School Prince, Budak Cintaku

School Prince, Budak Cintaku
Jantung mereka tidak aman


__ADS_3

_____________


Pemandangan dari yang dilihatnya sejauh ini hanya pepohonan rimbun, Kimy sedikit merasa takut. Bukan takut kalau Agra akan berbuat yang macam-macam, tapi Ia takut bagaimana jika di wilayah ini ada segerombolan begal?


"Kita mau kemana sih? Kok nggak nyampe-nyampe." Keluh Kimy.


Agra tersenyum melihat Kimy yang terus saja merasa was-was dengan sekitarnya. "Sebentar lagi nyampe,"


Terus saja bicara seperti itu, Kimy sampai bosan mendengarnya.


Pemandangan pohon-pohon mendadak hilang, Kimy juga tidak bisa menemukan pemukiman di sekitar sini.


"Liat ke atas deh,"


Kimy memandang Agra heran tapi tak urung Ia mengikuti perkataannya untuk melihat ke atas. Langit luas yang gelap bertabur bintang menjadi pemandangan pertama yang Kimy lihat.


Bintang-bintang itu memiliki cahayanya masing-masing untuk menerangi kegelapan dari langit malam.


"Cantik banget.." Kimy berdecak kagum, ini seperti pemandangan di film Disney.


Ekspresi Kimy yang berseri-seri memandangi langit membuat Agra kembali terjatuh dalam pesonanya. "Iya.. Cantik,"


Segala hal tentangnya memang selalu cantik. Rupanya, cara berpakaiannya, tutur katanya, caranya bersikap, semuanya cantik. Dan terasa susah untuk digapai sama seperti Bintang.


Kimy beralih menatap Agra berniat mengucapkan terima kasih padanya sudah membawanya kemari, tapi karena Agra yang masih belum berhenti memperhatikannya membuat mereka saling memandang satu sama lain.


Cahaya bulan yang jatuh memperjelas pandangan, Kimy bisa melihat pandangan penuh cinta yang diberikan Laki-laki ini padanya.


Sampai sekarang Kimy tidak mengerti mengapa Agra bisa mencintainya, itu diluar perkiraannya. Ia kira Agra menerima peryataan cintanya saat itu karena dia ingin menghentikan aksi gila para Fansnya, jadi mereka saling menguntungkan.


Jujur saja Kimy merasa tidak percaya, tapi melihat sikap Agra yang persis seperti Ivy pada Andreas membuatnya berubah pikiran.


"Boleh aku tanya alasan kamu bisa cinta ke aku?" Tanya Kimy tiba-tiba.


Jemari Kimy di bawanya untuk di genggam, mata tajam itu membuat dirinya terhanyut untuk terus menatapnya.


"Nggak ada,"


Secepat kilat Kimy menepis tangan Agra darinya, Ia pikir Laki-laki itu akan mengungkapkan sesuatu yang romantis, tapi dugaannya salah besar.


Kekehan geli keluar dari mulutnya, Agra kembali membawa jemari mungil itu ke genggamannya. "Emang beneran nggak ada, aku cinta kamu karena kamu itu kamu. Aku nggak bisa cinta selain sama kamu karena itu bukan kamu."


"...."


"Astaga! Kamu mimisan!"

__ADS_1


"Mimisan?"


Kimy menyentuh cairan merah yang keluar dari hidungnya, memandangi jari telunjuknya yang ternodai darah lalu kembali menatap Agra yang sudah kelabakan mencari letak tisu raut wajahnya khawatir bercampur panik.


"Kita mau kemana?" Tanya Kimy pasalnya Agra mulai tancap gas meninggalkan jalan puncak.


"Ke Rumah Sakit!"


Seruan singkat padat dan jelas itu mengguncang Kimy, Gadis dengan hidung tersumpal tisu itu menahan lengan Agra yang digunakan untuk menyetir.


"Agra, kita nggak usah ke Rumah Sakit lagi ya.." Bujuk Kimy memberikan puppy eyes nya berharap Agra akan goyah.


"Tapi Kim, Aku takut kamu kenapa-napa."


Daripada itu, Kimy lebih takut kalau Agra mengetahui penyebabnya mimisan. Ungkapan Agra membuat Kimy terlalu melayang hingga kepalanya panas lalu mengeluarkan darah, begitu sebenarnya prosesnya.


Harga dirinya bisa jatuh kalau Agra tau, sekarang saja Kimy merasa beruntung karena Laki-laki itu terlalu polos.


"Kita pulang aja ya? Aku ada obat kok di rumah." Perkataan Kimy berhasil membuat Agra goyah.


Masih dengan raut khawatir Agra mengangguk, tangannya terulur mengelus kening Kimy yang tertutup poni.


Lagi, Kimy tertegun di perlakukan seperti itu. Apakah Laki-laki ini tidak tau kalau perlakuannya bisa mengakibatkan jantung seorang Gadis tidak aman?


________


Gadis itu berlari dengan bawaannya yang merepotkan, sebenarnya hari ini Ia ada praktek dengan teman satu kelompoknya namun karena kurang beruntung, Ivy satu kelompok dengan murid-murid nakal yang suka berbuat onar. Itu sebabnya semua alat-alat untuk praktek dirinya sendiri yang membawanya.


Naas saat tengah berlari, salah satu tasnya jatuh hingga mengakibatkan semua kertas-kertas berserakan di lantai. Ivy ingin menangis saja rasanya.


Ivy lekas memungut kertas-kertas itu dengan wajah mendung,


"Sebel banget! Punya temen sekelompok nggak ada yang berguna, udah semalem Gue bela-belain nggak nge-lanjutin maraton Drakor demi nyiapin materi buat presentasi." Pipinya menggembung layaknya Ikan buntal yang sedang mempertahankan diri.


Sebuah tangan dengan setumpuk kertas miliknya yang belum di pungut terulur dihadapan, Ivy menerimanya dengan senyuman senang merasa tertolong.


"Terima kasih," Ivy mendongak ke atas untuk melihat siapa orang yang baik hati sudah mau menolongnya.


Sosok Laki-laki dengan Hoodie hitam membuat bola mata Ivy melebar, "Andreas?"


Seutas senyum geli muncul di wajah Andreas. "Lo mau di situ terus? Nanti bisa di hukum loh sama Pak Herry."


Ivy dengan cepat bangkit dari duduknya, tidak ingin merusak image di hadapan Andreas.


"Sorry udah ngerepotin Lo, makasih juga. Oke Gue duluan." Ivy bersiap menggunakan jurus seribu bayangan untuk lari dari Andreas.

__ADS_1


"Eh tunggu!"


Ivy mengurungkan niatnya untuk lari, Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Andreas, senyuman lima jari menghiasi wajahnya "Iya kenapa?"


Andreas menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, Ia hanya mencoba memutus urat malunya. "Kita boleh tukeran nomor telepon nggak?"


"Nomor telepon? Lo nggak salah? Gue Ivy bukan Sonia."


Andreas mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Ivy, "Iya Gue tau Lo Ivy, Sonia sepupu Gue. Masa iya Gue nggak hafal sama mukanya. Lagian kalian nggak mirip."


Sontak bawaan Ivy jatuh meluncur begitu saja, untungnya kali ini tidak tercecer. "S-sonia sepupu Lo?!"


"Iya, emang kenapa?"


Tampa menghiraukan Andreas dan bawaannya Gadis itu berlari secepat kilat menuju kelasnya meninggalkan hembusan angin efek dari larinya yang cepat.


Andreas terkekeh merasa geli dengan kelakuan Ivy, Laki-laki itu juga mulai memungut bawaan Ivy lalu melangkah ke kelas yang di tuju gadis itu.


Sampai di ruang kelas 11 IPA 3 Ia di sambut oleh suara melengking milik Ivy,


"SONIA! LO KOK NGGAK BILANG KALO ANDREAS SEPUPU LO?"


"Orang kamu nggak nanya."


Andreas bisa melihat sepupunya tengah di interogasi oleh Ivy, kelakuan heboh Ivy membuat senyuman geli terus muncul di wajahnya.


Kebetulan sekali Kimy muncul dengan sekantung sampah di tangannya, "Loh Andreas?"


"Iya Kim, Gue boleh minta tolong sekalian kasiin Tote bag ini nggak ke Ivy? Tadi dia tinggal di koridor."


Kimy mengangguk, "Maaf ya temen Gue ngerepotin Lo. Ceroboh banget anak itu,"


"Nggak kok Kim, nanti bisa kirimin nomer Ivy nggak ke Gue?"


Kimy menatap Andreas curiga, "Gue kaget loh, kalo Lo  ternyata sepupunya Sonia. Sekarang lebih kaget lagi karena keliatannya Lo mau deketin Ivy."


"Hehehe.. Gue juga kaget liat Lo sama Agra makin lengket kaya perangko sama suratnya."


Kimy mendengus kesal lantaran skor mereka satu sama. "Lo boleh deketin Ivy, tapi jangan sekali-kali berniat macem-macem sama dia."


"Lo tenang aja.."


Kimy berlalu dari Andreas setelah memberikan gerakan kedua jari ke matanya lalu ke Andreas, seakan sedang memberi tahu kalau dirinya selalu mengawasinya.


_________________

__ADS_1


__ADS_2