serupa dengan tangan Agra. Berurat, dan besar.


Daripada seorang Gadis, Dinar lebih mirip om-om. Jangan menghujat Kimy, salahkan saja penampilan Dinar yang menyerupai aktor tampan Korea. Kadang Kimy ragu kalau Bodyguard yang tengah menyetir ini adalah seorang Gadis.


Agra sengaja memilihkan seorang bodyguard perempuan karena Laki-laki itu sering sekali cemburu dengan orang-orang yang dikirim untuk menjaganya.


Memang aneh.


Mobil berhenti tepat di parkiran kantor, Kimy segera membuka pintu membawa serta Tote bag berisi suprise nya itu.


"Kau bisa kembali, aku tau hari ini kau ada kelas siang. Cepatlah, nanti kau bisa telat."


"Terima kasih, Nona Kim."


Kimy melenggang memasuki perusahaan raksasa itu.


"Selamat datang, Mrs Adirata."


Kimy mengangguk seraya tersenyum membalas sapaan resepsionis kantor, para karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengannya menundukkan tubuhnya untuk menunjukkan rasa hormat mereka.


Melihat Istri dari teman sekaligus bosnya, Axel berdiri dari posisi duduknya. "Selamat datang, Nona Kimy. Ingin menemui Pak Bos?"


Kimy terkekeh, "Iya nih. Apa dia ada di ruangannya?"


"Ada. Mungkin dia sedang tidur, kelelahan setelah berkicau panjang lebar di depan semua karyawan. Aku heran kenapa dia bisa seperti anjing galak saat di kantor, tapi saat bersamamu dia akan menjadi kucing kurang belain."

__ADS_1


Kimy kembali tertawa geli, jika bertemu Axel, perutnya akan terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Itu karena cinta, makanya serius lah pada salah satu pacarmu lalu nikahi dia. Kau akan mengerti Agra."


"Aku masih sangat muda untuk hal itu, Kim." Katanya dengan percaya diri.


"Muda katamu? Kau ini Pria berumur 25 tahun tau. Sudahlah, aku pergi dulu." Kimy memasuki ruangan yang bertuliskan 'CEO Adirata Company' pada pintunya.


Aroma maskulin bercampur mint langsung menyapa hidungnya, Kimy bisa melihat Agra yang duduk di kursi kebesarannya dengan mata terpejam.


Dasi dan jasnya sudah hilang entah kemana, yang tersisa hanya kemeja putih yang lengannya terlipat hingga siku.


Kimy meletakkan Tote bag nya di meja, Ia mendekat ke posisi Agra. Tangannya terulur memijat pelipis Laki-laki itu.


Agra tersentak, otomatis matanya terbuka. Manik pekatnya melembut begitu mendapati Istri kecilnya yang melakukan itu.


"Kamu kan lagi hamil. Istirahat di rumah aja, Baby. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."


"Ya, tapi hari ini aku nggak bisa kalo di rumah terus. Ini hari spesial tau,"


"Spesial?" Kimy mengangguk.


Agra berusaha keras mengingat-ingat ini hari apa, jangan sampai Kimy marah padanya lalu mendiaminya berhari-hari.


Kimy membuka Tote bag nya, hingga menampilkan kue yang dibuatnya sendiri. "Kamu mah lama,"


"Happy birthday my husband. "


"Loh aku ulang tahun?" Agra melebarkan matanya tidak percaya.


"Iya.. Kok kamu bisa lupa sih, ayo, make a wish dulu terus tiup lilinnya."


Walaupun masih terkejut, Agra menuruti ucapan Istrinya itu.


'Aku ingin terus bahagia bersama keluarga kecilku'


Fyuhh


"Makasih ya, Baby." Agra mengecup sekilas bibir Kimy.


Kimy mengangguk dengan penuh semangat, "Sekarang, cobain deh kue nya. Aku buat sendiri loh."


"Buat sendiri?" Mata tajam itu seketika mengkilat.


Kimy termangu, Ia sampai keceplosan. "Hehehe.. A-anu itu.. Ini permintaan Baby nya."


"Really? Bukan cuma mau cari alasan doang?" Matanya yang semakin mengintimidasi membuat Kimy gelisah.


Kimy menggeleng ribut. "Aku serius!" Ia kembali menyodorkan sepotong kue ke hadapan Agra. "Lagian aku kan nggak kenapa-napa juga. Udah ya marahnya, mending kamu cobain."


Agra menghembuskan nafasnya, "Aku tuh bukan marah, tapi khawatir sama kamu dan Baby kita. Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu dan Baby, aku bakal terus nyalahin diri aku sendiri."


Raut sedih yang bercampur khawatir membuat Kimy merasa bersalah padanya, seharusnya Ia tidak memunculkan ekspresi itu di hari spesial ini.


Kimy menelusup supaya dapat duduk di pangkuan Suaminya, Agra sempat terkejut tapi Ia kembali menormalkan ekspresinya.


"Maaf ya, sayang.." Kimy mengalungkan lengannya sendiri ke leher Agra.


"Jangan di ulangi lagi."


"Aku janji ini yang terakhir."


"Good Girl." Agra memberikan kecupan manis di hidung mancung Kimy.


"Sekarang, kamu harus cobain ini." Kimy menyuapkan potongan kecil kue itu ke bibir Agra.


"Enak nggak?"


"Manis, rasanya sama seperti ini." Ibu jari Agra mengusap lembut bibir Kimy penuh damba.


"Dih, gombal."


"Aku serius, Baby.."


Tawa mengalun merdu memenuhi ruangan itu, sudahlah jangan ganggu lagi pasangan yang sama-sama bucin itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2