
Assalammualaikum, selamat datang di karyaku yang ke sekian di aplikasi ini. Cerita yang aku bawakan ini adalah Sequel dari My Sabbatical Wife, tentang Pradipta dan Rayna. Yang udah pernah baca kisah orang tua mereka pasti paham.
Lanjut baca ya❤️
🌾🌾🌾🌾
Aku pengin Ayah sama Ibu kembali bersama, sebelum aku pergi." wajah pucat Eleodra, yang sering disapa Dara, membuat sang Ayah menatap lebar manik mata mantan istrinya yang memilih menunduk.
"Bagaimana, Rayna? Bisa, beri aku kesempatan lagi?"
Rayna menarik napas panjang, dan setelahnya dengan tegas ia menggeleng. "Please, Bu. Aku juga butuh Ayah seperti Adik Norra," paksa Dara.
"Beri aku kesempatan sekali lagi, Rayna."
"Aku masih teringat Nancy dan kamu, Mas. Rasanya masih sulit ...." tetap menggeleng untuk menolak.
Di saat lembaran baru begitu meneduhkan hati datang dari Adjie, Rayna malah dihadapkan dengan permintaan Eleodra yang harus membuat dirinya, mengingat luka lama akan masa lalunya bersama Pradipta.
🌾🌾🌾🌾
(Kalau bisa komentar di setiap paragfraf, ya)
Laju roda mobil tepat terhenti di carport rumah mantan mertua yang sudah tiga tahun belakangan ini tidak pernah Rayna datangi. Rumah mewah, besar dan tetap bercat putih seperti dulu-dulu, tidak berubah sama sekali. Hanya saja kenangan indah yang pernah ia rasakan bersama mantan suami di sini, tak berlaku lama karena kedatangan Nancy, sepupu Rayna, di pernikahan mereka.
"Makasih, ya, Mas. Udah mau anterin aku."
Adjie yang bola matanya masih berpendar ke depan, menelusuri kebun penuh bunga mawar, kemuning dan flamboyan milik Bunda Maura, beralih menatap raut putih bersih Rayna dengan kepala tertutup pashmina berwarna merah maroon yang ia belikan sebagai kado, untuk mengangguk.
"Sama-sama, Ay." begitulah Rayna jika di sapa.
Adjie, teman satu universitas di London yang kemudian melebarkan sayap di dunia bisnis hijrah ke Indonesia, bertemu dengan Rayna, saat wanita itu resmi bercerai tiga bulan, tengah merintis usaha.
Adjie yang tahun ini genap berumur tiga puluh tiga tahun masih seorang perjaka tingting, yang mana dulu ia seakan menutup masa untuk menikah hanya karena mengejar karir. Tapi, setelah bertemu Rayna. Ia merasa hidupnya sudah lama kelabu dan menuntut hangatnya cinta dari wanita, menginginkan belaian yang begitu haus kasih.
Adjie, sebagai lelaki perkasa yang tidak mau bermain kucing dalam karung, langsung menyatakan cinta kepada Rayna dan tak berpikir panjang untuk melamar. Kendati masih trauma dengan perselingkuhan mantan suami dengan sepupunya, membuat Rayna urung untuk mengiyakan. Apalagi kondisinya ia sebagai janda beranak satu. Dan sampai tiga tahun lamanya, Adjie digantung tanpa hubungan yang jelas.
Rayna mengaguminya, memuji ketampanan serta kebaikan dan kesolehannya. Tapi selama tiga bulan ia bungkam untuk memendam. Rasa sakit akan perlakuan Pradipta dengan Nancy, menjadi momok penghancur yang mengakibatkan rasa trauma mendidih sampai bertahun-tahun.
Tapi, kini?
Adjie sudah bernapas lega, karena bulan lalu ia berhasil menyusupkan cincin pertunangan di jari cantik Rayna.
__ADS_1
"Kamu mau ditinggal atau aku tungguin? Atau mungkin aku perlu masuk, mau lihat keadaan, Dara."
Rayna menggeleng. "Tinggalin aja, Mas. Kamu kan masih harus hadiri meeting. Dara mah nggak apa-apa. Paling sakit pilek kayak biasa."
Rayna di telepon mantan Bunda mertua untuk segera datang ke rumah karena Dara sakit.
"Lagian juga aku nggak enak sama Bunda kalau bawa kamu."
"Lho kenapa? Kita kan mau nikah bentar lagi."
"Masalah hubungan kita udah nggak ada sangkut paut sama keluarga ini. Jadi lebih baik kita tutup sendiri aja. Mereka nggak perlu tau aku mau nikah lagi atau enggak."
Adjie tertawa dan Rayna mengerutkan alis. "Kenapa? Kok ketawa?"
"Ini saatnya kamu balas, Ayahnya Dara, Ay." walau akhirnya pernikahan Dipta dengan Nancy setelah bercerai dengan Rayna juga harus kandas karena Nancy ketahuan berselingkuh lagi dengan suami orang.
Rayna ikut tertawa. "Sebenci apapun kita sama orang. Kita tetap nggak boleh sengaja untuk menyakitinya. Cukup kita doakan saja hati kita yang terasa sakit untuk berlaku biasa. Lagi pula aku dan Mas Dipta masih punya hubungan kental soal Dara. Dia Ayah dari anakku yang harus tetap aku hormati."
Adjie mengangguk setuju. "Ini nih yang bikin aku tambah cinta."
Rayna tersenyum dengan pipi merona sembari melepas seat belt yang terasa sulit di kendurkan, membuat Adjie akhirnya maju untuk membantu.
"Sama-sama, sayang." Rayna pun turun dari dalam mobil. Mobil Adjie turut mundur sampai ke luar gerbang.
Saat ingin melangkahkan kaki dengan kepala sedikit menunduk karena kalau berjalan dengan kepala mendongak, rasanya amat congkak dan sombong kepada Pencipta Langit dan Bumi.
Langkah Rayna terhenti ketika sepasang sepatu kats berwarna putih sudah menghadangnya.
"Siapa? Adjie?"
"Assalammualaikum, Mas." tidak mengiyakan, walau jantung Rayna bertalu-talu saat mantan suaminya ini mengetahui perihal Adjie. Dan Rayna pun malas untuk menggubris kekepoan mantan suaminya tersebut. Atau mungkin, menelisik wajah Pradipta yang masih gagah seperti dulu untuk membebat rindu. Nyatanya, ia berdecak senang dalam hati, karena tidak ada rasa kesal, benci atau rindu yang tak tertahan. Rasanya sudah lowong.
"Waalaikumsallam." Rayna lekas lewati bahu lelaki yang dua tahun kemarin masih ia cintai walau status perceraian sudah ia emban. Tapi, dalam setahun ini, cinta di hati Rayna seakan benar-benar pupus. Ia sudah benar-benar move on dan belajar untuk menutup luka lama, untuk melangkah masuk ke pintu utama rumah.
Pradipta seraya kehabisan kata untuk mencegah langkah Rayna, sembari menggaruk-garuk kulit kepalanya yang terasa tak gatal sama sekali, ia mengekor langkah Rayna yang sudah tertinggal jauh di depan.
"Assalammualaikum ...." dari sofa ruang keluarga, mantan mertua nya menjawab salam sembari melangkah mendekatinya dengan wajah berbinar.
"Kamu sendiri, Nak?" tanya Bunda Maura senang karena dapat bercengkrama lagi dengan Rayna.
Rayna mengangguk dan menunduk, membungkukkan tubuh untuk mencium punggung tangan Bunda.
__ADS_1
"Kamu sehat kan?" raut sesal akan perlakuan Dipta kepada Rayna beberapa tahun lalu yang amat menggegerkan keluarga besar, bermuara penuh. Bunda tak tahan menahan nanar, lekas ia peluk Rayna.
Rayna bukanlah wanita baru yang dibawa Pradipta sebagai istri. Tapi, Rayna adalah anak yang sejak bayi nya sudah Bunda timang-timang.
Rayna adalah anak dari saudara tiri suaminya. Mereka pernah beberapa tahun hidup satu lingkungan di London. Bunda pikir, tidak ada hubungan lagi antara Rayna dan Pradipta. Tapi, saat keduanya menginjak kaki di bangku kuliah. Hubungan terjalin tanpa keluarga tahu. Tentu semua senang saat Pradipta mau melamar Rayna yang notabene bekerja sebagai Arsitek di London kala itu.
Demi rasa bakti kepada suami, Rayna memilih ikut ke Indonesia karena Pradipta tidak bisa meninggalkan perusahaan. Dan saat Nancy datang dari London, tinggal sementara di rumah mereka. Badai pun datang. Pradipta khilaf sampai mampu membuat Nancy mengandung.
Inginnya Pradipta melakukan poligami. Tapi, sayangnya. Rayna tidak sekuat itu. Ia memilih mundur dan membawa Dara untuk pergi dari kehidupan Pradipta.
Bunda mengurai dekapan, Rayna kuatkan dengan menyeka air mata wanita tua ini. "Maafin anak Bunda, ya, Nak ...." memelas.
"Yang dulu-dulu nggak usah dingat-ingat, Bunda. Sudah jadi kehendak, Allah." saat mereka bercerai, Rayna memilih pergi untuk menenangkan diri bersama Dara sampai Pradipta sulit mencari walau hanya sekedar ingin memberi nafkah untuk Dara.
Dan akhirnya, setelah Rayna setengah kuat, percaya kalau ujian yang Allah berikan kepadanya, memang hanya ia yang mampu untuk mengenggam nya. Maka ia kembali ke daratan manusia, sembari bersua kalau hidupnya belum terhenti.
Pradipta yang masih berdiri dibingkai pintu tak henti-hentinya menatap Rayna yang terlihat semakin cantik seusai mereka bercerai. Rayna yang dulu begitu polos. Seakan sekarang berani tampil dengan make up.
Satu Minggu ini Dara tengah menginap di rumah Neneknya, dan yang mengambil Dara ke rumah adalah Asisten Pradipta. Dara mempunyai gawai sendiri yang mana ia bebas berinteraksi dengan Pradipta.
"Ibu!" seru Dara yang keluar dari kamar sembari menggandeng Noora, anak Pradipta dan Nancy yang sudah berusia dua tahun. Saat melihat Noora, ada picingan sedikit tajam ke pada anak perempuan dengan rambut berponi sama seperti Dara.
Walau ia sudah merelakan, mengikhlaskan karena rumah tangga yang selalu ia jaga telah rusak akan Nancy, tetapi untuk melihat Noora seakan ia tak kuat.
Rayna memilih menggendong Dara yang sekarang sudah berusia tujuh tahun, melepas gandengan dari tangan Noora, membiarkan anak itu tergugu dan lekas di gendong Pradipta karena mencebik sedih akan perlakuan Rayna yang terasa dingin.
Bunda pun tahu, luka yang tersemat di raga Rayna belum sepenuhnya mengering walau si empu sudah berkata bijak barusan.
"Dara sakit apa, Bunda? Ini kayaknya masih sehat-sehat aja." Dara tertawa saat perutnya dikelitik Rayna, sudah duduk di sofa.
Sekarang memang sehat. Tapi, tadi malam? Anak ini mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.
"Ini hasil lab nya." Bunda yang ingin menjawab tersela dengan Pradipta yang sudah duduk di hadapannya sembari memangku Noora, menyodorkan hasil lab pemeriksaan darah Dara dan jawaban analisa dokter spesialis anak.
"Leukimia?"
🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾
Buat aku semangat untuk up kelanjutannya dengan cara Like dan Komen, jangan pelit❤️
Jangan komen 'Lanjut thor' aku paling nggak suka🤪
__ADS_1